Jalan Pulang

Jalan Pulang
70. masih sama


__ADS_3

Tidak ada yang istimewa. Jalur pantura masih sama seperti dulu. Tambak udang terbentang antara Indramayu - Subang, jalan lurus daerah Sukamandi yang terkenal rawan kecelakaan itu... terus... sampai simpang Jomin Karawang. Singgah isi solar full tank, lanjut masuk Tol Jakarta - Cikampek lewat gerbang Cikopo. Enak Panther ini dikendarai, masih baru. Hazri memacu kendaraannya menembus angin, menuju adukan surga-neraka. Jogjakarta....


Pikirannya pun terbang menerawang. Kenangan kejadian-kejadian perih yang dialami bersama anak buahnya dua setengah tahun lalu seolah ‘arus balik lebaran’. Ramai-ramai datang, menerobos masuk benaknya lalu bergumul di situ. Romi, Sapri, Tomi, ABagas, Simon, Bagas, berkelebat-kelebat. Yudi dan Tika tidak ketinggalan. Kang Tejo, Mbok Ijah... Day, Kapri, Kochiro, Hisoka,... Dewi... Emak, Siti, Udin.... Tidak lupa Fahmi sang pembura...Terakhir muncul dibenaknya sepasang bola mata berlian, Zilfa. Panjang Hazri menghela napas sambil geleng-geleng kepala. “Allah...,” dia mendesah lirih.


Sampai di Wates, 1 Km. Terbaca itu di papan penunjuk jalan. Tiba-tiba Hazri teringat Iis, istri muda Bagas. Sudah lahir tentu anak kedua Bagas, yang ketika bapaknya tewas masih empat bulan dikandung ibunya. Laju Panther pun melambat, bergeser ke jalur kiri. Hazri tidak bisa menahan hati untuk menengok Iis, sekedar ingin menitipkan ‘uang Bagas’ untuk anaknya. Keluar Wates Barat 500 m, terbaca lagi. “Bagas, kutengok anakmu ya...,” dia berkata sendiri. Panther pun masuk ke jalan alternatif.


Arah ke Tidar gampang diingat. Dari jalan alternatif, lurus sebentar terus belok kiri. Lalu, ikuti saja jalan utamanya yang berkelok-kelok itu. Masih seperti dulu, sejuk dan tenteram rasanya kawasan kaki Gunung Tidar itu. Hazri mematikan AC lalu membuka lebar jendela mobilnya. Udara pegunungan ini pun dihirupnya dalam-dalam, ada baubauan segar pepoDaynan. Sebentuk rasa damai pun meresap ke dalam jiwanya. Hazri terus menghirup udara segar itu sampai puas.


Sampai juga di Tidar. Panther merayap pelan menapak jalan desa itu. Rumah kontrakan Bagas yang dulu juga mudah diingat karena di terletak di pinggir jalan utama desa ini. Tetap merayap pelan, ketemu. Hazri memasukkan mobilnya ke halaman rumah itu. Seorang ibu yang sedang menampih beras memperhatikan kedatangannya. Hazri pun turun. “Selamat siang, Bu,” dia menyapa.


“Selamat siang, Pak, cari siapa?” si Ibu bertanya.


“Pak Bagasnya ada?”


“Oo sudah meninggal, Pak. Sudah lama...”


Hazri pura-pura terkejut. “Sudah meninggal, Bu?”


“Iya, Pak. Katanya ditembak polisi. Eh, tapi saya nggak tahulah...,” Ibu itu menganulir pernyataannya. Mungkin tidak enak rasa kalau membicarakan orang yang sudah meninggal. Sebagaimana umumnya kebiasaan di desa.


Hazri manggut-manggut. “Kalau Bu Iis, istrinya ada?”


“Mbak Iis sudah tidak di sini. Pulang ke Cilacap.”


Hazri langsung kecewa. Repot sekarang. Di mana itu Cilacap? Kalau pun diberi tahu alamatnya, tetap saja repot. Belum lagi resikonya bagi Hazri.


“Jadi, sudah tidak di sini ya, Bu?” Hazri basa-basi.


“Iya, Pak. Sudah lama tidak di sini.”


“Ya sudah kalau gitu, Bu, saya permisi. Terima kasih,” katanya.


“Iya, Pak, sama-sama.”


Mau ke mana sekarang? Sudah sampai sini. Hazri membatin sambil memundurkan mobilnya. Sayang kalau langsung balik lagi, enak udaranya. Tenteram. Tiba-tiba dia teringat rumah yang dulu dipakai membantai Day. Entahlah, seperti tiba-tiba ada yang mengingatkan. Padahal, bolak-balik kenangan buruk tentang Day muncul di benaknya tadi, tidak secuil pun Hazri ingat rumah itu. Walau kejadian pembunuhannya sangat jelas teringat. Rada aneh memang, tapi itulah.


Setir pun membelok ke sana. Panther merayap lagi.


Hazri turun dari mobil saat mobil telah terparkir di tempat parkirnya yang dulu. Boleh dibilang tidak ada perubahan rumah ini. Pohon-pohon rambutannya, dinding biliknya, tumpukan batu-batu kali itu. Masih sama seperti dulu. Dia berjalan mengelilingi area ini, bagus ternyata. Ada sungai kecil yang mengalir di belakangnya, jernih berbatu-batu. Indah pemandangannya. Hazri pun kesengsem. Lupa kalau di sini dulu pernah terjadi pembunuhan. Dia sendiri yang melakukannya. Tapi, apa masih dijual? Jangan-jangan sudah laku?

__ADS_1


Dengan ‘Welut Lunyu’ mudah saja Hazri menerobos masuk ke dalam rumah kalau mau. Tapi, itu tidak dilakukannya. Dia pun duduk-duduk di atas tumpukan batu kali yang mungkin dulunya akan dipakai membangun rumah ini oleh pemilik rumah. Rindang di bawah pohon rambutan yang terbesar dan terlebat. Hazri menghela napas, menghirup kesejukan udara, menyusupkan tenang dalam jiwanya. Tasbih pun kembali dipilin-pilin. “Allah. ..,” dia mendesah lirih. Damai terasa.


Sayup-sayup suara adzan mengalun. Hazri melihat jam di HP, belum sempat beli arloji lagi. Pukul dua belas lewat dua belas menit. Waktunya shalat zhuhur. Dia celingak-celinguk sebentar, mencari air untuk wudhu. Lalu, teringat kalau ada sungai di belakang rumah ini. Maka dia pun beranjak ke sana. Luar biasa, nikmat betul wudhu dengan air sungai jernih itu. Hazri senyum-senyum sendiri saat kembali ke atas.


Sajadah pun digelar di plesteran lantai samping rumah. Daun-daun rambutan kering di situ disapu-sapunya sedikit memakai ranting sambutan yang diambil dari pohonnya. Cukuplah. Bagus sajadah yang dimintanya dari Huda ini, ada semacam kompas penunjuk arah kiblat tertempel di tengah-tengahnya. Kiblat telah didapat, Hazri berdiri mengucap niat... “Allahu Akbar...” takbiratul ihram. Tidak sadar dia kalau ada seseorang yang mengamati tingkahnya sejak awal datang tadi.


Usai shalat dan berdoa, Hazri hendak bangkit. “Assalamu’alaikum...,” terdengar seseorang menyapanya. Dia menoleh. “Wa’alaikum salam,” balasnya. Lelaki hampir paruh baya itu tersenyum kepadanya, Hazri pun balas tersenyum.


“Saya Karno...,” dia memperkenalkan diri.


“Mahmud...,” Hazri membalas uluran tangan Karno.


Mahmud? Kenapa pakai yang Mahmud? Hazri memang punya KTP aspal ‘berjudul’ Mahmud, selain Arif dan yang lain. Bodong semua itu, iseng-iseng saja. Kini, narna Mahmud sudah disebut. Ya sudah, Mahmud yang berlaku di sini.


“Mungkin ada yang bisa saya bantu di sini, Pak Mahmud?” Karno bertanya.


Hazri berpikir sejenak. “Saya dengar katanya tanah ini mau dijual, Pak?”


“Oo iya, Pak. Ini punya Pak Haji Slamet. Memang mau dijual.”


Hazri senang. “Dengar-dengar minta berapa, Pak?”


Mahal? Dulu Bagas bilang murah? “Berapa?” Hazri bertanya lagi.


“Naik, minta tiga puluh juta. Kemarin-kemarin dua puluh lima.”


Busyet, Hazri meringis. Murahlah itu. Prakiraan ada seribu meteran persegi luas tanah ini.


“Emang luasnya berapa sih, Pak?”


“Katanya seribu lima ratusan....”


Busyet lagi, lebih murah kalau begitu.


“Mahal kan, Pak? Tiga puluh juta, seribu lima ratus meter, Berarti dua puluh ribuan semeter. Huh, awislah...,” Karno geleng-geleng kepala lagi.


“Apa itu awis?” tanya Hazri.


Karno mesem. “Mahal, Pak....”

__ADS_1


“Oo...,” Hazri pun ikut tersenyum.


“Tanah-tanah di sini pasarannya lima belas ribuan semeter, yang dekat balai-desa di bawah sana. Kalau di atas seperti ini, paling mahal sepuluh ribu. Dua belas setengahlah...,” Karno menjelaskan.


Hazri tertawa kecil.


Karno tersenyum. “Anu, Pak, kata Pak Slamet harganya jadi mahal karena ada rumahnya. Padahal, rumah biasa saja...”


Hazri tertawa lagi. “Pak Slametnya di mana?”


“Di kota.”


“Oo.... Nggak di sini ya?” Hazri pura-pura tidak tahu.


“Memangnya Pak Mahmud minat tanah ini?” Karno menyelidik.


“Kalau cocok....”


“Ada yang lain kalau mau. Lebih murah,” Karno menawarkan. Hazri menggeleng. Dia memang sudah kesengsem tanah ini, enggan yang lain. Tidak mahal juga ini.


“Pak Karno punya alamatnya Pak Slamet?”


“Wah, nggak ada. Tapi, kalau rumahnya saya tahu. Pak Mahmud mau ke sana?”


Hazri mengangguk.. “Mari saya antarkan...,” Karno menawarkan diri. “Nggak merepotkan?”


“Nggak, Pak, senang malah saya jalan-jalan ke kota.”


Hazri tersenyum. “Ayo....”


“Iya, Pak. Sebentar, saya ganti baju dulu.”


Karno berlari kecil ke rumahnya, di sebelah sana. Hazri pun bersiap, mobil dimundurkan, stand by di tepi jalan. Sambil menunggu Karno, Hazri berpikir sejenak. Apa betul perlu dibelinya rumah ini? Timbang-timbang sebentar, perlulah. Dia kan perlu tempat persembunyian. Kelihatannya aman di sini, polisi tidak akan mudah menduga keberadaannya di sini. Asal jangan terlalu sering keluyuran saja. Nyaman lagi tempatnya, adem, tenteram, dan murah. Jogja pun dekat. Kalau pun misalnya harus kabur, tidak terasa duit segitu. Tampaknya, bagus semua.


Tin! Hazri membunyikan klakson. Karno menoleh, bergegas menuju mobil. “Siap, Pak Karno?” tanya Hazri setelah Karno masuk.


“Iya, Pak, mari...,” jawab Karno.


Panther pun menapak jalan desa ini menuju Magelang kota. Ternyata, urusan jual-beli itu tidak terlalu ribet. Maklum, Haji Slamet sedang butuh uang untuk tambahan ongkos naik haji lagi sama istrinya. Jadilah rumah itu dibeli Hazri dengan harga tiga puluh juta. Karno senang sekali karena mendapat uang terima kasih dari Hazri.

__ADS_1


__ADS_2