Jalan Pulang

Jalan Pulang
74. cv marno sugeng


__ADS_3

“Alhamdulillah...,” Hazri bersyukur melihat penjualan perdana merpati potong itu, sekitar empat bulan kemudian. Tidak salah pilihan usaha ini ternyata. Dengan lima ratus pasang induk jagoan dan perawatan sepenuh hati dari Marno dan Sugeng, sekarang mereka bisa melihat hasilnya. Ribuan ekor merpati potong itu ludes cepat dilalap pembeli. Para pembeli itu puas. Dengan harga sesuai pasarannya mereka dapat merpati gemuk muda segar. Rebutan.


Selanjutnya lebih edan lagi. Induk-induk merpati itu giras kawinnya. Setelah anaknya lepas sapih dan dipindahkan ke kandang pembesaran, para betina pun seolah berlomba kawin untuk bertelur lagi. Begitu seterusnya. Maka, antara produksi dan penjualan pun kejar-kejaran. Meleset proyeksi panen empat bulan sekali. Ternyata, hanya perlu dua mingguan sekali. Sama, ludes diserbu pembeli. Banyak pembeli dari luar daerah, apalagi Jogja. Cepat dikenalnya peternakan ini. Padahal, tanpa promosi gencar. Cuma sekedar ‘MLM’, mulut lewat mulut.


Yakin kurang tempatnya, Hazri pun kembali berinvestasi. Dua unit kandang pembesaran dibangun lagi yang dirasa kurang memang kandang untuk itu. Kandang induk dan bakalan induk cukup. Sama seperti yang awal, pakai rangka besi dan ram kawat juga. Setelah fasilitas tambahan itu beroperasi, jumlah karyawan pun harus ditambah. Masuklah enam orang remaja putus sekolah, teman-temannya Marno dan Sugeng juga mereka.


Lewat beberapa bulan kemudian, fasilitas yang ada itu kembali menyempit. Kurang lagi. Maka, Hazri pun membeli lahan kebun singkong di samping rumahnya, kebetulan milik kerabat Karno. Luasnya dua ribu meteran. Di situ bertahap dibangun kandang-kandang merpati. Biayanya sebagian besar diambil dari keuntungan usaha. Tidak ketinggalan dibuatkan kantor juga, supaya para pelanggan bisa lebih nyaman bertransaksi. Tidak di sela-sela kandang lagi.


Karena permintaan pelanggan, Hazri membuatkan badan usaha legal untuk ini. Maklum, kebanyakan pelanggan mereka sekarang adalah restoran-restoran besar yang menuntut kuitansi resmi berkop nama perusahaan dan berstempel. Belum lagi untuk keperluan macam-macam perjanjian bisnis. Marno jadi direktur, Sugeng dapat wakil direktur, dan Karno komisarisnya. Namanya CV Komar Sugeng Doro, meniru nama julukannya, ‘Haji Mahmud Doro’.

__ADS_1


Marno dan Sugeng bahagia namanya diabadikan dalam badan usaha ini. Karno pun turut bangga. Tidak menyangka kalau si Marno, anaknya yang cuma tamatan SMP itu, bisa jadi direktur. Notaris perempuan di hadapan mereka tersenyum aneh mendengar keputusan Hazri. “Terus, Pak Haji jadi apanya?” dia bertanya. Hazri menggeleng, tidak merasa perlu menjadi apa-apa di situ. “Saya begini saja, Bu, biar anak-anak muda yang berkarya,” jawabnya. Ya sudah. Maunya ‘Haji Mahmud’ begitu. Siapa berhak melarang?


“Mar, Geng..., sekarang kalian pimpinan perusahaan. Jaga amanat ini ya. Tingkatkan administrasinya, kalau perlu cari temanmu yang pandai ngurus administrasi. Satu saja pesanku, jangan korupsi...,” Hazri memberi nasihat kepada kedua remaja yang tiba-tiba jadi top eksekutif itu. Karno mengangguk-angguk. “Marno, jangan bikin malu bapak ya. Kamu juga, Geng. Pesan Pak Haji tadi harus kalian jaga sungguh-sungguh...,” dia turut serta memberi wejangan. Notaris perempuan itu tersenyum.


Selanjutnya, nama CV Marno Sugeng Doro pun melejit. Tidak sia-sia Hazri memberikan kepercayaannya kepada duet Marno dan Sugeng. Kandang terurus bersih, burung-burung terlihat segar, terbang tiang dalam sangkarnya. Suara grook kok kok kok, grook kok kok kok... para biang merpati yang rebutan kawin itu nyaman juga didengar telinga.


Jumlah karyawan pun bertambah. Sekarang ada dua puluhan remaja putus sekolah yang bekerja di peternakan ini. Dua di antaranya perempuan, ceritanya bagian administrasi dan customer service. Semua yang laki-laki turun ke kandang, bagian pegang-pegang burung. Urusan pembelian dan penjualan saja yang tetap dihendel langsung duet pimpinan perusahaan, tidak dilimpahkan.


Waktu terus berjalan. Tidak terasa, hampir dua tahun Hazri sembunyi di Tidar. Semua indah dan nyaman di sini. Peternakan maju pesat, Marno dan Sugeng pun makin matang memimpin dan menjalankan usaha ini. Pekerjanya sekarang lebih lima puluh orang. Hubungan Hazri dengan warga terjalin baik, tidak pernah ada masalah. Apalagi dengan Faruq yang sama-sama bingung mencari mursyid. Belum ada tanda-tanda kemunculannya ‘sang kekasih’ itu.

__ADS_1


Tapi, para janda juga bingung rupanya....


“Pak Haji belum punya istri sih. Jadi, rumahnya tetap saja kayak gitu...,” kata Susi, salah seorang janda saat ngerumpi dengan kerumunannya.


Para janda yang lain, teman-teman gengnya Susi itu pun setuju. Soalnya, rumah para orang tua yang anaknya bekerja di peternakan sudah menunjukkan banyak kemajuan. Apalagi ramahnya Karno, sang komisaris. Ditambah penghasilan anaknya yang jadi direktur, maka rumah keluarga ini pun tampil mentereng. Berdinding bata diplester dan berlantai keramik abu-abu mengkilat. Rumah Hazri? Masih yang dulu, yang berdinding bilik bambu itu. Parah.


Hazri terkekeh mendengar cerita Karno soal Susi. Bukannya tidak tahu dia soal bisik-bisik para janda itu. Tapi, bagaimana? Selain tidak tertarik, Hazri juga merasa dorongan nafsu begituan tidak bergolak dalam dirinya. Anteng sekali sejak pertama dia tiba di Tidar. Rada aneh memang, tapi demikian adanya.


Faruq pun pernah menyindir urusan ini. “Pisau, kalau kelamaan nggak dipakai, tumpul. Besi kapal saja bisa karatan...,” katanya.

__ADS_1


Hazri cengar-cengir. “Gampang segala pisau dan kapal itu, Ustadz. Mursyid..., mana sang mursyid?” balasnya sambil membuka telapak tangan.


Faruq nyengir garuk-gatuk kepala. Tidak bisa ngomong lagi. Orang mau diajak ngomong daging malah terbang ke mursyid. Berat....


__ADS_2