
Hazri masih geleng-geleng kepala. Walau bisa ‘Cakra Buana’ tapi dia tidak tahu apa-apa soal per-jin-an. “Bagaimana caranya itu, Kang?”
Soleh menggeleng. “Nggak tahu. Bisa sendiri saja.”
“Tidak ada amalan-amalan khusus?” tanya Hazri.
Soleh menggeleng lagi. “Kalau mau panggil, panggil. Kalau mau tangkap, ya tangkap saja. Mau didudukin juga bisa.”
“Tapi, awas jadi hijab, Mas Mahmud. Dalam perjalanan ruhani, banyak yang tergelincir hal seperti ini...,” Pak Subakir wanti-wanti.
“Maksudnya, Guru?”
“Ketemu begituan di tengah jalan, mereka jadi terlena. Lupa tujuan, lupa niat sejati. Bukannya taqarrub ke Allah malah asyik main ronggeng monyet.”
“Ronggeng monyet?”
“Iya. Kumpulan jin penggoda itu. Seperti ronggeng monyet mereka. Asyik. Kalau tidak teguh pegang niat, bisa larut orang dalam keasyikannya. Bayangkan saja, ada jin yang menawarkan ilmu untuk menciptakan uang segala.”
“Wah, ilmu menciptakan uang?”
Pak Subakir mengangguk. “Bisa langsung, bisa juga tidak. Yang langsung, ambil kertas bungkus rokok, gunting seukuran uang, terus baca jampi-jampi pujian kepada raja jin golongan itu. Srreettt... Kertas rokok di genggaman tangan itu berubah jadi uang. Uang beneran lho, bisa dibelanjakan.”
Hazri manggut-manggut. “Kalau yang tidak langsung?”
“Lebih gampang itu. Tinggal dibikin saja si manusia tadi menjadi hebat di pandangan awam. Sakti begitulah. Bisa menghilang, terbang, membaca nasib sekaligus memperbaikinya, santet, teluh. Macam-macam. Nah, orang-orang pun berdatangan mohon petunjuk eyang, hehehe... Lebih percaya dan lebih takut ke eyang gundul daripada Allah. Kasihan, kena dijeblosin jin setan. Sudah musyrik bayar pula....Tidak ada yang gratis begituan, Mas. Mahal...”
“Jin setan?”
“Iya. Jin yang bersifat setan. Manusia setan juga ada. Setan ketemu setan, jin setan karibnya sama manusia setan. Kompak mereka, menggoda manusia dan jin-jin lain untuk ikut bergabung dalam majelis persetanan itu.”
__ADS_1
“Kalau yang bukan jin setan?”
“Tidak akan mau berbuat begitu. Mereka seperti kita, berupaya menemukan sejati dirinya. Berusaha taqarrub kepada Allah. Bukankah kewajiban jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Ku? Kata Allah...”
Hazri manggut-manggut. “Jin juga punya wali?”
“Iya. Mereka sama seperti manusia. Ada laki, ada perempuan, kawin, beranak, ada rajanya, ada rakyatnya, bahkan mungkin ada sekjen PBBnya, hehehe.... Jangan lupa, mereka juga bisa mati. Cuma syariatnya kita tidak bisa melihat mereka, sedang mereka bisa melihat kita. Jadi, ada ustadznya, ada walinya, ada sufinya juga.”
“Kalau nabinya?”
“Sunnatullah. Tentang ini Allah berkehendak bahwa nabi untuk umat manusia dan jin datang dari bangsa manusia. Maka, agama mereka juga sama seperti kita, ada Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan lain-lain yang ateis pun ada.”
“Guru, kesan umumnya, jin yang menggoda manusia. Mungkin tidak kejadian justru jin yang tergoda oleh manusia? Atau, manusia yang menggoda jin?”
Pak Subakir tertawa kecil. “Banyak. Jin yang tadi juga minta digoda sama Kang Soleh tuh. Cuma Ki Lonthang kayaknya sedang tidak minat, hehehe....”
Soleh mengangguk, lalu melanjutkan dzikirnya.
“Manusia yang taqarrub dan jin yang tagarrub tidak saling menggoda, walau mungkin saja saling membantu. Jin awam bisa jadi tergoda oleh manusia taqarrub. Demikian juga manusia awam yang tergoda oleh jin taqarrub. Tergoda dalam makna yang baik tentunya. Lain dengan jin musyrik yang sengaja menggoda manusia untuk menjadi musyrik juga. Menjanjikan ini dan itu yang menjauhkan dari Allah.”
Pak Subakir berhenti sejenak menyulut sebatang rokok.
“Manusia menggoda jin? Boleh jadi. Misalnya, manusia merayu jin agar mau memberi atau mengajarkan sesuatu kepadanya. Sebagai imbalan, dia akan menghambakan dirinya kepada si jin. Bukankah ini sangat menggoda? Bayangkan, dipuja-puji serupa Tuhan. Kalau tidak teguh iman, bersedia dia dijadikan ‘Tuhan’ oleh manusia tadi. Demikian juga dengan manusia. Ada sebagian kita yang bersedia dipertuhankan oleh jin. Maka, kacrutlah dua-duanya.”
Pak Subakir mengisap rokoknya dalam-dalam. “Kerjaan siapa ini sebenarnya?”
“Setan,” jawab Hazri.
“Benar. Sejati musuh kita adalah setan. Bukan jin dan bukan pula manusia.”
__ADS_1
Hazri mengangguk-angguk paham.
“Di mana bercokolnya setan ini dalam diri jin dan manusia?”
Hazri merenung sejenak. “Di nafsu, dalam jiwa masing-masing.”
Pak Subakir mengangguk tersenyum. “Benar. Itu sebabnya mengapa kita harus senantiasa menyucikan nafsu, yang hakikatnya membuang setannya dari situ. Bukan meniadakan nafsunya. Pengertian ini berlaku juga untuk bangsa jin. Ingat, nafsu tidak bisa dibuang, akan selalu ada dalam jiwa bersama ruh. Baik jiwa manusia maupun jiwa jin. Tapi, nafsu bisa disucikan. Haqqul yaqin bisa. Kalau tidak punya nafsu maka Mas Mahmud bukan manusia, hehehe.... Namanya, Hakikat Nur Muhammad.”
“Mohon penjelasan, Guru.”
Pak Subakir menatap lembut seperti biasa. “Belum saatnya, nanti akan sampai ke sana. Untuk membahas Hakikat Nur Muhammad harus paham dulu Martabat Alam Tujuh, yang di batas pengertiannya pun tidak bisa dipahami hanya dengan logika akal. Harus sudah berbekal rasa yang cukup untuk bisa mulai. Itu baru pengertiannya saja, belum sampai ilmunya. Tapi, insya Allah, pada saatnya kelak Mas Mahmud akan bisa memahaminya.”
Hazri mengangguk. Lalu, menanyakan makna seruan “Hai Muhammad!” yang didengarnya saat sedang tafakur di masjid dulu.
“Muhammad adalah nama setiap manusia saat masih di alam ruh, Jangan salah mengerti, tentunya kita belum jadi seperti sekarang waktu itu. Di sana, di alam ruh, semua manusia bernama tunggal Muhammad. Bukan laki-laki dan bukan perempuan. Sama, satu wujud yaitu ruh, Muhammad adalah nama sejati setiap manusia....”
“Jadi, ‘Hai Muhammad?!’ itu bukan ke Nabi Muhammad?” tanya Hazri.
Pak Subakir tertawa kecil. “Bukan, itu untuk Muhammad yang lain, yang sedang resah menunggu kabar.”
Hazri tersenyum manggut-manggut. Jelas baginya sekarang.
“Nabiyullah Muhammad, saat masih di alam ruh namanya juga Muhammad. Jangan bingung ya, Mas. Bung Hatta namanya Muhammad Hatta, di sini Pak Wanta Muhammad jadi RW. Yang itu, Muhammad ‘Lonthang Semarang’ Soleh, muridnya Syekh Siti Jenar, hehehe. ... Bapak sendiri bernama Muhammad Subakir. Mas Mahmud pun berhak pakai nama Mahmud ‘Muhammad’. Kalau mau.”
Pak Subakir mengisap dalam-dalam rokoknya.
“Yang penting adalah perjalanan ruhaninya, bukan sekedar pengertiannya. Pengertian itu penting, tapi bohong jika tanpa rasanya. Ingat, semenarik apa pun ronggeng monyet, jangan berhenti. Terobos dengan dzikir Cahaya. Dzikirkan ruh hingga tanpa jeda. Hanya Allah. Yang lain ondel-ondel,” kata Pak Subakir.
Hazri mengangguk. Tasbih pun kembali dipilin....
__ADS_1