
Itulah awalnya. Sang Maha Mursyid ternyata berkenan mengabulkan permohonan Hazri untuk dipertemukan dengan mursyidnya. Sekarang, tiada waktu terlewat tanpa dzikir Cahaya. Teguh dia memegang tarekat ini. Dzikir Cahaya tidak tertahan oleh ruang dan waktu. Bisa dilaksanakan di mana saja, kapan saja, dan ketika sedang apa saja. Bahkan, saat sedang tidur. Sebab, sejatinya dzikir, sejatinya ingatan kepada Allah, haruslah langgeng. Menerus. Tidak terputus-putus oleh alasan apa pun. Kalau masih terputus maka dzikir itu belumlah sejati.
Tawasulan boleh dikata tidak pernah ditinggalkan, karena Hazri memang tidak ada pekerjaan. Pengangguran elite. Setiap malam Senin dan malam Jum’at, jam sembilan malam dia sudah nongkrong di Progo. Berangkat selalu bakda isya’ dari Tidar. Hari-hari lain pun sama juga. Boleh dikata, hampir tiap malam sekarang dia di sana. Habis enak berbincang pengertian-pengertian kelas tinggi tentang Kesejatian dengan ahlinya. Ditemani kopi, rokok, dan martabak telor pula. Hemm....
Ternyata Pak Subakir senang bercanda. Humoris. Dulu, waktu awal dengar cerita Faruq, Hazri sempat membayangkan mursyid kayaknya galak dan tegas. Ternyata tidak di sini, malah banyak ketawa “Tauhid itu indah dan yang indah pasti ceria,” kata Pak Subakir suatu hari. “Kalau masih sumpek, masih perlu merengut, berarti belum sampai. Terobos terus pakai dzikir Cahaya.” Waktu itu ada ikhwan yang banyak cemberut karena sedang dirundung masalah duniawi. Biasa, bisnis melorot, istri pun uring-uringan.
Sebenarnya, ikhwan majelis dzikir Safinatun Najat ratusan jumlahnya. Tapi, yang hadir saat tawasulan tidak banyak, selalu antara sembilan dan empat puluh satu orang saja. Tidak pernah kurang dari sembilan dan tidak lebih dari empat puluh satu. Penasaran, Hazri pun menanyakan ini.
“Kalau hadir semua tidak cukup tempatnya. Tumpah ke jalan, hehehe.... Tapi, rahasia Ilahi juga ini. Dari dulu begitu. Memang tidak semua ikhwan akan sampai. Seperti mengayak pasir, hanya yang besar akan bertahan, yang kecil mrucut. Begitu pun mereka telah berbaiat. Insya Allah selamat, asal istiqamah dzikirnya. Oo iya, sembilan dan empat puluh satu itu bukan angka biasa lho. Tahu nggak?”
“Yang empat puluh satu, saya tahu.”
“Apa coba?”
“Setiap empat puluh satu orang, satu walinya.”
Pak Subakir tertawa. “Tahu dari mana Mas Mahmud?”
“Ada Ustadz yang memberi tahu, sebelum saya bertemu Guru.”
Pak Subakir mengangguk-angguk. “Kalau yang sembilan?”
Hazri menggeleng.
“Jangan main-main dengan sembilan, hehehe... Di jasad kita ada sembilan lubang yang merupakan pintu masuk hawa nafsu. Dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, dua lagi di bawah....”
Hazri mengangguk-angguk.
“Sebenarnya ada sepuluh, tapi yang satu ini sudah ditutup. Yang mana coba?”
Hazri merenung sejenak. “Pusar,” jawabnya kemudian.
“Betul. Mas Mahmud tahu rahasianya pusar?”
Hazri menggeleng. “Setahu saya, dulunya dipakai untuk menyalurkan makanan jabang bayi dari tubuh ibunya.
“Betul secara biologi. Kalau dari pandangan spiritual?”
Hazri menggeleng lagi. “Saat janin di kandung ibunya, itulah contoh laku Islam sejati.”
“Mohon penjelasan, Guru....”
“Setelah Allah meniupkan ruh-Nya, maka janin yang masih di dalam kandung ibu itu telah hidup. Maka, dia pun hidup dalam kesejatian. Hakikatnya, berserah diri total kepada Allah. Tidak protes, tidak komplain. Mau dikasih siapa pun bakal orang tuanya, diterima. Ditaruh di ruang sempit sampai harus menekuk badan pun tidak kesal. Syariatnya, mau dibagaimanakan saja oleh sang ibu dia tidak melawan. Hening, tenang, pasrah. Syariatnya ibu, hakikatnya Allah. Itulah laku Islam sejati. Berserah diri total kepada Ilahi.”
“Saat itu, jabang bayi kan memang belum bisa melawan, Guru?”
__ADS_1
“Itulah. Bukan belum bisa melawan, tapi tidak hendak melawan kehendak-Nya. Ingat, sembilan jalan masuk nafsu masih tertutup kala itu, yang terbuka hanya jalur kesejatian. Lubang hakikat.”
“Subhanallah...,” Hazri seperti tersadar.
“Berojol lahir. Maka, sembilan pintu nafsu pun terbuka, yang satu tadi malah tertutup. Perlahan tapi pasti nafsu mulai berdatangan, menempel pada jiwanya. Terus berlanjut hingga bertahun-tahun usia. Tebal dakinya. Ruh yang suci itu pun terkungkung rapat dalam kurungan nafsu. Manusia makin lupa sejati dirinya, semakin jauh dari Tuhan. Namun, ruh tetap berusaha mengingatkan perihal hakikat kesuciannya, lewat suara-suara nurani. Sayang, pada kebanyakan manusia, gulungan nafsu sudah demikian dominan. Peringatan-peringatan suci itu pun tenggelam dalam gelora amuk badai samudra setan....”
Hazri manggut-manggut. “Mohon penjelasan tentang ruh dan jiwa,” katanya kemudian. Mumpung ingat. Dulu Pak Subakir pernah berjanji akan memberi penjelasan mengenai ini.
“Ruh manusia adalah suci dan akan tetap suci karena ber-nash Ilahiah. Bukan mau jadi Tuhan lho, awas! Ruh manusia memiliki nash atau hubungan dengan martabat Ketuhanan. Jiwa adalah ruh yang sudah berikut nafsunya. Jadi, ruh tambah nafsu sama dengan jiwa. Begitu penjelasannya.”
“Kalau nyawa?”
“Sama pengertiannya dengan jiwa,” jawab Pak Subakir.
Hazri mulai paham. “Jadi, yang harus dibuang adalah nafsunya?”
“Bukan dibuang. Nafsu tidak akan bisa dibuang, sesudah mati sekalipun. Bisanya disucikan. Sebagaimana sabda Rasul, ‘Nafsuku telah muslim.’ Nah, nafsu bisa disucikan dengan mendominankan ruh dalam jiwa. Bagaimana caranya itu? Dengan senantiasa mengingat Allah. Kalau di tarekat kita dengan dzikir Cahaya atau dzikir Ruh. Sejati ketemu sejati, Ruh ketemu ruh.”
Hazri manggut-manggut. “Kalau orang mati, apa nafsunya kebawa?”
“Iya. Justru itulah acuannya. Bapak perbaiki dulu pengertian Mas Mahmud yang kemarin-kemarin ya. Bukan ruh yang pergi waktu orang meninggal, tapi jiwanya. Ruh dan nafsunya, dicabut bareng satu paket. Tinggal dilihat, kuatan ruh atau nafsu dalam jiwa itu. Sejatinya kewajiban manusia dan jin di kehidupan sekarang hanyalah untuk menyucikan jiwa dengan mendominankan ruh atas nafsunya. Jangan bingung ya, jin juga punya ruh. Menurut syariat, kewajiban ini disebut ibadah. Kalau bisa, gulung semua nafsu itu dalam kesucian. Seperti sabda Baginda Rasul tadi, muslimkan nafsu kita masing-masing. Yaa ayyatuhaan nafsul muthmainnah, hai jiwa yang tenang. Lihat di Qur’an, Surat al-Fajr ayat dua puluh tujuh. Nah, sudah tenang belum jiwa kita? Tidak bakal bisa tenang kalau nafsunya masih merajalela.”
Puas Hazri. Belum pernah dia dapat penjelasan selugas ini.
“Kalau jiwa yang gelisah itu mati, terus bagaimana, Guru?”
“Pohon rambutan, Guru?” kejar Hazri sekalian.
“Hahaha...,” Pak Subakir dan yang lain tertawa.
“Suka-suka Yang Punyalah. Mau digantung di pohon rambutan, bisa. Ditancap di kolong jembatan juga bisa, hehehe.... Masih bagus di pohon rambutan, pantaslah mungkin jadi arwah gentayangan. Menyeringai nakut-nakutin orang lewat. Lha kalau disuruh jagain, pohon bayam gimana? Mau jadi popeye?”
Semua ikhwan tertawa lagi, termasuk Hazri tentu.
“Bukannya masuk neraka, Pak?” tanya Iwan. Salah seorang ikhwan di sini.
“Syariatnya begitu. Coba Bapak mau tanya, menurut Iwan, surga dan neraka itu adanya di mana sih?”
“Di sana, Pak....”
“Di sana di mana?”
“Di sana, nanti di akhirat.”
“Ooh, nanti ya. Kalau sekarang tidak ada?”
__ADS_1
“Ya nggak ada, Pak. Kan belum kiamat.”
Pak Subakir mesem. Beberapa ikhwan juga tampak tersenyum, termasuk Bilal dan Agil. Mungkin mereka sudah lebih paham soal ini. Hazri menyimak serius, soalnya dia masih gelap. Sepengetahuannya, gambaran surga dan neraka ya seperti yang dikatakan Iwan tadi.
“Kalau sirathal mustaqim, jalan yang lurus, seperti apa itu menurut Iwan?” pancing Pak Subakir lagi.
“Eemm, apa ya? Katanya sih titian serambut dibelah tujuh.”
Pak Subakir mesem. Beberapa ikhwan kembali senyum.
“Pakai apa membelahnya, Wan? Tipis amat? Terus rambut siapa yang panjangnya cukup untuk dijadikan jembatan?”
Tidak tahan tampaknya, beberapa ikhwan itu pun terkekeh.
Iwan garuk-garuk kepala. Nyengir juga dia.
“Selanjutnya pasti Iwan mau bilang bahwa neraka itu seperti danau api maha gede, sirathal mustaqim terbentang di atasnya. Seluruh manusia dari segala zaman dan segala bangsa dikumpulkan di salah satu sisi. Di sisi yang lain terlihat samar-samar indahnya pintu surga. Oleh para malaikat penjaga yang galak-galak, manusia-manusia malang itu disuruh jalan satu-satu meniti jembatan serambut dibelah tujuh tadi. Meleng sedikit, plung... jatuh ke neraka yang apinya menjilat-jilat ganas di bawah sana. Kalau sukses akrobatnya, dengan wajah riang gembira dia menyongsong surga. Empat puluh bidadari perawan terus siap melayani Iwan, berikut segala anggur dan kenikmatan lain. Mantaaap. Seperti itu kan filmnya?”
Iwan cengengesan. “Iya, Pak....”
“Kalau yakin begitu, semoga Iwan masuk surga...,” kata Pak Subakir sambil tersenyum lembut ke salah seorang muridnya ini. “Tapi, Wan, Bapak mau tanya lagi nih. Tadi sudah kita bahas, yang pulang ke akhirat itu jiwanya. Ruh dan nafsunya. Nah, bentuk jiwa Iwan tidak sama dengan Iwan yang ganteng sekarang ini. Bapak bingung, emangnya jiwa Iwan punya testis gitu?”
“Hahaha...,” tertawa semua di situ. Tahu maksudnya testis. Iwan yang sedang jadi obyekan canda serius itu juga ikut tertawa.
“Lha iya, kalau tidak punya testis terus Iwan mau pakai apa ngerjain bidadari perawannya? Pakai mulut? Lumayan ciuman hehehe... Tapi, apa jiwa punya mulut? Yang bisa dipakai ciuman, minum anggur, dan makan apel surga itu?”
Suara tawa semakin riuh.
“Gimana, Wan?” tanya Pak Subakir lagi.
Iwan menggeleng sambil masih cengengesan.
“Terserah masing-masing sampai batas mana sanggup meyakini sesuatu. Tapi, dalam hal-hal spiritual seperti ini kita harus sadar bahwa bahasa manusia tidak sanggup menerjemahkan semua gambaran Ilahiah. Allah berkata bidadari, lalu kita menerjemahkan persis seperti bentuk bidadari yang ada dalam khayali. Jangan begitu, kalang kabut nanti pengertiannya. Bagaimana tidak? Emang siapa yang pernah lihat bidadari yang dimaksud Allah itu? Kata siapa bidadari pasti perempuan yang putih mulus kulitnya, bening bola matanya, dan bersayap seperti capung? Siapa yang berani menjamin?”
Iwan manggut-manggut. Mulai paham kelihatannya.
“Kalau keyakinan Bapak, surga adalah gambaran dari ketenangan sejati bagi jiwa yang mampu meraihnya. Begitu pun neraka, gambaran dari kegelisahan hakiki bagi jiwa yang gagal menemukan sejati diri. Mereka yang tersesat dalam pengembaraannya di alam fana ini. Gagal menemukan jalan pulang.”
Hazri pun mengangguk-angguk paham.
“Kalau bisa, Wan, jangan sampai Iwan yakin bahwa di neraka kelak ada jiwa yang disiksa pakai setrikaan. Masalahnya, bapak khawatir Iwan lantas membayangkan setrikaannya seperti yang ada di rumah. Merknya Panasonic.”
“Hahaha...,” suasana yang mulai syahdu itu kembali riuh.
“Makanya, daripada disetrika malaikat pakai setrikaan Panasonic, mending sekarang kita rapikan duluan jiwa masing-masing. Hitung-hitung ikut meringankan beban kerja malaikat pengurus neraka. Kasihan mereka, sudah kebanyakan jiwa kusut yang mesti disetrikain....”
__ADS_1
Tawa pun makin riuh.