
Mereka balik duduk di teras depan. Lanjut ngobrol nostalgia.
Tejo tidak bertanya soal ke mana Hazri selama ini. Dia merasa kurang pantas bertanya-tanya itu; yang penting sekarang dia menyaksikan tuannya selamat sehat wal afiat. Dan, tadi shalat berjamaah, dengannya. Yang terakhir ini sangat membahagiakan hatinya. Tidak usah banyak kata-kata, shalatnya seorang Hazri Tiger adalah bukti rahmat Ilahi kepadanya. Lebih dari segalanya.
Tidak lama berselang, Najib dan seorang ketua wilayah datang.
“Malam, Bang...,” sapa mereka sambil menghormat ala militer. Maklum, anak Baret. Sudah kebiasaan begitu.
Hazri dan Romi balas menghormat.
Najib menyalami Hazri dan Romi.
“Bram...,” kata yang satunya saat menyalami Hazri.
“Abraham, gantinya Ajay,” Romi menjelaskan.
Hazri mengangguk-angguk. Gagah juga penerusnya Alay ini.
Tejo mengambilkan kursi untuk dua pemuda itu.
“Kang Tejo, sebentar lagi mau ada rapat Nitan revolusi di sini. Gawat, penjahat semua yang datang...,” Hazri berguyon.
“Hahaha...,” Romi dan yang lain langsung ngakak.
“Berhubung Kang Tejo bukan penjahat, bagusnya jangan dekat-dekat. Nanti ketularan virusnya.”
Makin ngakak mereka. Tejo pun tertawa paham.
“Iya, Den. Saya pamit dulu, sudah malam. Tapi, Den Hazri nginap, kan?”
“Iya Kang. Insya Allah, besok kita lanjutkan ngobrol. Sekarang biar saya ceramahi dulu virus-virus mematikan ini.”
Ngakak lagi. Romi bahkan sampai keluar air mata.
Tejo mesem. “Akang pamit dulu, Den....”
“Kang, jangan bilang siapa-siapa soal aku ya...,” Hazri berkata pelan sambil memberikan semua uang dikasih Fahmi siang tadi.
“Iya, Den,” Tejo mengangguk-angguk paham. Lalu, menyalami semua yang ada di situ. “Assalamu’alaikum,” katanya.
“Wa’alaikum salam,” jawab Hazri. Hanya dia yang membalas.
Tejo pun beranjak sambil tersenyum. Ciri kedua tadi itu.
Hazri memandangi punggung tukang kebunnya yang sedang berjalan ke pintu pagar, lalu senyum sendiri mengangguk-angguk. Ada rencananya.
“Aku mandi dulu,” kata Hazri sepeninggal Tejo. “Rom, tolong tasku.”
“Biar aku ambilkan,” Najib menerima kunci dari Romi dan segera mengambilkan tas bos besarnya di mobil.
Setelah menerima tasnya, Hazri masuk ke kamarnya. Tejo merawat rumah ini dengan sungguh-sungguh. Kamar Hazri rapi sekali. Kamar mandi di dalam kamar itu pun bersih. Baju-baju zaman dulu yang tersisa masih ada, tergantung atau terlipat rapi di dalam lemari. Ini jelas bukan pembersihan mendadak karena mau ada tamu. Pasti memang sudah bersih dari kemarin-kemarin.
Usai mandi, Hazri memilih baju kaus casual dari dalam lemari. Baju bawaannya yang dari Magelang model koko semua. Kurang pas untuk acara malam ini. Lalu, shalat isya’. Usai shalat barulah dia kembali ke teras depan. Revolver Colt 38-nya diselipkan di pinggang.
Sudah. kumpul semua ternyata.
“Malam, Bang...,” sapa tiga ketua wilayah yang baru ketemu Hazri. Sama, hormat model tentara semua. Hazri membalas hormat mereka dengan anggukkan. Satu per satu mereka menyalami bos besarnya sekalian memperkenalkan diri. Bahar gantinya Tomi, Andi di posisi Simon, dan Diki penerusnya Bagas.
Hazri mengangguk-angeuk. “Silakan duduk.”
Mereka pun kembali duduk.
“Wah, sudah datang makanan. Makan dululah...,” kata Hazri lagi.
Mereka pun makan tanpa banyak bicara. Sangat kuat terasa karisma Hazri di mata mereka. Menatapnya pun jerih.
Usai makan, Hazri langsung mengajak para anak buahnya itu masuk ke dalam rumah. Ngumpul di sofa tamu. AC dinyalakan, merokok dipersilakan. Asap pun bergumpal. Bagi mereka itu cuma asap, bagi sang Mursyid lain maknanya.
Hening....
“Lah, kok tegang begini, hahaha...,” Hazri mencairkan suasana.
Semua cengar-cengir.
“Bang Romi, selain Najib, mereka ini sudah kenal aku sebelumnya?” tanya Hazri. Soalnya wajah para ketua wilayah itu tampak masih muda-muda.
“Najib sama Diki yang sudah tahu. Yang lain masuk belakangan waktu Abang masih bertapa di gunung,” jawab Romi.
Hazri manggut-manggut. Pantas tiga yang lain itu kelihatan jelas sangat terpesonanya. “Yah, untuk kalian yang baru tahu, inilah Hazri Tiger. Biasa-biasa saja kan ternyata? Tidak ada taringnya....”
Tertawa semua. Romi paling keras.
“Dua belas tahun lebih.... Kukira tadinya aku tidak akan sempat bertemu kalian lagi. Ternyata, tidak begitu. Manusia memang tidak bisa menentukan apa yang bakal terjadi di depannya. Tadi siang, aku sudah ketemu duluan dengan Bang Najib, ada Bang Romi juga. Di situ aku sudah ceritakan garis besar ke mana aku selama ini, ngapain saja, dan sebagainya. Kukira tak perlulah kuulang lagi sekarang. Kalau kalian perlu tahu, tanya saja ke Bang Romi atau Bang Najib.”
Semua mengangguk-angguk.
“Dua belas tahun aku bersama Bang Romi, Bang Sapri, Bang Ajay, Bang Bagas, Bang Simon, dan Bang Tomi membangun Kopen dan Baret. Sebelumnya ada Bang Sodik dan Bang Wahyu juga. Dua belas tahun terakhir, kalian yang mempertahankan itu. Berhasil, bahkan melebihi prakiraanku. Sempat kukira Kopen bakal habis, Baret menyurut. Ternyata tidak. Masih ada kalian sampai sekarang, kudengar bahkan masih sangat diperhitungkan. Salutku untuk itu.”
Hazri menyulut rokok lagi. Yang tadi habis.
“Maka, aku pun sadar bahwa masaku sudah kedaluwarsa. Tiba giliran generasi selanjutnya...,” Hazri berhenti menunggu reaksi.
Kelihatan Najib dan yang lain hendak protes, tapi belum keluar suaranya. Romi pun menatap Hazri dengan kening berkerut tanpa suara. Hazri menunggu sejenak lagi, tetap belum berbunyi. Tampaknya mereka masih bisa menahan diri.
“Sebenarnya, tidak perlu jadi gundah soal begini. Alamiah. Datang dan pergi silih berganti karena waktu memang berputar maju. Yang dulu muda, sekarang tua. Yang dulu tua, sekarang lebih tidak berdaya segalanya memang menuju habis. Kedaluwarsa, kataku tadi. Kalian lihat rambutku, sudah mulai beruban, kan? Dulu tidak, hitam legam. Lihat Bang Romi, dulu ganteng sekarang makin tampan.”
“Hehehe...” Romi terkekeh; yang lain cengengesan.
“Jadi, terimalah aku undur diri....”
Langsung ribut suasana. Padahal, tadinya sudah kondusif.
“Jangan, Bang. Abang masih sangat pantas memimpin kita...,” protes Najib; yang lain menyuarakan nada serupa. Romi menunduk. Sebagian dirinya membenarkan ucapan-ucapan Hazri tadi, tapi sebagian yang lain menolak kalau Hazri Tiger sampai mesti undur diri.
Hazri senyum-senyum saja. Dibiarkan sebentar keramaian itu.
“Kenapa? Bukankah selama ini aku memang tidak ada?” cetusnya kemudian.
Jep, diam semua.
“Hehehe...,” Hazri tertawa kecil. “Adik-adikku, misalkan aku tidak muncul sekarang, apa yang akan terjadi?”
Tidak ada yang menjawab.
“Misalkan aku muncul, tapi sudah mati. Apa pula yang akan terjadi?”
Tetap hening, tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
“Nah, lalu apa yang kalian ributkan tadi?”
Makin hening suasana. Semua mencoba mencerna ucapan Hazri barusan.
“Mungkin benar mereka yang dulu pernah tahu sepak terjangku masih merasa miris dengar namaku. Tapi, kuyakin tidak sepenuhnya begitu karena mereka tahu aku tidak ada. Apalagi angkatan di bawahnya yang cuma dengar ceritanya saja. Tidak akan mereka semiris seniornya yang pernah tahu langsung itu. Coba kutanya kau, Bram, seberapa hebat diriku dalam bayanganmu?”
Bram diam sebentar. “Sebatas yang bisa kubayangkan, Bang. Seperti cerita-ceritanya yang kudengar.”
“Cerita.... Bram bicara tentang cerita. Ada rasanya nggak itu, Bram?”
“Maksudnya, Bang?”
“Rasa bahwa kau ngeri sungguhan. Betul-betul ngeri walau belum pernah lihat langsung pukulanku. Seperti itu.”
Bram menghela napas. “Maaf, Bang. Kurasa tidak, kecuali...”
“Aaa..., jangan pakai kecuali. Sekarang. Gimana?”
“Maaf, Bang, tidak.”
“Abraham jujur, itulah sebenarnya. Di luar sana, sama. Kalian boleh cek kalau tidak percaya. Jadi, bagaimana? Apa yang kalian dapat sekarang ini bukan karena aku. Jelas bukan aku karena aku tidak ada. Kalian yang bekerja. Kalau mereka segan pada kalian, itu karena kerja kalian. Kalau mereka takut pada kalian, itu pun karena kalian juga. Masak karena aku?”
Hening lama setelah itu. Hazri sampai menyulut rokok lagi.
“Percayalah pada diri kalian sendiri. Kalau kalian tidak mampu percaya pada diri sendiri, jangan paksa orang lain percaya pada kalian. Dua belas tahun bukanlah waktu yang pendek. Aku sudah merasakan suka duka memimpin Kopen selama itu. Kalian pun sudah untuk yang selanjutnya. Terbukti mampu. Tanamkan keyakinan ini. Maka kutegaskan lagi, aku mundur...,” Hazri mengeluarkan pistolnya. “Kukembalikan ini kepada Bang Romi, yang dulu memberikannya kepadaku.”
Tetap hening sekarang. Kondusif beneran suasananya.
Romi memandangi pistol indah di tangannya itu. Dulu dia pernah bangga memegangnya, lalu tak mengapa saat berpindah ke tangan Hazri. Tapi, sekarang rasanya terlalu lelah kalau harus kembali memanggulnya. Teramat bosan, hampa merana.
Masih hening suasana. Hazri pun diam memilin-milin tasbih. Dengan caranya, dia memberi bantuan spiritual kepada sahabatnya itu. Memohon kepada Yang Maha agar Romi ditunjuki yang terbaik baginya. Segalanya adalah Dia.
Romi geleng-geleng kepala. “Aku lelah, lelah sekali. Kurasa aku pun sudah kedaluwarsa. Umurku bahkan lebih tua dari Bang Hazri. Apa yang dibilang Bang Hazri tadi benar semua. Kalian mampu, kalian sudah membuktikan itu. Masaku sudah habis. Aku juga undur diri...,” Romi meletakkan pistol itu di atas meja.
Hazri tersenyum. Puji syukur kepada-Nya, terucap lembut lewat kesucian sejati diri. Wal ashr, demi masa... Innal insana lafi khusrin, sesungguhnya semua manusia adalah merugi. Ila, kecuali....
“Tunjuk penggantimu, Rom...,” Hazri mengirim pesan spiritual kepada Romi. Tidak ada kata, tidak ada suara. Hanya rasa, langsung ke kalbu sahabatnya.
Seketika Romi menoleh ke arah Hazri, karena suara yang barusan terasa itu jelas suara Hazri. Tapi, dilihatnya Hazri sedang diam memutar kalung. Agak bingung dia jadinya. ‘Rom, tunjuklah...,’ Bergetar lagi SMS gaib. Kembali Romi memandang Hazri, kali ini yang dipandang merespons dengan anggukan kecil tidak kentara. Ternyata benar Hazri yang punya permainan ini. Romi pun balas mengangguk.
“Aku menunjuk Najib menjadi penggantiku,” katanya mantap.
Maka, tuntaslah suksesi antar-generasi ini. Dengan gagah Romi menyerahkan pistolnya kepada Najib. Dan, yang menerima amanat pun serta merta siap, walau masih tampak keterkejutan pada wajahnya. Lainnya gembira, riuh bertepuk tangan. Seperti dulu, tidak tercium aroma culas di situ.
“Kopen...,” seru Najib.
“Tiger Kopen. Setia sampai mati...,” sambut yang lain.
Hazri tersenyum lega. Satu episode takdirnya telah dilalui. Tinggal menerima dan menjalani yang selanjutnya.
Menjelang tengah malam, Hazri mencukupkan sidang paripurna para pentolan Kopen itu. Najib dan para ketua wilayah pun mohon diri.
“Jib, pada saatnya setiap manusia akan merindukan sejati dirinya. Dia akan bertanya tulus dalam hati, siapakah aku? Kalau tiba saatnya itu padamu, carilah tahu tentang sejati dirimu. Itu yang akan menyelamatkanmu,” Hazri memberi wejangan khusus kepada Najib sebelum pergi.
“Aku tidak mengerti, Bang...,” Najib berkata jujur.
Hazri tersenyum. “Tidak soal. Nanti akan paham sendiri ketika tiba padamu. Siapakah aku? Ingat baik-baik tanda itu, lalu segera cari tahu sejati dirimu...,” bisik Hazri sambil menepuk-nepuk pundak ketua baru Kopen ini.
Najib manggut-manggut. “Baik, Bang. Akan kuingat.”
Mereka pun berpelukan erat....
Ternyata, bukan Yudi bartender di situ, maka Hazri lanjut mencari Tika. Romi stand by di meja, minum-minum ringan. Ternyata, Tika juga sudah tidak bekerja di sini.
“Kalau Pak Faisal masih di sini?”, tanya Hazri kepada cewek penerima tamu karaoke room itu. Faisal adalah pacar Tika dulu, dan sekarang sudah menikah. Dulu sempat beberapa kali mereka bertemu.
“Masih, Om...,” jawab cewek itu genit-genit manja.
“Bisa saya ketemu dia?”
“Bisalah, Om. Apa aja deh buat pelanggan, hihihi....”
Hazri mesam-mesem saja.
“Ayo Om saya antar. Lewat sini....”
Hazri mengikuti cewek itu. Ternyata, Faisal sudah jadi bos sekarang. Di pintu ruang kerjanya tertulis ‘Asisten Manajer’.
“Sebentar ya, Om...,” cewek itu mengetuk pelan pintu terus langsung masuk.
“Mana,..?” terdengar suara Faisal dari dalam sesaat kemudian.
Pintu dibuka lebar. Hazri tersenyum lebar.
“Cak...! Hahaha.... Apa kabar, Cak?” Faisal langsung mendekap Hazri. “Ayo masuk, masuk....”
Mereka pun masuk ke dalam.
“Nita, tolong bawakan minuman ke sini. Sebentar, mau minum apa, Cak?”
“Kopi kalau ada.”
“Kopi? Hahaha.... Bercanda?” dia tahu Hazri dulu tidak suka kopi, walau nongkrongnya di warung kopi.
Hazri senyum menggeleng.
“Bener kopi?”
“Iya. Kalau ada.”
“Oke, Nit, bikin dua. Yang enak.”
Nita keluar membuatkan pesanan bosnya.
“Cak Hazri....Lama sekali...,” Faisal geleng-geleng kepala.
Hazri tersenyum, “Alhamdulillah. Sudah bos kau sekarang ya?”
“Yah beginilah, Cak. Kurasa wajar setelah sekian lama. Biasa saja.”
“Tika sudah nggak di sini?”
Faisal menggeleng. “Kasihan, terlalu repot kalau masih kerja.”
“Kenapa?”
“Kan pasukannya empat...,” Faisal nyengir.
__ADS_1
“Hahaha.,.. Empat ya? Itu baru Jawa Timur namanya....”
Faisal tertawa. “Cak sudah nikah?”
Hazri mengangguk.
“Berapa?”
“Satu...”
“Hahaha...,” Faisal ngakak. “Satu? Hahaha....”
Hazri cengengesan saja. Hukum karma mungkin.
Lama juga Faisal tertawa. Baru mereda saat Nita masuk membawa dua gelas Cappucino dan sepiring kue-kue.
“Ini, Nit..., terima kasih ya,” Hazri memberi tip. Banyak.
Nita terpana. “Ah, banyak sekali, Om? Ini untuk Nita semua?”
“Emang ada yang lain?”
Senyum Nita langsung merrkah. “Ih, makasih ya, Om. Segini bisa dapat lebih lho, boleh pilih bonusnya. Nita kasih deh kalau Om mau...”
“Hahaha. ..,” Faisal ngakak. “Sekalian ajarin gaya-gaya masa kini, Nit, biar nggak satu..., hahaha.... Jawa Timur kok satu, hahaha....”
Hazri cengengesan. Sialan.
“Apaan satu, Pak?” tanya Nita.
“Hahaha..., tanyain ke kakakku...,” Faisal menunjuk Hazri.
“Apa sih, Om?” nanya pula si Nita ini.
“Satu itu ya ini...,” Hazri mengacungkan jari telunjuknya.
“Heem, segitu sih kecil. Lima-limanya sekalian Nita bisa...,” celoteh cewek ini nggak nyambung.
Faisal ngakak lagi.
Hazri nyengir geleng-geleng kepala. Payah, hawanya di sini ke situ terus.
“Udah..., Nit, udah, Nit..., thanks ya,” Faisal memutus ketidaknyambungan ini.
“Kapan Om mau ambil bonusnya? Tinggal datang aja, hihihi...”
“Nit, udah...,” kata Faisal agak kencang.
“Iya, Pak. Ih, galak amat sih. Tak kasih tau Mbak Tika lho....”
“Nita...,” Faisal melotot.
Cewek itu pun melenggang keluar sambil cekikikan.
“Ampun, ampun.... Kerjaku dikelilingi aneh-aneh kayak gitu, Sampai-sampai yang normal malah kelihatan gila di sini,” keluh Faisal jujur.
“Bukannya enak?” goda Hazri.
“Enak kalau secangkir. Giliran sedrum, mual.... Susah sembuhnya.”
Hazri tertawa. Enak itu memang kalau sesuai takarannya.
“Ngomong-ngomong, Yudi ke mana?”
“Di Italia dia.”
“Nyapain?”
“Jodohnya orang Italia. Ketemu di sini, lanjut di sana. Sekalian sekolah barista kopi katanya”
“Oo...,” Hazri manggut-manggut.
Obrolan berlanjut hingga beberapa saat ke depan. Tidak ada buka-bukaan rahasia, yang dulu maupun yang kini. Bukan tidak percaya Faisal, tapi biarlah tetap begini karena memang lebih baik begini.
“Kukira cukup, Cal. Aku nggak bisa lama-lama. Maklum buronan. Yang penting aku sudah tahu kalau kau dan Tika baik-baik saja.”
Faisal mengangguk-angguk. “Jadi, aku nggak bisa tahu Cak di mana?”
Hazri mesem. “Bukan nggak bisa, bukan nggak boleh. Untuk kebaikan kalian jugalah. Kalau ketahuan polisi kau temannya Hazri Tiger bisa gawat kariermu. Nanti malah jadi gimana-gimana. Biar aku yang ke sini. Aku lebih tahu situasi.”
Faisal mengangguk sambil menghela napas. “Oya, Cal, satu lagi. Aku paham kehidupanmu sekarang sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah. Tapi, dulu aku pernah janji ke Tika. Waktu itu kalau nggak salah kau sedang dinas ke Batam. Soal susu....”
“Susu?”
“Hahaha.... Jangan mikir yang nggak-nggak. Biaya susu anakmu, maksudku. Kubilang aku yang tanggung asal bikinin lagi keponakanku yang banyak.”
Faisal tertawa. “Iya, Tika pernah cerita itu.”
“Ini rapelannya...,” Hazri menyerahkan uang yang dibawanya.
Faisal terbelalak.
“Aku nggak mau dengar komentar. Kalau kau mau buang lagi uang ini, nggak soal bagiku. Asal kasih tahu dulu Tika, aku menepati janji.”
“Cak, ini.... Masak aku kayak gitu? Nggak bakallah.”
“Terus kenapa melotot?” Hazri mesem.
“Hahaha. ... Mikirin mau beli mobil apa aku ya? Anak-anak sudah pada gede. Paling tinggal yang bungsu.”
Hazri tertawa. “Terserah kalian sajalah itu.”
Faisal menatap uang itu. “Jadi, ini untuk kami?”
Hazri mengangguk.
“Rasanya dari dulu Cak terus yang ngasih, aku belum pernah bisa balas...,” Faisal mendesah.
“Hahaha.... Aku kan kakakmu. Pantaslah begitu. Sudah, jangan dipikirin.”
Faisal mengangguk-angguk. “Terima kasih, Cak.”
“Sama-sama. Jaga Tika dan keponakanku baik-baik.”
Faisal memberikan kartu namanya. Alamat rumah dan nomor HP ditulis di baliknya. Lalu, mengantar Hazri ke pelataran parkir. Tampak Romi sudah menunggu di mobil karena warkop semi diskotik telah usai dini hari ini.
Hazri memperkenalkan Faisal kepada Romi. Buka satu rahasialah, kasihan Faisal kalau gelap semua. “Untuk kau saja, Cal. Tahu nggak? Kau barusan salaman dengan pembantai itu...,” bisiknya saat mereka berpelukan perpisahan. Lalu, terkekeh pelan sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Faisal terkesiap sesaat, lalu ikut terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Panther pun melesat pulang ke Banguntapan....