
Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Cirebon, Hazri tidur di kabinnya dengan pulas. Agaknya kurang tidur akhir-akhir ini. Hazri tekun sekali mempelajari kitab al-Hikam, juga lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk berdzikir. Memilih-milih tasbih kaukanya.
Namun, di tengah kepulasannya itu Hazri terbangun karena sayup-sayup mendengar ribut-ribut di dek atas. “Ambil senjata kalian...!” suara Huda jelas kedengaran sampai ke dalam kabin. Hazri bangkit, dari nada ucapannya bisa diketahui ada yang tidak beres. Jam dinding di dalam kabin menunjukkan pukul tiga empat puluh dua menit, dini hari. Hazri segera melompat naik ke dek atas.
“Ada apa?” tanya Hazri melihat Huda berlindung di balik tumpukan muatan.
Huda menoleh. “Nunduk, Rif! Perompak!” serunya.
Reflek Hazri menunduk dekat Huda. “Perompak?” gumamnya. Dua tahun aman sentosa kenapa tiba-tiba muncul perompak? Setan...! Hazri mengumpat dalam hati. “Mana mereka?” dia bertanya.
Huda menunjuk dua kapal yang mengejar mereka. Lampu sorotnya dikedip-kedipkan terus, meneror maksudnya. Ukurannya lebih kecil, lebih lincah, dan tenaganya lebih besar. Pelan-pelan keduanya makin mendekat.
“Bukan polisi?” tanya Hazri lagi.
“Bukan. Kalau polisi pasti halo-halo,” jawab Huda sambil memasukkan peluru ke magasin pistolnya. Wajah menantu Haji Sulton yang beristrikan Ria ini terlihat pucat, napasnya kembang kempis. Slek! Magasin terpasang. Sreek... Klek! Pistol terkokang. Sementara, kedua kapal perompak semakin dekat.... .
Dapat keterangan itu, Hazri segera membangunkan ‘Cakra Buana’ yang sudah lebih dua tahun terlelap. Dia berkonsentrasi merapal ajian tertinggi ilmu silat Ki Ageng itu. Satu demi satu ajian-ajiannya pun terbuka, ‘Rogo Kumitir’ yang dipilih untuk tampil mewakili kawan-kawannya. Tenaga dalam digenjot penuh. Kedua tangan Hazri pun mulai memerah, terus memerah hingga kemerahan bara.
Huda tidak memperhatikan perubahan itu, sibuk mengintai musuh. Baru saja hendak bangkit membidik... Dor! Dor...! Dua letusan senjata menyalak duluan dari sana. Reflek Huda merunduk lagi, wajahnya makin pucat... napas ngos-ngosan. Pistol dipegang erat kedua tangannya, mata terpejam..., menenangkan dii.
“Pinjam pistolnya,” kata Hazri tenang. Suaranya berat karena tenaga dalam.
Huda menoleh, kaget mendengar suara berat Hazri. Lalu, makin terbelalak dia melihat kedua tangan Hazri sebatas siku berwarna merah bara. Kontras di suasana malam gelap ini.
“Hah?! Kenapa tanganmu?!” Dia berseru. Dor! Dor...! Mereka di sana menembak lagi. Huda menunduk sambil memagang kepalanya.
“Nggak apa-apa. Pinjam pistol...,” kata Hazri lagi.
Huda menyerahkan pistolnya.
“Suruh semua ABK-mu sembunyi, jangan nongol-nongol mau jadi pahlawan. Terlalu bahaya, mereka di sana jelas bersenjata api...,” perintah Hazri.
Huda mengangguk. “Sembunyi! Sembunyi semuanya. ..!” Dia berseru nyaring kepada para ABK-nya. “He, Kumpret! Nunduk kau! Awas kepalamu! Jangan nongol-nongol! Semua jangan ada yang nongol...!”
“Sim! Dasim...! Nunduk!” seru Hazri kepada Dasim di anjungan. “Pasang otomatis kemudi! Lambatkan kapal!”
“Kok dilambatkan?!” Dasim ragu-ragu.
“Sudah, lambatkan saja!” seru Hazri lagi.
Dasim melihat ke arah Huda, masih ragu-ragu dia.
“Lambatkan, Sim!” perintah Huda tegas. Sebenarnya dia juga ragu-ragu, tapi dipaksakan dirinya percaya penuh kepada Hazri.
Dasim melambatkan laju kapal. Para ABK pun gelisah....
“Hud, kau juga nunduk. Percaya padaku. ..,” kata Hazri tegas. Tangannya agak bergetar menahan energi ‘Rogo Kumitir’ bertenaga dalam penuh itu.
Huda mengangguk sambil memperhatikan tangan Hazri.
Kapal perompak semakin cepat mendekat karena kapal Huda melambat. Para ABK blingsatan gelisah tidak keruan. Hazri bangkit, berdiri dari persembunyiannya. Dor! Dor! Dor! Tiga letusan menyambut. Dep! Satu mengenai tubuhnya. Hazri agak limbung, titik baju yang terkena peluru mengebulkan asap tipis. “Arif...!” Huda memekik. Demikian juga para ABK yang diam-diam mengintip. Namun, sejurus lewat mereka terkesima.... Pak Arif kebal peluru!
Hazri terus melangkah ke arah buritan kapal. Tembakan para perompak itu masih terus mengincarnya. Dua atau tiga peluru lagi menghantam tubuhnya. Tapi..., itulah ‘Cakra Buana’. Tiba di dekat, mushala, Hazri balas menembak. Dor! Dor! Lampu sorot pada masing-masing kapal perompak itu pecah.
“Dasim! Matikan semua lampu kapal...!” seru Hazri.
Blep.... Semua lampu di kapal Huda padam karena dimatikan dari sentralnya oleh Dasim. Gelap gulita sekarang di tengah laut ini. Para perompak di sana tampak kehilangan sasarannya. Tapi, mereka terus menembak membabi buta, walau pelurunya melenceng ke mana-mana.
“Tetap menunduk!” seru Hazri kepada semua anggota kapal Huda.
Dia pun bersiap. Tenaga dalam dialirkan ke mata... satu, dua, tiga... byar! penglihatan malam Hazri pun aktif. Seperti teropong infra merah yang biasa dipakai pasukan khusus militer. Kedua kapal perompak itu pun tampak di sana. Hazri sempat tersenyum. Dia menyelipkan pistolnya di pinggang.
Berkonsentrasi sebentar... “Hah!” Dia menghantamkan ‘Rogo Kumitir’ bertenaga dalam penuh ke salah satu kapal... Sreett... Selarik merah membelah gelap... Bledaaar...! Haluan kapal perompak itu terkoyak, kayunya mencuat-cuat terlepas ikatan. Api langsung membakar....
Huda dan para ABK-nya terkesima sebentar melihat pemandangan itu dengan bantuan cahaya dari api yang membakar kapal di sana, lalu mereka pun bersorak-sorai setelah paham apa yang terjadi.
“Menunduk! Tetap menunduk!” seru Hazri karena situasi belum sepenuhnya aman. Huda dan anak buahnya kembali menunduk. “Dasim! Nyalakan lampu!” teriak Hazri lagi. “Siap-siap matikan lagi begitu kusuruh...!”
“Siap, Pak!” seru Dasim dari anjungan. Byar... Lampu kapal Huda kembali menyala terang. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Para perompak di kapal satunya langsung menyambut. “Matikan!” seru Hazri.
Blep.... Kembali padam.
Hazri berdiri tegak di buritan. “Setan kalian...!” Bentaknya keras bertenaga dalam penuh ke arah para perompak itu. Huda dan para ABK menutup kuping karena bentakan Hazri terasa menusuk gendang telinga.
“Kalian tidak tahu aku?! Kukasih hati minta batu...! Ambil batumu ini.... Hah!” Hazri menghantamkan lagi ‘Rogo Kumitir’. Sreet... Bledaaar...! Kapal kedua ini pun terkoyak. Lebih parah dibanding yang pertama karena jaraknya lebih dekat. Api langsung membumbung, jerit-jerit kematian pun menyayat hati. Merobek kesunyian anggun dini hari ini.
Kapal Huda terus merayap pelan....
Hazri duduk diam setelah melepaskan ‘Cakra Buana’. Masih gelap di situ, kecuali sedikit terang dari nyala api di kedua kapal perompak itu yang sudah tidak mampu bergerak, menanti karam. Tembakan pun sudah tak terdengar, namun jeritan-jeritan maut disana sayup-sayup masih terdengar.
Tak ada sedikit pun bangga dalam hatinya telah melakukan itu. Hazri menunduk dalam, air matanya mengembang. Pilu karena telah membunuh orang lagi walau terpaksa. “Allah..., jika semua adalah kehendak-Mu, mengapa Engkau pilihkan ini untukku... .?” Rintihnya perih. Dia pun menangis sesenggukan. .
“Rif...,” tegur Huda yang muncul di sebelahnya. “Kau baik-baik saja?”
Hazri menggeleng, air matanya dihapus cepat. “Hud, tolong jalan tanpa lampu dulu. Menjauh dari sini. Janganlah pemandangan di sana tersimpan dalam kenangan kalian. Demi Allah, tidak nyaman rasanya....”
Huda mengangguk. “Dasim, tambah laju! Tetap padam lampu. Semua yang lain tetap menunduk!” perintahnya.
Mesin kembali menderung, laju kapal pun bertambah. Hazri dan Huda duduk di dek mushala mengamati nyala api yang semakin kecil di sana. Hazri melepas tasbih yang terkalung di leher, lalu dipilin-pilin dalam hening. Huda pun membisu. Semua diam di kapal itu, hanya deru mesin dan debur ombak saja yang terdengar. Sampai api di sana tak tampak lagi, byar... barulah lampu kapal kembali dinyalakan. Hazri pun menghela napas panjang.
Para ABK segera berkerumun dekat mereka berdua begitu lampu menyala. Terkagum-kagum melihat Hazri yang tidak apa-apa walau di bajunya tampak setidaknya tiga lubang bekas hantaman peluru, Tadinya mereka mau bergembira karena telah berhasil menghalau perompak, tapi karena dilihatnya Hazri sedih maka mereka pun bingung mesti bersikap bagaimana. Apalagi sang juragan juga kelihatan larut dalam kesedihan sahabatnya.
“Hud, tidak kau periksa kondisi kapal?” tanya Hazri memecah keheningan.
“Eh iya. Periksa kapal, periksa kapal...,” serunya. Lalu, dia dan para ABK-nya itu memeriksa kondisi kapal.
Tidak ada kerusakan parah. Sebagian kaca anjungan pecah, mesin aman, peralatan navigasi utama juga aman, tapi antena radio SSB hilang. Tiangnya patah terkena peluru lalu antenanya terlempar jatuh ke laut. Radio komunikasi penting, tapi lebih penting kapal masih bisa berlayar. Antena bisa beli lagi nanti saat kapal sandar di pelabuhan, Sementara pakai radio sebelas meteran dulu. Barang muatan juga tidak apa-apa. Secara umum, kondisi kapal baik-baik saja. Kebanyakan peluru mengenai dinding kayu kapal, bertancapan di situ.
Huda menghampiri Hazri yang masih terpekur sendirian di mushala, setelah meminta para ABK-nya agar jangan mengerumuni mereka. Sekalian minta dibuatkan kopi ke Cak Nardi.
“Nggak apa-apa. Kapal aman...,” katanya sambil duduk di sebelah Hazri.
“Alhamdulillah,” ucap Hazri.
Kopi datang, mereka pun menyeruput kopi masing-masing.
“Hud, mestinya kau lapor polisi ya?”
Huda menghela napas. “lya, sih, tapi nggak juga nggak apa-apa...,” jawabnya menimbang situasi. “Tadi Dasim lapor katanya dia sempat kirim SOS, tapi belum ada yang merespons sampai antena SSB-nya hilang.”
“Hilang?” tanya Hazri.
“Iya. Tiangnya patah kena peluru, antena nyebur ke laut.”
Hazri manggut-manggut. “Kira-kira ada yang dengar nggak?”
Huda menghela napas lagi. “Mungkin ada....”
“Terus gimana?”
__ADS_1
“Yaa..., kalau sigap mereka akan datang ke titik lokasi yang dilaporkan Dasim tadi. Kalau sigap... Kebanyakan sih nggak kayak gitulah. Biasa....”
“Kalau misalnya datang, berarti mereka ke dekat-dekat tempat tadi?”
“Iya. Posisi lintang bujurnya yang dikirim Dasim kan di situ.”
“Nggak ngejar kapalmu ini?”
“Nggaklah, jarang ada yang mau repot-repot. Lagian tadi Dasim bilang cuma sempat kirim panggilan SOS dan posisi lokasi saja. Belum sempat sebut nama kapal karena belum ada yang merespons, antenanya sudah keburu nyebur. Aman, Rif, aman. Kujamin,” Huda berusaha membesarkan hati sahabatnya.
Hazri mengangguk-angguk paham. “Makasih, Hud.”
“Untuk apa? Pantasnya aku yang berterima kasih, sama semua anak-anak ini. Kalau nggak ada kau tadi, entah...,” kata Huda miris.
Hazri tersenyum. “Sama-samalah.”
“Tidak. Kami yang harusnya berterima kasih...,” Huda ngotot. Dia sadar betul, kalau tidak ada Hazri tadi maka boleh dipastikan dia dan semua anak buahnya sudah mati saat ini. Dicemplung-cemplungkan ke laut.
Hazri mesem saja. “Sudah subuh nih...,” katanya kemudian. Dia melepas baju kausnya yang berlubang bekas peluru dan membuangnya ke laut. Supaya tidak jadi kenangan buruk. “Meng, adzan....”
Komeng menghampiri. “Subuh, Pak?”
“Iya. Sudah waktunya, kan?”
Komeng mengangguk lalu bergegas mengambil wudhu.
“Hud, habis shalat nanti aku minta izin mau ngomong ke semua anak buahmu. Boleh?” tanya Hazri.
Huda mempersilakan.
“Makasih, Kawan. Sebentar ya...,” Hazri beranjak ke kabin, mengganti baju.
Komeng pun melantunkan adzan, langsung lanjut ke iqamat. Huda jadi imam karena Hazri menolak. Shalat subuh berjamaah itu pun ditunaikan.
“Kalian jangan pergi dulu. Pak Arif mau bicara,” kata Huda kepada ABK-nya sesuai shalat dan berdoa. “Muklis...,” dia berseru ke Muklis di anjungan.
“Ya, Pak,” sahut Muklis.
“Pasang otomatis! Kau ke sini!”
Muklis pun turun ke mushala setelah memasang kemudi otomatis.
“Silakan, Pak Arif. Aku ke anjungan dulu,” kata Huda.
“Makasih, Haji,” jawab Hazri. “Klis, shalat dulu....”
Muklis melaksanakan shalat subuhnya yang lain menunggu.
“Bisa dimulai nih?” tanya Hazri setelah Muklis selesai. Semua mata anak buah Huda memandangnya dengan tatapan kagum. Sudah tidak sabar mereka ingin bertanya. “Eemm, kopi. Kopi, Cak, kopi...,” pinta Hazri. Mereka yang sudah tegang menunggu itu jadi tertawa, Cak Nardi dan beberapa ABK beranjak ke dapur membuatkan kopi, “Saya nggak usah. Masih ada,” kata Hazri. “Sabar ya...,” dia berkata lagi ke para ABK di sekelilingnya.
Sebentar kemudian kopi datang. Mereka menyeruput kopi masing-masing.
“Baik, kita mulai...,” kata Hazri, lalu menghela napas. Semua diam menunggu. “Tadi, apa yang kalian lihat itu bukan khayalan....”
“Pak Arif kebal ya?” tembak Dasim. Tidak kuat dia nahan tanya.
“Kita lihat pelurunya nggak tembus. ..,” Supri menimpali. Sebagian besar yang lain mengiyakan.
Hazri diam sejenak, lalu mengangguk. “Aku tidak mau bohong pada kalian.”
Ramailah mereka. “Tuh betul, kan?” Kumpret berkata kepada dua rekan di sebelahnya yang mungkin kebetulan tadi tidak melihat adegan tertembaknya Hazri.
“Kubuang ke laut.”
“Waahh. .., kok dibuang, Pak? Tadinya mau saya minta...,” Dasim kecewa.
“Buat apa, Sim?”
“Buat kenang-kenangan. Saya kan belum pernah lihat orang ketembak. Sekali sekalinya lihat, kebal....”
“Justru itu, Aku nggak ingin kejadian tadi jadi kenangan buruk bagi kalian.”
“Nggak buruk kok, indah,..,” jawab Dasim. ABK yang lain pun setuju dengan pernyataan seniornya ini.
“Indah?”
“Lha iya kan, Pak? Perompak mampus kocar-kacir itu kan indah.”
Semua anak buah Huda di situ mengangguk-angguk sepakat.
Hazri geleng-geleng kepala, “Terserahlah apa kata kalian. Kalau kataku, yang seperti tadi jelas bukan kenangan indah, Buruk sekali,,,,” dia menghela napas.
Hening. Para ABK terdiam, mereka tidak menyangka menurut pandangan mereka Hazri adalah super hero tadi, tapi malah Hazri menganggapnya itu hal yang buruk.
“Begini saja...,” sambung Hazri. “Terserah kalian, mau dianggap kenangan indah atau buruk. Simpanlah untuk kalian sendiri. Jangan diceritakan ke orang lain,”
Masih hening.
“Kenapa, Pak?” tanya Komeng kemudian.
Giliran Hazri terdiam, ditatapnya Komeng. “Meng, kau punya rahasia nggak? Rahasia yang malu-maluin atau yang kau nggak ingin orang lain tahu?”
Komeng mengangguk.
“Nah, kayak gitu. Aku juga punya, Misalnya, Meng, rahasiamu itu terbongkar nggak sengaja, ada orang yang tahu,... Kalau masih bisa mohon, kau memohon nggak ke orang tadi agar jangan membongkarnya lagi ke orang lain?”
Komeng mengangguk lagi.
“Itulah...,” sahut Hazri. “Apalagi, rahasiaku itu benar-benar rahasia. Maunya cuma aku saja yang tahu sampai mati nanti,”
“Tapi, maaf, Pak, punya ilmu kayak tadi kan nggak malu-maluin?”
Muklis yang bertanya.
Huda.muncul lagi di mushala. Dia sudah mengecek data recording GPS, rute yang akan mereka lalui ini aman. Kemudi otomatis bisa dipercaya. Melaju berdasarkan rute GPS dari rekaman pelayaran yang lalu-lalu untuk jalur ini.
“Klis, yang kalian lihat tadi cuma secuil dari semuanya. Sedikit sekali. Cerita lengkapnya terlalu gede, panjang, dan lebar. Yang kumaksud rahasiaku di sini adalah semuanya itu, bukan cuma yang secuil tadi, Walau itu juga termasuk.”
Huda manggut-manggut.
“Pak Arif minta apa ke mereka ini?” dia bertanya.
Hazri menoleh, dia tidak lihat kemunculan Huda tadi. “Begini, Pak Haji, aku mohon ke mereka agar apa yang dilihat tadi untuk masing-masing saja. Boleh kalau memang mau dijadikan kenangan, asal kenangan pribadi, jangan dicerita-ceritakan ke orang lain. Termasuk ke istri dan anak kalau ada. Simpan sendiri.”
Huda mengangguk-angguk. “Kurasa jelas. Pak Arif sudah menyelamatkan kita dari serbuan perompak. Sekarang, beliau minta kita simpan rahasianya. Maka, simpan rapat! Jangan macam-macam! Kutegaskan, simpan rahasia tadi! Kalau kutahu ada yang mulutnya bocor, siapa pun kau, keluar dari kapalku! Ini perintah. Paham?” Huda berkata tegas.
“Siap,” jawab para ABK serempak. Wajah mereka terlihat agak tegang karena sabda juragan. Tidak ada lagi yang berani tanya-tanya.
Hazri mesem-mesem. “Santai saja, Kawan, jangan tegang begini ah. Tapi, aku memang memohon seperti yang dikatakan Pak Haji barusan. Dan, aku percaya kalian bisa pegang amanat. Iya, kan?”
__ADS_1
Para ABK mengangguk-angguk.
“Lagian, Allah yang menyelamatkan kita. Bukan aku,” sambung Hazri.
Huda dan para ABK-nya pun ikut tersenyum sambil mengangguk-angguk.
“Ada yang lain, Pak Arif?” tanya Huda kemudian.
Hazri menggeleng. “Nggak ada, terima kasih untuk semuanya.”
“Ayo...,” Huda menepuk tangannya dua kali. “Kerja lagi. Kumpret, kalau nggak salah ada dempul sama cat di gudang, kan?”
Kumpret mengangguk.
“Kalian dempulin bekas-bekas peluru di badan kapal, terus dicat. Kalau dapat plastik atau apalah, tutup dulu sementara jendela anjungan yang kacanya pecah. Biar peralatan di situ nggak rusak kena garam angin laut.”
Para ABK mengangguk, lalu mulai bekerja. Hazri ikut membantu. Huda balik ke anjungan bersama Dasim.
Dempul ada, catnya ada, plastik pun tersedia, termasuk pakunya. Maka, tidak sampai tengah hari kapal Haji Huda pun telah kembali cantik. Nanti dipercantik lagi setibanya pelabuhan. Pasang antena dan ganti kacanya....
Sudah dua hari mereka sandar di Semarang. Kemarin, muatan sudah dibongkar. Hari ini, muatan baru sudah dinaikkan. Antena SSB sudah dipasang, kaca anjungan yang pecah pun telah diganti. Beres semua. Mereka bersiap untuk berlayar kembali ke Pontianak, menjemput muatan di sana, terus lanjut ke Cirebon.
Mesin menderung. Perlahan-lahan kapal pun mulai bergerak sejajar menjauhi dermaga sandar. Petugas pelabuhan membantu mengarahkan kapal dengan pengeras suara dari menara pengawas. Padat pelabuhan ini, datang dan perginya kapal harus dilakukan lebih hati-hati. KM Bima milik Haji Huda bergerak sejajar sampai perairan yang aman, baru kemudian beranjak maju....
Selepas ashar, Hazri masih duduk-duduk di mushala seperti kebiasaannya. Sejak peristiwa di tengah laut beberapa hari yang lalu itu, tiba-tiba muncul sebentuk kerinduan kepada para anak buahnya di Jogja. Apa kabar Romi dan Tomi? Dua tahun lebih mereka terpisah tanpa pernah berkomunikasi. Hari-hari selanjutnya, rasa rindu itu makin mengental. Bagaimanapun, dia masih ketua mereka. Huda menghampirinya. “Rif, nggak ada beritanya. Orang-orang pelabuhan nggak tahu, di koran juga nggak ada. Berarti aman...,” katanya.
Hazri manggut-manggut. “Terus, gimana mereka di tengah laut?”
Huda mengangkat bahu. “Modar kali..”
Hazri menghela napas. “Resiko tanggung sendirilah. ..” katanya pelan.
“Gimana kalau kejadian lagi, Rif? Aku minta saranmu.”
Hazri terdiam, bingung juga menjawabnya. “Gimana ya? Menurutku, mungkin ada baiknya kalau anak buahmu juga dilatih pegang senjata, Hud. Soalnya, seperti katamu, perompak laut kebanyakan bersenjata. Apa bisa dilawan mereka pakai pedang atau golok?”
Huda menghela napas.
“Maksudku, nggak perlu harus pistol kayak punyamu. Susah dapatnya, mahal, mesti pakai surat keterangan polisi segala. Senapan babi saja. Sudah lumayan itu.”
“Senapan berburu?” tanya Huda.
“Iya. Bisa kan? Banyak dijual. Kayaknya mesti ada surat izin tapi ngurusnya nggak bakal serumit senjata seperti milikmu.”
Huda mengangguk-angguk, mulai ada gambaran dia. “Dimana belinya senjata kayak gitu?”
“Tanyakan saja ke pemburu celeng dan kijang yang sering keluar masuk di pelabuhan. Orang-orang kota itu. Pasti mereka mau bantu. Lagian,yang minta kan Haji Huda, menantunya Haji Sulton, suaminya Ria. Siapa nggak kenal coba?”
Huda tertawa. “Nggak sekalian bapaknya Ayu sama si Gilang...”
Hazri ikut tertawa. Hazri kemudian menyeruput kopinya lalu menghela napas panjang. Ingatanya tertuju pada seseorang disana. “Sudah berapa anakmu sekarang...Zilfa?” katanya dalam hati.
“Ada apa?” tanya Huda yang kebetulan memperhatikan.
Hazri menghela napas lagi. “Nggak apa-apa. Kita ke mana ini?”
“Seperti rencana, ke Pontianak dulu ambil muatan terus ke Cirebon.”
“Eemm...Hud, kurasa sudah cukup lama aku ikut kapalmu. Suka atau tidak, aku mesti tengok anak buahku di Jogja, karena aku masih ketua mereka. Sudah dua tahun lebih kehilangan ketuanya, entah seperti apa mereka sekarang...,” kata Hazri pelan.
Gilian Huda yang menghela napas panjang. “Yaa..., dari awal aku sadar kalau suatu saat kau pasti akan turun. Tapi, apa sudah aman situasinya menurutmu?”
“Pastinya aku nggak tahu. Memang nggak mungkin pernah bisa aman lagi sepenuhnya bagiku. Cuma kurasa situasinya nggak seketat dulu. Pasti ada capeknya mereka nyariin aku. Sama seperti aku capek sembunyi. Lagian tugas mereka kan banyak, bukan cuma nguber aku saja.”
“Baiklah, Rif...,” Huda menghela napas. “Sedih juga rasanya ya?” dia meringis. “Terus gimana rencanamu?”
Hazri tersenyum. “Aku mau turun di Cirebon nanti.”
Huda mengangguk-angguk. “Dari sana langsung ke Jogja?”
“Iya,” jawab Hazri singkat.
“Nggak, kejauhan?” tanya Huda lagi.
“Kurasa nggak, sekalian sudah lama nggak jalan-jalan di darat.”
Huda mengangguk-angguk lagi. “Nanti kutelepon Imam di Pontianak. Nggak ada sinyal di tengah laut begini.”
“Makasih, Hud. Santai saja.”
Hazri dan Huda menyeruput kopinya. Bincang-bincang masih berlanjut.
“Ada dua tahunan ya, Rif?” Huda coba meyakinkan.
“Lebih. Kuhitung, tiga puluh dua..eh, tiga puluh tiga bulan sama sekarang. Berarti lebih dari dua tahun setengah.”
Huda manggut-manggut. “Lumayan juga, ya?”
“Lumayan katamu? Kalau durian, sudah matang pohon berapa kali aku.”
Huda ketawa. “Makanya, nanti ikut yuk?”
“Apaan?”
“Itu..., Pontianak...”
“Ada apa di Pontianak?”
“Halah, matang pohon nggak ngerti juga. Amoy, amoy...”
“Sialan kau, kukira apaan...,” Hazri tertawa. “Nggak, ah.”
“Ayolah..., sekali dua setengah tahun ini. Sekalian latihan turun ke darat. Siapa tahu lupa jalan di tanah gara-gara kelamaan di laut.”
“Nanti Ria marah loh...,” canda Hazri, tapi serius.
“Hahaha..., jauh. Alasan nggak diterima.”
“Kalau Reni yang marah...?” Hazri meringis.
Huda agak kaget. “Serius nih maksudnya?” dia memancing.
Hazri tidak menjawab, tertawa saja.
“Sudah, pokoknya ikut saja. Titik.” Huda memutuskan.
Hazri terus tertawa-tawa...
Seperti sepasang sejoli yang melihat anaknya yang mulai berjalan sempoyongan. Anak laki-laki itu mewarisi mata berlian ibunya...Antawijaya.
__ADS_1