Jalan Pulang

Jalan Pulang
Bab 42 Dihapus


__ADS_3

Bab 1


Sunny Diculik


***



Pacar yang paling kamu cintai dan mengatakan berjuta kali akan menikahimu berselingkuh dengan sahabat baik sekaligus tetanggamu sejak SD. Ralat mantan sahabat baik. Wanita jahanam itu kini hamil dan Aska akan menikahinya bulan depan.


Sunny kira itu adalah momen paling mengerikan dalam hidupnya. Namun ternyata serentetan kejadian memilukan terus berlanjut.


Kini ia disekap dalam sebuah kamar sempit antah berantah. Kaki tangannya diikat dan mulutnya disumpal kain. Diculik!


Ruangan itu hanya diterangi neon putih yang bagian bawahnya telah menghitam, remang. Terdengar deraian hujan dari balik jendela yang tertutup.


Ia menggerakkan tubuhnya dengan panik, berusaha melepaskan diri. Ikatannya terlalu kuat, sepertinya dilakukan oleh orang yang ahli. Gesekan tali justru menimbulkan rasa perih di tangan dan kakinya. Ia merasa seliter darah keluar dari sana dan menggenang di bawahnya. Berusaha mengelurkan suara, sama saja, tidak ada hasilnya.


Sunny rasa ia tidak sedang bermasalah dengan siapapun, tidak punya utang, dan seingatnya tidak ada yang dendam padanya. Atau baru-baru ini ia melakukan hal bodoh saat mabuk? Saat mabuk ia memang berubah menjadi tidak waras.


Kemungkinan paling besar ini perbuatan Aska yang ingin melenyapkannya.


Ia masih memakai gaun merahnya yang seksi, matanya menemukan heels Jimmy Choo yang merah menyala tergeletak di dekatnya. Hari apa sekarang? Sudah berapa lama ia diculik?


"Hei Tayo, hei Tayo, dia bis kecil ramah, melaju, melambat .…"


Sunny tertegun, ada orang lain di tempat itu. Ia menajamkan telinganya, suara anak kecil yang menyanyikan soundtrack film kartun. Apa ia berhalusinasi?


"Melaju, melambat, tayo selalu senang …." Kali ini diikuti sebuah suara husky. Laki-laki dewasa.


Sekonyong-konyong petir menggelegar. Nyanyian itu berubah menjadi pekikakan dan gelap total.


"Mati listrik, senter di mana?" Suara wanita.


"Di laci."


"Aku nggak akan nanya kalau ada."


"Bundaaaa, Lala takut gelap."


Suara anak kecil itu terdengar lagi.


Kalau saja bisa melepaskan ikatannya, sekarang adalah waktu yang pas untuk kabur. Dari suara suara itu Sunny yakin ia ada di rumah sebuah keluarga kecil. Namun, suara mereka terdengar terlalu tenang untuk kelompok penculik.


Apakah yang akan mereka lakukan? Menjualnya ke pria hidung belang, membunuh dan menjual organnya di pasar gelap, atau memenggal lehernya dan memberikan kepalanya ke Aska? Membayangkan itu membuat ketakutannya naik berkali lipat.


Tuhan, aku memang banyak dosa. Tapi aku belum ingin mati sekarang. Tolong aku, Tuhan. Dulu memang aku pernah bilang ingin mati, aku ralat, Tuhan. Aku nggak mau mati di tangan orang tidak dikenal, aku mau mati di tengah keluargaku.


Sunny berdoa dalam hati sambil menangis. Ia memang sedang dalam fase bosan hidup baik-baik, tetapi diculik tidak ada dalam daftarnya. Kehilangan pacar membuatnya stres, ia mencari pelampiasan dengan menerobos segala batas yang dibuatnya sendiri. Berfoya-foya, minum-minum di kelab malam dan memakai baju seksi. Bahkan ia juga memasukkan one night stand dalam rencananya. Ia akan menggaet pria kaya dan mengirimkan undangan pernikahannya ke si Aska sialan itu. Kini, ia bukan lagi Sunny Arunika, si gadis baik-baik yang pintar dan sopan. Ia Sunny yang bebas dan merdeka.

__ADS_1


Hingga hampir lima belas menit kemudian ruangan tempat Sunny berada tetap gelap, hanya sesekali diterangi kilat. Napasnya jadi makin sesak.


"Sepatu merahnya boleh buat aku? Aku tahu mereknya. Kakiku belum pernah dikasih sepatu mahal."


"Pakai sepatu mahalpun nggak akan ada yang tertarik sama kamu. Lala, ini habisin ayam gorengnya." Tersengar suara percakapan dari ruangan seberang.


"Aku ambil sekarang, ya."


"Nggak usah, kalau kamu mau nanti kubelikan yang palsu. Mau ke mana? Jangan diambil sepatunya!"


"Bajunya juga kelihatan mahal."


Pintu ruangan Sunny dikurung terbuka, ia langsung memberontak. Berusaha menggerakkan tubuh dan memberikan tatapan paling mengintimidasi. Mereka bertatapan, wanita berkaus kuning itu mundur selangkah.


"Bi, dia udah sadar. Abi!"


Abi berlari menyusul Andara dengan ayam goreng di tangan. Begitu melihat Sunny, dia mendesah, "Menyusahkan."


"Merem sebentar."


"Kenapa aku harus merem?" tanya Andara tidak mengerti.


"Merem aja."


Andara berjengit ngeri ketika terdengar bunyi pukulan.


"Kemana si Roland?" Abi mengeluarkan ponsel butut dari saku. "Ke sini cepet, bawa bayaran gue, bawa nih cewek pergi dari sini." Dia menoleh ke arah Sunny sekilas. "Gue nggak suka warna merah, nyusain aja."


***


Abimanyu, 31 tahun.


Pernah mendekam di penjara selama tiga tahun karena kasus pembunuhan. Pernah jadi kurir narkoba dan tukang pukul bayaran. Pekerjaannya sekarang adalah bartender di sebuah kelab malam dan stuntman film laga. Bukan penculik, hanya dimintai tolong oleh pelanggannya di kelab untuk menangkap pacarnya yang telah membawa kabur uangnya.


"Gue titip di tempat lo dulu, Nanti malem gue jemput."


Tengah malam, jeep hitam Roland datang menembus gerimis dan diparkir sembarangan di depan rumah Abi, memakan hampir separuh jalan.


Ketika Abi meminta bayaran, Roland justru menghujaninya dengan tinju di wajah hingga ia tersungkur.


"Dasar *****!" Maki pria tambun itu dengan wajah merah menahan amarah. "Gue nyuruh lo nyekap Marissa, masa gitu lo nggak bisa? Nggak becus?!"


"Sialan lo, Land." Abi mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Dia bukan Marissa!"


Abi seperti disambar petir.


"Cewek pakai sedan merah, baju merah, sepatu merah, ya dia!" Roland tidak menunjukkan foto Marissa, dia hanya memberitahu nomor pelat dan jam kedatangan Marissa.

__ADS_1


"Gue nggak mau tahu, mana bayaran gue?"


"Gue nggak mau terlibat ya, cewek itu urusan lo!" Roland melemparkan amplop cokelat ke wajah Abi. Dia mendorong Abi hingga hampir tersungkur untuk kedua kalinya dan pergi tanpa sepatah katapun. Membawa mobilnya dengan kecepatan setan.


Abi melemparkan amplop lalu mengacak rambutnya kesal.


Andara membalikkan tubuh Lala agar tidak melihat wajah marah omnya.


"Lala, masuk ke kamar ya sayang, Bunda mau ambilin obat Om Abi."


Lala mengangguk patuh. Usianya baru enam tahun, tetapi dia sudah pintar memahami keadaan.


Andara menghela napas lelah, semoga ini tidak berbuntut panjang.


***


Sunny Arunika.


Abi membongkar tas Sunny dan menemukan KTP. Seharusnya hal itu sudah ia lakukan sejak pertama kali membekap gadis itu di kelab sehingga tidak perlu ada insiden salah culik.


"News anchor?" gumam Abi remeh sambil melirik Sunny yang meringkuk di jok sebelahnya. Selain KTP, di tas itu juga ada ID card sebuah stasiun TV dan paspor. Hanya ikatan di kaki yang ia lepas, tangan Sunny masih terikat dan mulutnya tersumpal.


Abi menahan tawa, news anchor macam apa yang berjoget gila di lantai dansa dan mabuk hingga muntah dan mengotori pakaian orang? Tidak tampak intelek sama sekali.


Abi menarik sebuah foto yang terselip di dompet. Foto Sunny dan seorang laki-laki dengan latar belakang Marina Bay Sands. Tersenyum bahagia, tidak seperti keadaannya sekarang. Baju seksi yang belahannya telah robek, rambut awut-awutan dan berbau alkohol.


Abi menjulurkan kepalanya lewat jendela mobil, memeriksa keadaan di luar. Ia ingin mengembalikan Sunny, tidak mungkin ke kelab tempatnya menculik gadis itu. Mustahil juga ke alamatnya yang tertulis di KTP atau stasiun TV tempatnya bekerja. Ide yang terlintas di otaknya adalah meninggalkannya di halte bus subuh subuh saat masih sepi.


Ia membopong Sunny dan merebahkannya di kursi halte. Sebelum meninggalkan rumah, ia memberi gadis itu bius dosis rendah. Sunny akan segera sadar dan mencari pertolongan.


"Maafin gue ya, gue kira lo Marissa." Abi menepukkan telapak tangannya. "Selesai, bye."


Abi menelan ludah karena saat ia berbalik tangannya dicengkeram.


"Ah, harusnya gua nggak nurutin omongan Andara ngasih bius dosis rendah." Dia menggerutu dalam hati.


Pandangan Sunny samar, ia melihat punggung berkemeja hitam. Sekelilingnya berputar, ia berusaha mempertahankan kesadaran dan kekuatan tangannya agar tidak melepaskan siapapun di depannya.


Abi mengempaskan tangan Sunny dengan mudah dan berlari menyeberang jalan, tepat saat gerimis turun.


Pandangan Sunny makin mengecil hingga akhirnya tinggal segaris, ia masih melihat punggung itu lalu hitam pekat.


"Sialan." Butiran hujan makin membesar saat Abi menghidupkan mesin mobil. Hujannya berubah deras dalam sekejap, seperti dituang dari langit.


Abi keluar dari mobil, kembali ke seberang jalan. Melepas kemeja, menyisakan kaus putih kumalnya dan menggunakan itu untuk menutupi tubuh Sunny.


Tak lama, Kijang kapsul pinjaman itu pergi menembus hujan. Meninggalkan halte bus yang dicumbu hujan dan syahdunya subuh.


***

__ADS_1


__ADS_2