Jalan Pulang

Jalan Pulang
58. sampai jumpa bung


__ADS_3

Sementara itu, AKBP Fahmi Putra sudah hampir tiba di lokasi penggrebekan. Dia sedang di Semarang saat menerima laporan tentang penyergapan ini. Fahmi langsung melesat ke Jogja dikawal Patwal Polres Semarang. Gila-gilaan memacu mobilnya. Kalau bukan polisi, Fahmi pasti sudah dikejar polisi gara-gara ini.


Tembak-menembak masih berlangsung saat Fahmi tiba. Ciiitt... Rem mobilnya berdecit nyaring. Dia bergegas turun, langsung terbelalak melihat jumlah korban polisi yang sedang ditangani tim dokter kepolisian.


Seorang perwira menghampiri Fahmi. “Ajun Komisaris Noto Raharjo, Dansat Brimob Polda Yogyakarta, melapor...."


Fahmi membalas penghormatan. “Status?” Langsung ke pokoknya.


Noto melaporkan situasi yang ada, sejak awal mereka tiba sampai sekarang. “Sembilan anggota gugur, dua belas luka-luka. ..," ujar Noto.


“Hah? Sembilan...?” Fahmi kaget.


Noto mengangguk.


“Berapa orang mereka?” tanya Fahmi.


“Diduga sepuluh. Lima di sini, lima yang lain di luar sekitar sini. Enam tewas, dua kabur, dan satu masih bertahan. Diduga kuat Hazri Tiger.”


“Hazri...?”


“Benar, diduga kuat yang masih bertahan adalah Sang Tiger buronan kita.”


Fahmi segera beranjak masuk arena pertempuran, Noto mendampingi. Tembak-menembak masih berlangsung. Fahmi meminjam megaphone yang dipegang seorang anggota Buser.


“Hentikan tembakan!” seru Fahmi dari megaphone. Serentak semua polisi yang mengepung Hazri menghentikan tembakannya. Laras senjata tetap membidik. “Hazri! Aku Fahmi Putra...! Tahan tembakanmu'”


“Cak Fahmi?” Hazri bergumam sambil mengganti magasin pistolnya. Dua magasin peluru telah dihabiskan, ini yang terakhir.


“Hazri Tiger! Kau dengar aku?!” seru Fahmi lagi.


Klek! Magasin terpasang.


“Apa kabar, Cak? Alangkah rindunya.... Ke mana selama ini” balas Hazri meledek. “Terima kasih kalian tidak ganggu keluargaku di Jombang. Tapi, aku juga menepati janjiku, kan? Aku di sini...!”


Diam-diam Fahmi memerintahkan Noto untuk menyusupkan dua penyergap mendekati Hazri. Dia juga meminta pasukan Noto siap maju frontal jika dua penyergap itu gagal. Noto mengangguk, segera melaksanakan perintah.


“Hazri, sampai kapan kau mau bertahan?” Fahmi mengulur waktu.


“Hahaha.... Sampai kalian bosan mengejarku!”


“Kenapa tidak menyerah? Kita bisa bicarakan ini....”


“Kalianlah yang harusnya menyerah! Enak saja suruh-suruh orang menyerah! Kopen tidak akan menyerah, Bung!” Hazri sengaja menyebut keras Kopen supaya Baret aman. Nama Kopen memang sudah babak belur, sekalian saja dikorbankan untuk menyelamatkan Baret. Mati satu, selamat satu. Daripada dua-duanya.


“Hah! Susah bicara sama kau, Zri!” bentak Fahmi.


“Hahaha.... Sama! Ribet ngomong sama kau juga!"


“He, Hazri! Jaga mulutmu...!”


 “Hahaha.... Benar-benar bajingan! Maunya menang sendiri!”


Hazri tahu Fahmi sedang mengulur-ngulur waktu, dia juga tahu ada penyusup sedang mendekatinya. Ajian ‘Rogo Swara’ dari tadi sudah berkedip. Hazri mengerahkan tenaga dalam ke mata, mencari posisi penyusup itu. Dapat, dua orang dari sisi kiri dan kanannya. Hard mengaktifkan ‘Rogo Kumitir’, tangannya mulai memerah bara lagi...


“Cak Fahmi! Kita tembak-menembak di sini, kalian yang mulai! Aku bicara sekarang pun kalian yang mulai! Aku tidak pernah punya urusan dengan kalian, kalian sendiri yang cari masalah! He, Cak..., kukirim balik dua anak buahmu itu!”


Fahmi dan Noto sama terkesiap. Noto berseru mengingatkan kedua penyergapnya. Dor! Dor! Terlambat,  pistol Hazri menyalak duluan. Dua penyergap itu pun terbanting ke tanah. Darah merembes membasahi tanah.


Hazri cepat mundur tiga langkah ke belakang. Ajian ‘Rogo Kumitir’ telah siap sepenuhnya. Bersamaan dengan itu, “Serbu...!” Noto memerintahkan semua anak buahnya maju menyerang frontal layaknya tentara menggempur musuh. Rentetan peluru SS-1 berhamburan, mengincar satu nyawa di depan sana. Fahmi pun ikut merangsek maju, pistolnya menyalak semi otomatis.


“Hiaaa...!” Larik putih itu.... Bledaaaar...!


Ledakan menggema serupa mortir. Gundukan pasir setinggi hampir dua meter bubar berhamburan. Debu tebal bergulung-gulung ke depan, butir-butir pasir melesat cepat bagai hujan peluru mungil. Menancap ke apa saja yang menghalangi laju. Jerit kesakitan pun kembali membahana. Fahmi berguling di tanah menutupi wajahnya yang berdarah-darah....


Jlab! Jlab! Jlab...! Tiga kali blitz 'raksasa' menerjang mata. Teramat silau, perih saraf retina. Tidak terlihat apa pun. Hazri segera menutup ‘Rogo Kumitir’ dan membuka lebar ‘Bedhes Ngawang’ . Set set set set... Lincah dia menerobos barikade pasukan polisi yang masih terpana. Sambil berlari, semua tenaga dalamnya digenjot masuk ke ‘Bedhes Ngawang’ nya. Gerak tubuh Hazri pun makin ringan dan makin lincah. Gesit, segesit Manica... kijang kencana Rahwana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian efek silau memudar, gulungan debu pasir pun mulai menipis. Sambil menahan perih di sekujur tubuh, Fahmi, Noto dan semua polisi yang masih sanggup bertugas segera menyisir tempat perlindungan Hazri tadi. Kosong.... Sang Tiger telah berhasil kabur. Mereka hanya mendapati mayat Simon dan Bagas yang mulai dingin kaku membujur di situ.


Fahmi diam terpekur, rokok diisap dalam-dalam. Campur aduk perasaannya, antara marah, kesal, sedih, dan kagum kepada Hazri. Diam-diam dalam hati dia mengakui bahwa Hazri memang tangguh. Belum tentu sanggup dirinya jika diburu polisi sampai seperti ini. Seorang petugas medis menghampiri hendak memeriksa kondisi fisiknya. Barulah sadar Ajun Komisaris Besar Polisi ini bahwa betapa banyak peluru pasir bertancapan di tubuhnya, terutama wajah. Fahmi meringis saat petugas medis mencabuti butir-butir pasir itu. Perih semiris hatinya.


Sementara itu, Hazri telah merasa lari cukup jauh. Berhenti dekar rumpun bambu pinggir sungai kecil untuk mengatur napas. Dia melihat arloji, ternyata Rolex-nya hancur. Arloji mahal itu dibuangnya ke sungai. Walau sanggup berlari selincah kijang, tapi dia tidak tahu arah, pokoknya lari menjauhi tempat kejadian. Sekarang di mana dan mesti ke mana menuju mobilnya. Bingung juga biang preman ini, celingak-celinguk sendirian dini hari buta....


“Bang...,” tiba-tiba ada yang menyapanya pelan terengah-engah.


Hazri menoleh, ternyata Kopeng di belakangnya. Pantas ‘Rogo Swara’ tidak bereaksi. “Kau baik-baik saja?” tanya Hazri.


Kopeng mengangguk sambil masih terengah-engah. “Jangan di sini, Bang, nggak aman...,” katanya. “Kita ke sana,” Kopeng menunjuk ke suatu arah.


Hazri beranjak mengikuti Kopeng yang memang paham wilayah ini. Jauh juga mereka berjalan sampai akhirnya masuk ke kebun ketela pohon yang daunnya rimbun. Ada saung kecil di tengahnya. Kopeng berhenti. “Di sini lebih aman...,” katanya pelan. Hazri langsung merebahkan diri di balai-balai bambu yang ada di situ.


“Abang nggak apa-apa? Banyak lubang di baju Abang....”


Hazri menggeleng. Dia sudah melihat bekas-bekas hantaman peluru itu.


“Gimana kamu bisa ketemu aku?”


Kopeng menghela napas. “Tadi, habis dikejar-kejar Brimob aku balik lagi. Kuncrit mati, yang lain juga....”


Hazri memejamkan mata, berarti enam anak buahnya mati hari ini. Empat Baret ditambah Simon dan Bagas.


“Aku mau masuk, tapi nggak tahu lewat mana. Banyak sekali polisi,” lanjut Kopeng. “Kulihat tadi Bang Romi sama Bang Tomi keluar, arahnya betul. Tapi, waktu Abang keluar, menurutku salah arah. Kukejar. Cuma, larinya Abang kencang sekali, nggak keuber. Kira-kira saja aku ngikutin. Untung betul Abang berhenti, jadi bisa ketemu.”


“Salah di mana aku? Rasanya aku sudah lari jauh.”


“Abang muter, balik lagi. Malah ngedeketin ruko.”


“Busyet, gitu ya?”


Kopeng mengangguk. “Tadi pas pertigaan yang pertama dekat masjid, harusnya ambil kanan ke arah Sleman. Kalau ke kiri ya balik lagi.” Hazri mengingat-ingat. "Ke kanan kayaknya jalan gede?”


Hazri manggut-manggut.


“Tapi. Bang, sampai Abang keluar tadi, Bang Simon sama Bang Bagas kok nggak kelihatan? Apa sudah lari duluan sebelum Bang Romi?”


“Simon dan Bagas tewas. ..,” Hazri langsung menjawab sebelum habis kata-kata.


Kopeng terdiam pilu mendengar itu. Dia anggota Baret dari kelompoknya Bagas. Sehari-hari Bagas adalah ketuanya, kecuali kalau sedang ada tugas-tugas Baret.


“Peng...,” kata Hazri pelan.


Kopeng memandang Hazri, mereka saling memandang sejenak. Lalu, Kopeng mengangguk-anggukkan kepalanya, Hazri pun ikut mengangguk.


“Tem, kita lanjutkan hidup, yang tewas, lepaskanlah. ..,” sambung Hazri.


Kopeng mengangguk-angguk lagi.


“Mobilku kutaruh dekat pangkalan ojek. ..,” ujar Hazri. Dia menggambarkan lokasi tempatnya memarkir mobil. “Ada lapangan sama mini market dekat situ.”


Kopeng menyimak, berpikir sejenak. “Iya aku tahu. Jauh juga tempat itu dari sini, Bang,” katanya. “Abang tunggu sini saja, biar aku yang ambil,”


“Aku ikut sekalian, Peng, biar nggak kerja dua kali. Di sini malah nyasar lagi nanti kalau ada apa-apa.”


Kopeng mengangguk setuju. “Ayo, Bang....”


Mereka pun beranjak ke sana. Jalan cepat lewat gang gang kecil yang membelah perkampungan kota. Hazri mengikuti saya ke mana Kopeng membawanya, dia sama sekali bura wilayah ini. Benar, jauh, namun akhirnya sampai juga mereka di mulut sebuah gang. Kopeng melongok sebentar ke jalan raya depan itu, celingak-celinguk lalu balik ke tempat Hazri. “Aman...,” ujarnya. Hazri mengangguk, ‘Rogo Swara’ juga tidak berkedip.


“Oke, Peng. Terima kasih.”


Kopeng mengangguk.


“Kalau kamu nanti ketemu Bang Romi atau Bang Tomi, bilang aku baik-baik saya. Aku mau lenyap dulu ke Madiun..,” kata Hazri. Tiba-riba saja muncul ide Madiu dalam benaknya setelah teringat Haji Sulton. Yang dulu sering mengirim pesanan ke Madiun.

__ADS_1


“Madiun, Bang?”


Hazri mengangguk. “Iya, tapi lihat nanti saja, tergantung situasinya. Nanti aku hubungi. Kalian hati-hati. Polisi pasti ngaduk-aduk kita lagi.”


“Baik, Bang, nanti kubilang ke Bang Romi sama Bang Tomi.”


Hazri mengangguk puas. “Ke arah mana aku, kalau lewat jalan biasa?”


“Itu depan sana...,” Kopeng menunjuk pertigaan jalan tidak jauh dari situ. “Dari situ Abang ambil kanan, sudah lurus. Ikutin jalan gedenya. Nanti masuk di jalan Solo-Jogja, lanjut ke Madiun.” Dia menjelaskan sambil melepas jaketnya. “Ini, Bang. Baju Abang koyak-koyak, narik perhatian.”


Hazri melihat bajunya, benar juga. “Makasih, Peng, kupinjam dulu jaketmu,” katanya sambil menerima jaket dari Kopeng. “Oke, aku cabut dulu.”


Kopeng mengangguk.


Mereka berpelukan erat. Kemudian Hazri menyeberang jalan menuju Panther-nya. Aman, para tukang ojek tidak terpengaruh atas komunculannya. Sebagian asyik main gaple, yang lain tidur-tiduran. Kopeng masih mengawasi, dia baru beranjak pergi setelah Panrher ketuanya itu membelok ke kanan di pertigaan depan sana.


Selepas kepergian Hazri, Item berjalan kaki seorang diri menyusuri trotoar, mau balik ke rumahnya. Sebenarnya jauh dari situ, tapi Kopeng sedang ingin jalan kaki saja. Jalan santai, siapa tahu bisa mengurangi beban hatinya. Jalanan masih sepi dini hari ini, beberapa pedagang sayur tampak sedang menyiapkan gelaran dagangannya di pasar Giwangan. Kopeng terus melangkah. Tidak sadar dia, ada dua orang di atas sepeda motor mengamatinya sejak beberapa saat lalu. Mereka saling bicara sebentar lalu bergerak mendekati Kopeng.


“He, berhenti... Polisi!” bentak salah seorangnya.


Kopeng terperanjat. Sigap dia mencabut pistolnya. .. Dor! Langsung menembak. Pengemudi motor itu terpelanting jatuh, motornya roboh menindih mereka berdua. Kopeng lari masuk pasar, melompat sembunyi di balik meja porselin pedagang daging. Masih sepi pasar dini hari ini, kecuali pedagang sayur di depan sana.


“Berhenti ..!” Dua reserse itu mengejar Kopeng, yang tertembak tadi ternyata hanya terserempet pundaknya. Dor! Dor! Dor! Tembakan peringatan polisi mengoyak keheningan. Pedagang sayur yang kebanyakan ibu-ibu itu menjerit-jerit histeris, kocar-kacir mereka mencari tempat sembunyi.


Sambil berlindung, Kopeng memeriksa magasin pistolnya, masih ada peluru. Dia meraba kantong celananya, satu magasin penuh belum terpakai. “Sialan! Gimana bisa tahu mereka...” kutuknya dalam hati.


“He, kau di sana.... Menyerah!”


Kopeng tidak menjawab, dia sedang mengintai posisi lawan. Kopeng meraih potongan kayu di dekatnya, lalu dilemparkannya melambung kearah perlindungan polisi sambil berguling bergeser tempat perlindungan. Grusak... Kayu itu menimpa tumpukan keranjang bambu dekat posisi polisi. Reflek. seorang di antaranya langsung berdiri... Dor' Dur! Dia menembak ke arah posisi Kopeng yang lama.


Dari posisinya yang baru, Kopeng nongol . Dor! Pistolnya menyalak, reserse itu pun terjungkal ke belakang. Namun, belum sempat dia turun Jaga. Dor! Peluru reserse yang satunya membobol jantung anggota pasukan elite Kopen ini. Kopeng terpelanting, jatuh berguling dua kali di tanah becek lalu telungkup diam tak bergerak. Tampak jelas tulisan 'Kopen' di punggung kaus hitamnya


Tadi sore, sehabis membobol dinding ruko bareng Kuncrit, Kopeng balik ke rumahnya untuk mandi. Ternyata dia kehabisan baju bersih, semua masih terendam di baskom cucian. Maklum, istrinya di Pati. Lagi ribut mereka. Dan, yang ada cuma kaus hitam 'Kopen' itu. Dipakailah, ditutup jaket, beres. Memang beres sampai Kopeng menyerahkan jaketnya ke Hazri. Lupa dia tulisan di punggung kausnya, Hazri pun tidak tahu. Maka, terjadilah peristiwa ini.


Sirine polisi meraung-raung. Fahmi tiba di lokasi, bersama Noto dia langsung masuk ke dalam pasar ke tempat kejadian. Dadanya berdegub melihat sesosok mayat telungkup di sebelah sana. Antara harap dan cemas..., Hazrikah? Fahmi membalikkan mayat itu, bukan ternyata. Dia menghela napas panjang, entah lega entah kecewa, lalu memerintahkan Noto agar anak buahnya mengurus mayat itu. Sekalian jenazah anggotanya yang tewas diterjang peluru Kopeng.


Fahmi duduk terpekur di atas lapak. Pandangannya menerawang jauh, mencoba merenungi ucapan Hazri di ruko tadi bahwa dirinya dan Hazri sebetulnya tidak ada masalah. Benar secara pribadi, tapi tidak secara kedinasan. “Aku polisi, kau penjahatnya, Zri...,” Fahmi mendesah dalam hati. “Sejujurnya aku kagum kepadamu, sayang kau jadi penjahat. Seandainya tidak....”


Noto menghampiri Fahmi.


“Terima kasih,” Fahmi menerima teh kotak yang disodorkan Noto.


“Kosong identitas, Dan. Cuma tulisan di bajunya itu,” kata Noto. Fahmi tidak berkomentar. “Siapa anggotamu yang gugur?”


“Bripka Paidi, Reskrim Polres.”


Fahmi mengusap-usap kening. “Belum ada laporan dari yang lain?”


Noto menggeleng. “Tiga melapor, nihil. Saya perintahkan terus mencari.” Fahmi manggut-manggut lagi. Adzan subuh sayup-sayup berkumandang


“Baiklah, Not, tolong urus di sini. Aku harus balik ke kantor,” ujar Fahmi setelah adzan subuh lewat. “Sampaikan hormatku ke Kapolres.”


“Siap!” Noto berdiri tegap memberi hormat.


Fahmi pun meluncur kembali ke kantornya. Dia perlu melaporkan langsung kejadian ini ke atasannya pada jam pertama masuk kantor pagi ini. Pedal gas diinjak penuh. Suzuki Vira dinas Polri itu melesat cepat


Membelah angin..


Menyambut fajar....


Secuil Kopi



Ajian adalah suatu karya sastra lama yang dalam sastra Sunda termasuk kedalam golongan mantra yang mempunyai fungsi untuk menambah kekuatan lahir batin bagi yang mempercayai dan memakainya serta bisa meruhkeun orang lain.

__ADS_1


__ADS_2