Jalan Pulang

Jalan Pulang
69. sang tiger kembali


__ADS_3

Biasa saja tiga hari perjalanan laut ini ditempuh, tidak ada yang istimewa. Kecuali mungkin bagi Hazri. Kenangan peristiwa di kamar hotel bersama Cika tempo hari terus-menerus mengusik hati dan pikirannya. Seumur hidup, baru sekali itu dia mengalaminya. Luar biasa, antara sadar dan tidur Hazri masih bisa tahu ‘Cakra Buana’ sama sekali tidak berdaya. Bola-bola cahaya nan indah itu menembusnya begitu mudah, tak tertahankan. Dan, suara siapakah itu? Begitu berwibawa mandraguna. Rasanya tidak mungkin suara manusia biasa, Mungkinkah Syekh Ibnu Atha’illah? atau, Allah.


Hazri menggeleng-gelengkan cepat kepalanya, menepis segala dugaan yang mulai berkembang di benaknya. Dia tidak berani lebih jauh mengira-ngira. Rasanya tidak pantas, tidak sopan. Syekh Ibnu Atha’illah telah berwejang, segala yang terjadi atau tidak terjadi adalah karena kehendak Allah. Berarti termasuk apa yang dialaminya tempo hari itu tentu. Lalu, apa lagi yang perlu dipertanyakan?


“Assalamu’alaikum...,” Komeng menyapa. Baru bangun dia, hendak mempersiapkan mushala untuk shalat subuh.


“Wa’alaikum salam,” balas Hazri. “Sudah mau subuh, Meng?” Hazri melihat arlojinya. Masih agak jauh waktunya.


“Iya, Pak, tapi masih lama. Gerah banget di kabin....”


Hazri tersenyum.


“Pak, katanya mau turun di Cirebon?”


“Iya. Sudah kelamaan aku di sini. Nanti kalian bosan.”


Komeng mesem kecut. “Kapan-kapan naik lagi nggak, Pak?”


“Eemm, belum tahu juga, Meng. Mungkin saja. Kenapa memangnya?”


“Kalau perompak datang lagi gimana?” Komeng berterus terang.


Hazri tertawa ringan. “Kan ada Allah...,” Enteng banget Hazri kasih nasihat, padahal dia sendiri masih bingung. Di mana?


“Iya sih, Pak. Cuma, gimana ya?”


“Kau kan rajin berdoa. Berdoalah, mohon perlindungan-Nya.”


Komeng manggut-manggut. “Pak, boleh saya minta kenang-kenangan?” katanya kemudian.


“Kenang-kenangan? Apa ya?” Hazri berpikir sejenak. “Ada arloji ini, mau?”


Wajah Komeng langsung mengembang. “Mau, Pak, kalau boleh.”


Walau tidak sekelas Rolex, tapi arloji yang dikenakan Hazri ini jelas bukan murahan. Modelnya sportif, army style, dengan tali kulit asli berperekat khusus. Dia melepaskan arlojinya dan menyerahkan ke Komeng.


“Makasih, Pak...,” Komeng senang sekali menerimanya. Arloji itu pun langsung dipakainya. Tambah gagah penampilannya sekarang.


Hazri tersenyum. “Bagus, Meng. Cuma, kau simpan dulu ya. Bukan apa-apa, aku nggak punya lagi kalau nanti teman-temanmu juga pada mau.”


“Oo iya, Pak,” Komeng paham. Dia melepas kembali arlojinya dan disusupkan ke dalam saku celananya.


“Berapa umurmu sekarang?” iseng-iseng Hazri bertanya.


“Hampir sembilan belas tahun. Kenapa, Pak?” Komeng balik bertanya.


Hazri menggeleng. “Nggak. Cepat saja rasanya waktu berjalan...”


Dia teringat, dulu dirinya yang ditanya-tanya oleh Haji Sulton saat mereka ngobrol di kebun tempat membakar kopra kala itu. Sekarang, Hazri yang bertanya ke seorang pemuda seusianya juga.


“Cita-citamu apa sih?”


“Pengen jadi pengantin...,” Komeng menjawab cepat.


Hazri terbelalak lalu tertawa ringan. “Masak jadi pengantin termasuk cita-cita?”


“Iya, Pak. Di kampung saya nggak gampang orang mau jadi pengantin. Mesti kaya dulu baru bisa dapat cewek. Makin kaya, makin cantik...,” serius wajah Komeng berkata ini.


Hazri masih mesem-mesem. “Maksudmu, cita-cita pengen kaya terus bisa jadi pengantin. Begitu kali ya?”


“Boleh juga sih, Pak. Tapi, kan ujung-ujungnya tetap pengantin? Berarti cita-citanya jadi pengantin,” Komeng rada ngotot.


Hazri terkekeh. “Terserah kamulah. Terus, sudah ada ceweknya?”


“Ya belum. Kan saya belum kaya?”


Kali ini Hazri terpingkal. “Komeng, Komeng.... Kudoakan kamu jadi orang kaya biar bisa dapat cewek cantik. Eh, sini...,” dia meminta Komeng mendekat, tiba-tiba teringat sesuatu. “Sini, sini.... Kukasih tahu, Meng, tapi sangat rahasia ya..”


Komeng mengangguk.


“Kau kerja yang baik saja sama Haji Huda. Kasih lihat ke Pak Haji kalau kau bekerja sungguh-sungguh, keluarkan semua kemampuanmu. Pokoknya bikin supaya Pak Haji suka sama kau. Sayang begitulah...,” Hazri berbisik.


“Maksudnya, supaya naik gaji, Pak?”

__ADS_1


“Bukan.... Sebentar, kamu percaya aku nggak?” tanya Hazri tegas.


Komeng mengangguk lagi.


“Nah, kerjakan saja apa yang kubilang tadi. Sudah, jangan banyak mikir. Pokoknya bikin supaya Pak Haji sayang ke kamu. Itu saja.”


Komeng manggut-manggut. “Nantinya saya bisa jadi pengantin?”


“Insya Allah,” jawab Hazri mantap.


Komeng pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya dia percaya betul apa yang dikatakan Hazri ini.


“Oke ya, Meng?”


“Siap, Pak.”


Hazri menepuk-nepuk pundak pemuda ini, seperti yang dulu dilakukan Haji Sulton kepadanya. “Yuk, sudah masuk subuh kayaknya.”


“Makasih arlojinya, sama nasihatnya, Pak,” Komeng berkata sebelum pergi ke tempat wudhu.


“Sama-sama,” jawab Hazri. Dia memandang punggung pemuda yang paling religius di KM Bima ini. Lalu, mengangguk-angguk.


Dulu, sekitar enam atau tujuh bulan pertama Hazri ikut kapal ini, Huda pernah bercerita bahwa dia dapat tugas penting dari ibunya untuk mencarikan jodoh adik keempatnya yang perempuan. Huda minta pendapat dirinya, siapa kiranya di antara para ABK yang paling cocok. Waktu itu Hazri tidak mau berpendapat, soalnya dia tidak merasa berhak ikut campur. Sebulan lalu Huda kembali bertanya soal ini. Katanya, ibunya sudah sangat mendesak. Hazri masih geleng-geleng kepala, belum yakin mau terlibat. “Coba kurenungkan dulu...,” katanya ketika itu meminta waktu. Akhirnya, muncul juga titik terang itu. Bukan siapa-siapa, sekedar Komeng. Tapi, mantap rasanya hati Hazri akan mengajukan dia kepada Huda sekarang ini.


Shalat subuh pun ditunaikan. Huda bangun terlambat bersama beberapa ABK. Mereka shalat berjamaah gelombang kedua. Sesuai melaksanakan kewajiban syariat itu, Huda mendekati Hazri yang masih duduk berdzikir. Tasbih kauka pemberian Komeng yang berputar-putar di jemari tangannya itu tampak sudah mulai mengkilat.


“Cirebon...! Bersiap!” Dasim berseru nyaring dari anjungan.


Para ABK pun bersiap. Bagian haluan, buritan, dan sauh. Perlahan-lahan kapal masuk dan merapat di dermaga sandar Pelabuhan Cirebon. Tali sauh dilemparkan ke dermaga, seorang petugas pelabuhan mengaitkannya ke tambatan yang terpancang di bibir dermaga. Kapal terus merapat, pelan-pelan, sampai akhirnya sandar sempurna. Para kuli pelabuhan langsung berlompatan naik seperti biasa.


Huda turun ke bawah menemui kolega bisnisnya. Hazri siap-siap, berkemas di kabinnya. Lalu, duduk terpekur, mempersiapkan lagi mentalnya untuk jadi manusia darat dengan segala resikonya sebagai buronan kelas kakap. ‘Allah..., apa pun kehendak-Mu, mohon perlindunganMu...,’ dia berucap dalam hati. ‘Cakra Buana’ bertenaga dalam cukup, dipasang memagar dirinya.


“Rif...?” Huda masuk ke kabin beberapa saat kemudian. “Siap?”


Hazri mengangguk. “Bisnis beres?” dia balik bertanya.


“Sudah. Biasa saja, cuma bongkar muat.”


“Ambil saja,” jawab Huda ringan. “Yuk....”


Hazri dan Huda pun keluar kabin menuju dek atas. “Hoi..., perhatian! Semua ABK berkumpul,” perintah Huda. Para ABK pun berkumpul.


“Pak, Pak..., tahan sebentar,” Huda meminta para kuli menunda dulu pekerjaannya. “Berhenti dulu.”


Para kuli pelabuhan pun menuruti perintah Huda.


“Hari ini, Pak Arif akan kembali ke Jogja. Dua setengah tahunan beliau bersama kita. Jangan kalian lupakan kalau beliau pernah, menyelamatkan kita. Mari kita lepas...,” Huda berpidato singkat.


Para ABK bergiliran menyalami Hazri. Sedih tentu, tapi sudah siap karena kabar tentang ini memang sudah beredar di atas kapal, Dasim yang pertama ngomong setelah Huda bercerita kepadanya.


“Terima kasih semuanya. Senang saya bisa berkenalan dengan kalian. Kapan-kapan nanti, insya Allah kita jumpa lagi,” Hazri berkata membalas salam perpisahan para personel KM Bima.


“Oke. Dasim, lanjutkan,” Huda memberi perintah.


“Siap, Bos,” kata Dasim.


“Ayo, Pak Arif...,” ajak Huda.


Mereka pun berjalan turun dari kapal ini.


“Pak! Makasih...!” Komeng berseru sambil melambai dari atas kapal saat Hazri dan Huda berjalan ditepian dermaga. Huda tidak memperhatikan karena sedang menyapa rekan bisnisnya di situ.


Hazri membalas lambaian tangan ABK yang paling dekat dengannya itu. Lalu, dengan bantuan ajian ‘Rogo Swara’ dia mengirim pesan supranatural.


“Meng, ingat pesanku subuh tadi..”


Di atas sana, si penerima celingak-celinguk. Siapa barusan bicara sejelas itu di telinganya? Penasaran, Komeng melongok ke bawah. Hazri tersenyum dan terus berjalan. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Sekarang, Hazri sudah duduk di restoran padang Pak Sabri. Huda di luar sana mencari sinyal, dia sedang menghubungi Imam. Sebentar kemudian Huda masuk. “Imam sedang ke sini...,” katanya. Hazri mengangguk.


“Hud, kurasa Komeng...,” Hazri membuka pembicaraan.


“Hem? Kenapa Komeng?”

__ADS_1


“Soal adik perempuanmu itu.”


“Oo iya, iya. Gimana?” Huda antusias.


“Menurut pesan yang kudapat, Komeng ternyata....”


“Pesan? Wangsit maksudnya?” Huda penasaran.


Hazri mengangguk saja supaya Huda tidak banyak tanya lagi.


“Jadi begitu ya? Komeng yang paling cocok?”


Hazri mengangguk lagi.


Huda pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terus terang, aku juga sudah menimbang-nimbang antara dia dengan Muklis. Ternyata Komeng, ya?”


“Keduanya bagus, tapi menurutku Komeng lebih pas. Lagian wangsit itu jelas sekali...,” Hazri sedikit membual untuk meyakinkan Huda.


“Hahaha. ... Beres juga urusan ini. Wati sama Komeng, kurasa pantas. Tampan juga si Komeng kayaknya kalau didandanin, ya?”


“Lebih tampan dibanding calon kakak iparnya. Dulu....”


“Hahaha.... Kalau sekarang?”


“Tetap tampanan dia.”


“Sialan kau, hahaha....”


“Yang kusuka dari Komeng, dia sopan dan rajin ibadahnya,” kata Hazri.


Huda setuju.


“Nanti kan bisa ngingetin kakak iparnya kalau kelewatan sama si Maya.”


“Hahaha.... Kok jadi ke sana? Jangan-jangan dia nanti sama juga.”


“Nggak mungkin,” Hazri menggeleng.


“Yakin amat?”


“lyalah. Dasarnya dia memang agamis, kalau kau kan preman sebenarnya dari dulu. Cuma baru dapat kesempatannya sekarang....”


“Hahaha...,” Huda malah ketawa.


Sambil makan, obrolan terus berlangsung. Hazri senang karena misinya buat Komeng tampak berprospek cerah. Mudah-mudahan benar kejadian. Beberapa waktu kemudian Imam tiba di restoran itu. Bawa dua mobil, yang satunya disopiri orang lain. Anak muda.


Mobil Hazri ternyata dirawat dengan baik oleh Imam. Dan, mobil yang satunya itu ternyata milik Imam. Usaha toko sembakonya maju pesat sehingga ia bisa beli mobil sendiri, baru. Namun, ia merasa mobil Hazri membawa Hoki. Kalau diperbolehkan, Imam ingin menukar mobilnya dengan mobil Hazri. Sungguh, ia memohon, Hazri tidak keberatan. Setelah semuanya beres, basa-basi sebentar, Imam pun pergi membawa mobil idamannya. Beberapa saat kemudian.


“Kayaknya sudah waktunya,” kata Hazri pelan.


Huda menghela napas. “Jadi, beneran nih? Besoklah... Mumpung masih bisa kutunda keberangkatan.”


“Sekarang atau besok, sama saja. Aku harus pergi, Hud. Kasihan anak buahku di sana.”


Huda pun tidak bisa memaksa lagi. “Okelah, Rif. Jangan ragu cari aku kalau kau perlu sesuatu yang bisa kulakukan.”


Hazri mengangguk. “Makasih banyak, Hud. Itu, si Komeng, jangan kelupaan...,” Hazri mengingatkan.


“lya, pasti itu. Kuping rasanya sudah tebal, capek diomelin ibu terus gara-gara urusan Wati. Giliran Komenglah yang dicerewetin hehehe....”


Akhirnya, Hazri dan Huda pun bersalaman dan berpelukan erat.


“Makasih banyak, Hud, setulus hatiku...,” ucap Hazri.


Huda mengangguk-angguk saja, tidak menjawab. Tapi, matanya agak berkaca-kaca. Bukan basa-basi rupanya waktu dia bilang sedih. Dari kaca spion dalam di mobilnya, Hazri melihat Huda belum beranjak dari tempatnya semula. Memandangi Panther yang semakin menjauh....


“Selamat jalan Sang Tiger...” kata Huda kemudian.


Secuil Kopi



Kota Cirebon, (Carakan:ꦏꦶꦠꦕꦼꦂꦧꦺꦴꦤ꧀, Cirebon: Kota Cerbon, Sunda:ᮊᮧᮒ ᮎᮤᮛᮨᮘᮧᮔ᮪ ) adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya. Jumlah penduduk kota Cirebon pada tahun 2018 berjumlah 316.277 jiwa.

__ADS_1


__ADS_2