
Sejak terakhir bersitegang ‘urusan keluarga’ dengan Fahmi sepuluh bulan lalu, polisi di Jogja tidak pernah mengendurkan pengejarannya atas Hazri Tiger. Dunia hitam kota pelajar ini pun lusuh diacak-acak polisi. Semua jenis preman kena imbasnya. Penjahat-penjahat kelas teri yang sering beraksi di perempatan jalan dan tempat-tempat rawan lainnya seolah lenyap ditelan bumi. Ini tingkat akar rumput. Di level puncak menara pun preman-preman kelas kakap bertumbangan satu per satu dibabat Fahmi dan anggotanya. Warga Jogja senang bukan main. Pujian kepada polisi melimpah ruah bagaikan Sungai Gajah Wong waktu banjir.
Namun, Fahmi belum bisa puas atas semua pujian yang diterimanya. Semua sudut sudah diaduk-aduk, ternyata sampai sekarang Hazri masih belum tertangkap. Laporan pencarian dari jajaran kepolisian di seluruh wilayah nusantara pun hasilnya nihil. Fahmi geleng-geleng kepala selepas rapat koordinasi dengan atasannya soal ini. Dia merenung di ruang kerjanya, di mana gerangan sang Tiger bersembunyi?
Sebenarnya tidak jauh-jauh, Hazri hanya berputar-putar di sekitar JOGLOSEMAR (JOGja, soLo, SEMARang) saja. Terus bergerak, berpindah dari satu tempat persembunyian ke tempat lain. Dia pun sangat letih. Sepuluh bulan dikejar-kejar polisi sungguh buka perkara yang nyaman. Berat badan Hazri turun drastis, kurus dengan mata cekung kelelahan. Rambut, cambang, dan jenggot dibiarkan panjang walau tetap diurus sekedarnya. Pengaktifan terus menerus ‘Cakra Buana’ telah menguras banyak energi batin dan energi lahiriyahnya.
Malam ini giliran Hazri masuk Jogja lagi setelah seminggu lebih berputar-putar di Klaten. Pajero Sportnya sudah diganti Panther Hi Grade merah oleh Romi dua minggu lalu karena si putih tampaknya sudah dicurigai polisi. Entah dapat info dari mana Romi, dan Hazri juga tidak keberatan diberi jenis kendaraan kesukaan anak buah utamanya ini. Pelan-pelan Panther it merayap masuk Jogja. Hazri ingin melihat rumahnya yang dulu sebagai tempat kosnya, kangen juga rasanya.
Hazri mengeluh pilu saat melihat kondisi rumahnya, kotor tak terawat. Tanaman hias rambat yang di tanam Kang Tejo di depan rumah kini rimbun lebat sampai keluar pagar, bahkan tidak kelihatan pintunya. Mungkin terakhir kali dulu Kang Tejo sempat memberinya cukup pupuk sebelum ditinggal. Cuma itu yang bisa terlihat langsung karena pagar rumah Hazri lumayan tinggi. Ingin hati untuk turun menengok ke dalam, tapi diurungkan karena jelas itu sangat berbahaya. Hazri memutar balik keluar melewati gang perumahan, tembus ke jalan raya Solo-Jogja. Hatinya perih tersayat.
Tanpa rencana lebih dahulu, dia menggiring Panthernya ke arah Gejayan, tiba-tiba rindunya kepada Dewi tidak sanggup ditahan. Sepuluh bulan mereka belum pernah ketemu. Dewi memang sering menghubunginya tapi tidak pernah di jawab Hazri, SMS dan Chat juga banyak namun juga tidak dibalas. Bukan kenapa-kenapa, Hazri tidak mau konsentrasinya menghindari polisi pecah gara-gara benturan perasaan. Tapi, malam ini dia seolah tidak pedlli, dia sangat butuh sentuhan kasih sayang.
Hazri memarkir mobilnya di seberang jalan rumah kos itu. Belum banyak berubah, hanya kelihatan barusan di cat ulang. Hazri menghubungi Dewi dari dalam mobilnya.
“Mas...?” getar-getar rindu sangat terasa dari suaranya.
“Selamat malam, Bu Dokter, sedang di mana?” tanya Hazri.
“Mas Hazri...?” Dewi seperti belum percaya.
“Iya, ini aku. Dewi di mana?” Hazri mengulang pertanyaanya.
Hening kemudian. Isak pelan Dewi terdengar di telinga Hazri.
“Dewi...”
“Iya, Mas... Aku di kos,” akhirnya dia menjawab. “Mas di mana?” Dewi balik bertanya sambil masih terisak.
“Di depan kos...”
“Kosan siapa?” kaget dia.
“Di sini, di kos Dewi.”
“Di sini?” dia grudak-gruduk hendak keluar rumah. Lewat HP, suara ribut kecil terdengar oleh Hazri.
“Dew, Dewi..., jangan keluar dulu, dengarkan aku.”
Dewi mengurungkan niatnya untuk keluar. “Iya, Mas, bagaimana?” napasnya memburu.
“Aku di mobil Panther merah, seberang jalan, Dewi keluar santai saja, jangan sampai ada yang curiga. Aku pengen ngobrol, kita jalan...”
“Iya, Mas, tunggu sebentar ya...,”
“Oke, aku tunggu.”
Hazri menunggu Dewi di dalam mobil. Rambutnya dirapikan sedikit.
Tidak lama kemudian Dewi pun muncul dari dalam kos, dia melihat Panther merah yang di maksud Hazri tadi ada di seberang jalan dan langsung menuju ke sana. Tangannya menenteng kantong kresek putih. Hazri memperhatikan gerak tubuh sintal gadis itu, gumpalan rindu seketika menyayat tajam. Pintu depan kiri mobil dibuka, Dewi masuk dan langsung menangis begitu melihat keadaan Hazri. Dia memeluk erat lelaki yang amat dicintainya ini setela menutup pintu.
Mereka segera beranjak dari sana. Hazri membiarkan Dewi yang masih memeluk dan menyandarkan kepala di bahunya. Dewi membelai-belai rambut Hazri yang panjang terkucir. Cambang dan janggut Hazri pun diusap-usapnya penuh kasih sayang. Sungguh..., kalau bukan Hazri yang buka identitas, dia tidak akan percaya lelaki ini kekasihnya dulu. Jauh sekali berbeda...., Mas Hazrinya yang dulu tampan dan rapi, sekarang begitu kurus, gondrong, dan letih.
“Mas baik-baik saja?” Dewi bertanya pelan, matanya sembab.
Hazri melihat Dewi, dia mengusap pipi gadis ini. “Yahh, beginilah.”
“Mas, aku rindu sekali...”
“Apalagi aku, Sayang.”
“Mas Hazri ke mana aja selama ini?”
“Emm, main kejar-kejaran sama polisi. Kayak Tom and Jerry...”
Dewi tersenyum pilu, manis sekali. Lalu dia mengecup pipi kekasihnya, “Sampai kapan semua ini, Mas?”
Hazri menggeleng. “Nggak tahu juga. Rasanya bakal lama, mungkin juga bisa selamanya. Sampai diantara kita merasa lelah dan menyerah.”
Mata Dewi kembali berkaca-kaca. “Terus gimana Mas Hazri nanti?”
Hazri menggeleng lagi. “Entalah, Sayang.”
Hening menyergap, Dewi menunduk sedih. Pelukannya semakin erat seakan tidak mau melepas Hazri lagi.
“Dewi, kita nggak tahu apa yang bakalan terjadi di depan. Jadi, mendingan nggak usah dipikirkan dalam-dalam. Jalanin saja..,” Hazri mencoba menguatkan Dewi.
__ADS_1
“Iya, Mas, tapi aku takut...”
“Takut apa?”
“Takut bakalan kehilangan Mas Hazri...”
Hazri tersenyum. “Sekarang kan masih ada? Yang sekarang saja, yang besok jangan dipikirkan dulu. Nanti cepat keriput loh kalau kebanyakan mikir yang nggak-nggak.”
Dewi kembali tersenyum manis. “Tapi, Mas, mungkin nggak kita bersama lagi?”
“Lah? Sekarang kan sedang bersama?”
“Yang kayak dulu, ihhh...” cubit gemas Dewi.
Hazri hanya meringis.
“Mungkin saja. Kata siapa nggak?”
“Tapi, kata Mas Hazri tadi ini bakalan lama...”
“Yaahh, itu juga mungkin. Semua tentang kemungkinan, bagusan nggak usah dipikirin sekalian. Betul nggak?”
Akhirnya Dewi mengangguk pelan, batinnya mulai agak longgar. Sudah bisa tersenyum manis terus dia kini. Dewi mengambil jeruk dari kantong kresek yang dibawanya. Dia mengupas satu dan menyuapkan ke Hazri. Manis, Hazri minta disuapin lagi, terus sampai habis tiga buah.
Panther melaju tenang menuju ke arah sebuah tempat yang menyimpan kenangan tersendiri bagi Hazri. Diam-diam dia membawa Dewi ke Blandongan, dia yakin aman di sana. Sekalian menengok Yudi dan Tika. Panther terus melaju. Sampai juga akhirnya mereka di sana.
“Eh, Mas? Kok ke sini?” Dewi kaget.
“Kenapa? Nggak apa-apa.” Hazri menenangkan.
“Ini kan...,” Dewi tidak melanjutkan ucapannya sambil memandang Hazri.
Hazri mengangguk. “Iya, nggak apa-apa. Ayo...,” dia mengajak Dewi turun dari mobil setelah diparkir.
Dewi agak ragu-ragu.
“Ayo, Sayang, kujamin nggak apa-apa.”
Akhirnya, Dewi memberanikan diri keluar dari mobil mengikuti Hazri.
“Boy...” katanya sambil cekikikan. “Kayak yang ‘Bu Hazri’ dulu?” dia tersenyum.
Hazri ikut tertawa kecil. Dewi masih ingat Villa Kayu rupanya.
Mereka pun masuk ke dalam warkop yang sebagian orang tahu itu hanya luarnya saja. Di belakangnya, malah mirip diskotik kecil. Hazri mengajak Dewi langsung ke belakang warkop melewati pengunjung yang sedang menikmati kopinya. Musik jegar-jeger langsung menghantam kuping, menggetarkan dada saat memasuki sebuah ruangan. Hazri mengajak Dewi ke tempat duduk yang masih kosong. Sampai sejauh ini tidak ada yang mengenali dirinya. Di luar tadi, Si Tukang Parkir pun tidak sadar kalau Hazri yang barusan melintas di depannya.
Seorang pelayan laki-laki mendatangi tempat duduk mereka. Dewi memesan minuman ringan dingin. Hazri mau memesan sendiri minumannya di bar. Dan kebetulan malam ini yang menjadi bartender adalah Yudi. Terlihat dia sedang melayani pengunjung barnya.
“Tunggu di sini sebentar ya. Aku mau ke bar sana,” kata Hazri.
Dewi mengangguk. “Jangan lama-lama, Mas Haz...Boy,” katanya tersendat.
Hazri tertawa ringan. “Boy, bukan Hazboy, Sayang...”
Dewi pun ikut tertawa.
Hazri melangkah menuju bar, ingin tahu apa Yudi mengenali dirinya yang sekarang.
“Silakan, Pak. Mau minum apa?” sapa Yudi ramah.
Hazri duduk di bangku. “Ada apa saja?”
“Mansion, Vodka, Martini, JW..., shaking juga bisa.” Maksudnya minuman campur.
Hazri menimbang sejenak. Kepalang tanggung, dia pun minta shaking kesukaannya Vodka, Mansion, dan minuman suplemen. Yudi biasa-biasa saja mengerjakan pesanan minuman itu. Diam-diam Hazi terus mengamatinya.
“Silakan, Pak...,” Yudi menyerahkan minuman itu.
“Terima kasih. Boleh saya bawa ke sana?” Hazri menunjuk arah tempatnya duduk tadi.
“Boleh, silakan, Pak”
Hazri membayar minuman itu dan segera balik ke Dewi. Ternyata Yudi benar-benar tidak mengenalinya. Minuman dingin Dewi juga sudah ada. Mereka menikmati minuman masing-masing sambil mengobrol ringan.
“Mau disko?”
__ADS_1
Dewi menggeleng.
“Kalau karaoke?” dia bertanya lagi.
Kali ini Dewi mengangguk. Memang dia suka karaoke.
“Ayolah...,” ajak Hazri sambil berdiri.
Dewi pun berdiri dan hendak membawa minumannya.
“Nggak usah, nanti pesan lagi di sana.” Hazri menyelipkan uang di bawah gelas Dewi dan segera menggandeng tangan gadis itu menuju karaoke room. Dia sengaja melintas jelas di depan Yudi. Bartender itu tersenyum membalas senyuman Hazri, tanpa sadar siapa yang mengajaknya senyum-senyuman.
Di karaoke room, kebetulan juga mereka berdua ketemu Tika. Tika menyambut. “Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya rama. Namun, sesaat kemudian dia memandang lekat wajah Hazri seolah merasakan sesuatu.
“Malam, Mbak, masih ada yang kosong?” tanya Hazri dengan sikap biasa saja.
“Banyak, Pak, mari saya antar...” kata Tika sambil terus mencuri-curi pandang ke arah Hazri.
“Yang ini saja,” Hazri sengaja memilih ruang VIP 2. Dia ingin tahu apakah Tika mengenali dirinya tidak. “Bisa, Mbak?”
“Bisa, Pak. Silakan,” Tika mempersilakan Hazri dan Dewi masuk ke ruang karaoke yang dipilih. Tampaknya dia tidak tanggap atas isyarat ini. Tika menyiapkan dua microphone dan mengetes sedikit kesiapan perangkat video-audio nya.
Hazri dan Dewi duduk di sofa sambil memperhatikan Tika.
“Sudah siap, Pak. Mungkin mau pesan minuman?” tanya Tika kemudian.
“Dewi mau pesan apa?” Hazri bertanya.
Dewi sedang memperhatikan Tika. “Terserah Mas Boy saja deh...” katanya agak ketus, dia sebal melihat Tika bolak-balik melirik kekasihnya.
Hazri pesan minuman dingin kesukaan Dewi tadi. Untuk dirinya, Hazri meminta dua botol suplemen dan dua bungkus rokok, “Itu saja dulu, Mbak, nanti pesan lagi kalau kurang...,”katanya
Tika mengangguk lalu beranjak keluar.
“Siapa sih, Mas? Ngelirik-lirik terus...,” kata Dewi kesal, wajahnya cemberut manis.
Hazri tersenyum tidak menjawab.
Tika kembali membawa minuman pesanan mereka. Sejak dia masuk, Dewi sudah pasang wajah benci kepadanya. Namun, Rina belum sadar, masih juga curi-curi pandang memperhatikan Hazri. Sampai kemudian pandangan kedua gadis itu saling beradu. Tika segera sadar kalau perempuan yang bersama tamunya ini kurang suka, reflek dia tersenyum kepada Dewi. Terpaksa Dewi tersenyum juga.
“Mari, Pak, Mbak...,silakan,” kata Tika mohon diri. “Permisi, Mbak...,” sambungnya kepada Dewi sambil tetap tersenyum canggung.
“Eh, iya... Mari. Makasih,” balas Dewi agak gugup. Senyumnya kelihatan sekali dipaksakan.
Hazri meringis saja dalam hati melihat perang dingin dua gadis ini.
“Siapa sih dia, Mas?” tanya Dewi masih penasaran.
“Siapa?” Hazri pura-pura tidak tahu.
“Cewek tadi...”
“Emang siapa? Bukan siapa-siapa...,” kilah Hazri.
“Benar nih? Nggak bohong kan?”
“Iya. Yuk nyanyi, sudah siap nih...” Hazri mengalihkan pembicaraan.
Tapi, bukannya nyanyi. Dewi malah beranjak mengunci pintu lalu balik cepat dan langsung menerkam Hazri. Sang mangsa sudah menduga. Maka, mereka pun berpagutan panas, melepas hasrat yang tertahan sekian bulan.
Secuil kopi
Pengertian Karaoke adalah jenis hiburan dengan menyanyikan lagu-lagu populer dengan iringan musik yang telah direkam terlebih dahulu.
Sebuah mesin karaoke dasar terdiri dari pemutar musik, mikrofon input, sarana pengubah dari musik yang dimainkan, dan output audio.
Beberapa mesin low-end berusaha untuk memberikan penekanan vokal sehingga seseorang dapat memainkan lagu biasa ke dalam mesin dan menghapus suara penyanyi aslinya, namun ini jarang efektif.
Mesin yang paling umum adalah CD + G , Laser Disc , VCD atau DVD player dengan input mikrofon dan mixer audio built in pemutar CD + G menggunakan jalur khusus yang disebut subcode untuk mengkodekan lirik dan gambar ditampilkan pada layar sementara format lain native menampilkan baik audio dan video.
Kebanyakan mesin di tempat karaoke memiliki teknologi yang secara elektronik mengubah nada musik sehingga penyanyi amatir dapat memilih kunci yang sesuai untuk rentang vokal mereka, sambil mempertahankan tempo asli lagu.
Sistem lama yang menggunakan kaset untuk mengubah kecepatan pemutaran, tapi sudah tidak ada di pasaran, dan penggunaan komersial sebagai karaoke hampir tidak ada.
__ADS_1