
Waktu terus bergerak maju. Kini tiga tahun sudah sejak Hazri berbaiat. Tidar baik-baik saja, merpati luar biasa. Peternakan tumbuh pesat. Kalau tidak ditahan Hazri, mungkin Marno dan Sugeng sudah merambah tanah lagi setelah membeli lima ribuan meter beberapa bulan lalu. Total luasnya sekarang kira-kira satu hektar. Sepuluh ribu meter persegi. Entah berapa puluh atau ratus ribu merpati yang ada sekarang. Jangan-jangan jutaan.
Syariatnya, duit bukan persoalan. Marno dan Sugeng sudah mengendarai mobil pribadinya masing-masing. Rumah pun mereka sudah punya. Tinggal nikahnya yang belum, kabarnya tidak lama lagi. Secara umum, semua karyawan CV Marno Sugeng merpati meningkat taraf ekonominya. Tentu saja warga juga kecipratan. Masjid, jalan desa, sekolah, posyandu, lapangan olahraga, dan lain-lain. Faruq yang ditunjuk warga untuk mengelola dana non-budgeter ‘Haji Mahmud’ itu.
Antiknya, Hazri malah yang tidak berubah. Masih sama seperti yang dulu dipertanyakan Susi dan kawan-kawannya. Tergoda tidak, menggoda pun tidak. Adem ayem saja di rumah bilik bambu dengan perabotan murah meriahnya itu. Malah makin ‘edan’ kelihatannya. Mobilnya pun ditukar guling dengan motor bebek jelek milik Faruq. Terus hampir setiap malam bakda isya’, dia pergi sendirian naik motor uduk-uduk itu. Nanti menjelang pagi baru kembali sambil senyum-senyum. Entah keluyuran ke mana ‘Haji Mahmud’ ini. Bukannya sibuk memeluk kehangatan malam, ini malah cari kedinginan. Ampun, Susi dan para sejawatnya pun geleng-geleng kepala. Pusing mereka.
Tidak seorang warga pun tahu apa yang sedang berproses pada diri Hazri. Mereka memang tahu ‘Haji Mahmud’ hampir setiap malam keluyuran, tapi tidak ada yang tahu ke mana. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, tapi tidak ada yang sampai bertanya langsung kepadanya. Tidak juga Faruq sahabat dekatnya. Warga kampung Tidar masih teguh memegang adab kesopanan, tidak sopan tanya-tanya soal macam itu ke orang lain. Apalagi ini ‘Haji Mahmud’, yang kalau tidak menolak pasti sudah jadi kepala desa sekarang.
__ADS_1
Lucu juga, waktu tersebar isu ‘Haji Mahmud’ ikut mencalonkan diri maka semua calon Kades yang lain mundur. Percuma tarung lawan buronan ini. Busyet, didukung bulat seluruh warga. Termasuk anggota keluarga para calon itu. Untungnya cuma isu, Hazri sendiri yang menegaskan di masjid bahwa dia tidak ikut pencalonan. Maka, semua kembali normal, berikut sedikit bumbu khas gontok-gontokannya.
‘Cakra Buana’ ternyata tidak hilang, malah makin kuat. Hazri tidak perlu lagi repot membaca mantra untuk membangkitkannya. Cukup dipanggil dengan hakikat rasa, “Datang...!” maka datanglah mereka. Semuanya atau sendiri-sendiri. Waktu pembangkitannya juga jauh lebih cepat. Sekarang tidak butuh puluhan detik untuk membuat tangannya memerah bara atau memutih perak. Tek, jess.... Langsung merah atau perak sesuai ajiannya. Makin besar tenaga dalam, makin cepat. Dua tiga detik saja untuk tingkat tenaga dalam penuh.
Tapi, seperti dikatakan Pak Subakir, hambar terasa. Walau ‘Cakra Buana’ sekarang tampil lebih prima, tapi rasanya tidak seperti dulu lagi. Dulu, ketergantungan Hazri kepada ajian-ajiannya demikian tinggi. Bahkan, bisa dikatakan mutlak. Tanpa ‘Cakra Buana’ maka habislah dia. Itu dulu, sekarang lain. Benarlah kata Haji Sulton, ‘Cakra Buana’ memang ajian tinggi, tapi bukan yang tertinggi, bukan segala-galanya. Sekarang, Hazri sedang mujahadah mendekat kepada Yang Maha Segala. Itulah mengapa rasa ‘Cakra Buana’ menghambar, walau bilahnya makin berkilau.
Tapi, jangan dikira tidak bergetar hatinya menanggung rindu kepada . Emak, Siti, dan Udin. Apa kabar Romi? Apa kabar Tomi? Dewi? Kang Tejo? Mbok Ijah? Huda? Haji Sulton? Dan Zilfa? Namun, sebegitu pun mengharu biru gabungan semua getar kerinduan itu tetap jauh di bawah dahsyatnya kerinduan Hazri kepada Yang Maha Tunggal.
__ADS_1
“Allah, segalanya Engkau...,” begitu selalu dia mendesah manakala tikaman rindu selain kepada-Nya tadi menyengat.
Mursyidnya telah membimbing dengan mengatakan bahwa semua yang selain Allah adalah hijab atau penghalang dalam perjalanan menuju Kesejatian. Bukan harus dihilangkan, hijab akan selalu ada dan manusia tidak mampu menghilangkannya. Bukan dihilangkan, tapi ‘dikembalikan’ kepada Sang Pemilik. Karena sejati manusia adalah fakir, tidak punya apa-apa. Kerinduan-kerinduan itu hakikatnya bukan milik Hazri. Bagaimana diaku milik Hazri kalau bahkan ‘Hazrinya’ pun bukan milik Hazri? Segalanya bergerak atas Kuasa dan KehendakNya. Sampai tahapnya yang sekarang, Hazri telah mendapat rasa kebenaran bahwa kerinduan dahsyatnya kepada Yang Maha Tunggal itu juga bukan miliknya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, datang dari Allah dan kembali kepada-Nya. Begitu Pak Subakir biasa menggambarkannya. Setunggalnya Tunggal.
Jadi, manakala kerinduan-kerinduan kepada yang selain Allah itu menyergap, Hazri langsung menenggelamkan diri lebih dalam ke dalam dzikir Cahaya. Berserah diri kepada Sang Khalik. Jika memang Allah berkehendak, tidak usah pakai segala rindu pun akan terlaksana perjumpaan. Siapa sanggup menentang mau-Nya? Tidak harus selalu berarti Hazri yang ke Jombang, bisa saja tiba-tiba Emak atau Siti muncul di Tidar, atau Romi ternyata yang mau beli merpati potong hari ini. Eh, tahu-tahu ketemu Tomi sedang asyik ngebakso di warung bakso Kang Juki di Pasar Tidar. Kata siapa tidak bisa? Jagat Raya ini mau di jungkir balik pun gampang oleh-Nya.
Namun, ternyata mereka tidak muncul di Tidar. Hazri pun tidak bergerak ke Jombang atau Jogja. Dari Allah, kembali ke Allah. Dalam kebenaran rasa yang ada pada sejati dirinya, Hazri yakin bahwa Allah memang belum menghendaki terjadinya perjumpaan kangen-kangenan itu. Kenapa begitu yakin? Apa bukan sekedar malas saja? Jelas bukan karena dia dalam keadaan berdzikir, dalam nuansa ingatan langgeng kepada Ilahi. Lain dengan para ‘pembual’ Sunnah Rasul itu...
__ADS_1