Jalan Pulang

Jalan Pulang
98. sudah kenal?


__ADS_3

“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh...,” sapa sang Mursyid.


“Wa’alaikum salam...,” sahut semua hadirin.


Tidak berpanjang-panjang. Setelah mengucap syukur dan memperkenalkan Komeng kepada para hadirin, Hazri pun segera akan memulai tawasulan ini. “Tolong lampunya,” pinta sang Mursyid. Seorang ikhwan berdiri mematikan lampu.


Maka, tawasulan itu pun dimulai....


Perlahan-lahan Komeng pun melarut di dalamnya. Serasa diayunayun ombak surgawi, lembut membuai. Timbul-tenggelam, timbul-tenggelam, lalu seolah jiwanya ditarik terbang melayang-layang. Sungguh nikmat rasanya. Sulit digambarkan.


Sedang melayang begitu, Plak! Sang Mursyid menepuk tangannya.


Seketika Komeng terjengkang ke belakang dari posisi duduk silanya. “Subhanallah!” serunya tanpa sadar. Kaget dia melihat ruangan itu dipenuhi cahaya serupa kilat berwarna hijau yang memancar dari tepukan tangan sang Mursyid. Sekejap saja, lalu kembali gelap.


Lantunan dzikir berakhir setelah tanda tepukan tadi.


“Nawaitu taqarrub ilallah...,” kata Pak Subakir.


Hening sekarang. Dari sela-sela gelap Komeng bisa menyimak pat ikhwan yang sedang ber-taqarrub. Duduknya menegak dengan kepala agak menunduk. Komeng mengikuti apa yang dilihatnya. Beberapa saat kemudian dia pun kembali melarut, terbang melayang-layang.


Plak! Kembali sang Mursyid menepuk tangan.


Sama seperti tadi, Komeng kembali terperanjat. “Subhanallah,” desahnya lirih. Kilat hijau itu muncul lagi, seruangan penuh. Lebih kental daripada yang awal tadi. Sekejap, hilang.


Setelah bersama-sama melantunkan shalawat beberapa kali dan ditutup dengan doa, maka tawasulan ini pun berakhir. Lampu kembali dinyalakan.


Komeng menghela napas. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat apa yang barusan-dilihatnya. Para ikhwan pun kembali diam memilin-milin tasbih, atau hanya diam saja. Meneng lagi beberapa saat.


“Alhamdulillah. Tawasulan malam ini sudah selesai. Silakan kalau ada yang hendak ber-muthalaah,” kata sang Mursyid kemudian.


Barulah mulai pada bertanya. Makin heran Komeng, ternyata mereka bertanya kepada Hazri, bukan ke Faruq yang disangkanya ustadz yang dipanggil untuk mengisi ceramah. Tambah heran lagi setelah menyimak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para ikhwan dan jawaban yang disampaikan sang Mursyid. Ngomongin apa mereka ini? Masak Hazri berkata, “Kalau masih merasa berdzikir maka belum berdzikir....” Apa maksudnya?


Tidak tahan Komeng, maka dia pun bertanya. “Maaf, Pak Haji, boleh saya bertanya?” katanya.


Hazri mesem. “Silakan, Pak Komeng.”


“Itu maksudnya gimana? Katanya tadi disuruh dzikir, tapi kalau masih merasa berdzikir berarti belum berdzikir. Kok bisa begitu?”


“Hahaha.... Karena Allah telah bersabda bahwa segalanya adalah Aku.”


“Saya tahu. Tapi, tadi urusan merasa dzikir belum berdzikir gimana?”


“Ya itu tadi jawabannya. Kalau Pak Komeng memang benar sudah tahu bahwa segalanya Aku, sebagaimana sabda Ilahi, maka pasti mengerti kenapa yang masih merasa berdzikir artinya belum berdzikir.”


Komeng terdiam sejenak. “Berarti saya belum tahu dong?”


“Entah tuh, hahaha.... Menurut Pak Komeng sendiri gimana?” Hazri balik bertanya. Bibirnya mengulum senyum.


Komeng terdiam lagi. Macet kayaknya.


Tanya jawab itu pun berlanjut. Komeng tidak tanya-tanya lagi. Soalnya, baik pertanyaan ikhwan maupun jawaban yang diberikan Hazri tidak bisa dia pahami. Pasti tidak mengerti karena dia belum memegang rahasia al-Irfan. Namun, walau masih bingung, kebenaran atas jawaban-jawaban Hazri itu bisa dia rasakan. Kebenaran memang tidak butuh banyak logika, hanya minta kejujuran hati. Bagaimana tidak benar karena apa pun jawaban Hazri, kesimpulannya selalu kembali ke Allah. Balik ke Dia lagi, balik ke Dia lagi. Komeng tahu harusnya memang begitu. Tapi, bagaimana caranya supaya bisa begitu? Sungguh bukan perkara gampang ini. Di kehidupan sehari-hari, mahasulit menerapkannya. Kecuali sekedar ngomong doang.


Menjelang pukul tiga dini hari para ikhwan beranjak pulang. Tinggallah Hazri, Faruq, Komeng, dan Juki yang mondok di sini belajar hakikat. Orang Lampung, muncul begitu saja di Tidar, tahu dari mimpi katanya. Hemat bicaranya dia ini, pendiam asli. Sehari-hari membantu Ami di rumah atau ikut bantu-bantu di peternakan.


“Belum lelah, Meng?” tanya Hazri.


Komeng menggeleng. “Saya bingung, Pak Haji..”


“Bingung kenapa?”


“Bagaimana caranya bisa mengenal Allah seperti yang Pak Haji katakan tadi. Saya sudah shalat, sudah puasa, ngaji, sedekah, dan lain-lain, tapi kok belum kenal-kenal juga ya?”


“Benar nih sudah shalat?” pancing Hazri.


“Sudah, Pak Haji. Masak sih belum?” jawab Komeng. Maksudnya, bukankah dari dulu Hazri tahu kalau dirinya shalat waktu bareng di kapal dulu.


Hazri tersenyum. “Juki, bikin kopi dong....”


Juki mengangguk lalu beranjak ke dapur sayeduh kopi.


“Kalau benar sudah shalat, pasti kenal dengan Allah yang disembahnya. Lha kalau nggak kenal terus nyembah siapa itu?” pancing Hazri lagi.


Komeng terkesiap. Keningnya berkerut sambil menatap Hazri.

__ADS_1


“Iya kan, Meng?”


“Iya, Pak Haji, harusnya gitu. Tapi, kok saya nggak kenal ya?”


“Berarti shalatnya mungkin yang belum benar, Meng.”


Komeng terus menatap Hazri minta penjelasan.


“Memang awwalu dinni makrifatullah. Awalnya beragama adalah mengenal Allah. Kenal dulu dengan-Nya, baru bisa mulai dihitung pegang agama. Ini menurut hukum hakikat. Itulah sebabnya mengapa shalat yang dijanjikan Allah bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar itu sepertinya tidak berdaya. Shalat ya shalat, tapi keji dan mungkarnya jalan terus. Iya, kan?”


Komeng mengangguk-angguk.


“Jadi, shalat saya selama ini salah, Pak Haji?”


Hazri tertawa kecil. “Tidak, syariat rukunnya benar. Shalat saya juga seperti itu gerakannya, kan? Sama. Cuma mungkin Komeng belum paham hakikatnya. Belum ketemu ruh shalatnya. Sebab, shalat memang bukan sekedar gerakan-gerakan lahiriah seperti itu. Kalau cuma begitu doang namanya senam.”


Hazri dan Faruq tersenyum.


“Ruhnya shalat? Memangnya shalat punya ruh?”


“Hahaha..., ada dong. Itu tadi, hakikatnya. Ruh adalah simbolis, maksudnya yang menghidupkan shalat. Yang membuat shalat jadi bermakna luhur sebagaimana mesti-nya. Yang dengan itu bisa mencegah manusia dari berbuat keji dan mungkar di muka bumi ini. Bukan yang cuma tunggang-tungging doang.”


Juki masuk. Jeda kopi sejenak.


“Jadi, saya mesti gimana, Pak Haji?” tanya Komeng kemudian.


“Dalilnya yang tadi. Awwalu dinni makrifatullah. Mesti itu dulu kalau ingin shalat dan semua bentuk ibadah yang lain mengandung makna hidup.”


Komeng mengusap-usap kening. “Caranya gimana, Pak Haji? Selama ini kan saya mengandalkan shalat. Sekarang ternyata shalat saya pun masih harus dibenarkan. Jadi, gimana?”


“Sebentar, Meng, salah kalau kamu mengandalkan shalat. Kok bisa shalat jadi andalan? Sebab, shalat hanyalah sarana, bukan tujuan. Begitu juga bermacam ibadah yang lain. Tujuannya ke mana? Allah, Dia dan hanya Dia. Bukan melenceng ke mana-mana. Segala yang kamu harapkan dan kamu takutkan melebihi Allah, maka itulah tuhanmu. Hati-hati di sini. Halus jebakannya. Salah-salah mengandalkan shalat malah kejeblos musyrik walau mungkin tidak terasa.”


Komeng menghela napas. Apa yang barusan dikatakan Hazri itu benar. Dia bisa merasakan kebenarannya.


“Balik ke pertanyaannya tadi. Apa, Meng? Soal caranya ya?”


Komeng mengangguk.


“Caranya supaya bisa mengenal Allah?”


“Harus ingat dulu, Meng.”


“Ingat gimana, Pak Haji?”


“Ingat Allah. Tadi waktu shalat maghrib dan isya’, ingat Allah nggak?”


Komeng tersentak, lalu menggeleng sambil menatap Hazri.


“Lho? Ingat apa dong?”


Komeng coba mengingat-ingat. “Kayaknya sih ingat anak. anak, ,..”


Hazri dan Faruq tertawa kecil. Juki mesem.


“Ibunya kebawa juga ya?” canda Hazri.


Komeng meringis.


“Coba tuh. Sedang shalat pun lupa Allah. Apalagi kalau sedang yang lain?”


Komeng lanjut meringis sambil mengorek-ngorek karpet.


“Jadi, Meng, untuk bisa mengenal Allah yang pertama harus diberesin adalah ingatnya. Dzikirnya. Tidak ada kenal tanpa ingat. Ingat dulu baru kenal. Kalau sudah kenal boleh dekat. Kalau sudah dekat, selanjutnya terserah Anda, hahaha...,” Hazri menirukan gaya ucapan iklan parfum.


“Dzikir maksudnya, Pak Haji? Saya kan sedang dzikir?” Komeng mengangkat tasbih hitamnya.


“Nah, ini lagi. Waktu melintir-melintir tasbih itu ingat sama Allah nggak?”


Komeng pun kembali tersentak. “Nggak, Pak Haji...”


“Tuh, kan? Apa kubilang, hahaha.... Sedang dzikir, yang artinya ingat pun tidak ingat kepada yang mestinya diingat. Gimana bisa kenal coba?”


Komeng kembali menunduk, mengorek-ngorek karpet.

__ADS_1


Tiba-tiba Hazri melihat aura tanda yang melingkupi Komeng seketika berubah terang dan terus menerang. Faruq dan Juki belum sampai pada tahap mampu melihat ini. Di sini hanya Hazri yang bisa, atas izin-Nya.


“Baiklah, Meng, langsung saja. Apa niatmu?” tembak sang Mursyid.


“Saya ingin mengenal Allah,” jawab Komeng mantap.


Hazri mengangguk-angguk. Aura tanda telah begitu cemerlang.


“Siap menerima rahasia-Nya?”


“Siap, Pak Haji.”


“Baiklah. Mari..”


Demikian Allah telah berkehendak. Saat tabir hati dikuak olehNya, maka tidak perlu lagi segala kata-kata. Mengerti atau tidak, siap atau tidak, dia akan tunduk pada kemauan-Nya. Tanpa syarat.


Juki mengipasi bara arang yang masih ada itu. Kembali menyala. Tungku kecil itu dibawa ke hadapan sang Mursyid. Hazri menaburkan buhur, semerbak wangi pun menyeruak ke sepenjuru ruangan. Komeng duduk diam bersila di depan sang Mursyid. Seolah wadah kosong menunggu isi. Tenang sekali. Tak ada tanya, tak pula ragu.


Hazri meraih tangan Komeng, dijabatnya seperti salaman akad nikah. “Meng, ikuti kata-kata saya ya,” kata sang Mursyid.


Komeng mengangguk.


“Bismillahirrahmanirrahim....”


Maka, proses pembaiatan dan penyingkapan rahasia al-Irfan pun dilaksanakan. Setelah tahu aurat ilmu itu, Komeng merenung, pandangan matanya menerawang jauh. Lalu, perlahan-lahan dia pun menangis pelan sesenggukan. Hazri, Faruq, dan Juki keluar ke teras depan. Memberi waktu kepada Komeng untuk melepaskan beban hati atas kesadaran. ‘kesalahannya’ selama ini. Melenceng jauh ternyata dari sirathal mustaqim. Pantaslah kalau selama ini dia masih banyak dirongrong gelisah.


Sesungguhnya, setiap manusia pasti gelisah jika permohonan ihdinas sirathal mustaqim-nya belum dijabah oleh-Nya. Permohonan agar ditunjukkan jalan yang lurus itu. Sepenggal doa yang selalu dipanjatkan dalam setiap shalat, baik disadari maupun tidak. Shalat apa pun. Kalau ada yang mengaku mampu tenang hati tanpa tahu paham sirathal mustaqim, haqqul yakin dia sedang berbohong. Itu cuma akuan diri atas dasar akal-akalan dan egonya. Jelas bohong karena menentang sunnatullah.


Beberapa saat kemudian Komeng keluar. Matanya masih sembab, tapi wajahnya cerah. Senyum tipis tersungging di bibir.


“Wah, sudah terang sekarang. Cuci muka dulu, Meng, malu nanti ketahuan si Fia kalau Om Komeng-nya habis nangis, hahaha...”


Hazri tertawa.


Faruq dan Juki ikut tertawa. Komeng tersipu sambil menuju ke tempat wudhu di samping rumah ini. Sebentar kemudian dia kembali dan bergabung di situ. Hazri pun menjelaskan soal pengertian dan ilmu. Tampaknya Komeng tidak sulit memahami ini. Dengan satu dua contoh, dia sudah bisa mengerti.


“Pesan saya, Meng, kamu jangan repot mikirin segala pengertian. Gampang itu. Nanti juga ngerti sendiri sambil jalan. Yang penting justru perjalanan ruhaninya. Tanpa rasa yang didapat dari setiap tahapan perjalanan itu, maka pengertian sehebat apa pun tidak akan bermakna lebih dari sekedar cerita. Pahami ini.”


Komeng mengangguk.


“Ya sudah. Itu saja. Kamu sudah paham kedudukan pengertian dan ilmu, tahu tiga tapak dasar al-Irfan, dan tahu dzikir Cahaya. Cukup. Mulailah berjalan. Pokoknya, tiada detik terlewat tanpa dzikir Cahaya. Lupa, sambung. Lupa lagi, sambung lagi. Terus mujahadah, jangan pernah menyerah. Insya Allah nanti tersambung sendiri tanpa jeda, saat derajat dzikir Cahayamu telah mengalir tanpa pikir. Kalau kata Ebiet, mengalir dalam darah, hahaha.... Tidak salah, karena memang mengalir dalam segalanya. Segalanya yang ada di semesta jagat, lahir maupun batin. Ke mana pun wajahmu memandang, di situlah wajahKu. Semoga sabda Ilahi ini tidak hanya jadi cerita hebat bagimu, tapi benar-benar dirasakan.”


Komeng pun mengangguk-angguk lagi.


Tiba-tiba Hazri menoleh agak ke samping lalu tersenyum sendiri. “Wa’alaikum salam...,” gumamnya pelan. Faruq, Juki, dan Komeng celingak-celinguk. Kepada siapa Hazri barusan beruluk salam?


“Sini, Meng...,” panggil sang Mursyid.


Komeng mendekat. Setelah mengucap asma-Nya, Hazri menempelkan telapak tangan kanannya di tengkuk Komeng.


“Coba lihat ke situ,” Hazri menunjuk ke arah serong kirinya.


Komeng menuruti. Perlahan-lahan terlihat kabut menggumpal, lalu makin jelas menampilkan sesosok tubuh. Sorban hijau, tasbih besar, kemudian membentuk seraut wajah. “Subhanallah! Abah...,”


Komeng terpekik tanpa sadar. Kepada Komeng, Abah Juhri hanya berpesan agar dia menuruti semua wejangan yang diberikan gurunya. Kepada Hazri dia memohon kiranya sang Mursyid bersedia mengembalikan tasbih kauka hitam itu kepada Komeng. Hazri tidak keberatan. Itu saja. Sosok itu pun melenyap setelah mengucap salam. “Wa’alaikum salam...,” gumam Hazri dan Komeng hampir bersamaan menjawab salamnya.


Komeng masih melongo sejenak sepeninggal Abah Juhri.


“Meng...,” Hazri menyadarkan.


“Iya, iya,” Komeng gelagapan. “Apa tadi itu Pak Haji?”


“Hahaha.... Menurutmu apa?”


“Abah Juhri..”


Hazri mengangguk. “Isyaratnya. Tapi, sudahlah jangan terlalu kamu pikirkan, yang penting wejangannya. Ingat, kan?”


Komeng mengangguk.


“Terimalah kembali tasbih itu, Meng. Pakai, jangan dibiarkan bulukan lagi ya. Kemarin saya berjalan ditemani tasbih itu. Mudah-mudahan kamu juga.”


“Insya Allah, Pak Haji. Terima kasih.”

__ADS_1


Sayup-sayup adzan subuh berkumandang dari masjid. Mereka pun pergi ke masjid bersama-sama setelah sang Mursyid mengganti jubahnya dengan pakaian koko putih biasa. Tanpa kupluk, karena kupluk putih bolongnya masih nangkring di kepala ikhwan terbaru majelis dzikir Safinatun Najat itu. Tidak punya yang lain.


Faruq yang jadi imam. Sang Mursyid sama sekali tidak keberatan jadi makmum bersama warga lainnya. Walau masih di batas pengertian, inilah shalat pertama bagi Komeng di mana dia bisa menetapkan diri ke arah kiblat sejati. Tapak Ilahi. Tanpa terpaksa harus membayangkan-Nya serupa makhluk seperti pada shalatnya yang lalu. Sesosok ‘makhluk maha’ yang bertengger di singgasananya. Entah apa dan di mana. Pokoknya ada di sana. Padahal tegas Dia bermartabat laisa kamislihi syai’un, tidak serupa dengan apa pun. Bagaimana bisa dibayangkan?


__ADS_2