Jalan Pulang

Jalan Pulang
57. pesta penyambutan


__ADS_3

“Berhenti! Polisi!” terdengar suara bentakan. Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan peringatan langsung memecah keheningan dini hari itu.


Dor! Dor! Hazri menembak dua kali ke arah sumber suara tembakan polisi.


“Arghhh...” terdengar erangan di sana. Tampaknya ada anggota polisi yang terkena tembakan Hazri.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor....! polisi pun langsung balas menembak.


Sreat! Dep! Hazri merasakan dua peluru mengenai tubuhnya, satu menyerempet pinggang kiri, yang lain menghantam punggung tengah. Sakit tentu, tapi tidak tembus karena ajian ‘Cakra Buana’ aktif memagarinya. Hazri terus berlari lalu melompat sembunyi ke balik gundukan pasir. Ada Tomi di situ sedang mengokang pistol. Lalu, Dor! Dor! Dor! Tomi membalas tembakan para polisi.


Aksi tembak menembak tidak terhindarkan...


Hazri menyandar ke gundukan pasir, pistol dipegang dengan dua tangannya yang mulai memerah bara. Dia mengaktifkan ajian ‘Rogo Kumitir’, sebagian tenaga dalam dialirkan ke mata dan telinga. “Hah...!” Hazri bangkit...Dor! Dor! Dor!...tiga letusan terdengar dari pistolnya. Di sana, dua anggota polisi terjengkang dihantam peluru Hazri.


“Mampus kalian!” teriak Tomi ke arah polisi sambil terus menembak. Suka dia melihat dua anggota polisi yang terjungkal tadi.


Hazri dan Tomi sama-sama turun, sembunyi lagi di balik gundukan pasir.


“Abang, keren, hehehe...,” kata Tomi sambil memeriksa magasin. Tidak tampak raut wajah takut pada anak buah Hazri ini. Klek! Tomi memasang lagi magasinnya, masih banyak peluru di situ. “Aku juga pengen dapat ah...” katanya santai. Dia bangkit, lalu sibuk menembaki lagi para anggota polisi di sana.


Hazri hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia merangkak ke samping, mau melihat posisi anak buah yang lainnya. Simon dan Bagas sembunyi bersama di balik gundukan pasir sebelah sana, secara teknis posisinya memang bagus. Romi yang terpojok, berlindung di balik dinding ruko yang agak menjorok ke depan. Posisinya memang susah dibidik, tapi juga susah membidik.


“Rom!” seru Hazri di tengah desingan peluru.


Romi menoleh. Hazri menunjuk ke arah tumpukan batu bata. Romi paham, dia mengangguk. Hazri bangkit, melepaskan serentetan tembakan ke arah polisi untuk memberi kesempatan Romi berpindah posisi.

__ADS_1


Romi sigap melompat, berguling-guling cepat di tanah lalu menyelinap ke belakang tumpukan batu bata itu. Berhasil. Dia sekarang bisa ikut berpesta. Dor! Dor! Dor! Langsung saja beraksi.


Tembak menembak terus berlangsung seru. Makin seru setelah Kopeng dan kawan-kawannya ikut meramaikan. Para Baret ikut menembaki anggota polisi dari samping, berpindah-pindah pula posisinya karena lapang ruang geraknya. Kewalahan juga para Buser ini dibuatnya.


Namun, satuan pemukul dari pihak polisi datang membantu. Satu truk Brimob tiba di lokasi. Cuaca langsung berubah genting. Hazri dan kawan-kawannya yang semula di atas angin sekarang diterjang badai. Para Baret kocar-kacir menyelamatkan diri di tengah semburan peluru pasukan Brimob itu. Entah siapa, tapi Hazri melihat tiga di antara mereka terjungkal diterjang timah panas aparat. Beberapa anggota Brimob memburu Baret yang tersisa. Sambil kabur, dua anggota pasukan elit Kopen itu terus melawan semampunya.


Sebagian yang lain merengsek setahap demi setahap ke arah pertahanan Hazri dan kawan-kawannya. Hazri, Romi, Simon, Bagas, dan Tomi gigih melawan. Mereka sudah nekat dan gelap mata, pokoknya tembak dan terus menembak. Peluru berdesingan, nyawa seolah diobral murah. Pihak sana atau pihak sini sama saja. Siapa cepat, dia dapat.


Dor! Romi menembak. Seorang anggota Brimob roboh...Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Kawan-kawannya langsung membalas. Serpihan batu bata beterbangan dihajar peluru para anggota Brimob itu. Dor! Dor! Dor! Simon dan Bagas menembak berbarengan, meleset. Simon bangkit hendak menembak lagi...Dor! Peluru Brimob menyambut duluan. ‘Manager administrasi dan keuangan’ Kopen itu pun terpental ke samping. Darah menyembur dari dadanya. Merah deras...


“Bang Simon..!” seru Bagas keras.


Hazri kaget, dia menoleh ke arah Bagas. Darahnya berdesir begitu melihat Simon telah terkapar tak bergerak. “Setannn... Simon!” Hazri berteriak. Romi dan Tomi pun menoleh ke arah posisi Simon dan Bagas. Mereka sama terbelalak.


“Bagas! Bagas! Diam di tempatmu..!” seru Hazri saat melihat Bagas bergerak mendekati Simon yang posisi jatuhnya memang terbuka. “Bagas...!” Hazri berteriak lagi, keras. Bagas menoleh tapi terlambat... dia sudah masuk lingkaran bidik penembak jitu Brimob. Dep! Sebutir peluru menembus kepalanya, si kalem double engine ini pun terkapar tewas di samping Simon.


“Romi! Tomi! Pergi kalian! Cepat...!” seru Hazri.


“Abang?” tanya Tomi dari balik gundukan pasir di belakang Hazri.


“Pergi kau! Pergi...!” perintah Hazri. “Romi! Pergi!” serunya lagi.


Romi menggeleng. Segan dia meninggalkan ketuanya sendirian. Tomi juga.


“Romi..! Jangan membantah!” bentak Hazri.

__ADS_1


Romi masih diam di tempat.


“Pergi kataku! Pergi..!” bentak Hazri keras. “ Romi! Tomi!...Cepat pergi...! percayakan padaku!”


“Baik, Bang, baik...” seru Romi akhirnya, dia pun beranjak kabur.


Melihat itu, Tomi mengikuti dengan berat hati.


“Terus lari! Jangan menengok...!” perintah Hazri. Ajian ‘Rogo Kumiti’ kembali aktif penuh. Dari tempatnya berdiri, dia membeturkan kedua tangan di atas kepala. Jlab..! Sekelebat sinar putih seperti blitz raksasa memenuhi area. Para anggota polisi yang sudah bersiap menyerang itu terkejut. Reflek mereka berlompatan mencari perlindungan. Silau, sangat... Sesaat buta mata, tak tampak apapun.


“Terus lari..!” seru Hazri kepada Romi dan Tomi yang sedang melarikan diri itu. Jlab!Jlab!Jlab! Sekaligus tiga kali blitz raksasa itu beraksi lagi menutup pandangan mata lawan. Sementara efek silau masih sangat kental, Hazri melompat mendekati Simon dan Bagas. Dia menyeret jenazah kedua anak buahnya itu ke balik gundukan pasir tempat mereka semula berlindung. Terdengar teriakan-teriakan bingung polisi dari sebelah sana.


Hazri menidurkan jenazah kedua anak buahnya dalam posisi yang baik di situ. Tangan mereka didekapkan di atas dada masing-masing. Lalu, mengatupkan kelopak mata Simon yang melotot. Perih betul hatinya melihat ini.


Hazri merogoh kantong celana Simon, dapat dua strip magasin penuh. Dari Bagas dapat satu. Dia mengganti cepat magasin pistolnya yang telah kehabisan peluru, berkonsentrasi, lalu Dor...! Seorang anggota Brimob yang berlindung di balik tumpukan koral ditembaknya saat efek blitz mulai pudar. Meleset.


Dor! Dor! Dor! Dor!Dor! Dor! Dor! Dor! Polisi membalas tembakannya itu dengan berondongan peluru senapan mesin. Hazri mendengus kesal sambil menyibak-nyibak rambutnya yang penuh pasir. Ajian ‘Cakra Buana’ siap, sebagian tenaga dalamnya dialirkan ke mata dan telinga... Dor! Hazri menembak lagi Brimob yang tadi lolos itu sekarang roboh bersimbah darah. Peluru Hazri menembus tenggorokannya. Tembak-menembak sengit pun berlangsung kembali.


Sehebat apa pun Hazri Tiger, kewalahan juga disergap sekian banyak polisi bersenjata lengkap. Pontang panting kalang-kabut dia mempertahankan diri. Di lain pihak, para anggota polisi pun gemas bukan main melihat ketangguhan mangsanya ini. Belum takluk Hazri Tiger walau sudah ditekan seperti  itu. Malah dapat dua polisi lagi dia...


Secuil Kopi



Magazen atau Magasin adalah alat penyimpanan dan pengisian amunisi yang menyatu atau dipasang pada senjata api. Magazen berasal dari bahasa Arab, yaitu "makhazin" (مخازن), yang berarti gudang

__ADS_1


(lihat: en:Magazine (artillery)). Magazen bisa terintegrasi dengan sebuah senjata api (fixed) atau dapat dicopot (dettachable). Fungsi dari magazen adalah mendorong peluru dari dalam magazen masuk ke dalam senjata api secara otomatis ataupun secara manual, tergantung dengan jenis senjata api. Magazen sering disamakan dengan sebuah klip, tetapi klip ini sebenarnya tidak sama dengan magazen. Amunisi sabuk/rantai yang digunakan oleh senapan mesin bukanlah merupakan magazen, karena cara kerjanya tidak mengambil amunisi dari kontainer tertutup layaknya magazen.


__ADS_2