Jalan Pulang

Jalan Pulang
56. ketemu


__ADS_3

Hari sudah siang. Hazri masih tidur di dalam kamar losmen yang dimasukinya dini hari tadi selepas mengantar Dewi. Jenis losmen yang tidak ribet soal identitas tamunya, yang penting ada uang lebihnya. Hingga lewat tengah hari, Hazri belum juga bangun. Lelah sekali tampaknya, lahir dan batinnya.


Menjelang pukul lima sore, dia baru bangun. Dan, yang pertama kali dilakukan adalah mengecek ‘Rogo Swara’. Aman ternyata. Hazri duduk di tepian tempat tidur sambil meminum air botolan yang tersedia. Pikirannya terbang melayang ke Dewi. Sangat ingin hatinya menghubungi gadis ini lagi, tapi ditahannya karena sadar terlalu beresiko bagi Dewi jika ketahuan orang kalau dia bertemu dengan Hazri. Akhirnya, Hazri menghubungi Romi, memberitahu dirinya sedang ‘liburan’ di Jogja.


Tahu Hazri di Jogja, Romi dan yang lain minta bertemu. Kangen-kangenan saja. Selama sepuluh bulan menjadi buronan, baru tiga kali Hazri bertemu dengan anak buah utamanya selain Romi. Dengan Romi, minimal sebulan sekali mereka pasti berjumpa untuk koordinasi. Hazri tidak keberatan, Romi mengusulkan tempat pertemuan di daerah Gondokusuman, di sebuah ruko kosong dekat rumahnya Kopeng. Jam sebelas malam ini. Hazri mengiyakan, dia tahu ancar-ancar tempat itu.


“Mau dibawain Mansion, Bang?” tanya Romi.


“Boleh kalau ada.”


“Beres, Bang...”


Menunggu waktu, Hazri tidur-tiduran saja di dalam kamarnya sambil baca-baca koran yang dibelinya tadi. Berita tentang operasi pembersihan preman di Jogja oleh polisi masih ada walau tinggal kolom-kolom kecil di tengah halaman surat kabar. Sudah tidak jadi headline halaman depan. Dia tertarik pada sebuah berita tentang sebuah liputan  acara Sekaten yang diadakan oleh pihak kekeratonan Yogyakarta. Bukan beritanya tadi sebuah nama yang terukir disana. Zilfa Mufidah Az-zahra. Hazri tersenyum kecut rindu.


Jam  sepuluh malam Hazri check out. Dengan tetap waspada, dia pun meluncur tenang ke tempat pertemuan yang telah disepakati. Sebuah ruko kosong di daerah Gondukusuman, tidak jauh dari perumahannya Kopeng. Tidak susah ditemukan. Coretan ‘MSN’, maksudnya Mansion dengan cat semprot di pintu besi salah satu ruko kosong itu terlihat jelas.


Hazri tidak langsung berhenti di situ, memutar beberapa kali dalam kompleks pertokoan ini. Tampaknya kawasan ini terbengkalai pembangunannya. Sisa material bertumpuk di sana sini tidak terurus. Rumput menutupi gundukan pasir dan batu kerikil. Rumah proyeknya kosong, pos security  juga kosong. Tapi, listrik ada. Lampu jalan menyala, beberapa ruko di bagian depan sana juga menyala lampu dalam dan luarnya. Berarti ada penghuninya walau cuma beberapa gelintir. Mungkin mereka sudah terlanjur beli ruko di sini.


Setelah punya gambaran lingkungan, Hazri keluar lagi dari kawasan pertokoan itu. Dia mencari tempat aman untuk menaruh mobilnya. Putar-putar akhirnya ketemu pangkalan ojek, lumayan jauh dari pertokoan tadi. Hazri memarkir mobilnya dekat situ dan mengamati sejenak ciri-ciri tempat ini. Ada lapangan kecil dan sebuah mini market, itulah ancar-ancarnya. Dia turun lalu naik ojek ke kompleks pertokoan tadi, minta diantar sampai gerbang saja. Ke sananya jalan kaki.


Suasana sepi-sepi saja, tidak tampak kendaraan para anak buahnya di depan ruko tempat pertemuan ini. Tapi, lampu dalam ruko yang tadinya mati sekarang menyala. Hazri melihat jam tangannya, pukul sebelas lebih lima belas menit. Berarti mereka sudah tiba di dalam. Sejak menjadi buronan, Hazri memang meminta anak buahnya untuk melakukan antisipasi kendaraan setiap kali mereka hendak bertemu. Taruh di tempat yang aman, supaya masih ada kemungkinan bisa dipakai untuk melarikan diri dalam situasi terjepit.


Hazri berhenti sebentar, mengecek ‘Rogo Swara’, aman. Maka, dia pun mengetuk pintu besi ruko. “Mansion...,” katanya pelan.


“Masion...,” terdengar jawab dari dalam. Suara Romi.


Pintu besi dibuka sedikit, Hazri langsung menyelinap masuk. Lengkap, sudah ada semua. Romi, Bagas, Tomi, dan Simon. Mereka pun saling berjabat tangan erat, saling melepas kangen...


Selepas acara kangen-kangenan, Hazri ditemani Romi melihat-lihat ruko dua lantai itu, yang lain menggelar tikar dan menyiapkan beberapa botol minuman. Di lantai bawah dekat kamar mandi, tampak dinding telah dijebol tembus ke ruko belakang yang punggung-punggung posisinya.


“Kerjaan Kopeng sama Cungkring tadi sore...,” kata Romi tanpa menunggu pertanyaan Hazri. “Terus tembus keluar sana dari pintu besinya.”


Hazri manggut-manggut, dia menyelinap masuk ke lubang itu diikuti Romi. Di ruko dempetannya ini juga telah dibuatkan celah tembus keluar dengan merobek pintu besinya yang sudah lemah di makan karat. Celahnya ditutupi potongan triplek. Hazri mengangguk puas. Dia pun kembali ke tempat pertemuan.


“Di mana Kopeng sama Cungkring?” tanya Hazri sambil berjalan balik.

__ADS_1


“Stand by di sekitar sini, aku suruh jaga-jaga bareng tiga Baret yang lain.”


Hazri mengangguk-angguk kembali. “Bagus, Rom...,” pujinya. Lalu, dia pun duduk di tikar bersama yang lain.


“Ini, Bang...,” Tomi menyodorkan sebotol Mansion ke Hazri.


Hazri menerima dan meneguk minumannya. Lalu mereka pun mulai berbincang santai, yang ringan-ringan saja karena selama ini sudah berat.


“Kabarnya Iis isi lagi, Gas?” tanya Hazri. Dia tahu dari Romi saat telepon dua mingguan lalu.


“Iya, Bang. Empat bulan.” Bagas mesem.


“Emang berbeda teman kita satu ini, Bang. Kalau kita lagi senang hati baru nembak, Bagas justru kalau lagi stress banyak nembaknya. Alhasil sana isi sini isi...,”canda Tomi.


Semua tertawa. Bagas mesam-mesem saja.


“Yang sini isi juga, Gas?” tanya Hazri lagi. Baru tahu dia.


Bagas mengangguk malu-malu. Anak buah Hazri yang satu ini memang paling kalem, cocoklah dia dulu sama Deni yang gayanya seperti pujangga.


“Ngomong-ngomong duit kita bagaimana kabarnya, Mon?” Hazri bertanya ke Simon setelah tertawa sedikit mereda. Simon memang ditunjuk Hazri mengurusi ‘administrasi dan keuangan’ organisasi.


“Masih sisa, bisalah untuk sebulan dua bulan ini. Lumayan berat, karena nggak ada pemasukkan sama sekali, Bang.” jawab Simon.


“Terus, anak-anak bagaimana?” Hazri bertanya ke Romi. “Masih bisa bertahan mereka?”


“Nggak masalah, anak-anak bisa cari makan sendiri. Sementara ini memang aku suruh begitu, tapi nggak bawa-bawa nama Kopen atau Baret. Jalan sendiri-sendiri saja,” jawab Romi. “Pada nanyain Abang semua tuh. Aku bilang Bang Hazri baik-baik saja, nanti ada waktunya pasti muncul.”


Hazri mengangguk-angguk. “Markas masih dikosongkan?”


Romi mengangguk. “Sampai sekarang masih ditongkrongin intel.”


“Semuanya?”


Romi mengangguk lagi. “Kita telepon-teleponan saja.”

__ADS_1


Hazri mengangguk. “Menurutmu, seberapa ketat situasi sekarang?”


“Amat ketat kalau buat kita. Polisi memang lagi nyari kita sih, Abang terutama..” jawab Romi. “Aku rasa geng lain nggak seketat ini, walau tetap mepet.”


“Masih ada celah nggak? Sekedar buat tambah-tambah kas.”


Romi diam sejenak. “Celah sih ada aja, Bang, cuma resikonya yang kegedean...”


“Tapi, benar anak-anak masih bisa bertahan?” Hazri memastikan.


“Bisa, Bang. Nggak menjadi soal mereka.” Romi menjawab mantap.


“Baiklah.”


Pembicaraan masih terus berlangsung, yang sedih, yang lucu, yang aneh, yang gembira, yang menyebalkan..., semua ada. Dikemas ringan saja. Sementara itu, waktu terus berjalan maju tak tertahan. Jam tangan Hazri baru saja melapor bahwa sekarang jam tiga dini hari.


Mereka  sedang asyik mengobrol ketika tiba-tiba Hazri terkesiap, ajian ‘Rogo Swara- nya berdegup kencang...


Dia segera bangkit. “Keluar! Cepat keluar! Polisi...!”


Semua kaget, namun cepat tanggap. Mereka pun bergegas menyelinap keluar lewat lubang pelarian yang dibuat Kopeng dan Cungkring itu. Degup ‘Rogo Swara’ semakin kencang...


“Cepat! Cepat...!” kata Hazri lagi.


Sigap, satu persatu menyelinap cepat. Semua sempat keluar dan hendak melarikan diri. Tapi, terlambat...


Secuil kopi



Ruko (singkatan dari rumah toko) adalah sebutan bagi bangunan-bangunan yang memiliki ciri khas bertingkat antara dua hingga lima lantai. Lantai ruko bagian bawa digunakan sebagai tempat berusaha ataupun semacam kantor sementara lantai atas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal. Ruko biasanya berpenampilan yang sederhana dan sering dibangun bersama ruko-ruko lainnya yang mempunyai desain yang sama atau mirip sebagai suatu kompleks. Ruko banyak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia dan biasa ditempati warga-warga kelas menengah.


Sejarah ruko di Indonesia dimulai dengan datangnya bangsa Tionghoa yang berusaha sebagai pedagang, terutama yang berasal dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Ruko-ruko Tionghoa dibangun di kawasan perkotaan untuk menjalankan usaha dagang sekaligus sebagai tempat tinggal. Dengan demikian pemilik ruko bisa mengawasi langsung barang dagangan dan mengurangi biaya transportasi karena tidak perlu pindah rumah.


Ruko dibangun berderet, tepat di pinggir jalan. Deretan ruko bisa terkonsentrasi dalam satu kawasan yang membentuk blok, ataupun mengikuti ruas jalan. Karena berderet dan terapit ruko lain, jenis bangunan ini hanya tampak pada bagian depan. Ruko di Indonesia umumnya mirip dengan ruko penduduk Tionghoa di Malaka dan Georgetown.

__ADS_1


Sejenis ruko yang memiliki beranda sebagai tempat pejalan kaki dalam bahasa Hokkien biasanya dinamakan "lâu-kha", "gōo-kha-kì", "tîng-á-kha" diterjemahkan menjadi "kaki lima", umum ditemukan di kota-kota di Fujian atau pecinan di Asia Tenggara.


__ADS_2