Jalan Pulang

Jalan Pulang
49. pandangan itu


__ADS_3

Bosan juga akhirnya Hazri berputar-putar kota Solo. Mungkin hampir semua ruas jalan di kota ini sudah dijelajahinya sejak subuh tadi. Selepas tengah hari, setelah singgah makan soto di warung pinggir jalan, dia membawa mobilnya ke arah Klaten. Kecepatan normal supaya tidak menarik perhatian. Di pinggir jalan daerah perbatasan Solo-Klaten dia melihat plang ‘rumah dikontrakan’. Hazri berhenti melihat-lihat rumah itu dari dalam mobil. Kecil, tapi tampak bersih. Ada jarak dengan rumah tetangga karena ada tanah kosong di samping kiri dan kanan rumah itu. Kelihatannya kebun kacang tanah yang baru dipanen.  Masih berserak daun dan batangnya.


Hazri tertarik. Dia memakai wig dan kumis palsu lalu turun dari mobil menuju ke rumah tersebut. Pemiliknya seorang janda tua. Tinggal tidak jauh di belakang rumah ini. Ngobrol-ngobrol akhirnya jadi Hazri mengontrak selama enam bulan, walau jatuhnya lebih mahal daripada setahun penuh. Tidak menjadi masalah itu. Hazri membayar kontan harga kontrakannya dan segera masuk ke rumah yang memang sudah siap huni dan sudah dibersihkan itu. Kamar mandi ada, dapur juga ada. Tempat tidur, lemari, dan meja kursi pun sudah tersedia. Paket komplit, lebih dari cukup baginya pada situasi ini.


Baru saja Hazri selesai mandi dan hendak rebahan ada telepon masuk dari Romi. Dia mengabarkan bahwa Jogja dalam keadaan gempar. Press release Fahmi tadi sudah sudah tayang di berita siang televisi. Sialnya, foto Hazri juga terpampang jelas dalam berita tersebut. Mungkin diambil dari data SIM yang ada di kepolisian. Situasinya sangat rawan bagi Hazri dan Kopen secara keseluruhan.


“Abang di mana sekarang?” tanya Romi.


“Klaten. Belum jauh lepas Solo...,” jawab Hazri.


“Bisa aku kesana?”


“Jangan sekarang, Rom, baiknya kamu amati dulu situasi Jogja. Nanti malam kita cari tempat untuk ketemu.”


“Baik, Bang.”


“Ada kabar dari teman-teman?”


“Barusan Simon ketemu aku, baik-baik saja dia. Bagas juga oke. Tomi yang belum nongol. Nanti aku coba hubungi dia lagi, Bang.”


Hazri manggut-manggut. “Kalau anak-anak bagaimana?”


“Aman, asal nggak ada yang macam-macam aja. Kusuruh mereka pergi dulu jauh-jauh dari Jogja, gampang nanti balik lagi kalau sudah kondusif situasinya. Tadi Bagas cerita nyuruh begitu juga ke anak buahnya. Rasaku Tomi juga sama. Tapi, ada Baret yang tetap siaga di Jogja, siapa tahu kita perlu orang.”


“Oke, bagus itu.”


“Jam berapa kira-kira kita ketemu, Bang?”


“Nanti aku kabari lagi, kita lihat situasi dulu.”


“Teman-teman diajak sekalian?”


“Sebaiknya tidak dulu, kita saja berdua. Biar nggak ngundang perhatian.”


“Baik, Bang. Aku cabut dulu...”


“Hati-hati, Rom.”


Selesai itu, Hazri merenung. Badannya terasa lelah sekali, kepalanya berdenyut kencang. Sejak kemarin dia belum tidur, di losmen tadi pun tidak bisa tidur. Tegangan ‘Cakra Buana’ dikendorkan sedikit hingga seperdelapan tenaga dalam. Hazri merebahkan diri di atas tempat tidur sambil mengusap-usap wajahnya. Dia ingin tidur dulu, maka tidurlah dia...


Menjelang maghrib baru terbangun. Agak terasa lumayan sekarang badannya. HP diperiksa, ada SMS masuk dari Udin menanyakan keadaannya. Hazri pun menghubungi adik iparnya itu.


“Assalamu’alaikum, Cak....,” sapa Udin.


“Ya, Din. Bagaimana di sana? Siti? Emak?” tanya Hazri.


“Alhamdulillah di sini baik-baik saja. Justru kami mau tanya keadaan Cak di sana?”


“Ya samalah, aku baik-baik saja di sini.”


Hening sejenak.


“Cak, tadi di TV kita lihat...ini Siti mau ngomong,” Udin menyerahkan HP ke istrinya.

__ADS_1


Hazri memejamkan mata, menghela napas. Sudah sampai Jombang rupanya kabar kejadian di Jogja hari ini.


“Cak, ada apa di sana...?” Siti yang bicara mulai terisak suaranya.


“Dek, aku nggak bisa bohong kepadamu. Itulah yang terjadi di sini.”


Sekarang Siti benar-benar menangis. “Tapi, Cak nggak apa-apa kan?”


“Nggak, nggak apa-apa...,” jawab Hazri lembut. “Emak bagaimana, Dek?”


“Ada di sini. Mak, Cak Hazri mau bicara...,” Siti menyerahkan HP ke ibunya yang duduk terpekur di dekatnya. Maemunah yang pertama tahu tayangan berita di televisi siang tadi. Dia sedang menonton televisi sendirian di rumah ketika itu. Udin mengajar, Siti di restorannya.


“Hazri...,” sapa Maemunah pelan. “Bagaimana kabarmu, Cah bagus?”


Hati Hazri sedikit tersayat. Membayangkan keadaan Emak saat tahu dirinya masuk di berita televisi siang tadi. “Aku baik-baik saja, Mak.”


“Emak mau tanya, apa benar berita di TV itu?”


Hazri terdiam, sulit baginya untuk menjawab.


“Jawab apa adanya, Nak.”


Sambil mengeluh dalam hati Hazri pu menjawab. “Benar, Mak...”


Hening sejenak. Maemunah mulai terisak. Apa yang selama ini dia khawatirkan akhirnya terjadi juga. Hazri hanya mampu dia membisu. Lebih baik baginya melawan seratus orang seperti Day dari pada harus melihat ibunya menangis.


“Emak, hanya bisa berdoa dan hati-hatilah, Nak. Ingat Allah, shalat...,” pesan Maemunah akhirnya.


Maemunah menyerahkan kembali HP itu ke Siti.


“Cak, jangan sampai kenapa-kenapa... pokoknya aku nggak mau dengar Cak kenapa-kenapa...,” kata Siti. Isaknya masih terdengar.


“Iya. Dek. Kamu, Emak, dan Udin tenang saja di sana. Biar aku bereskan urusan ini secepatnya.”


“Benar ya? Janji. Pokoknya jangan sampai kenapa-kenapa. Kalau sudah beres pulang saja ke sini. Nggak usah di Jogja lagi...”


“Iya, Dek.”


“Ya sudah, Cak. Hati-hati...”


“Hmm. Bilang sama Udin, tolong jagain Emak. Bilang kalau ada apa-apa, nanti aku pulang kalau sudah selesai semua.”


“Iya. Wassalamu’alaikum...”


“Hmm...”


Hazri melempar HP ke atas kasur. Sumpek betul perasaannya. Bermacam persoalan seperti tiba-tiba tumplek blek masuk ke kepalanya. Berkumpul menjadi satu di situ, teriak-teriak minta jalan keluar. Hazri menyulut sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Entahlah... Dan belum dapat bayangan. Seolah langit terbentang hitam. Gelap.


Tiba-tiba pintu rumah diketuk.


Hazri terkesiap memeriksa ajian ‘Rogo Swara’, aman bukan ancaman yang datang.


“Sebentar...,” kata Hazri. Dia segera memakai wig dan kumis palsunya, lalu membuka pintu. Ternyata Bu Endang, pemilik rumah.

__ADS_1


“Aduh, maaf mengganggu Mas Arif. Tadi ibu ke sini, tapi kayaknya Mas Arif sedang istirahat, jadi ibu ke sini lagi sekarang...,” kata Bu Endang.


Dia membawakan segelas minuman jeruk hangat dan sepiring kue. Hazri mengaku bernama Arif, sesuai KTP ‘abal-abal’ yang diperlihatkan ke Bu Endang saat hendak mengontrak rumahnya ini.


“Wah, kok jadi repot-repot begini, Bu...,” Hazri basa-basi.


“Nggak repot kok. Cuma air minum.”


“Saya terima ya, Bu. Terima kasih banyak. Oh iya, saya lihat di pojok ruangan sana ada kabel antena TV...,” Hazri memancing.


“Oo iya, Mas, ada TVnya cuma saya simpan di rumah. Tapi kecil, yang empat belas inch. Mau dipasangkan?”


“Kalau lagi nggak dipakai sama ibu, boleh juga. Biar nggak sepi.”


“Bisa, bisa, Mas Arif. Nanti saya ambilkan.”


“Mari saya bantu, Bu...”


“Nggak usah, Mas, biar nanti sama si Sukri.”


Setelah dirasa cukup berbasa-basi, Bu Endang pun kembali ke rumahnya. Hazri menunggu. Tidak lama, seorang pemuda kurus datang memanggul televisi. Hazri mempersilakan Sukri memasangkan TV itu, bantu-bantu sedikit. Lalu, jreng TV pun berhasil menyala. Gambarnya cukup jelas. Sukri senang mendapat uang lelah, Hazri senang mendapat informasi.


Seperginya Sukri, Hazri langsung nongkrong di depan TV, cari-cari berita sambil menunggu waktu ketemu Romi. Dapat, satu siaran stasiun televisi sedang bersiap menyiarkan ulang press release AKBP Fahmi Putra.


Hazri menyimak.


“Dia dikenal dengan nama Hazri Tiger, ketua geng Kopen,”


Hazri serius menyimak...


“Kami akan terus mengejarnya...,” kata Fahmi.


Terus menyimak.


“Sampai kapan, Pak, sampai kapan...?” tanya para wartawan.


“Sampai tertangkap. Cukup ya, mohon maaf...mohon maaf. Saya harus kembali kerja...,” kata Fahmi lagi.


Hazri mendengus kesal. Empat kata kunci didapat. Hazri Tiger, Kopen, terus mengejar, sampai tertangkap. Itulah yang dipegang Hazri dari ucapan Fahmi. Sebagai sesama orang Jawa Timur, dia paham Fahmi tidak main-main. Tiga puluh sembilan orang anak buahnya tewas, sebelas luka parah. Banyak sekali. Hazri menunduk dalam. Wajah Sapri dan Ajay berkelebat-kelebat.


Hazri kembali memandang layar televisi yang menampilkan seorang reporter sedang menyampaikan informasi yang didapatnya ke penonton.


“Zilfa...?” kata Hazri lirih.


Sepasang bola mata berlian itu terlihat jelas oleh Hazri diantara kerumunan wartawan. Sontak ada sebuah cairan yang sangat sejuk mengalir di dalam hatinya. Tidak deras ataupun lambat. Sesejuk embun pagi...


Secuil Kopi



Press release adalah informasi yang dibuat dan disusun oleh Public Relations(PR) / disebut Humas di suatu industri, organisasi ataupun lembaga dengan tujuan memberikan informasi kepada publik melalui media massa/surat kabar baik online maupun offline. Press release bisa juga disebut sebagai Siaran Pers ataupun Press Rilis.


Sederhananya, penafsiran Press release merupakan sebuah berita  untuk surat kabar ataupun media massa. Google sendiri mengartikan Press release sebagai penyataan formal yang berisi permasalahan tertentu untuk media massa.

__ADS_1


__ADS_2