Jalan Pulang

Jalan Pulang
53. nego tiger


__ADS_3

Masih di perjalanan balik, belum sampai Banguntapan, HP Hazri berdering. Dari Fahmi kali ini. Dia segera mengangkatnya.


“Hey, Buronan! Jangan ganggu keluargaku!” Fahmi langsung membentak.


“Kau juga jangan ganggu keluargaku! Keparat!” Hazri membentak balik.


Fahmi tersentak kaget karena kupingnya berdering kencang. Dia tidak tahu barusan saja kesembur ‘Cakra Buana’. Fahmi mengendalikan diri sejenak.


“Apa maksudmu?” Fahmi bertanya kemudian.


“Jangan pura-pura bodoh kau. He, Fahmi! Kau kira dengan seragam dan pangkatmu itu aku sulit untuk menghajarmu? Apa kau mau bukti sekarang? Lanjutkan saja gangguanmu ke keluargaku di Jombang sana...Ku bunuh kau...Sekalian istri dan anakmu!” gertak Hazri mantap.


Kuping Fahmi berdenging lagi. Kepalanya digoyang-goyang pelan. Dalam hati, sejujurnya Fahmi merasa khawatir juga mendengar ancaman Hazri. Terbukti tadi, Hazri dengan mudah mempercundangi dua polisi yang mengawal istrinya. Tidak sulit tentu kalau dia mau membunuhnya sekalian. Belum lagi dua hari ini, gampang sekali dia meneror rumahnya. Tapi, Fahmi adalah perwira polisi, pantang gentar ancaman.


“Hazri, aku tidak mengganggu keluargamu, justru kamu yang mengganggu keluargaku tadi,” kata Fahmi berkilah. Padahal, dia paham apa yang dimaksud Hazri. Level prioritas DPO Hazri memang telah dinaikkan dua hari lalu, maka sekarang dia dicari di seluruh wilayah Indonesia. Itulah mengapa polisi di sana ‘mengganggu’ keluarga Hazri.


“Aku atau kau yang bodoh sebenarnya?! Sekali lagi kuingatkan, hentikan tinkah setan-setan di sana! Jangan ganggu ibu dan adikku! Kalian mencari aku kan? Cari di sini! Aku tidak akan pernah ke sana! Jangan mentang-mentang pakai seragam lalu seenaknya petantang-petenteng membentak orang tua! Bajingan kalian! Dasar pengecut! Hadapi aku kalau berani! Kau, sekalian semua setan-setanmu di sini...!”


Romi menyeringai puas mendengar makian Hazri ini.


“He Hazri! Berani kau menghina aparat negara?”


“Hahaha.. Aparat negara macam apa kalian? Hahaha... Kalian sama dengan kami. Sama bajingannya! Tapi, kami cuma pencuri uang cukong. Kalian? Uang rakyat pun kalian sikat...!”


“Hazri! Hati-hati kau bicara!”


“Kau yang hati-hati! Pokoknya..., kalau masih kudengar kalian mengganggu keluargaku, kubabat habis kau, Fahmi! Tak masalah aku mati asal sudah kulumat duluan kalian...!”


“Mereka di sana bukan anggotaku...”


“Aku tidak butuh tahu itu anggotamu atau bukan. Seragam sama, kelakuan sama!”


Fahmi terdiam sejenak. Kupingnya terasa makin sakit.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak menyerahkan diri saja? Aku bisa bantu itu...,” Fahmi agak melunak.


“Bantu apa? Tidak usah banyak omong! Kerjakan saja tugasmu mengejar aku. Kasih tahu atasanmu, Hazri Tiger tidak akan berlindung di ketiak ibunya! Silakan cari aku, kejar di mana pun kalian mau... tangkap kalau bisa. Jangan di Jombang! Aku tidak akan ada di sana! Keluargaku tidak tahu apa-apa... Paham kau?!” bentak Hazri keras bertenaga dalam dan langsung mengakhiri pembicaraan.


Fahmi tersentak sampai HPnya terlepas jatuh. Gendang telinga kanannya serasa ditusuk jarum suntik. Dia mengusap-usap kuping kanannya itu sambil meringis-ringis. Kaget melihat ada sedikit darah merembes keluar. Sambil menahan rasa sakit Fahmi meraih kembali HPnya yang tergeletak di lantai ruang kerjanya, “Halo, halo...Hazri...” ternyata sudah tidak aktif.


“Sialan...” katanya. Karena telinganya makin berdenyut, Fahm pun meminta sekertarisnya yang cantik untuk memanggil dokter polisi yang bertugas. Sebentar kemudian dokter itu pun datang dan langsung memeriksa telinga Fahmi.


“Wah, kenapa ini, Dan?” tanya dokter. ‘Dan’ maksudnya Komandan.


“Entahlah, tiba-tiba berdarah...,” Fahmi berkilah. Habis harus bilang apa?


“Waduh..., parah ini. Kita ke rumah sakit saja.”


“Seberapa parah? Bisa budek nggak?”


“Kalau budek sih enggak, cuma sakitnya bakalan lama. Gendang telinga kok sampai memar begini? Kekencangan dengar musik rock ini.”


Fahmi tidak berkomentar. “Haduuuh..., sakit bener ya...,” katanya sambil meringis.


“Nggak usah, obat saja.”


“Adanya cuma obat tetes di sini.”


“Sudah nggak apa-apa. Cepat teteskan...”


Dokter polisi berpangkat Ajun Komisaris itu pun meneteskan obat ke telinga Fahmi. Fahmi mengerjap-kerjapkan mata menahan perih. Perlahan-lahan rasa perih itu pun mereda walau sakitnya masih.


“Bagaimana sekarang, Dan?”


“Lumayanlah. Terima kasih, ya.”


“Sama-sama, Dan. Kalau tambah parah langsung ke rumah sakit saja.”

__ADS_1


Fahmi mengangguk.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi...,” dia menghormat kepada Fahmi, Fahmi membalasnya. Lalu, dokter polisi itu pun keluar dari ruangan kerja Fahmi.


Selepas itu, Fahmi duduk merenung di kursi kerjanya. Mencoba meresapi apa yang barusan dikatakan Hazri. Sebagai sesama orang Jawa Timur Fahmi paham kemarahan Hazri. ‘Mengganggu’ keluarga bukan sebuah urusan yang dapat dikatakan sepele. Tapi, prosedur Kepolisian memang begitu. Keluarga buronan, apalagi sekelas Hazri, pastilah ditanya-tanya. Cuma, ‘gayanya’ mungkin yang berbeda-beda. Tampaknya soal ‘gaya’ inilah yang dipermasalahkan Hazri.


Sejawat Fahmi di Polda Jawa Timur tadi siang sudah memberitahunya bahwa belum terlihat tanda-tanda kehadiran Hazri di sana. Hazri pun tadi tegas berkata bahwa dia tidak akan ada di sana. Jadi, tekanan pencarian di Jombang tidak penting lagi. Buat apa buang-buang tenaga? Fahmi pun menghubungi sejawatnya itu, menceritakan apa adanya dan minta pengertian rekannya atas situasi ini. Koleganya itu paham, dia akan menarik anggotanya dari Jombang dalam urusan ini.


“Taruh intel saja, Pak Tejo. Tarik Brimobnya...,” kata Fahmi.


“Iya, saya juga berpikir demikian,” jawab AKBP Tejo Hendrawan. Komandan Brimob Polda Jawa Timur.


“Jadi, kita sepaham nih, Pak Tejo?”


“Iya, Pak Fahmi. Saya kira demikian.”


“Oke, terima kasih banyak, Pak?”


“Sama-sama.”


Fahmi menghela napas lega. Setidaknya dia bisa mengejar Hazri tanpa khawatir ancaman ke keluarganya. “Baik, Hazri..., aku mau lihat, berapa lama kamu bisa bertahan dari kejaran kami...,” kata Fahmi pelan, seorang diri.


Di sana, di Banguntapan, Hazri merenung. Setelah dirasa-rasa, dia yakin Fahmi pasti merespons ancamannya tadi. Sesama orang Jawa Timur pasti paham. Hazri pun menghubungi adik iparnya, memberi tahu bahwa ‘setan besar’ di Jogja sudah dia tangani dengan cara yang baik dan benar. Udin mengucapkan terima kasih.


Mudah-mudahan...


Secuil Kopi



(Buron/bu·ron/n) berdasarkan kamus adalah orang yang (sedang) diburu (oleh polisi); orang yang melarikan diri (karena dicari polisi); sejatinya, terminologi buron tidak dikenal dalam pengertian hukum acara pidana sebagaimana yang diatur dalam Undang Undang No 8 tahun 1981. Namun selain buron ada istilah formal lainnya yakni DPO yaitu DaftarPencarian Orang yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yaitu Kepolisian atau Kejaksaan. Yang mana orang tersebut mempersulit penegak hukum dalam hal mengusut suatu perkara pidana. Daftar Pencarian Orang (DPO) adalah sebuah istilah di bidang hukum atau kriminalitas yang merujuk kepada daftar orang-orang yang dicari atau yang menjadi target oleh pihak aparat penegak hukum. Secara umum, DPO merujuk kepada dua hal, yaitu orang hilang dan pelaku kriminal.


Prosedur DPO di tingkat penyidikan

__ADS_1


Di tingkat Penyidikan, keputusan untuk mengumumkan status DPO haruslah mengacu pada  pengetahuan sesuai hukum. Status buron yang disebutkan kepada seseorang karena berdasarkan berbagai alat bukti yang ada disimpulkan bahwa ketersangkaan sudah dapat ditetapkan dan dalam proses penyidikan selanjutnya berdasarkan berbagai syarat administratif kepenyidikan telah ditempuh, dan seseorang yang dipersangkakan sebagai pelaku tindak pidana sudah dipanggil secara patut namun yang dipanggil tanpa alasan yang syah tidak memenuhi panggilan pihak penyidik maka dibuatlah daftar pencaharian orang/ DPO agar yang bersangkutan sedang dalam pencaharian, dapat ditangkap dimanapun berada


__ADS_2