
Sementara di katornya, Fahmi terhenyak mendengar laporan tentang kejadian di tempat Sapri. Dia sangat kaget mengetahui kemampuan Hazri dan anak buahnya dalam melawan kekuatan polisi yang hendak menyergap mereka. Di tempat Ajay, dua belas tewas termasuk Ajay, lima luka parah. Dari pihak polisi hanya ada tiga orangnya yang luka, tidak ada yang tewas. Namun di tempat Sapri, tujuh belas anggota polisi tewas, empat luka parah. Dari pihak Sapri terhitung dua puluh tujuh orang tewas termasuk Sapri, enam luka parah. Sialnya, dengan jumlah korban sebanyak itu, ternyata sasaran utama yakni Hazri Tiger berhasil lolos dari sergapan.
Fahmi masih terpekur diam. Di tengah pertempuran di tempat Sapri tadi, komandan lapangan melaporkan bahwa Hazri diidentifikasi berada di situ. Awalnya mereka hendak menangkap hidup-hidup bang preman ini sesuai rencana. Tapi, karena situasi ternyata begitu buruk maka komandan lapangan meminta izin kepadanya untuk menangkap Hazri hidup atau mati. Fahmi mengizinkan, walau tetap berharap Hazri bisa tertangkap hidup, syukur-syukur dia menyerahkan diri begitu saja.
Sekarang, dia malah mendapat laporan bahwa Hazri kebal peluru. Apa lagi ini? Lebih dari sepuluh peluru diyakini tepat sasaran, namun dia tetap berdiri bahkan sanggup meloloskan diri. Belum lagi laporan tentang tiga anggota Brimob yang tewas dengan tubuh menghitam hangus akibat terhantam semacam ilmu pukulan jarak jauh yang dilontarkan Hazri. Dan, juga para polisi yang lain di akhir pertempuran itu mengalami hal yang sama...
Fahmi menggeleng-geleng kepalanya. Kabar tentang ilmu kanuragan yang dimiliki Hazri memang sudah santer didengar pihak polis, tapi belum ada yang pernah melihat langsung. Termasuk dirinya. Waktu di parkiran pertokoan dulu, Fahmi pun hanya mendengar cerita dari para pedagang asongan saja. Dia kembali geleng-geleng kepala, antara takjub dan marah.
Pintu diketuk. Tiga perwira memberi hormat kepada Fahmi lalu masuk ke dalam ruangan. Fahmi memang menunggu kedatangan mereka. Secara singkat Fahmi menceritakan kejadian di tempat Ajay dan Sapri tadi, ketiga perwira itu serius menyimak. Selanjutnya, mereka mematangkan rencana serangan fajar. Fahmi tidak mau mengambil resiko terlalu besar kali ini, dia akan langsung menerjunkan pasukan Brimob. Markas Besar Brimob Polda DIY sudah dihubungi dan menyatakan kesiapan mereka. AKBP Fahmi Putra sendiri yang langsung memimpin gerakan pasukan ini. Saat itu, pukul setengah satu dini hari. “Jam empat tepat kita bergerak,” perintah Fahmi. “Ada pertanyaan?” sambungnya. Tidak ada. Maka rapat pun ditutup. Ketiga perwira polisi itu berdiri memberi hormat, lalu bergegas keluar untuk menyiapkan diri dan tugasnya masing-masing sehubungan dengan serangan fajar yang akan segera dilakukan.
Sementara itu, selepas dari kepungan polisi, kebetulan Hazri berjumpa taksi yang sedang melintas. Sopir taksi gelisah melihat keanehan tangan penumpangnya yang seperti warna bara api pembakaran sate. Belum lagi bajunya yang koyak-koyak. Tapi, dia diam tidak berani bertanya. Hazri juga diam sambil melepas ‘Cakra Buana’ nya, tangannya pun kembali normal. “Cepetan, Pak,” pintanya. Soir taksi mengangguk patuh, tancap gas. Setibanya di tujuan, Hazri membayar lebih dan segera menghilang. Taksi itu juga langsung pergi terbirit-birit.
Di dalam mobilnya yang melaju ke arah Solo, Hazri mengontak Romi. “Di mana, Rom?” dia langsung bertanya.
“Di Kampus Putih sama Simon,” jawab Romi.
“Sapri tewas, aku di tempatnya barusan. Kamu dan semua orangmu di sana kabur! Segera!” perintah Hazri tegas.
Romi kaget, diam tidak menjawab.
“Rom?” panggil Hazri.
“I..iya, Bang.”
“Kamu dengar kataku?! Kabur! Bubarkan anak buahmu!” bentak Hazri keras.
“Ya, Bang. Baik, baik...”
__ADS_1
“Aku ulangi, kabur! Cepat!”
“Baik, Bang. Laksanakan.”
Klik, pembicaraan diputus oleh Hazri. Dia langsung mengontak Bagas, Tomi, dan Ajay. Bagas langsung patuh pada perintah Hazri, tapi Tomi agak ngeyel...
“Tomi...!” bentak Hazri kesal.
“Tapi, Bang, kita sudah siap di sini...,” Tomi menawar.
“Bangkek! Kamu membantah aku?!” teriak Hazri.
“Bu..., bukan, Bang, bukan begitu...”
“Pergi kalian semua sekarang! Kabur! Kalau kamu tidak mau biar aku sendiri yang bunuh kalian sekalian daripada mereka!” bentak Hazri keras.
“Baik, Bang, baik...”
“Baik, Bang, laksanakan...”
Klik, putus. Hazri menghubungi Ajay, gagal. Dicobanya lagi beberapa kali, tetap gagal. “Kampret...Ajay, kemana nih bocah?” dengus Hazri. Akhirnya, dia menghubungi Romi lagi. “Suruh satu anak buahmu tengok Ajay. Aku gagal menghubungi dia.”
“Baik, Bang.”
Hazri menunggu. Mobil tetap melaju ke Solo, kecepatan normal saja supaya tidak mengundang perhatian. Lima belas menitan kemudian HPnya berdering. Dari Romi. “Gimana, Rom?”
“Ajay tewas, Bang. Tempatnya masih dikerumuni polisi.”
__ADS_1
“Sialannn...! Aku habisi tuh polisi.” Hazri mendengus kesal. Meskipun Hazri kesal ingin membunuh para polisi itu, namun niatnya harus dipikirkan kembali. Yang akan menjadi taruhan bukan dirinya, tapi keselamatan anak buahnya. Jika melihat ketuanya sedang bertempur, maka anak buahnya akan membantu dan dapat dipastikan akan lebih banyak korban berjatuhan.
Lalu hening sesaat.
“Kamu dan anak buahmu tetap kabur, Rom, nanti kita ketemu.”
“Baik, Bang.”
Klik, pembicaraan diakhiri.
Hazri membawa mobil bersama hatinya yang gundah. Dua sahabat baiknya tewas malam ini. Mata Hazri berkaca-kaca, lalu merembeslah air mata. Bukan cengeng, ini adalah bukti betapa masih ada sisi lembut dari biang kerok preman papan atas ini. Dia menganggap kalau anak buahya adalah sahabat bahkan keluarga, wajar jika merasa kehilangan. Mobil terus melaju, seiring gundah yang makin menyayat. Hujan rintik-rintik mengguyur Solo. Hazri mencari losmen kecil, untuk bersembunyi dan sekedar beristirahat sejenak dari kepenatan jiwa. Tampak di sana, dia pun masuk ke situ setelah memakai jaket yang tersedia di mobil. Menutup baju koyaknya.
Hampir pukul tiga dini hari. Dari dalam kamar, Hazri menghubungi lagi satu persatu sahabatnya. Mereka semua sudah kabur, termasuk Tomi yang agak bandel tadi. Semua anak buah mereka juga sudah pergi menyelamatkan diri masing-masing. Hazri menghela napas, sedih itu belum menipis. Bahkan, terasa makin tebal menujam hati. Hazri merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mengusap-usap wajahnya yang pelu. Lalu, berteriak yang hanya dia bisa dengar...
Waktu terus merayap maju. Menjelang pukul empat dini hari, Fahmi pun bersiap memimpin serangan fajarnya. Dia mengenakan seragam Brimob. Fahmi memang anggota korps pasukan elit kepolisian itu. Pistolnya tersandang angker di pinggang. Enam truk Brimob bersenjata lengkap pun siap melaksanakan perintah. Pukul empat tepat, pasukan bergerak. Rencananya, masing-masing sasaran dijatah dua truk pasukan. Ada tiga tempat, markas Romi plus Simon, markas Bagas dan markas Tomi. Sambil memimpin gerakan itu, Fahmi ikut meluncur ke Kampus Putih, tempat Romi, yang jadi markas besar Kopen. Dia naik mobil Jeep dinas Brimob, bersama dua anggotanya.
Grung grung grung grung....! Setiap satuan meluncur ke sasaran masing-masing. Begitu tiba di Kampus Putih, Fahmi langsung bertindak tanpa memberi peringatan kepada calon mangsa. “Sergap...!” perintahnya. Maka, sekian anggota Brimob merangsek masuk ke dalam ruah sasaran, yang lain bersiaga di luar. Brak! Pintu didobrak..., gubrak-gabruk, gubrak-gabruk....kosong ternyata! Tidak ada seorang pun di situ, Fahmi mendengus kesal. Sebuah kusri plastik yang tidak punya salah apa-apa ditendangnya hingga pecah berantakan “Kurang ajar kamu Hazri!” kurang puas rupanya, lalu diinjak lagi sampai benar-benar remuk.
Fahmi mengontak dua satuan yang lain. Sama ternyata. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tempat Bagas kosong melompong, di tempat Tomi cuma ketemu beberapa ayam montok yang baru pulang dinas malam. Mungkin ketinggalan informasi perintah kabur dari pejantan semangnya. Fahmi semakin dongkol karena mendapat laporan bahwa dinding rumah itu penuh corat-coret berbunyi makian jorok kepada polisi. Dasar Tomi, sempat-sempatnya pula dia berkarya sebelum kabur.
Gagal total menangkap buruan, Fahmi pun menarik mundur semua pasukan. Sepanjang perjalanan kembali ke markas itu dia hanya diam membatu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Fahmi sangat marah karena telah dicundangi Hazri semalam ini. Tekad untuk menghajar kenalan lamanya itu makin mengumpul.
Sesampainya di Mapolda, Fahmi langsung membubarkan pasukannya tanpa evaluasi. Para anggota Brimob itu pun kembali ke markas kesatuannya di kawasan Lempuyangan. Siluet jingga mentari telah mulai menyembur dari ufuk timur sana. Seperti kipas surgawi. Fahmi menyeruput kopinya.
Indah nian....
Secuil Kopi
__ADS_1
Losmen (dari bahasa Prancis "logement", "penghunian", lewat bahasa Belanda) adalah sejenis penginapan komersial yang menawarkan tarif yang lebih murah daripada hotel. Losmen disebut pula hotel melati