Jalan Pulang

Jalan Pulang
76. dua hari sejak kembali dari progo


__ADS_3

Dua hari sejak kembali dari Progo, Hazri gelisah terus. Pikirannya tidak mau lepas dari bayang-bayang rumah hijau itu. Penasaran. Dia ingin tahu ajian macam apa yang bercokol di sana. Bagaimana ‘Cakra Buana’ yang begitu hebat bisa takluk demikian mudah? Hazri ingat ucapan Haji Sulton saat pulang kampung yang pertama dulu bahwa dia pernah berhadapan dengan orang-orang yang berilmu lebih tinggi dari ‘Cakra Buana’. Karena memang baru sekarang mengalami maka baru sekarang pula Hazri percaya bahwa ucapan Haji Sulton itu benar.


Bukan tidak ada keraguan. Buat apa? Apa perlu belajar aji ajian lagi? Bukankah selama ini ‘Cakra Buana’ sudah terbukti lebih dari cukup untuk melindungi dirinya dari kejaran polisi dan sambaran peluru-pelurunya? Tapi, pesan Ki Ageng lewat Haji Sulton jelas sekali, Kalau muridnya berjumpa dengan ilmu putih yang lebih tinggi dari ‘Cakra Buana’ maka harus diterima. Maksudnya sang murid harus mau mempelajarinya, suka atau tidak suka. Walau misalnya untuk itu ‘Cakra Buana’-nya mesti dibuang. Dan, yang di sana itu jelas ilmu putih karena mampu menaklukkan ‘Cakra Buana’. Sekiranya aliran hitam, tidak akan semudah itu ajian silat Ki Ageng ini takluk. Walau setinggi apa pun.


Maka, setelah menguatkan hati, malam ini selepas maghrib Hazri meluncur sendirian naik Panther ke Progo. Terus terang, serpihan ragu masih bergumul dalam hatinya. Bagaimana sekiranya benar ‘Cakra Buana’ mesti dilebur? Apakah dia masih bisa kebal peluru? Apakah masih mampu lari selincah kijang? Apakah ‘Rogo Kumitir’...? Apakah ‘Rogo Sukmo’...? Apakah, apakah, dan... apakah. Masalahnya, walau secara umum ‘Cakra Buana’ kalah, bukan berarti ajian yang mengalahkannya itu juga bisa berbuat yang bisa diperbuat ‘Cakra Buana’. Beda wadah, beda juga kemampuannya. Bagaimana kalau ternyata kemampuan ajian itu tidak cocok untuk kebutuhan seorang buronan?


Tapi, amanat tetaplah amanat. Ki Ageng sebagai pencipta ajian ‘Cakra Buana’ telah mengamanatkan ini. Maka, sebagai cucu murid, Hazri tidak punya hak menentangnya. Ada hukum kehormatan diri bagi mereka yang menguasai ilmu silat tinggi. Sampai kapan pun mereka tidak boleh menentang guru dan garis para guru di atasnya. Demikian aturan itu dijunjung teguh. Kalau berani melanggar maka putus hubungan lahir batin guru dan murid. Masih bagus kalau cuma ajian yang tiba-tiba lenyap, banyak kisah malah sekalian nyawa.


Hazri menghela napas. Batas kampung Progo sudah tampak di depan sana. Dia menutup ‘Cakra Buana’ sesaat setelah melintasi tapal batas. Tenaga dalam digenjot penuh, tinggal ini yang masih bisa diharapkan kalau misalnya terjadi apa-apa. Panther merayap tenang, jantung berdegub sedikit mengencang. Sampai juga akhirnya. Setelah mobil terparkir dengan baik, Hazri pun turun, menghela napas sekali lagi lalu berjalan menuju rumah hijau itu.


“Assalamu’alaikum...,” dia mengucap salam setelah mengetuk pintu.


“Wa’alaikum salam...,” langsung dapat sambutan dari dalam. Seorang Ibu menjelang usia paruh baya membukakan pintu.


“Selamat malam, Bu, betul ini rumahnya Pak Subakir?”


“Betul. Bapak siapa ya?” dia bertanya.


“Saya Mahmud, Bu, dari Tidar. Bapak ada?”


“Ada. Mari, silakan masuk. Saya istrinya.”


“Terima kasih, Bu,” Hazri pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu sederhana itu.


“Sebentar ya, saya panggilkan Bapak.” Hazri mengangguk. Walaupun hanya tenaga dalam saja tanpa ajian, dia masih bisa merasakan kuatnya energi supranatural yang bersemayam di tempat ini. Rasanya seperti berada di gumpalan busa, atau mungkin lebih tepat dikatakan mirip gumpalan awan yang tidak kelihatan. Tidak lama, seorang lelaki lewat paruh baya muncul dari dalam rumah. Pakaiannya serba putih termasuk peci, layaknya seorang haji. Wajahnya kelihatan bersih, tenang, dan ramah. “Assalamu'alaikum...,” dia menyapa sambil mengulurkan tangan.


Hazri berdiri. “Wa’alaikum salam...,” Lalu, seeerr..., darah pemuda ini mendesir saat mereka berjabat tangan. Seperti kesemutan di sekujur tubuh.


“Subakir,” bapak ini memperkenalkan diri.


“Saya Mahmud, Pak Haji. Dari Tidar,” balas Hazri.


Pak Subakir tersenyum. “Mari, mari. Silakan duduk.”


Hazri pun kembali duduk. Dari tempat duduknya, Pak Subakir menatap Hazri dengan tatapan lembut namun serasa menembus kalbu. Lalu, menundukkan wajah, keningnya tampak berkerut-kerut sedikit sambil mengangguk-angguk pelan. Seperti orang yang sedang mendengarkan petuah. Sesaat kemudian dia mengangkat wajah dan kembali menatap Hazri dengan tatapan lembutnya tadi.


“Apa yang bisa saya bantu Pak Haji Mahmud?” Pak Subakir membuka pembicaraan.


“Saya bukan haji, Pak Haji...,” kata Hazri sambil membuka kupluk putihnya. Malu..., entahlah, rasanya seperti sedang ditertawai semua makhluk.


“Sama. Saya juga bukan,” kata Pak Subakir, tertawa sedikit.


“Lho? Pak Haji bukan haji?”


Orang tua itu menggeleng. “Tekor terus, hahaha....Dari dulu dikumpulin nggak pernah bisa cukup uangnya. Kepakai lagi, kepakai lagi.”


Terpaksa Hazri ikut tertawa. Sialan ketipu dia. Untung juga.


“Dipakai saja kupluknya, Mas Mahmud, nggak dilarang kok. Boleh bapak panggil Mas?” tanya Pak Subakir.


Hazri tidak keberatan. Kupluk putih itu kembali nangkring di kepalanya.


“Nah, ada apa ini? Jauh-jauh Mas Mahmud dari Tidar ke Progo?”


Hazri menimbang sejenak, akhirnya diputuskan tembak langsung saja. “Begini, Pak, saya mau belajar silat kepada Bapak.”


“Silat? Silat apa? Bapak tidak bisa silat,” Pak Subakir tertawa.

__ADS_1


“Itu, ajian yang Bapak kuasai.”


“Ajian apa, Mas Mahmud? Bapak tidak bisa silat dan tidak punya ajian.”


Hazri meringis, yakin kalau orang tua ini sedang bercanda. Bagaimana bilang tidak punya ajian kalau ‘Cakra Buana’ lumpuh total di sini. Lalu, energi supranatural yang menggumpal ini apa? Terus, kesemutan sekujur tubuh tadi? Tidak mau ketipu lagi dia.


“Saya tahu bapak bisa. Mohon bisa diterima menjadi murid.”


Tapi, Pak Subakir malah tergelak. “Mas Mahmud, saya tidak bisa kanuragan. Tidak juga punya ajian-ajian. Ada juga silat untuk nonjok setan, hahaha....”


Hazri kaget. Silat untuk nonjok setan? Ilmu apa itu? Kalau ilmu menguasai jin memang ada, Hazri tahu. Tapi, silat untuk nonjok setan? Seperti apa? Belum pernah dengar dia. Memangnya setan bisa ditonjok?


Dari kecil Hazri sudah paham perbedaan jin dan setan. Ayahnya yang mengajarkan itu. Jin adalah makhluk halus, sedang setan adalah ‘sifat’. Sebagai sifat, setan bisa menempel pada diri manusia dan jin. Maka, ada manusia yang bersifat setan atau jin yang bersifat setan. Kalau Pak Subakir menyebut silat untuk nonjok jin, Hazri bisa paham. Tapi, ini silat nonjok sifat.... Bagaimana caranya?


“Maaf, Pak, saya kurang jelas. Apa betul ada silat untuk nonjok setan?” Hazri bertanya sungguh-sungguh.


“Hahaha.... Ada, hahaha....”


“Eemm, maksud saya serius ini, Pak?”


“Iya, ada. Serius. Apa Mas Mahmud belum tahu?”


Hazri menggeleng. Walau masih bingung, tapi yang jelas ‘Cakra Buana’ kalah telak di sini. Maka, bisa dipastikan ilmu silat nonjok setan ini bukan ilmu sembarangan. Jelas bukan kelas anak bawang. Perbincangan terhenti sejenak karena Bu Subakir datang membawakan suguhan. Teh dan sepiring kue kering.


“Terima kasih, Bu,” ucap Hazri.


“Sama-sama,” dia pun kembali masuk ke dalam.


“Ayo diminum...,” ajak Pak Subakir.


Hazri mengangguk. Mereka pun menikmati hidangan itu.


“Namanya? Safinatun Najat...,” orang tua ini kembali tersenyum.


Hazri manggut-manggut. Betul kan gagah? Seperti Arab. “Apa artinya, Pak?”


“Bahtera Keselamatan.”


Hazri manggut-manggut lagi. “Kalau ajiannya?” dia memancing.


“Ajiannya? Eemm..., Tauhid al-Mutlakah,” Pak Subakir menjawab dengan masih mengulum tersenyum. Seperti menahan tawa.


“Gagah. Apa artinya, Pak?” pancing Hazri lagi.


“Keberserahdirian mutlak kepada Setunggalnya Tunggal....”


Hazri mengangguk-angguk walau sebenarnya belum paham. Gampang, nanti saja soal itu, yang penting dia sudah tahu ajian yang telah melumpuhkan ‘Cakra Buana’-nya. “Tauhid al-Mutlakah”. Sekarang tinggal merayu pemiliknya.


“Balik ke awal, Pak Subakir, saya mohon Bapak berkenan mengajari. saya ajian ‘Tauhid al-Mutlakah’ itu,” pinta Hazri.


Pak Subakir menghela napas, menatap lembut Hazri, lalu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. “Bapak kira belum saatnya sekarang, Mas Mahmud.”


Jelas Hazri kecewa mendengar ini. “Kenapa, Pak? Apa menurut Bapak, saya tidak akan kuat memenuhi persyaratannya?”


“Bukan, bukan itu. Tauhid memang bukan perkara mudah, tapi bukan soal ini. Belum saatnya saja bagi, Mas Mahmud.”


“Kalau begitu kapan saatnya, Pak?”

__ADS_1


Orang tua itu menggeleng pelan. “Saya tidak tahu. Sebenarnya, tergantung Mas Mahmud sendiri.”


“Saya sudah siap, Pak. Sekarang pun siap,” tukas Hazri.


Pak Subakir kembali menggeleng. “Belum. Belum muncul tandanya.”


“Tanda apa, Pak?” tanya Hazri makin bingung.


Pak Subakir menghela napas. “Sebentuk tanda.... Ah, sudahlah. Sabar saja.”


Hazri pun terdiam, menunduk terpekur. Tanpa sadar dia mengeluarkan tasbih dari saku celana, lalu dipilin-pilin seperti biasa. Pikirannya masih dipenuhi kekecewaan karena penolakan ini.


Pak Subakir tersenyum. “Suka berdzikir, ya?” dia bertanya.


“Oohh, maaf. Saya tidak sadar ini...,” Hadi agak gelagapan. Tasbihnya hendak dimasukkan kembali ke saku celananya.


“Teruskan saja, kenapa? Berdzikir itu indah. Saya juga jadi pengen nih,” dia pun mengeluarkan tasbih dari saku baju gamisnya.


Hazri memperhatikan tasbih milik Pak Subakir. Mengkilat sekali, merah kehitaman. “Tasbih kauka itu, Pak?”


“Iya. Sama punya Mas Mahmud, kan?”


Hazri mengangguk. Benar kata Komeng, yang merah kehitaman lebih bagus.


“Kalau Bapak boleh tahu, Mas Mahmud berdzikir apa?”


“Asmaul Husna. Tadinya Yaa Jabbar, terus ganti Yaa Rahman, ganti lagi jadi Yaa Rahim. Sekarang, Ya Allah..


Pak Subakir tersenyum. “Kok ganti-ganti?”


“Nggak tahu. Seperti ada yang nyuruh dalam hati, saya turutin saja” Hazri berkata jujur tentang ini.


“Kalau Bapak berdizikir apa?” Hazri balik bertanya. Heran dia melihat cara Pak Subakir memutar tasbihnya. Bukan dipilin seperti biasa, tapi ditarik-tarik atau malah seperti dikecrek-kecrek saja.


“Kalau bapak sih dzikir Cahaya...,” jawabnya tersenyum.


Hazri heran. “Bagaimana itu, Pak?. Cahaya, cahaya, cahaya... begitu?”


Pak Subakir tidak menjawab. Awalnya tersenyum lalu tertawa kecil. “Nantilah. Nanti bapak kasih tahu kalau sudah saatnya.”


“Oohh..., bagian dari ‘Tauhid al-Mutlakah’ dzikir Cahaya itu, Pak?”


Pak Subakir mengangguk.


“Kapan sih, Pak, saatnya?” Hazri balik lagi. Siapa tahu tembus sekarang.


“Nanti, kalau sudah terbit tandanya.”


“Apa sih tandanya?”


“Rahasia...,” Pak Subakir pun tertawa kecil lagi.


Sampai pulang lewat pukul sebelas malam itu, Hazri tetap gagal meluluhkan Pak Subakir soal niatnya belajar ajian “Tauhid al-Mutlakah’. Pokoknya menunggu tanda. Tanda, tanda, dan tanda. Entah tanda apa yang dimaksud. Tapi, Hazri yakin dirinya sedang diuji. Pastilah tidak gampang meminta diajari ilmu setinggi itu, tidak ada ceritanya begitu minta langsung dikasih. Enak saja..


Secuil Kopi


__ADS_1


Zikir(bentuk tidak baku dzikir dan dikir) (bahasa Arab: ٱلذِّكْر , translit. al-żikr‎) adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang. Zikir juga merupakan sebuah aktivitas ibadah dalam umat Muslim untuk mengingat Allah. Di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah, dan zikir adalah satu kewajiban yang tercantum dalam al-Qur'an.Bacaan zikir yang paling utama adalah kalimat "Laa Ilaaha Illallaah", sedangkan doa yang paling utama adalah "Alhamdulillah".Seseorang yang melakukan zikir disebut dzaakir (ذاكر).


__ADS_2