Jalan Pulang

Jalan Pulang
86. kode gila illahi


__ADS_3

Normal semuanya pagi ini. Para pekerja peternakan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Marno dan Sugeng kesana-kemari kasih komando. Hazri duduk tenang di bangku kayu kesayangannya, sibuk juga dia memilin tasbih. Suara grook kok kok kok... grook kok kok kok... . itu nyaman merasuk ke telinganya. Terus berdzikir hingga perlahan-lahan larut dalam Cahaya.


Sebenarnya Hazri sudah biasa melarut dalam dzikir, tapi yang sekarang jauh lebih hening dan anggun dibanding biasanya. Padahal, suara grook kok kok kok ramai sekali. Awalnya hanya sekedar grok kok kok kok, tidak ada yang aneh. Namun, saat pelarutan sejati diri Hazri dalam Dzikir Cahaya semakin menyatu, tiba-tiba dia terkesiap... grook kok kok kok itu berbunyi lain. Lalu, bles... hilang. Balik jadi grook kok hok kok lagi saat Hazri tersadar.


Subhanallah, apa tadi? Merpati-merpati itu bertasbih? Gumamnya dalam hati. Takjub. Jelas sekali terdengar dalam rasa bahwa suara grook hok kok kok tadi berbunyi tasbih kepada Allah. Bermakna pujian kepadaNya. Hakiki, bukan makna-maknaan. Hazri pun berkonsentrasi mendengar suara merpati di sana, tapi kok tetap grook kok kok kok sekarang? Ke mana tasbihnya? Lalu, dia teringat pesan Pak Subakir. “Jangan berharap dan jangan diharap-harap. Bebaskan diri dari kungkungan segala angan-angan. Hanya Dia, meleburlah dalam kesejatian-Nya.”


Hazri menghela napas, membuang segala bentuk harap-harap. Menghela napas sekali lagi lalu kembali berdzikir Cahaya, tanpa memejamkan mata. Semua keramaian peternakan itu dibiarkan terpampang nyata. Dengan dzikir Cahaya, ramai atau sepi sama saja, terpejam atau melotot pun tiada beda.


Sesaat kemudian peleburan pun datang, melarut dan semakin menyatu. Jreng, grook kok kok kok itu kembali bertasbih. Hazri tidak tergoda, terus saja berdzikir. Jreng, desiran angin.... Jreng, lambaian daun.... Jreng, pompa air.... Jreng, tawa pekerja.... Jreng, bangku kayu.... Jreng, pohon rambutan. ... Jreng, tanah. ... Jreng, sinar matahari.... Jreng, bilik bambu.... Jreng, barisan semut rangrang.... Jreng, jreng, dan jreng semua. Semuanya! Hazri terus lanjut berdzikir.


Jreng... “Pak Haji....”


Hazri menoleh lalu tertawa kecil. Bagaimana tidak? Marno yang berdiri di situ pun berbunyi tasbih. Rambutnya, hidungnya, alisnya, matanya, mulutnya, bajunya, tangannya, melongonya. Demi al-Haq, begitu kebenarannya.


“Apa, Mar?” tanya Hazri sambil masih mengulum senyum.


“Wah, saya ngganggu ya, Pak Haji?”


“Nggak, malah membantu, hahaha.... Duduk, duduk.”


Marno pun duduk di sebelah Hazri. Kieek, bangku berderit. Hazri tertawa lagi agak keras. Bagaimana suara kieek begitu bisa terdengar ‘Allah’. Demi al-Hagq, tidak ada dusta di sini. Berbunyi ‘Allah’ sesuai tekanan nada kieek-nya. Dalam rasa tentu, bukan suara lahiriahnya.


“Kenapa, Pak Haji?” Marno heran.


“Nggak, nggak, Mar. Ada apa?”


“Ini, Pak, soal usulan kenaikan gaji....”


“Oo...,” Hazri menerima map yang diserahkan Marno. Dibaca-baca sebentar kertas-kertas itu, wajahnya kembali senyum-senyum. Deretan huruf, liuk bentuknya, dan kertasnya bertasbih semua. Marno agak cemas melihat ‘Haji Mahmud’ senyum-senyum terus. Sugeng dan beberapa yang lain di sana juga rada-rada cemas menanti putusan.


“Komisaris sudah setuju, Pak Haji. Direksi juga...,” Marno mencoba meyakinkan Hazri atas teraan angka-angka itu.


Hazri malah tambah senyum-senyum menahan tawa.


Waduh ketinggian kayaknya ini, gumam Marno dalam hati. Dia melirik Sugeng sambil mengangkat bahu. Sugeng dan yang lainnya di sana pun meringis.


“Pulpen...,” pinta Hazri.


Marno menyerahkan pulpen yang dipegangnya.

__ADS_1


Sret set sret... ‘Allah Allah Allah...’ tanda tangan Hazri pun tertera. Sambil tertawa dia menyerahkan berkas itu ke Marno, lalu beranjak ke rumah sambil terus tertawa. Marno melongo, tapi kemudian tertawa juga. Sugeng dan yang lain di sana pun ikut bersorak riang. Tawa boleh sama, maknanya jauh berbeda.


Kalau tadi tertawa, sekarang Hazri tersedu pelan di sofa sambil berlelehan air mata. Baru sadar dia. Ternyata gerak kakinya, ayunan tangannya, dan suara tawanya pun bertasbih. Begitu pula isak tangisnya ini. Segalanya bertasbih, yang ada di dirinya maupun di sekitarnya. Semuanya. Maka benarlah firman Ilahi, “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah....” Jagat Raya, Lautan Tasbih....


Setelah gejolak spiritual dalam dirinya itu reda, Hazri pun meluncur ke Progo. Dia akan bermuthalaah dengan mursyidnya tentang pencapaian dalam perjalanan ruhaninya ini. Sepanjang jalan, dia cengar-cengir terus di atas sadel motor bututnya yang sudah mati per itu. Guncangan dan suara mesin motor ini pun bertasbih nyaring. Apalagi rasa terpaan angin di wajahnya. ‘Allaaaahh...,’ begitu. Ramai.


Setelah memarkir motor di halaman rumah, Hazri menuju saung. Pak Subakir dan Bilal tampak sedang berdua di sana. “Assalamu’alaikum,” sapanya.


“Wa’alaikum salam...,” balas mereka berdua.


Hazri pun duduk di situ setelah menyalami mereka berdua.


“Heemm.... Ada apakah gerangan ‘Ki Mahmud Tidar’ bertandang ke padepokan kula siang bolong begini? Heemm...,” ujar Pak Subakir, suaranya diberat-beratkan seperti dalang wayang. Terek tek tek..., papan saung pun diketuk dengan jari.


Hazri dan Bilal tertawa kecil.


“Ampun, Kisanak. Jagadita pun bertasbih semuanya...,” jawab Hazri. Suaranya juga diberatkan. Meniru gaya dalang ternama, Ki Enthus, yang sering tampil di TV.


“Alhamdulillah...” ucap mereka bertiga berbarengan.


“Coba ceritakan,” pinta Pak Subakir.


“Begitulah, Guru. Mohon pengarahan untuk selanjutnya.”


Pak Subakir menghela napas. Senyumnya mengembang. “Mas Mahmud, Subhanallah yang telah memberi mukasafah atau ‘pengelihatan rasa’ itu. Demikianlah mukasafah tasbih Ilahiah. Sekarang Mas Mahmud sudah sampai tahap ini. Tahap yang tidak akan bisa dipahami oleh manusia kebanyakan. Mereka yang tidak memperjalankan ruhaninya. Man lam yadzud lam yadri, yang tidak merasakan tidak akan paham. Pintar-pintarlah membawa diri dalam pergaulan sehari-hari. Sebab, dengan pemahaman rasa setingkat ini, Mas Mahmud sangat mungkin menjadi aneh dalam pandangan awam. Aneh dalam pengertian tidak umum. Entah lakunya, entah ucapan-ucapannya. Sekarang pun pasti sudah ada yang menganggap aneh. Iya, kan?”


Hazri mengangguk.


“Sekarang saja Mas Mahmud sudah termasuk khawas, golongan khusus. Apalagi nanti, dengan pemahaman hakikat tasbih Ilahiah yang akan semakin melebur. Waduh, khawasul khawas itu. Khususnya khusus. Bagaimana tidak ‘gila’? Sementara yang lain kebanyakan sibuk berebut dunia, yang ini bahkan akhirat pun dicuekin. Yang lain sibuk berlalai diri dari Allah, yang ini terkurung Allah...” Pak Subakir berhenti sejenak menyulut rokok. “Awas, hati-hati berucap! Jangan memaki. Dengan derajat peleburan rasa setingkat itu, hakikatnya bukan Anda yang memaki. Siapa? Dia. Itulah mengapa jika ada kekasih memaki, “Bangkrut kau!” kepada seseorang, maka bangkrutlah dia. “Mati kau!”, matilah dia.”


Hazri manggut-manggut.


“Namun, segalanya Dia. Kalau sampai seorang kekasihNya memaki maka haqul yaqin yang dimaki itu pasti sudah sangat keterlaluan menyepelekan-Nya, melalaikan-Nya, atau menyekutukan-Nya. Hakikatnya begitu, tapi syariatnya Mas Mahmud jangan ingin memaki. Kalau ada orang yang menyebalkan sok tahunya soal ilmu, ya sudah tersenyum saja. Ada yang mengejek, tersenyum juga. Santai saja. Namun kalau tercetus juga, itu hak Allah. Begitu. Bisa dipahami?”


Hazri mengangguk. “Selanjutnya bagaimana, Guru?”


“Teruslah berdzikir, istiqamah. Padukan mukasafah tasbih Ilahiah itu dengan dzikir Cahaya. Insya Allah akan lebih mancer Sirr-nya, Rahasia Ilahiahnya. Eemm, banyak bagusnya kalau Mas Mahmud menjauh dulu dari kerumunan. Cari tempat sepi, sendirian. Soalnya, mereka yang sedang di tahap awal meniti khawasul khawas sering bertingkah aneh di mata awam. Ada yang ketawa-ketawa sendiri, ada yang bengong, atau tiba-tiba menangis seolah tanpa sebab. Seperti orang mabuk, banyak tidak sadar. Memang mabuk sih, ‘mabuk Allah’ hehehe.... Sakar, istilahnya. Dulu Kang Bilal, jalan sudah kecemplung sungai pun nggak sadar. Terus saja dia ngagidik jalan. ‘Ki Lonthang’ kebut-kebutan di kebun singkong orang pakai sepeda jengki. Bannya kempes lagi. Cuek saja, serasa jalan tol katanya, hehehe....”


Mereka pun tertawa-tawa. Hazri paling keras.

__ADS_1


“Pindah rumah, maksudnya, Guru?” tanya Hazri kemudian.


“Bagus kalau bisa begitu. Setidaknya punya tempat khusus di rumah untuk taqarrub. Jangan di mana saja sekarang. Maksud Bapak, agar kalau pas datang sakar tidak ada orang lain yang tahu. Biar berdua dengan Allah saja. Terserah, mau ketawa-ketawa atau nangis silakan. Bebas. Tidak membuat orang awam bertanya-tanya atau sampai menduga gila segala. Prinsipnya diam dan tersembunyi. Dzikir, dzikir, dan dzikir. Sudah, jangan cakap kepada yang selain ikhwan soal ini. Sangat rahasia.”


Hazri mengangguk.


“Bukan mustahil Allah akan menurunkan langsung ilmu-Nya kepada mereka yang bertaqarrub lewat dzauqiyah. Lewat hakikat perasaan murni seorang manusia. Bles, masuk... Ilmu apa saja, yang sifatnya zhahir maupun batin. Jangan kaget kalau misalnya tiba-riba Mas Mahmud paham ilmu kimia walau tidak pernah mempelajarinya. Atau, ilmu laduni, yang bisa membuat tahu sebelum terjadi. Orang Jawa bilang weruh sakdurunge winarah. Bukan tidak ada ilmu seperti ini. Tapi, mereka yang dikaruniai ilmu laduni pasti diam, hening. Tidak akan sanggup berkoar-koar mempertontonkan ilmunya. Laduni sejati bukan tontonan karena merupakan karunia Ilahi langsung kepada yang dikehendaki-Nya. Bukan untuk dibagi-bagi. Personal sekali sifatnya. Lain dengan laduni-ladunian, hehehe....”


“Ada imitasinya juga, Guru?”


“Wah, banyak Mas, macam-macam kemasan. Ilmu laduni kok bisa diajarkan? Nggak ada dari sononya. Pakai mahar segala. Emangnya Allah bisa disuap? Hah, ngarang saja. Laduni pakai jin? Kurang sajennya, mogok kerja itu jin sontoloyo. Sama dengan manusianya. Halah, halah..., macam-macam saja tingkah manusia dan jin di kolong jagat fana ini, hehehe.... Jangan kebijuk lah.”


“Bisa begitu ya Guru?”


“Iya. Apa yang tidak bisa bagi Allah? Sejatinya ilmu memang tidak diajarkan melainkan diwariskan. Belajar itu hanya sababiah-nya. Pahami ini. Segala ilmu adalah ilmu-Nya. Ilmu malaikat, iblis, jin, manusia, semua milik-Nya. Makhluk cuma dipinjami sebentar. Mau diambil lagi oleh Yang Punya bisa. Kapan saja, di mana saja. Coba renungkan, menurut Mas Mahmud apa ilmu tertinggi bagi makhluk?”


Semua titipan, tidak ada hak makhluk. Ketahuilah, ilmu tertinggi pada martabat makhluk adalah ilmu ‘tidak punya ilmu apa-apa’. Suara hati Hazri berbisik, muncul begitu saja tanpa dipikir. “Ilmu tidak punya ilmu apa-apa...,” dia pun menjawab cepat sesuai suara hatinya.


Pak Subakir tersenyum. “Benar. Cepat sekali menjawabnya. Tidak dipikir dulu?”


“Muncul begitu saja, Guru.”


“Hehehe.... Inilah contoh kecil dzauqiyah.”


Hazri terpana sekejap, lalu mengangguk-angguk paham.


“Insya Allah, nanti akan datang dzauqiyah-dzauqiyah yang jauh lebih mencengangkan daripada tadi. Simpan baik-baik rahasia-rahasia Ilahi itu. Khusus buat Anda itu, bukan buat orang lain. Orang lain punya bagiannya sendiri-sendiri. Tapi, di tahap perjalanan, muthalaahkan dengan mursyid. Karena mungkin saja itu bukan dzauqiyah melainkan hanya khatir alias bersitan-bersitan hati. Ada khatir dari malaikat, ada pula yang dari jin. Mesti waspada dan hati-hati. Jangan semua suara hati langsung dituruti, bisa kejeblos jurang nanti. Periksakan dulu kepada yang tahu.”


“Baik, Guru,” ajar Hazri sambil mengangguk.


“Oo ya, Mas Mahmud, bapak lupa. Di Tidar ada ikhwan kita. Perempuan, namanya Ami. Suaminya sudah meninggal. Namanya Nurdin. Dua-duanya ikhwan. Nurdin yang mengajak istrinya baiat ke sini dulu. Sekarang, Ami sedang di Jogja atau mana gitu jadi mahasiswa. Kayaknya sih sebentar lagi lulus dan bakalan pulang.”


Hazri manggut-manggut saja.


Pembicaraan pun berlanjut, masih seputar soal tasbih Ilahiah. Hingga Pak Subakir mencukupkan pembahasan itu untuk hari ini.


“Yah, begitulah, Mas Mahmud. Istiqamah dzikir, jangan berharap macam-macam. Lakoni saja, melangkah setahap demi setahap. Buang keakuan diri sedikit demi sedikit. Gosok terus cermin hati dengan dzikir Cahaya, bersihkan daki-dakinya. Sampai bashirah atau mata hati memancar terang. Semoga dalil qalbu mu’min arsy Allah itu diperkenankan oleh-Nya untuk Anda,” ujar Pak Subakir.


Hazri mengangguk takzim. “Terima kasih, Guru.

__ADS_1


Setelah saling mengucap salam, dia pun kembali ke Tidar


__ADS_2