
Tidak lama kemudian, setelah rindu ditumpahkan meski Hazri berusaha untuk tetap mengendalikan diri, kini Dewi duduk tenang memilih-milih lagu dari buku lagu yang ada di rak bawa DVD player. Hazri memperhatikan sambil merokok. Lagu dipilih, dipesan, lalu menyanyilah gadis itu. Lumayan juga ternyata suara Dewi membawakan lagu-lagu lokal yang sedang populer itu. Hazri pun menikmati.
Giliran Hazri sekarang. Lagu pun dipilih, Dewi tergelak manja. “Lagu jaman kapan itu, Mas?” katanya sambil masih tertawa renyah.
Hazri nyengir saja. Selanjutnya, mereka terus bercengkerama, menyanyi, berpelukan, ciuman, dan sebagainya. Sampai akhirnya Tika memberi tahu lewat interkom bahwa waktu sudah hampir habis. Dewi pun berbenah diri. Diam-diam Hazri meraih pulpen dari kertas di atas meja lalu masuk ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu. Dewi tidak memperhatikan karena sibuk membenahi pakaiannya.
Tidak lama berselang pintu diketuk. Dewi beranjak membukakan pintu setelah membuka kuncinya. Tika menyapa rama, Dewi membalasnya. Sekarang hatinya tidak sesuntuk awal datang tadi. Tika pun masuk ke dalam.
“Maaf, Pak, sudah habis waktunya...,” kata Tika kepada Hazri.
“Iya. Berapa semuanya, Mbak?” tanya Hazri.
Tika menyerahkan nota. Hazri pun membayar lebih dari jumlah yang tertera. Tika menahan hati untuk tidak mencuri-curi pandang lagi ke arah Hazri karena tidak enak dengan Dewi, walau sungguh dia sangat penasaran.
“Terima kasih, Pak,” kata Tika menerima uang dari Hazri.
“Ini...,” Hazri berbisik sambil memberikan gulungan uang yang tadi disiapkan langsung ke tangan Tika, mumpung Dewi sedang lengah. Asyik mengecek HPnya.
“Terima kasih banyak, Pak,” kata Tika tersenyum.
Hazri membalas tersenyum.
Tika blingsatan. Sungguh mati rasanya dia kenal senyuman tadi. Tapi, siapa? Mumpung Dewi belum balik, Tika pun nekat menatap langsung wajah Hazri, matanya menyipit. Hazri sengaja balas menatap. Tika blingsatan. Hatinya berdebar-debar, Bang Hazrikah ini?
“Sudah, Mas Boy?” Dewi menyapa sambil jalan mendekat.
“Sudah, sudah...,” jawab Hazri cepat.
Tika kecewa waktunya habis. Penyelidikan pun terpaksa berhenti karena Dewi sudah terlalu dekat.
__ADS_1
“Sudah, Mbak?” tanya Dewi ke Tika.
“Sudah, sudah, Mbak...,” jawab Tika agak gelagapan. Dia permisi sambil membawa segumpal penasaran dalam hati.
“Yuk, Mas...!” ajak Dewi sepeninggal Tika.
Hazri mengangguk.
Mereka pun beranjak keluar, Dewi bergelayut mesra di lengan Hazri sambil berjalan. Sudah sepi karaoke room, rupanya mereka tamu terakhir yang pulang malam ini. Tampak Tika berdiri dekat pintu utama, hendak melepas tamu terakhir. Memang begitu peraturan di sini. Sebagai petugas penerima tamu, Tika harus melepas langsung tamu terakhir yang akan pulang.
“Terima kasih, Pak, Mbak..,” katanya saat Hazri dan Dewi melintasinya.
“Sama-sama, Tik...” Hazri keceplosan.
Hazri tersenyum. Dewi tersenyum, Tika juga tersenyum. Tidak ada yang sadar Hazri dan Dewi langsung menuju mobil di parkiran, sedangkan Tika ketahan sebentar di situ, ada temannya sesama karyawan yang perlu bicara. Setelah itu, baru dia beranjak untuk bersiap pulang.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah... Tiba-tiba Tika teringat sesuatu, langkahnya terhenti dan langsung balik, berjalan cepat ke parkiran. Terlambat, sudah tidak ada mobil di situ. Tika berjalan kembali ke area kerjanya sambil merenung.
Tika merogoh saku rok seragamnya, lalu bergegas masuk ke ruangan VIP 2 yang tadi dipakai Hazri dan Dewi. Di situ, dia mengeluarkan gulungan uang yang diterima. Dihitung dua puluh delapan lembar uang seratus ribuan. Dua juta delapan ratus ribu, lebih dari dua kali lipat gaji bulanannya. Tika terbelalak... Dan, makin membulat matanya setelah mendapati pesan tertulis di salah satu lembar uang itu..., “Apa kabar anak kampus? Sudah luluskah? Jaga dirimu baik-baik. Jangan cerita ke siapa-siapa. Hazri.”
Tika pun langsung menangis di ruangan itu. Pertanyaan teman-temannya tidak digubris.
Sementara itu, Panther merah sudah masuk kawasan perumahan. Sebentar lagi sampai di rumah kos Dewi. Di dalam mobil. Hazri sedang berusaha menenangkan Dewi yang menangis sesenggukan sejak setengah perjalanan tadi. Tanpa sebab yang jelas, tapi pasti karena tekanan perasaan.
“Dewi..., sudahlah, Sayang, jangan menangis terus. Aku jadi nggak tega...,” kata Hazri pelan.
Dewi berusaha menghentikan tangisnya, tapi tidak gampang ternyata. Sampai tiba di depan rumah kosnya dia masih sesenggukan. Hazri menghentikan mobilnya di seberang jalan, tempatnya saat datang tadi. Dia membelai rambut Dewi yang sesenggukan di rengkuhan dadanya. Karena tidak tahu mesti berbuat apa maka Hazri membiarkan Dewi menghabiskan tangisnya. Dia terus membelai pelan, sesekali mencium kening dan kelopak mata gadis ini yang mengatup sendu.
Akhirnya, reda juga. Dewi mengangkat wajah, memandang lekat kekasihnya. Hazri juga memandangnya. Pelan-pelan bibir mereka bergerak saling mendekat.
__ADS_1
“Mas, hati-hati..,” bisik Dewi.
Hazri mengangguk. Sambil tetap memeluk dia menyusupkan gulungan uang tadi ke saku kanan belakang celana jeans Dewi, tanpa diketahui gadis ini.
Dewi menghela napas. “Kapan kita bisa ketemu lagi, Mas?”
Hazri tersenyum kecut tidak menjawab.
Dewi mengerti. Rambut gondrong Hazri dirapi-rapikan dengan jarinya penuh kasih sayang. “Datanglah kalau memang bisa, Mas, jangan dipaksakan. Aku nggak mau lihat Mas Hazri ketangkap...,” katanya pelan.
Hazri mengangguk-angguk.
“Sayang, hati-hati ya...” Dewi mengecup kening Hazri lalu bergegas turun dari mobil dan langsung berlari kecil menuju rumah kosnya dengan kepala tertunduk, tanpa menoleh lagi.
Perasaan Hazri seolah ikut tercabut bersama menjauhnya sang gadis. Dia tahu, sambil berlari Dewi pasti menangis lagi. Hazri memandang belakang tubuh gadis itu dengan tatapan nanar. Dia menunggu sampai Dewi masuk ke dalam rumah. Barulah beranjak pergi...
Tiba-tiba sepasang mata berlian muncul dibenaknya yang terdalam. Hazri menghela napas dalam...
Sampai kapan...
Luka ini....
Secuil Kopi
Indekos atau kos/kost adalah sebuah jasa yang menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk ditinggali dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu (umumnya pembayaran per bulan). Kata ini diserap dari frasa bahasa Belanda "in de kost". Definisi "in de kost" sebenarnya adalah "makan di dalam", tetapi dapat pula berarti "tinggal dan ikut makan" di dalam rumah tempat menumpang tinggal.
Pada zaman kolonial Belanda di Indonesia, "in de kost" adalah sebuah gaya hidup yang cukup populer di kalangan menengah ke atas untuk kaum pribumi, terutama sebagian kalangan yang mengagung-agungkan budaya barat / Eropa khususnya adat Belanda, dengan trend ini mereka berharap banyak agar anaknya dapat bersikap dan berprilaku layaknya bangsa Belanda atau Eropa yang dirasa lebih terhormat saat itu.
Dalam masa penjajahan, bangsa Belanda ataupun bangsa Eropa pada umumnya mendapat status sangat terpandang dan memiliki kedudukan tinggi dalam strata sosial di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat pribumi Indonesia. Orang-orang yang bukan orang Belanda dan berpandangan non-tradisional menganggap perlunya anak mereka bersikap "seperti layaknya" orang Belanda. Dengan membayar sejumlah uang tertentu sebagai jaminan, anaknya diperbolehkan untuk tinggal di rumah orang Belanda yang mereka inginkan, dengan beberapa syarat yang sudah diperhitungkan, dan resmilah si anak diangkat sebagai anak angkat oleh keluarga Belanda tersebut.
__ADS_1
Setelah tinggal serumah dengan keluarga Belanda tersebut, selain diperbolehkan makan dan tidur di rumah tersebut, si anak tetap dapat bersekolah dan belajar menyesuaikan diri dengan gaya hidup keluarga tempat ia menumpang. Dari situasi inilah mungkin sisi paling penting dari konsep "in de kost" zaman dulu, yaitu mengadaptasi dan meniru budaya hidup, bukan sekadar hanya makan dan tidur saja, tetapi diharapkan setelah berhenti menumpang, sang anak dapat cukup terdidik untuk mampu hidup mandiri sesuai dengan tradisi keluarga tempat di mana ia pernah tinggal. Hal ini dianggap mirip atau sama dengan konsep "Home stay" (bahasa Inggris) pada zaman sekarang