
Keesokan harinya menjelang siang, Sukoco datang ke Tidar. Sendirian dia kali ini, pakai Jeepnya yang dulu. Terkesima keluarga Hazri melihat potongan warok Banyuwangi ini. Apalagi tawanya yang ‘hohoho’ itu. Sukoco sengaja datang jauh-jauh untuk ikut tawasulan nanti malam, sekalian muthalaah. Thalabul ilmi.
Begitu tahu latar belakang masing-masing, Sukoco dan Sulton langsung akrab. Sukoco senang berjumpa dengan murid langsung Ki Ageng, Sulton juga gembira ketemu murid Kiai Darmo. Ki Ageng dulu sering menyebut nama Kiai Darmo sebagai salah seorang pendekar tangguh pada zamannya. Sulton tahu persis istri Ki Ageng yang keponakannya Kiai Darmo. Maemunah juga. Kalau Zaenab memang tidak, munculnya belakangan.
Merasa cocok, dua pendekar seangkatan ini pun asyik ngobrol di bawah pohon besar sana, dekat batas hutan. Sukoco yang mengajak ke sana karena di rumah Ki Mahmud Tidar sedang banyak tamu umum. Kurang bebas ngobrolnya.
“Begitulah, Pak Haji...,” Sukoco menceritakan perang tandingnya dulu. “Kalah telak ‘Pamungkas’ oleh ilmu Ki Mahmud Tidar. Bukan ‘Cakra Buana’, ilmu yang lain. Yang tidak terjangkau oleh segala ajian. Puncak segala ilmu.”
Sulton terpekur. Setinggi itukah ilmu Hazri sekarang?
“Apa namanya ilmu itu, Ki Sukoco?”
“Tidak ada namanya. Semua nama tergulung ke situ. Ki Mahmud Tidar menyebutnya ‘ilmu tak punya ilmu apa-apa’. Kalau Kiai Darmo menyebutnya sejatining elmu atau ilmu manunggal.”
“Ilmu manunggal?” Sulton terkejut.
“Ki Ageng dulu sering menyinggung ilmu ini. Kita dipesan untuk mencarinya sendiri. Katanya, mungkin Kiai Darmo bisa memberi petunjuk.”
Sukoco menggeleng. “Sampai meninggalnya beliau pun masih mencari. Saya diamanati serupa. Sengaja dicari ke mana-mana tidak dapat. Akhirnya, ketemu di sini, walau tidak sengaja. Ki Mahmud Tidar adalah salah seorang yang menguasainya, Pak Haji. Percayalah.”
Sulton menghela napas. Benarkah?
“Jadi, sekarang Ki Sukoco sudah menguasai ilmu itu?”
“Hohoho..., belum. Baru tapaknya, masih jauh. Heemh..., tidak mudah, Pak Haji. Susah bukan karena gerakannya sulit, tapi justru karena tidak ada gerakan. Diam, hening, suci, murni. Lenyap segalanya, kecuali....”
“Kecuali apa?” kejar Sulton.
Sukoco memandang Sulton, lalu meringis. “Maaf, saya tidak berhak. Pak Haji tanyakan langsung ke Ki Mahmud Tidar saja.”
Sulton manggut-manggut.
Obrolan terus berlanjut sampai Juki muncul memberi tahu ada orang tua Ami di rumah. Kemarin belum sempat ketemu karena Juned dan Sadiyah sedang keluar kota. Sulton dan Sukoco bergegas balik. Setibanya di sana Sulton langsung ke ruang tamu, Sukoco menuju rumah panggung tempat Hazri menerima ramu-tamunya. Setelah dapat izin, warok Banyuwangi itu duduk di sebelah sang Mursyid sambil memutar tasbih. Turut menyimak petuah Ki Mahmud Tidar. Pandangan takjub para hadirin melihat sang Werkudara, tidak dihiraukannya.
Di dalam sana, Juned dan istrinya takjub melihat kemiripan Reni dengan putri mereka. Kalau dibilang saudara kaMeng, orang-orang pasti percaya yang beda hanya potongan rambutnya. Ami lebih pendek, Reni masih membiarkan rambutnya tergerai hampir sepinggang. Maklum, masih gadis. Dulu, Ami sama.
“Sudah menikah, Mbak?” tanya Sadiyah.
“Belum...,” Reni menjawab sambil tersenyum.
Sebenarnya Sadiyah mau bertanya lagi, tapi dibatalkan karena melihat isyarat dari Ami yang duduk bersebelahan dengan Reni.
“Susah, Bu, semua yang datang ditolak. Kira sampai bingung maunya yang mana. Kakaknya dan adiknya sudah menikah semua...,” kata Zaenab. Haji Sulton tertawa saja mendengar ucapan istrinya.
Ami terus memandangi ibunya, minta agar jangan berkomentar. Sadiyah menahan diri. Terpaksa dia hanya tersenyum saja mendengar komentar Zaenab barusan. Maemunah paham apa yang sedang berlangsung di balik tabir. Dia mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Obrolan pun berlanjut....
“Kalau tidak menolak, masih kepala desa sekarang...,” kata Juned.
“Kenapa dia nggak mau waktu itu?” tanya Sulton.
Juned geleng-geleng kepala. “Tidak ada yang tahu. Tidak mau saja katanya. Belum lama ini malah ditawari jadi calon Bupati oleh beberapa parpol. Sekarang di Magelang kan sedang persiapan Pilkada langsung.”
“Hah?” Sulton kaget, yang lain juga.
“Sama, nggak mau juga Haji Mahmud...,” kata Juned.
“Benar ini, Mi?” Sulton bertanya ke Ami.
“Ami nggak tahu. Kemarin-kemarin memang banyak ramu parpol ke sini, tapi Ami nggak ngerti. Dengar-dengar saja katanya begitu.”
“Suami nggak cerita apa-apa?” kejar Sulton.
Ami menggeleng. “Senyum-senyum saja kalau ditanya.”
Sulton pun geleng-geleng kepala, tapi sebentar kemudian terbahak; yang lain ikut tertawa. Antara bingung dan kagum.
Menjelang maghrib, Juned dan istrinya pamit. Maemunah, ditemani Sulton dan Zaenab, mengantar tamu besan ke batas pagar. Sambil berjalan, Sulton berbisik kepada Juned bahwa dia akan menemuinya besok atau lusa. Ada keperluan pribadi. Juned mempersilakan. Kebetulan Hazri juga sudah selesai dengan para tamu. Dia menghampiri mertuanya sebagai adab, sekalian memperkenalkan sang Werkudara. Sialnya Sukoco tertawa pula, maksudnya ramah berbasa-basi. Tak pelak, Juned dan istrinya pun terkesima....
Usai makan malam, Hazri, Sulton, dan Sukoco ngobrol di teras depan. Huda sudah tidur, kelelahan mungkin karena seharian tadi ikut survei lokasi untuk peternakan kambing bareng Romi dan Faruq. Sebelumnya, Sulton memberi tahu Sukoco bahwa Ki Mahmud Tidar waktu kecilnya biasa dipanggil Hazri. Biar gampang maksudnya. Hazri tertawa saja mendengar kilah pamannya itu.
Sulton pun menceritakan obrolannya dengan Sukoco siang tadi....
“Kecuali apa itu, Zri? Tadi, Ki Sukoco tidak bersedia bilang.”
Hazri mesem. “Dia.”
“Dia siapa?”
“Dia yang meliput segalanya.”
“Allah maksudmu?”
Hazri mengangguk.
__ADS_1
Kening Sulton berkerut. Kok biasa saja ya? ‘Tidak istimewa’ Sang Kecuali ini ternyata. Tadinya, dia menyangka sesuatu yang gimana gitu..., yang mengerikan, yang hebat, yang indah, arau yang apalah. Pokoknya, sesuatu yang sangat luar biasa. Hazri menangkap apa yang melintas di benak Sulton.
“Itulah. Ketika manusia memandang Allah serupa makhluk, maka bingunglah dia. Nuurun ala Nuurin, Cahaya di atas Cahaya pun dipandang sekedar hanya cahaya makhluk. Seperti cahaya matahari atau bahkan hanya cahaya neon. Padahal, segala ini adalah Cahaya-Nya, dan Dia adalah Cahaya di atas segala Cahaya.”
Sulton langsung terkapar ditembak cahaya-cahaya begitu.
“Sebentar ya, Pak Haji....”
Hazri masuk ke rumah, keluar lagi membawa kitab al-Hikam yang ditemukan di kapal dulu. “Kata Huda ini punya Pak Haji?”
Sulton menerima dan melihat-lihat kitab itu. “Iya, ini punyaku. Kukasihkan Huda untuk mempelajarinya.”
Hazri tersenyum. “Aku pinjam waktu di kapal. Kitab yang luar biasa.”
“Sudah lama aku punya ini, Zri, tapi nggak ngerti isinya.”
Hazri tersenyum lagi. “Itulah Cahaya di atas Cahaya tadi, Pak, Haji. Tidak akan bisa dipahami jika seseorang belum mengerti hakikat Cahaya itu sendiri.”
Sukoco manggut-manggut. Sulton tambah pusing.
“Kau ngerti isi kitab ini?”
Hazri mengangguk. “Setelah berjalan tujuh tahun lebih....”
“Berjalan?”
“Iya. Perjalanan ruhani.”
“Perjalanan ruhani?”
Hazri tertawa. “Susah disampaikan kalau Pak Haji belum berjalan. Saya mesti ngomong bagaimana soal rasa? Kitab Syekh Atha’illah itu sepenuhnya soal hakikat rasa. Tanpa itu, ya sekedar bacaan tanpa menyentuh makna sejatinya.”
“Benar. Itu benar, hohoho...,” Sukoco turut berkomentar.
Sulton menghela napas. “Jadi, aku mesti bagaimana?”
Hazri tersenyum. “Tidak bagaimana-bagaimana. Cuma mengembalikan semua akuan diri kepada Yang Berhak. Kita ini sejatinya tidak punya apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Tapi, nggak gampang itu, hehehe....”
“Hohoho...,” Sukoco menimpali.
“Akuan diri itu bukan soal kaya atau miskin. Mengaku-ngaku miskin juga tidak pantas bagi manusia. Apalagi kalau ada maksud-maksud hati yang tersembunyi, hahaha.... Bukan juga soal tua arau muda, pintar atau bodoh, sehat atau sakit, laki atau perempuan, dan sebagainya. Sejati manusia adalah fakir, tidak punya apa pun dan tanpa daya sama sekali. Jadi, janganlah mengaku-ngaku. La haula wala quwata illa billah, tiada daya dan kekuatan tanpa-Nya. Tapi, kok bingung ya? Hahaha...”
Maka, Sulton pun benar-benar bingung...
Sekitar pukul sepuluh malam Faruq datang, lalu Romi. Disusul Pak Sekdes, Karno, Marno, dan Sugeng. Selanjutnya, para ikhwan yang lain pun berdatangan. Semua menyalami dan mencium tangan sang Mursyid.
Sulton terbengong-bengong. “Ada acara apa, Zri?”
“Tawasulan. Mereka ikhwan majelis dzikir di sini.”
Sulton manggut-manggut. “Kalau tamu-tamu yang siang tadi?”
“Mereka merasa perlu bantuan dari saya. Saya beri sebatas izin-Nya.”
“Ki Mahmud, saya mau bersiap dulu,” Sukoco berkata.
“Silakan, Ki Sukoco.”
“Sebentar, sebentar...,” kata Sulton. “Ki Sukoco mau ke mana?”
“Hohoho. ... Dari Banyuwangi ke sini, saya mau tawasulan.”
“Ooh...,” Sulton melongo. “Pak Ustadz dan Pak Umar juga?” dia bertanya ke Faruq dan Romi yang ikut ngobrol di situ.
Faruq dan Romi mengangguk.
Komeng muncul juga, sudah berpakaian ‘seragam’. Dia mencium tangan Hazri lalu hendak bergabung dengan yang lain.
“Eh, kau juga, Meng?” tanya Sulton.
“Apa, Pak Haji?” tanya Komeng tidak tahu persoalan.
“Tawasulan?”
Komeng mengangguk. Diam sebentar lalu melanjutkan langkahnya.
Sulton manggut-manggut. “Tawasulan itu apa sih, Zri?”
Yah, belum tahu ternyata. Hazri tersenyum. “Hadiahan untuk Kanjeng Nabi, para sahabat, para syekh, lalu disambung dzikir bersama. Seperti itulah....”
Sulton manggut-manggut lagi. “Aku bisa ikut nggak?”
“Silakan, Pak Haji. Tapi, jangan kaget ya, hehehe....”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Nggak, nggak apa-apa...,” Hazri tersenyum.
Faruq dan Romi juga tersenyum simpul.
Selanjutnya, Hazri dan Sulton pun bersiap. Sulton mengajak Zaenab, Zaenab mengajak Maemunah, Maemunah mengajak Siti, Siti mengajak Ria dan Reni. Pas keluar kamar, ketemu Ami yang sudah siap. Masuk semua, kecuali Huda. Ria gagal total membangunkan suaminya.
Di dalam, sang Mursyid sudah duluan. Para keluarga tertegun melihat penampilan Hazri, kecuali Ami tentunya. Setelah beruluk salam, para wanita mengambil posisi di belakang. Sang Mursyid meminta Haji Sulton duduk di sebelahnya.
Hening semua, semua berdzikir. Sang Mursyid meminjamkan tasbihnya kepada Haji Sulton. Masih ada beberapa ikhwan yang datang kemudian. Tepat tengah malam, lampu dipadamkan, harum buhur menyebar. Tawasulan pun dilaksanakan. Maka, Sulton terpesona. ‘Cakra Buana'-nya menari-nari ditabuhi gendang oleh tenaga dalam....
Dan, semakin terkesima mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para ikhwan usai tawasulan, berikut jawabannya dari sang Mursyid. Bicara apa mereka ini? Terasa benar, tapi sulit dicerna akal. Apalagi pertanyaan dari Sukoco yang memang sudah matang hanya belum sempurna itu. Busyet, puyeng Sulton. Jangan kata Sukoco, Komeng saja ‘mengerikan’ ajuan soal-soalnya.
“Mungkin ada yang mau ditanyakan, Pak Haji?” tanya Sang Mursyid.
Sulton menggeleng. Mau nanya apa? Mereka bicara Tunggal melulu.
Hazri memberikan kitab al-Hikam itu kepada Sulton. “Mungkin ada di sini, Pak Haji. Pertanyaan yang dulu-dulu....”
Sulton membolak-balik halaman kitab itu. Ketemu juga apa yang dulu belum sempat ketemu jawabannya. Dia pun bertanya. Sang Mursyid menjawabnya dengan siloka-siloka sederhana, tapi bermakna dalam. Sulton bisa paham walau tetap terasa ada tabir pembatas. Jelas bertabir karena dia belum menerima rahasia al-Irfan. Itulah kunci pembuka tabirnya.
Sementara itu, di barisan belakang diam-diam Reni terus mengamati Hazri. Kalau boleh disebut jatuh cinta, inilah dia. Tulus, sejak zaman SD dulu. Berulang kali putri ketiga Sulton ini menghela napas.
Diam-diam pula, Ami memperhatikan. Perasaan wanita memang tajam soal hal-hal semacam ini. Dia punya firasat kalau Reni mencintai suaminya. Anehnya, tidak ada cemburu, yang ada malah rasa sayang kepada gadis cantik yang mirip wajah dengannya ini. Dia sudah mendengar sedikit kisah penantian Reni dari Ria dan Siti. Walau tidak terus terang, tapi Ami tahu bahwa Mas Mahmudlah yang dimaksud sebagai ‘pria yang ditunggu’ itu. Siapa lagi?
Menjelang pukul tiga dini hari, Hazri mencukupkan tawasulan kali ini. Para ikhwan pun bergantian mohon pamit kepada mursyidnya. Tinggallah Faruq, Sukoco, Sulton, Romi, Komeng, Juki, dan para keluarga.
“Emak, Umi..., belum lelah?” tanya sang Mursyid dengan senyum.
Maemunah balas rersenyum. “Ayo...,” dia mengajak Zaenab. Zaenab mengangguk “Hazri, Emak duluan ya.”
“Iya, Mak.”
Mereka pun saling tersenyum lagi. Bahagia sekali Maemunah mengenai apa yang berlaku atas diri putranya sekarang. Luapan syukur kepada-Nya.
Saat keluar tadi, pandangan Reni bertemu dengan sorot mata Hazri. Jantung gadis cantik ini berdebar kencang. Hazri juga merasakan getaran hati yang terpancar dari putri ketiga Sulton itu. Tapi, dia tidak menghiraukan, dalam arti tidak menjadikannya hijab. Semua kembalikan kepada Yang Maha Mengatur.
Tanpa disadari oleh Reni, Ami memperhatikan kejadian sesaat itu. Tapi, aneh sekali lagi, tidak ada cemburu. Demi Allah, sama sekali tidak ada. Sebagai seorang salik, sedikit banyak Ami telah paham bahwa segalanya Dia. Seperti suaminya, dia pun tak ingin menjadikan itu sebagai hijab. Terserah kepada-Nya.
“Belum lelah, Pak Haji?” Hazri bertanya kepada Sulton yang dilihatnya diam terpekur di sebelahnya.
Sulton menghela napas. Tidak menjawab.
Sang Mursyid tersenyum melihat kemunculan gemericik cahaya di depan dada pamannya. Seperti percikan kembang api kecil berwarna hijau keemasan. Dia pun menunggu kelanjutannya.
Sulton menghela napas lagi. “Aku ingin mengenal-Mu, tapi bagaimana caranya?” dia bergumam pelan. Seperti bicara sendiri.
“Gimana, Pak Haji?” kata sang Mursyid.
“Apa, Zri?”
“Tau tadi....”
Sulton kembali menghela napas. “Allah, aku ingin mengenal-Nya....”
Sang Mursyid pun mengangguk-angguk. “Insya Allah, hari ini.”
“Apa, Zri?”
“Hari ini, hahaha.... Insya Allah.”
Walau belum jelas, tapi Sulton segan bertanya lagi. Entah kenapa.
Faruq dan Romi pamit. Juki juga.
“Ki Sukoco, kalau mau istirahat, ada kamar tamu di sana.”
“Hohoho.... Boleh saya tidur di sini?” Sukoco malah bertanya.
“Silakan kalau Ki Sukoco mau.”
“Terima kasih. Kasur banyak di Banyuwangi. Karpet ini yang tidak ada...,” katanya sambil berhohoho lagi. Dia pun menelentangkan tubuhnya di atas karpet majelis. Sebentar kemudian tertidur. Di luar dugaan, tidak ngorok ternyata.
“Pak Haji, baiknya istirahat dulu. Jangan dipaksa.”
“Iya, iya, Zri. Kau nggak, Meng?”
“Belum ngantuk, Pak Haji, sebentar lagi,” Komeng menjawab.
Hazri tersenyum. Tahu kalau Komeng berkilah.
Selepas Sulton pergi, sang Mursyid dan murid Abah Juhri itu berdzikir hingga menjelang subuh....
__ADS_1