Jalan Pulang

Jalan Pulang
102. masih ada ternyata


__ADS_3

“He, Pak! Mau ke mana?!” seorang pemuda berwajah kasar membentak lelaki yang melintas santai di depannya.


Dan, yang dibentak tenang-tenang saja, terus melangkah. Dari rumah Fahmi, Hazri langsung ke tempat Sapri. Dari dulu dia memang cenderung lebih suka tempat ini. Banyak kenangan lucunya.


“Pak! Hoei...!” merasa diucuekin, anak muda itu berjalan cepat menghampiri. “Aahh...!” serunya kaget sambil menarik tangannya yang ‘kesetrum’ saat menyentuh pundak Hazri. “Berhenti! Kupukul kau...!” bentaknya lagi. Tongkat kayu itu diraih, mengejar, dan langsung menghantam tanpa basa-basi. Tapi, malah dia yang mental, jatuh berguling-guling di tanah sambil mengerang kesakitan.


Teman-temannya pun berdatangan. Terpaksa Hazri berhenti. Ditatapnya anak-anak muda yang mengepungnya itu. Tatapan biasa tanpa tenaga dalam. Terkesiap semua. Bukan sekedar tajam mengiris tatapan ‘biasa’ itu, menggedor jiwa sekalian. Seolah dentum puluhan musik diskotik bersamaan.


Tidak ada yang mampu bicara....


“Siapa bos kalian di sini?” tanya Hazri sesaat kemudian.


Masih diam semua. Sebagian malah menganga.


“Ketua kalian siapa?” tanya Hazri lagi.


“Bang Hazri...,” tiba-tiba ada yang menyapa dari arah samping. Hazri menoleh, langsung ingat dia. Ternyata, Endung alias si Kuncrit yang wajahnya antik itu. Siapa bisa lupakan wajah kura-kura ini? Memang sekarang lebih tua, tapi tetap antik. Malah makin unik. Maka, Hazri pun mesem.


“Betul Bang Hazri ini...?” Kuncrit masih ragu-ragu.


“Apa kabar, Kuncrit?” sapa Hazri.


“Hah? Bang...,” langsung menghambur si Kuncrit itu memeluk Hazri.


Beberapa yang lain, orang-orang yang dulu kenal langsung Hazri pun bertingkah sama. Memeluk bos besar mereka tanpa ragu. Untel-untelan jadinya. Anak-anak muda yang selama ini cuma dengar legendanya itu terpana. Ternyata Hazri Tiger memang ada. Walau pasti ada yang bertanya dalam hati, kok potongannya seperti itu? Tidak ada garang-garangnya? Model guru ngaji di kampung.


“Ada apa ini?!” seseorang berseru nyaring. Kerumunan membuka; yang berteriak itu pun terpana. “Bang Hazri...?”


“Najib? Belum mati juga kau, hahaha...,” sapa Hazri. Masih ingat betul dia wajah ‘anak edan’ yang memaksa ikut perang lawan polisi; yang sudah pengen mati dari dulu itu.


“Bang...,”Najib pun menghambur, paling lama malah meluknya. “Masuk, Bang, masuk...,” dia mengajak Hazri masuk ke rumah yang jadi markas mereka sejak dulu. Belum beres juga rupanya sengketa rumah itu. Kayaknya memang tidak bakal beres sampai ada gempa bumi di situ.


“Kau bosnya sekarang, Jib?” tanya Hazri sambil berjalan.


“Bang Romi yang minta aku,” jawab Najib.


“Hahaha.... Pantaslah kau jadi bos. Susah matinya.”


Najib pun tertawa. “Minggir, minggir. Kasih jalan bos besar kita...,” perintah Najib kepada anak buahnya yang masih berkerumun itu. Langsung minggir semua. Salah seorang maju membawakan tas Hazri. Seperti pejabat saja.


Hazri manggut-manggut. Benar dugaannya, anak pelacur ini berkarisma.


Mereka masuk ke dalam rumah. Hazri terharu melihat kursi kayu yang biasa dia duduki kalau sedang main ke tempat ini dulu ternyata masih ada. Mejanya juga. Dia pun duduk di situ sambil senyum-senyum.


“Mansion, Bang?” tanya Najib.


Hazri nyengir menggeleng. “Kopi saja kalau ada.”


“Kopi? Kopi, Bang?” Bingung Najib. Soalnya dulu Hazri anti kopi.


“Iya, kopi...”


Najib pun mengangguk, lalu keluar sebentar. “Nyamuk, kau ke tempat Kang Burhan minta buatkan kopi. Bilang, yang paling enak. Seteko penuh. Gelasnya sekalian,” katanya ke seorang anak buahnya di situ.


“Kopi? Nggak salah, Bang?” si Nyamuk bingung, bibirnya maju tiga senti.


“Udah, jangan banyak monyong kau. Cepat!” seru Najib.


Nyamuk itu pun terbang ke tempatnya Kang Burhan. Najib kembali masuk.


“Tolong panggilkan Bang Romi sama Bang Tomi,” pinta Hazri.


“Bang Tomi sudah mati,” kata Najib.


“Tomi...?” Hazri terbelalak. “Kenapa? Ketembak?”


Najib menggeleng. “Sakit. Kata dokter, ususnya ada yang rusak.”


“Kapan itu?”


“Sudah lama, ada tiga tahunan lalu. Sakitnya juga lama.”

__ADS_1


Hazri menghela napas. “Jadi, tinggal Bang Romi sekarang?”


Najib mengangguk. “Dipanggil, Bang?”


Hazri mengangguk lalu terpekur diam. Tasbih dikeluarkan dan dipilin pelan.


Selesai meng-SMS Romi, Najib pun ikut diam. Hening beberapa saat di situ.


“Benar kata Bang Romi, Abang masih hidup...,” gumam Najib kemudian.


“Romi bilang begitu?”


Najib mengangguk. “Kita semua nyariin Abang habis kejadian Klaten. Bang Romi yang pimpin. Ke mana-mana dicari nggak ketemu. Eh, jumpanya malah polisi. Bentrok lagi tiga kali. Kampret mereka. Apalagi ketuanya, si Nganjuk itu. Hampir kita bakar rumahnya yang di Kota Baru sana. Bang Romi yang suruh. Untung di situ dijagain polisi seabrek-abrek. Kalau nggak, jadi abu gosok beneran.”


“Banyak yang tewas waktu bentrok?”


Najib mengangguk. “Bang Romi keserempet pinggangnya. Aku tembus di tangan.” Najib membuka lengan atas tangan kirinya. Tampak bekas luka tembakan tembus di situ.


Hazri memejamkan mata. Berapa banyak lagi yang mati?


“Agak ngerem si Nganjuk setelah kita, bebasin anaknya...” lanjut Najib.


“Hah? Kalian tangkap anaknya?” Hazri terkejut.


“Habis nggak mau berhenti dia. Kita bungkus, istrinya kita bebasin biar bisa kasih tahu lakinya. Sopirnya cabut pistol, kita timpe duluan. Tapi, nggak modar, kena paha. Bang Romi yang tembak. Kalau aku, kusikat kepalanya.”


Hazri menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Fahmi tidak cerita soal ini kepadanya tadi. Mungkin tahu Hazri tidak terlibat yang kali itu.


“Laki atau perempuan anaknya?”


“Cewek. Tomboi.”


Berarti si kakaktua itu. “Nggak kalian apa-apakan dia, kan?”


Najib menggeleng. “Cuma disimpan semalam di tempat Bang Item. Besok sorenya dilepas lagi depan rumahnya, sambil dititipin pesan buat babenya.”


Hazri meringis. Nyontek idenya kayaknya Romi ini.


“Makasih. Muk,” ucap Hazri.


“Sama-sama, Bang,” wajah si Nyamuk menyeringai.


Tidak tahan, Hazri pun tertawa. Bagaimana bisa mulut jadi tambah monyong sementara menyeringai? Tahu alasan kenapa Hazri tertawa, Najib jadi ikut tertawa. Sementara yang ditertawai tidak sadar kenapa bos-bosnya itu tertawa.


“Sedang apa kalian di luar sana?” tanya Hazri.


“Lagi ngebahas kesaktian Abang. Bang Kuncrit yang cerita.”


Hazri mesem lalu membuka tasnya. “Nih...,” dia memberikan segepok duit.


“Buat apa ini, Bang?” tanya Nyamuk.


“Ah, kau ini pura-pura culun segala, hahaha...”


Nyamuk pun tertawa. Mata menyipit, mulut maju membuka sedikit. “Makasih, Bang,” katanya senang. Dia segera keluar sambil teriak-teriak kasih pengumuman. Biasa, persiapan mabuk.


Obrolan berlanjut sambil menikmati kopi itu. Eo’ juga ternyata. Hazri hanya berkata kalau dia selama ini sembunyi di suatu tempat yang aman, menjawab pertanyaan Najib soal itu. Tidak ada perbincangan mendalam, hanya mengulas kenangan masa lalu saja. Najib malah yang banyak cerita karena Hazri memintanya. Tentang apa-apa yang terjadi selama dua belas tahun terakhir...


“Sampai sekarang Abang masih jadi legenda. Bukan cuma di kita, anak-anak geng yang lain juga sama. Semua tahu Abang belum ketangkap, Abang masih ada. Pokoknya masih hidup, entah di mana. Jadi, kelompok lain tetap segan ke kita. Apalagi Bang Romi kan sudah terima ilmu itu dari Abang. Takut semuanya....”


Hazri tersenyum. Ada-ada saja Romi, ngaku-ngaku sudah dapat ilmu segala. Tapi, dia tahu alasan anak buah utamanya itu mengakui ini. Asal kuat gertaknya saja, jangan sampai ada yang berani memintanya kasih bukti.


“Temanmu yang dulu itu-mana?”


“Siapa, Bang?”


“Yang pernah ditendang Bang Sodik waktu kalian masih baru?”


“Si Inyong? Kan sudah mati waktu perang dulu itu.”


“Ikut juga dia?”

__ADS_1


“Iya. Bagian jaga di luar.”


Hazri manggut-manggut. Ternyata si Tato Kalajengking itu sudah lama pergi. Baru tahu sekarang dia


“Mana? Mana Bang Hazri...?” terdengar suara khas Romi di luar.


Hazri tersenyum. Siap menerima kemunculan sahabatnya.


“Bang...!” Romi langsung berteriak nyaring saat melihat Hazri. Lari menubruk Hazri dan memeluknya erat. Erat sekali. Lama pula.


Hazri tertawa-tawa. Senang melihat sahabatnya ini sehat, walau tampak jauh lebih tua dari prakiraannya. Kusut lelah wajahnya.


“Di mana Abang selama ini?” tembak Romi begitu melepas pelukannya.


“Ada, Rom, di tempat yang sangat aman.”


“Di mana, Bang? Kucari sampai pelosok ujung Jogja dan sekitarnya, nggak ada. Kusisir mulai Solo sampai Purworejo, kosong. Lenyap ke mana Abang? Polisi sama bingungnya, hahaha....”


“Ada, Rom,” jawab Hazri singkat sambil menatap Romi setelah melirik cepat Najib di situ.


Romi langsung tanggap maksud Hazri. Sangat rahasia rupanya. Dia pun tidak mengusik pertanyaan ini lagi. Nanti saja kalau pas berdua.


“Tomi sudah meninggal?” Hazri mengalihkan topik.


“Iya, Bang. Kena penyakit gula, pangkreasnya rusak. Atau apalah namanya, aku lupa. Pokoknya onderdil perut.”


Hazri mesem sedih. “Dikubur di mana?”


“Kupulangin ke kampungnya di Batak sana. Dia pesan begitu sebelum mati. Keluarganya yang di sini membantu urusan itu.”


“Ada keluarga dia di sini?”


“Orang Batak kan perkumpulanya kuat. Nggak tahu aku, mereka keluarganya beneran atau cuma sama-sama Batak saja. Pokoknya akrab. Ada polisinya juga beberapa orang kulihat di situ, hahaha....”


Hazri meringis. “Terus?”


“Pelotot-pelorotanlah, tapi sama-sama nahan diri. Ini kan acara duka. Untung mereka nggak jualan. Kalau buka harga, kubayar kontan di tempat.”


Hazri mesem lagi. “Jadi, sendirian kau setelah itu?”


“He-eh. Sunyi sepi sendiri, sejak Bang Hazri pergi...,” Romi melantun lagu.


Hazri terkekeh. “Yah..., sorry, Rom.”


Romi tertawa kecil. “Memang harusnya begitu. Hebat Abang bisa menghilang seperti itu. Kagum aku. Padahal, polisi seabrek-abrek nyari Abang. Bingung Fahmi dicecar wartawan. Habis dipuji, dicemooh rame-rame, hahaha....”


“Oya?” Hazri baru tahu.


“Emang Abang nggak lihat beritanya di TV?”


Hazri menggeleng. “Nggak ada TV, nggak ada radio.”


“Oya?” Giliran Romi baru tahu. “Nggak ada sinyal juga?”


Hazri mesem, tahu maksud Romi. “Handphone-ku hancur kesambar peluru. Semua nomor ada di situ. Sendirianlah aku. Sama seperti kau.”


Romi manggut-manggut. Benar dugaannya kenapa Hazri tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi.


Hazri menyeruput kopinya. Nikmat betul.


Romi mendelik. “Apa ini? Kopi? Apa-apaan kau, Jib? Mansion...,” katanya menegur.


Najib cengengesan saja.


“Aku yang minta kopi,” kata Hazri.


“Heh? Abang ngopi sekarang? Sudah kebalik apa dunia? Hahaha...,” Romi tertawa. Dia tahu persis dulu Hazri anti-kopi.


“Abang mau Mansion?” tanya Najib ke Romi.


“Apa aja yang sedang ditenggak anak buahmu itu. Aku minta sedikit.”

__ADS_1


Najib mengangguk, keluar ambil jatah. Dia juga pengen. Apaan kopi? Cuma tadi segan ke Hazri. Sekarang kan ada wakil bos besarnya. Cihuilah. Sebentar kemudian dia masuk bawa dua botol Mansion dan sebotol Vodka. Hazri meringis. Tinggal Kratingdaeng, lengkap adonannya. Tapi, tidak tergoda dia sekarang. Senyum saja melihat dua anak buahnya itu nyekek botol.


__ADS_2