
“Ada apa, Ustadz?” tanya Hazri. Dari tadi dilihatnya Faruq terus menerus memperhatikan dirinya. Mereka sedang di masjid selepas shalat ashar berjamaah. Seperti biasa, Hazri bersila di pojok belakang memutar tasbih. Faruq tengah bersiap mengajar mengaji murid-muridnya?
Faruq langsung menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Pak Haji.”
Besoknya begitu lagi. Sama, Faruq bilang tidak ada apa-apa.
Lusanya Faruq malah tidak hadir di masjid. Tidak ada kabar ditunggu sampai lepas isya’ tetap tidak muncul. Rencananya setelah ganti pakaian Hazri mau ke rumah Faruq. Rasanya ada apa-apa ini ustadz. Tidak biasanya banyak melongo seperti dua hari kemarin. Tidak pernah juga tidak hadir tanpa memberi kabar. Langkah kaki pun dipercepat menuju rumah.
Kaget Hazri melihat Faruq duduk bengong sendirian di teras depan. Tidak ada siapa-siapa di rumah karena si Fia sudah sejak kemarin ‘diculik’ kakeknya. Terpaksa Ami menemani menginap di sana, dengan izin suaminya tentu.
“Assalamu’alaikum, Ustadz? Ngapain?” tanya Hazri.
“Wa’alaikum salam,” Faruq meringis. “Nggak ngapa-ngapain, Pak Haji, pengen ngadem saja di sini.”
Hazri tertawa kecil. “Nggak ngapa-ngapain, tapi bengong begitu. Pakai alasan ngadem segala. Emangnya ada tempat panas di Tidar?”
Faruq meringis lagi. “Kepala yang panas nih. Nyut-nyutan.”
“Hehehe.... Kenapa? Distop jatah sama istri?”
Terpaksa Faruq ikut tertawa.
“Ayo masuk...,” ajak Hazri.
“Di sini sajalah, Pak Haji.”
“Kalau gitu sebentar ya, saya bikin kopi dulu. Si Adek lagi di mertua.”
“Nggak usah repot-repot, Pak Haji.”
“Halah, kopi saja...,” Hazri langsung nyelonong masuk ke rumah. Tidak lama dia kembali membawa dua gelas kopi dan sekaleng biskuit.
“Nah, sekarang boleh curhat kalau mau. Saya terima semua problem, asal bukan soal distop jatah, hehehe.... Itu wilayah khusus.”
Faruq tertawa kecil, lalu bengong lagi memandangi Hazri.
“Hoei, Ustadz? Kenapa sih? Jatuh cinta sama saya? Dari kemarin diperhatikan melototin saya terus?” Hazri tertawa.
Faruq tidak tertawa, malah menghela napas panjang.
“Ayo bilang. Ada apa?” penasaran juga Hazri.
“Tapi, saya minta maaf dulu sebelumnya ke Pak Haji...”
“Waduh, menyangkut saya rupanya?”
Faruq mengangguk.
Giliran Hazri menghela napas. “Oke, ada apa?”
“Eemm.... Apakah Pak Haji seorang Mursyid?” tanya Faruq setelah agak lama terdiam. “Tapi, maaf lho, Pak Haji, bukan maksud saya kurang ajar.”
Kaget juga Hazri mendengar itu. Sebulan telah berlalu sejak dia menerima haqullah untuk membimbing manusia yang butuh kebenaran sejati. Sesuai pesan gurunya, Hazri tidak mengharap-harapkan murid. Kalau memang ada yang datang dia siap membimbing, tapi tidak diharap-harap. Hazri tahu Faruq mencari, tapi dia sama sekali tak menduga sahabatnya ini datang kepadanya. Prakiraannya Faruq bakal ketemu mursyidnya sendiri yang bukan dia. Entah siapa dan di mana.
“Kenapa Ustadz menduga begitu?”
“Karena tiga mimpi yang sama. Tiga hari berturut-turut,” jawab Faruq tegas. Dia pun menceritakan mimpinya itu. Dikisahkan bahwa Mama Ajengan Sepuh hadir dan berkata, “Faruq, Mursyidnya dekat....”
“Kemudian muncul bayangan tangan memutar tasbih. Tasbihnya itu...,” Faruq berhenti sejenak memperhatikan tasbih yang sedang dipilin oleh Hazri. “Subhanallah! Benar tasbih Pak Haji rupanya!” dia berseru kaget. “Kenapa baru sekarang saya perhatikan?”
__ADS_1
Tasbih kauka milik Hazri ini memang agak unik. Tidak punya rumbai-rumbai seperti biasa. Kepala tasbihnya membulat lancip seperti kubah masjid. Biji kauka yang jadi kepala tasbih itu berwarna hitam kemerahan. Biji-biji yang lainnya hitam keling sempurna.
Hazri mengangguk-angguk.
“Itu hari pertama. Besoknya mimpi lagi. Pesannya sama, tapi yang ini gambar kepala orang dari belakang. Maaf, Pak Haji, boleh saya lihat kupluknya?”
Hazri melepas kupluknya dan diserahkan ke Faruq.
“Subhanallah!” Kembali Faruq berseru kaget. “Ya Allah....”
“Kenapa, Ustadz?”
“Kupluk di mimpi saya juga berlubang....”
Hazri tersenyum garuk-garuk kepala. Kupluk putihnya memang berlubang seukuran receh lima puluhan di bagian belakangnya. Gara-gara dipakai bahan latihan menggunting oleh si Fia. Seperti biasa Hazri tidak merasa perlu mengganti barang kalau belum runyam total, walau sekedar kupluk.
“Kemarin dulu Pak Haji ke masjid tidak pakai kupluk sih. Tapi, saya memang nggak terlalu perhatian ke gambaran tasbih maupun kupluk. Ucapan Mama Ajengan Sepuh itu yang kepikiran terus. Mursyidmu dekat. Dekat di mana? Siapa? Yang dekat dengan saya urusan agama ya Pak Haji. Cuma, apa iya, apa iya?”
Hazri manggut-manggut. “Terus?”
“Datang mimpi ketiga tadi... eh, kemarin malam berarti. Pesan sama juga, cuma gambarnya burung merpati. Awalnya seekor, terus jadi banyak sekali. Siapa lagi yang punya merpati sebanyak itu dekat-dekat sini? Pak Haji, kan?”
Hazri pun menghela napas panjang. Tasbih terputar lambat penuh perasaan. Sebutir demi sebutir.
“Gimana, Pak Haji? Apakah betul ini?”
“Kalau saya boleh tahu, apa sebenarnya niat Pak Ustadz?” Hazri mengabaikan pertanyaan Faruq barusan. Langsung masuk ke bagian tanda khusus, seperti yang dulu pernah ditanyakan Pak Subakir kepadanya.
“Niat yang mana? Niat menceritakan mimpi itu?”
“Bukan. Niat Pak Ustadz mencari mursyid.”
“Saya ingin mengenal Allah,” jawab Faruq mantap.
“Memangnya Ustadz belum kenal Allah?” pancing Hazri nyengir.
“Ah, Pak Haji ini. Kan dari dulu sudah sama-sama tahu kalau saya nggak tahu. Boro-boro kenal, tahu juga nggak.”
“Masak? Ustadz kan banyak hafal dalilnya?”
“Itulah. Makin banyak saya hafal malah makin bingung.”
“Oya? Kok bisa malah bingung sih?”
“Entahlah. Melompong rasanya. Hampa, kosong. Seperti itulah.”
Hazri manggut-manggut. Rehat kopi dulu, masing-masing menyulut rokok.
“Ayat pertama al-Ikhlas, Qulhu Allahu Ahad, apa artinya?” lanjut Hazri.
“Apaan sih, Pak Haji?” Faruq mesem. Ayat itu sih hafal luar kepala dia.
“Yee, saya tidak tahu artinya” kata Hazri.
“Bercanda nih?”
“Serius.”
“Katakan, Allah itu Tunggal...,” kata Faruq akhirnya. Macam-macam saja Pak Haji tanya-tanya beginian, celotehnya dalam hati.
__ADS_1
Hazri tertawa. “Itu sih terjemahannya, Ustadz. Artinya? Maknanya?”
Faruq terkesiap. Benar, itu terjemahannya. Apa maknanya? “Pokoknya Allah Maha Tunggal. Sudah, begitu saja,” dia paksakan diri menjawabnya.
“Ah, masak? Emang di mana adanya Tanggal itu?”
“Nah ini. Dari dulu kira macet terus di sini.
“Hehehe...,” Hazri terkekeh. “Mau tahu?”
Faruq menatap tajam Hazri. “Sebentar, Pak Haji, balik ke pertanyaan pertama tadi. Pak Haji ini mursyid bukan?”
“Mau tahu nggak di mana ada-Nya?” tantang Hazri lagi sambil tersenyum.
Faruq masih menatap Hazri, lalu mengangguk pasrah.
“Siap dibaiat?”
“Harus baiat?” tanya Faruq.
“Iya, karena ilmunya al-Irfan. Ilmu hakikat ketuhanan.”
Faruq melongo. Dia teringat ucapan Mama Ajengan Sepuh waktu di pesantren dulu, “Faruq, temukan orang yang paham al-Irfan kalau kamu mau kenal Allah”. Begitulah pesannya setelah mengatakan kalau bakal mursyidnya dekat. Hazri adalah orang kedua yang berkata ‘al-Irfan’ kepadanya setelah Mama Ajengan Sepuh waktu itu. Faruq juga tidak asing dengan istilah baiat. Dari pelajaran di pesantrennya dulu, dia paham pengertian baiat sebagai sumpah suci kepada Allah. Bentuk dan tata caranya beragam, tapi maknanya sama. Seharusnya begin kalau tidak diselewengkan.
“Kenapa, Ustadz? Takut baiat?” Hazri bertanya karena dilihatnya Faruq lama terdiam.
Faruq menggeleng. “Apa benar Pak Haji menguasai al-Irfan?”
“Setiap manusia yang mengenal Allah, pasti paham al-Irfan.”
Faruq mengangguk-angguk. “Berarti Pak Haji benar seorang mursyid?” ditatapnya Hazri meminta ketegasan soal ini.
“Haqullah. Demikian sebenarnya, Ustadz.”
Mata Faruq langsung berkaca-kaca. Sekian lama mencari mursyid, kesana-kemari, ternyata Haji Mahmud. Haji Mahmud yang sahabatnya itu, yang menukar mobil dengan motor butut, yang menyediakan dana non-budgeter, yang minta diantar saat melamar putri Pak Juned, yang bapaknya si Fia, yang tasbihnya antik, yang kupluknya bolong, yang burung merpatinya banyak... Haji Mahmud ternyata, bukan siapa-siapa. Begitu dekatnya.
“Sejak kapan, Pak Haji? Apakah sudah sejak awal kita jumpa?” Faruq bertanya dengan mata sembab.
Hazri tersenyum menggeleng. “Haknya saya terima sebulan lalu. Tujuh tahun lebih saya dibimbing seorang mursyid dalam perjalanan ruhani,”
“Jadi, sekian tahun ini Pak Haji belajar hakikat?”
Hazri mengangguk.
“Kenapa tidak memberi tahu saya?”
“Seperti kata Mama Ajengan Sepuh, jodoh-jodohan. Beberapa kali saya coba memberi tahu Ustadz dengan siloka, tapi kayaknya memang belum waktunya ketika itu. Pak Ustadz pasti paham bahwa hal ini bukan pengumuman. Begitulah syariatnya. Hakikatnya, ya kehendakNya.”
Faruq mengangguk-angguk. Air matanya meleleh.
“Sudahlah, Ustadz. Syukuri apa yang telah ditetapkan Allah untuk kita masing-masing. Kita ini sekedar budak di hadapan-Nya, maka tetaplah menjadi hamba. Hamba yang sebenar-benarnya hamba. Yang sepenuh rasa berserah diri kepada kehendak Tuannya.”
Faruq mengangguk lagi sambil menyusut air matanya. Lalu, tersenyum.
Hazri pun terharu bahagia. Sangat bersyukur bahwa akhirnya sahabatnya ini bisa berjumpa dengan mursyidnya, yang kebetulan dirinya sendiri.
“Ustadz, kalau benar sudah siap, datanglah kemari tengah malam nanti. Sekarang pulang dulu. Shalat, mandi, makan. Calon sufi mestinya bahagia. Masak kusut begini? Nggak matching ah...,” Hazri mesem.
Faruq pun tersenyum. “Insya Allah, Pak Haji. Nanti tengah malam.”
__ADS_1
Hazri mengangguk. Sepakat.
Mereka pun berpisah sejenak mempersiapkan diri masing-masing. Hazri juga harus bersiap diri karena Dia menghendakinya menjadi mursyid bagi manusia lain. Tugas yang maha berat. Memanggul sejagat alam pun jauh lebih ringan daripada ini. Mana bisa sejagat alam lebih berat daripada Yang Memilikinya. Sedangkan semesta raya hanya sekedar di antara jepitan dua jari-Nya, al-Jalal dan al-Jamal. Maha Perkasa dan Maha Indah....