
“Buat apa bikin rumah di hutan begini, Pak Haji? Bagus di bawah sana, dekat balai desa...,” Karno bingung.
Hazri menggeleng. “Ramai.”
“Lho, bukannya malah bagus kalau ramai?
Hazri menggeleng lagi.
Karno pun geleng-geleng kepala. Apa maunya ‘Haji Mahmud’ ini? Duit banyak, tapi malah mau bikin rumah di pinggiran hutan. Ngapain? Sepi begini? Bangsa demit saja barangkali yang bercokol di sini.
“Yang mana nih Pak Karno tanahnya?” tanya Hazri.
“Benar Pak Haji mau di sini?” tanya Karno belum yakin.
“Benar..”
Karno pun menghela napas. “Ya sudah, terserah Pak Haji maunya yang mana. Tunjuk saja. Ini sih tanah desa, biar nanti saya urus ke Pak Kades.”
“Oo, nggak ada yang punya tanah ini?”
Karno menggeleng. “Siapa mau seram begini?”
Hazri cengengesan.
Lalu, mereka pun berjalan keliling melihat-lihat lokasi. Hazri membebaskan pikirannya, dibiarkan saja rasa yang menuntun. Beberapa posisi yang ditunjukkan Karno terpaksa ditolak karena tidak ada bunyi di hatinya. Sampai akhirnya ketemu juga yang pas dengan rasanya itu.
“Di sini...,” katanya.
Karno menghela napas, lalu mengangguk-angguk. “Bagus di sini, dekat mata air. Mau berapa luas, Pak Haji?”
“Seratus dua ratus meteran cukup.”
Karno mendelik lalu tertawa keras. “Hahaha....Kalau cuma segitu ambil saja, Pak Haji, nggak usah bilang Pak Kades segala, hahaha....”
Tanah segitu di tengah hamparan hutan memang seupil mungil.
“Secuil juga kan tanah desa. Mesti izin Pak Kades dong.”
“Hahaha..., iya, iya..., nanti saya urus, hahaha.... Pak Haji, Pak Haji...,” Karno terus terkekeh.
Hazri pun geleng-geleng kepala. Benar kata Pak Subakir, belum apa-apa saja dia sudah mulai kelihatan edan di mata awam.
“Oke, oke.... Haduuhh..., terus mau bikin rumahnya kayak gimana, Pak Haji?” tanya Karno, masih ada sisa-sisa ketawa di bibirnya.
“Biasa, rumah bilik saja, Pak Karno.”
“Hahaha...,” Karno pun tertawa lagi. Terus terkekeh sambil duduk di atas batu besar, susah dipaksa berhenti. Mesti dihabiskan sekalian tampaknya.
Hazri geleng-geleng kepala. Lalu, tersenyum melihat Karno yang gagal terus menghentikan tawanya. Pelan-pelan dia ikut terpancing. Selanjutnya, mereka berdua pun terkekeh sambung menyambung di tengah hutan. Mirip orang gila. Untung tidak ada yang lihat. Bagi Karno, tawanya itu sekedar lucu. Tapi, bagi Hazri jelas lain sekali karena semuanya telah menjelma menjadi tasbih-Nya.
Maka, rumah itu pun jadi dibangun. Pak Kades memberi izin pemakaian tanah desa di situ, berapa pun luas yang dibutuhkan. Karno menentang keras keinginan Hazri yang cukup dengan rumah bilik bambu. “Janganlah, Pak Haji, kasihan saya. Apa kata orang nanti? Dasar si Karno tidak tahu diri, masak Haji Mahmud cuma dibuatkan rumah gubuk di pinggir hutan?” katanya minta pengertian. Hazri pun bisa memakluminya. Akhirnya, mereka sepakat rumah kayu yang hendak dibangun di situ. Soalnya Hazri tetap ngotot tidak mau rumah modern yang bersemen dan berbata.
Karno jadi pimpronya. Tidak tanggung, dia minta bantuan temannya yang ahli kayu dan seorang lagi arsitek barangkali. Mereka bertiga pun sibuk merancang dan membangun tanpa melibatkan Hazri lagi. Repot kalau ‘Haji Mahmud’ ikut campur kasih pendapat. Seleranya itu lho..., “Pokoknya Pak Haji terima beres. Rumah kayu, kan?” kata Karno. Hazri pun menyerah, malas debat dengan Karno urusan ini. Soalnya galakan dia daripada yang punya rumah. Karno pun tenang-tenang saja karena tahu duit CV Marno Sugeng Doro banyak. Bikin sepuluh cottage atau vila mewah sekalian juga bisa kalau mau. Nyebelinnya, Faruq ikut mendukung pula.
Sementara vila itu sedang dibangun, Hazri tetap tinggal di rumah bilik bambu kesayangannya. Istiqamah berdzikir sebagaimana amanat mursyidnya. Tapi, sekarang kebanyakan di dalam rumah saja, tidak di bawah pohon rambutan. Khawatir sakar di situ, menangis sesenggukan atau tertawa terkekeh-kekeh sendirian seolah tanpa sebab. Salah-salah bisa dianggap edan betulan nanti oleh mereka yang tidak tahu. Sore ini, Hazri barusan kembali dari meDekok proyek Karno. Setelah mandi dan shalat ashar, dia duduk di sofa ruang tamunya. Berdzikir sambil menyimak siaran televisi. Lumayan, ada kartun Tom and Jerry yang memang dia sukai sejak zaman kanak-kanak dulu. Masih bisa tertawa dia melihat kartun abadi itu.
“Assalamu'alaikum, Pak Haji...,” terdengar sapaan dari luar.
“Wa’alaikum salam,” balas Hazri. Segera pintu dibuka.
Ternyata Faruq, bersama seorang perempuan berkerudung hijau muda. Perempuan itu mengangguk kecil kepadanya sambil tersenyum manis. Hazri pun terpana sejenak. Antara sadar dan tidak, seolah Zilfa berdiri di hadapannya. Entahlah, selalu saja mirip Zilfa setiap perempuan yang bisa menggetarkan hatinya.
“Eh, mari silakan masuk. Ayo, Ustadz...,” katanya agak gugup.
Faruq nyerengeh menahan senyum. Lalu, mereka pun masuk dan duduk di sofa murah meriah itu.
Dari sudut matanya, Hazri mencuri-curi pandang. Kerudung hijau muda itu tersibak-sibak pelan dimainkan semilir angin yang berhembus. Ya Allah, cantik nian jamal-Mu ini..., dia mendesah dalam hati. Faruq nyerengeh lagi melihat Hazri yang jelas sedang terpesona itu. Sesama lelaki pasti tahu. Ibarat sesama bus kota dilarang saling mendahului. Tahu sama tahulah.
Jamal atau al-Jamal adalah sifat Keindahan Ilahiah, Maha Indah. Sifat yang umum disentuhkan kepada wanita dan semua yang indah-indah. Pasangannya adalah al-Jalal, Maha Perkasa. Sifat yang biasa dipadankan kepada semua hal yang tampil perkasa semisal petir atau guruh. Termasuk juga manusia laki-laki.
“Ini, Ami, mau silaturahmi ke Pak Haji katanya. Baru balik dari Jogja dua hari lalu,” Faruq membuka pembicaraan.
Ah, bercanda Guru. Kenapa tidak bilang kalau cantik? Hazri meringis dalam hati, teringat ucapan Pak Subakir tentang seorang ikhwan perempuan di Tidar yang akan segera balik dari Jogha. “Ami?” dia pun bertanya.
“Iya, Pak Haji. Nama saya Aminah, orang-orang yang memanggil Ami.”
“Biasa, nama gaul...,” Faruq menimpali sambil cengar-cengir.
“Mau siapa namanya, tetap saja cantik.”
Busyet, Hazri kaget sendiri bisa keceplosan berkata itu.
Faruq tertawa. Ami tersipu malu.
“Sudah turun, Ami?” tanya Hazri. Maksudnya ke Progo.
Ami menatap Hazri. Sejenak mereka pun saling memandang. Lalu, dia mengangguk pelan. Hazri pun mengangguk. Sama-sama paham.
“Turun ke mana sih?” Faruq heran. Kan barusan kenal?
__ADS_1
“Turun dari Jogja ke Tidar...,” kilah Hazri.
“Ooh, naik dong bukan turun. Jogja kan dibawah, di sini gunung.”
Hazri cengengesan. “Suka-suka Ustadz sajalah.”
Obrolan ramah tamah pun berlanjut. Hazri meminta bantuan ceweknya Marno yang bagian adminitrasi itu untuk menyediakan suguhan. Teh hangat dan kue kering berkelas yang biasa untuk suguhan para pelanggan peternakan pun terhidang.
“Saya janda, Pak Haji. ..,” kata Ami. Lebih baik dia langsung yang bilang daripada nanti ‘Haji Mahmud’ tahu dari orang. Soalnya, diam-diam hatinya bergetar juga. Siapa tahu siapa tahu....
Hazri tersenyum, dia sudah tahu tentang itu dari Pak Subakir.
“Janda kembang...,” celetuk Faruq cengengesan. “Jangan khawatir.”
Senyum Hazri makin lebar mendengar itu. “Khawatir apa, Ustadz? Aminya sendiri nggak khawatir kok?”
“Percaya kalau Dek Ami sih. Ini, Pak Haji-nya...”
“Lho, kok saya?”
“Benar nih? Nggak bakal nyesal?” tantang Faruq sekalian.
Mereka saling menatap, lalu tertawa bersama.
Ami pun kembali tersipu. Dia bukan gadis mentah untuk bisa paham apa yang sedang diributkan dua tokoh desa ini. Apalagi infonya sudah jelas bahwa ‘Haji Mahmud’ masih sendirian, alias jomblo.
Obrolan terus berlanjut. Kaget Hazri waktu tahu Ami tinggal di rumah yang dulu dikontrak Bagas. Itu rumah orang tuanya. Sepeninggal Iis orang tua Ami kembali ke rumah itu. Beberapa bulan setelah suaminya meninggal terkena serangan jantung mendadak, Ami pun kembali ke rumah orang tuanya itu. Tidak tahan digodain terus katanya. Maklum, janda muda cantik. Hazri pun mengakui soal cantiknya ini.
“Kang Nurdin dimakamkan di mana?” tanya Hazri.
“Di pemakaman sini, Pak Haji,” jawab Ami.
Hazri lalu menggambarkan ciri-ciri seseorang. “Itu Kang Nurdin?”
Ami mengangguk, matanya agak berkaca-kaca. Dia tidak terkejut, karena Pak Subakir sudah memberi tahu bahwa tingkatan Hazri telah khawasul khawas. Hal macam ini bukan sesuatu yang aneh bagi mereka yang sudah khususnya khusus. Ami belum sampai tahap itu dalam perjalanan ruhaninya. Banyak hijab kelihatannya.
Faruq yang kaget. “Tahu dari mana, Pak Haji?”
“Eemm, ada yang cerita ke saya. Juragan susu sapi, kan?” kilah Hazri.
Faruq dan Ami sama-sama mengangguk. Tapi, Faruq kelihatan masih curiga.
“Siapa yang cerita?” dia menyelidik.
“Mang Imron,” kilah Hazri lagi. Itu yang terbersit dalam hati. Dzauqiyah.
Padahal, yang sebenarnya adalah Nurdin sendiri yang ‘datang’ menemui Hazri empat hari lalu. Malam menjelang dini hari, saat Hazri sedang larut berdzikir. Mengenakan pakaian serba putih dikawal dua ‘orang’ yang wujudnya mirip kabut keemasan. Wajahnya cerah. Setelah mengucap salam, memperkenalkan dirinya dan menitipkan istrinya, dia pun pergi lagi. Percaya tidak percaya. Tapi, Allah memang telah bersabda, “Jangan kalian kira mereka mati....” Siapakah mereka? Yang tegak shalatnya.
Sambil ngobrol, Hazri tidak berhenti memutar tasbih. Ami memperhatikan. Lalu, dia pun meloloskan tasbih mungil yang melingkar seperti gelang di pergelangan tangannya. Hazri tersenyum. Faruq meringis, tasbihnya ketinggalan di rumah. “Lain memang kalau sudah ada gejala. Mutar tasbih pun bisa kompak begitu ya...,” sentil Faruq.
Hazri dan Ami mesem-mesem saja.
“Dulu nikah umur berapa Ami?” tanya Hazri kemudian.
“Nah ini. Sudah mulai masuk pertanyaan nakal. Jangan dijawab, Dek, biar saya yang hadapi,” kata Faruq sambil cengengesan.
Hazri tertawa kecil, Ami merona malu.
“Dua puluh tahun. Begitu selesai SMA dan masuk kuliah langsung disabet Nurdin. Biasa, kalau yang cantik memang harus buru-buru dipetik,” lanjut Faruq..
“Wah, kok Pak Ustadz tahu? Jangan-jangan naksir dulu?” goda Hazri.
“Iya juga sih, hehehe...,” Faruq tertawa. Ami melotot kecil. Hazri cengengesan. “Saya penghulunya. Hayo, Pak Haji mau tanya apa lagi? Umur? Sekarang berarti dua puluh empat. Belum punya anak karena rumah tangga sama Nurdin juga belum genap setahun,” lanjut Faruq.
“Ooh ya?” Hazri memandang Ami.
Ami mengangguk. “Kang Nurdin perginya tiba-tiba, padahal nggak punya sakit jantung. Dia ngerasa masuk angin, minta dikerokin. Terus meninggal.”
“Berarti sudah...berapa, Mi? Tiga tahunan ya ?” tanya Faruq.
Ami mengangguk.
“Waktu Pak Haji pindah ke sini, Ami masih melanjutkan kuliahnya. Semester akhir kayaknya,” lanjut Faruq.
“Rencana mau S2 lagi ke sana?” tanya Hazri.
“Halah, jauh-jauh ke Jogja. Sudah di sini saja...,” Faruq Sigap menangkis sambil mengedip ke Hazri.
Ami yang melihat itu pun kembali menunduk tersipu. Hazri cengar-cengir.
“Cukup infonya?” pancing Faruq lagi.
Hazri dan Faruq pun tertawa-tawa pelan.
Obrolan pun berlanjut beberapa saat lagi. Sampai silaturahmi ini dicukupkan oleh Faruq. Yang penting dia sudah tahu ‘Haji Mahmud’ ada getar-getar. Gampang nanti tinggal ditabuhin gendangnya.
Setelah saling mengucap salam, Faruq dan Ami pun beranjak. Hazri memandang lenggang tubuh Ami yang sedang berjalan itu.
“Yaa Allah...,” dia pun mendesah pelan, lalu menghela napas panjang.
__ADS_1
“Mar, Mbak duluan ya...,” sapa Ami saat melintasi Marno yang sedang nongkrong bareng teman-temannya, para pekerja peternakan ini. Sudah lepas jam kerja. Di hadapan mereka ada sebuah sepeda motor baru model sporty. Ceweknya, yang bagian administrasi itu, nempel terus kayak prangko.
“Iya, Mbak...” balas Marno sambil tersenyum.
“Makin cantik saja Mbak Ami ya?” Marno berkomentar setelah Ami dan Faruq agak jauh di sana, lupa dia kalau ceweknya ada di situ. Ngambeklah dia.
Teman-temannya tertawa. Hazri juga. Lucu melihat Marno kewalahan merayu ceweknya itu. Merasa tertarik, Hazri pun menu ke sana.
“Motor baru, Mar?” dia bertanya.
“Eh, iya, Pak Haji,” jawab Marno.
Melihat kemunculan Hazri, terpaksa cewek itu menunda dulu ngambeknya. Gampang nanti diteruskan lagi kalau perlu.
“Punya siapa?” tanya Hazri lagi.
“Saya, Pak.”
“Honda Tiger ya?” ingat Hazri dengan motor Tigernya dulu. Motor yang sangat disegani seantero Jogja.
Marno mengangguk.
Hazri pun mencoba-coba gas motor itu. “Bagus, Mar. Buat sayalah....”
“Pak Haji mau? Nanti saya ambilkan.”
“Sudah yang ini saja. Kamu ambil lagi.”
“Eeem, tapi yang ini sudah atas nama saya surat-suratnya, Pak?”
“Nggak apa-apa, bagus malah. Saya nggak perlu repot-repot ke Samsat, kan?” Hazri tertawa.
Marno pun tertawa. “Ya sudah kalau begitu, Pak Haji. Paling besok atau lusa surat-suratnya beres.”
Hazri mengangguk. “Kredit ini, Mar?”
“Tunai bertahap. Bayar enam kali nggak pakai bunga, asal bisa bawa yang lain ambil kreditan motor.”
“Ooh gitu. Jadi, kalian juga pada ngambil motor?” tanya Hazri ke yang lain.
Hampir semua mengangguk. “Yang bebek saja, Pak Haji. Sudah cukup banget itu. Kaget rasanya kita bisa kredit motor...,” kata salah seorangnya.
“Bagus, bagus. Mudah-mudahan manfaat ya,” kata Hazri.
Mereka pun mengangguk lagi.
“Jadi, bebek butut itu selesai dong, Pak Haji?” tanya Marno. Maksudnya motor bebek uduk-uduk mantannya Faruq.
Hazri tertawa. “Biarlah di situ. Banyak kenangannya.”
Marno nyerengeh. “Yang ini buat ngeboncengin Mbak Ami ya, Pak?” pancingnya rada menggoda.
Hazri tertawa saja, tidak menjawab. Habis memang benar sih. Siapa tahu Ami mau ke Progo barengan. Repot kalau pakai motor doyok itu, jangan-jangan tidak kuat nanjak ditumpangin berdua. Mana pernya sudah aus, keras gujlak-gajluk.
“Makin cantik Mbak Ami pulang dari Jogja. Jadi, anak kota, putih ya, hehehe.... Kayak cewek blasteran,” celetuk Marno.
Teman-temannya tertawa, Hazri mesem. Ceweknya manyun.
“Jangan cemburu, Marni. Cintaku bulat hanya kepadamu...” Marno cengengesan. Cewek itu pun mencubit lengannya, jinak-jinak merpati betina.
“Dirasa-rasa, kasihan juga Mbak Ami itu. Kebanyakan yang suka sih. Sampai harus ngungsi ke Jogja segala. Sebentar juga, kalau orang, orang sudah pada tahu dia ada, bakal ramai lagi rumah Pak Junet dikerubutin laki-laki,” kata Marno polos.
“Gitu ya, Mar?” Hazri terpancing.
“Iya, Pak Haji. Memang cantik sih. Janda juga lainlah. Huh, jauh banget kalau dibanding sama Bu Susi dan kawan-kawannya hehehe....”
“Kang...,” Marni menegur pacarnya.
“Emang iya. Iya nggak?” Marno minta dukungan teman-temannya.
“Betul, Bos...,” sahut mereka. “Kayak air susu dibalas air tuba,” celetuk salah seorangnya. Mereka pun terkekeh-kekeh sok tahu. Apa maksudnya?
“Kecuali kalau Pak Haji yang datang. Hemh, kalang kabut semua...”
“Ah, kamu ini, Mar. Bisa aja.”
“Betul, Pak Haji. Pak Kades saja masih dilawan kalau soal Mbak Ami. Nggak ada duanya sih di Tidar. Eh, kecuali Marni-lah ya, hehehe..., lupa aku.”
Anak-anak itu pun terpingkal. Hazri tertawa. Marni pura-pura merengut.
“Memangnya Pak Haji nggak naksir sama Mbak Ami?” tanya Marno lagi. Anak ini memang blak-blakan kalau bicara.
“Kang...,” Marni menegur lagi.
Hazri tertawa saja, tidak mengeluarkan pernyataan. Lalu, beranjak kembali ke rumah. “Itu motornya taruh di sini ya,” katanya sambil berjalan.
“Iya, Pak,” Marno cengengesan.
Tahu dia....
__ADS_1