Jalan Pulang

Jalan Pulang
95. nggak sembarangan


__ADS_3

Setelah kedatangan Sukoco, bermunculanlah orang-orang lainnya ke tempat Ki Mahmud Tidar ini. Dari mana-mana, bahkan ada dari luar Jawa. Semua adalah manusia-manusia yang sedang mencari kesejatian dalam dirinya. Ada yang mengaku tahu dari pesan gaib seperti Sukoco, ada yang merasa seperti dituntun ke situ, ada pula yang diberi tahu oleh mereka yang lebih dulu berbaiat.


Memang tidak semua langsung jelas bertanda. Ada sebagian yang tandanya masih samar-samar. Tugas sang mursyid untuk membantunya menyadari niat sejati atas hal ini. Sebab, niat yang benar adalah gerbang pertama menuju-Nya. Yang benar saja masih bisa terhijab di perjalanan oleh bermacam ronggeng monyet jika kurang teguh memegang tarekat, apalagi yang memang sudah salah dari awal. Dijamin rontok di tengah sirathal mustaqim ini.


Tidak sedikit juga yang terpaksa ditolak karena sang mursyid tidak melihat tanda sama sekali dalam diri mereka. Samar-samar pun tidak ada. Kentalnya, niat selain Allah. Kebanyakan ingin punya kemampuan supranatural atau ingin mendapat kemuliaan duniawi. Walau sudah ditahan namun kabar soal kemampuan lebih atau sebutlah karamah yang ada pada diri Ki Mahmud Tidar memang tidak bisa dibendung sepenuhnya. Pelan-pelan merembes keluar. Hazri mengembalikan semua itu kepada-Nya. Dia tetap tidak merasa berhak atas apa pun. Apa hak makhluk?


Karena jumlah ikhwan yang terus bertambah maka Hazri meminta izin kepada mursyidnya untuk memakai nama ‘Safinatun Najat’ bagi majelis dzikir di Tidar ini. Pak Subakir tidak keberatan, bahkan sangat mendukung. Sesekali beliau datang ke Tidar diantar satu dua orang ikhwan jadug, kawan-kawannya Hazri di Progo dulu, untuk ikut tawasulan. Tidak mau diistimewakan, membaur dengan para ikhwan yang lain, lalu aktif bertanya saat muthalaah. Maksudnya, sebagai pancingan untuk menambah pengertian bagi para ikhwan di situ. Bukankah mendengar pun bisa menambah pemahaman atas pengertian?


Faruq lupa pernah ngobrol dengan Pak Subakir saat pernikahan Hazri dulu. Sudah lama sih. Maka, dia tidak sadar siapa ‘ikhwan tua’ ini. Sebagai ikhwan senior, Faruq sering diminta Hazri membantu menjawab pertanyaan dari para ikhwan. Termasuk pertanyaan ‘ikhwan tua’ itu. Syekhuna Progo pun manggut-manggut mendengar penjelasan Faruq. Senang tahu kemajuan yang ada pada diri cucu muridnya. Karena tahu siapa beliau, maka gaya sok tidak tahunya itu membuat Hazri sering terkekeh sendiri. Para ikhwan pun bingung melihat sang Mursyid tertawa-tawa tanpa sebab. Disangkanya sedang turun wangsit. Ono-ono wae.. .


Secara kemasyarakatan, tidak ada perubahan pada diri Haji Mahmud. Sama saja seperti dulu yang rajin berjamaah shalat fardhu di masjid, yang menyediakan dana non-budgeter, yang banyak senyum, yang cukup pakai motor uduk-uduk. Kupluknya pun masih yang bolong dulu. Bedanya, selain sebagai pemilik peternakan merpati potong, sekarang dia juga memimpin sebuah majelis dzikir yang setiap tengah malam Senin dan Jum’at selalu ramai dikunjungi orang-orang berpakaian serba putih. Mereka berdzikir hingga menjelang subuh. Ustadz Faruq pun ada di situ, berikut Pak Sekdes, Karno, Marno, Sugeng, dan beberapa tokoh warga lainnya.


Kehendak Allah. Walau Faruq pernah keceplosan berkata bahwa Haji Mahmud adalah ‘Pasak Bumi’-nya kampung Tidar, tetapi ternyata tidak semua warga tergerak hati untuk mencari kesejatian dirinya. Mereka hormat kepada Haji Mahmud, tahu kalau dia punya karamah dan berilmu tinggi, tapi faktanya tidak semua lantas sadar siapa sesungguhnya manusia antik ini. Walau bolak-balik diberi tahu Faruq dengan siloka-siloka sederhana, tetap saja buntu. Sampai sempat frustrasi dia gara-gara ini.


Tapi, Hazri menegurnya keras.

__ADS_1


“Ustadz, tidaklah pantas kita berbuat begitu. Bukankah segalanya Dia? Jangan lantas merasa wajib memberi tahu yang lain soal hakikat. Haknya ada di Allah. Hanya untuk mereka yang mencari, mereka yang punya waris. Syariat memang untuk semua. Hukum-hukum, dalil-dalil, syi’arkan secara terbuka. Kalau rasa, bagaimana mengajarkannya? Rasa bukan untuk diajarkan, tapi dicicipi. Bagaimana mengajarkan sejati rasa tanpa diajar dan tidak punya perjalanan ruhani? Coba Ustadz jelaskan pada saya rasa manis. Coba, manis adalah....”


Faruq terkesima. Dia mencoba merangkai kata untuk menjelaskan rasa manis, ternyata tidak pernah bisa. Paling banter, manis adalah seperti rasanya gula. Balik ke rasa lagi. Bagaimana kalau orang itu belum pernah merasakan gula? Ini baru sekedar gula. Lha kalau rasaning Allah...? Salah-salah bisa jadi fitnah semesta.


“Iya, Pak Haji. Saya minta maaf,” katanya pelan.


Hazri tertawa kecil. “Dari Allah kembali ke Allah. Kenapa pula Ustadz harus meminta maaf kepada saya? Atau, saya mesti memaafkan Ustadz? Tapi, itu hakikat lho. Syariatnya, permintaan maaf diterima, hahaha....”


Faruq pun ikut meringis.


“Begitulah, Ustadz. Hakikat memang bukan untuk disyi’arkan umum. Tabligh akbar di lapangan bola. Tidak boleh begitu. Kalau mau silakan saja, tapi mesti siap digebukin massa. Jangan marah, jangan mengeluh. Seperti jawaban Mansyur al-Hallaj saat ditanya, apakah tauhid? Beliau berkata, kalau kuberitahukan kepadamu maka kau pasti memancungku. Kehendak-Nya, ternyata Syekh al-Hallaj benar-benar membuka rahasia itu di kemudian hari. Maka, dipancunglah.... Saat digiring ke tempat eksekusi, dia menari-nari sambil bersiul-siul. Mau pulang kampung katanya, hahaha.... Nah, Ustadz sudah berani seperti itu belum?”


“Kalau belum, diam,” Hazri tersenyum.


Faruq mengangguk-angguk paham.

__ADS_1


“Ada dua jalur utama, abid dan arief. Abid adalah para ahli ibadah. Mereka yang menjalankan syariat Islam dengan benar. Shalatnya, puasanya, zakatnya, dan hajinya benar semua dalam pelaksanaannya. Sesuai tuntunan syariat. Bukan tidak ada harganya ini, sangat luar biasa mahal. Tidak terjangkau oleh standar makhluk. Allah bahkan bersedia mengganjarnya dengan surga firdaus, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sedangkan arief adalah ahli makrifat. Mereka yang tidak mau selain Sang Pemilik. Kata Syekh Ibnu Atha’illah, abid berjalan kaki menuju surga, arief terbang langsung ke hadirat-Nya.”


“Seperti kaum shiddiqun dan rabbaniyun ya?” tanya Faruq.


“Bukan seperti, ya itulah mereka. Kaum shiddiqun adalah para ahli ibadah dan kaum rabbaniyun adalah para ahli makrifat.”


Faruq manggut-manggut. Sudah dari dulu dia tahu pengertian ini, sejak zaman kuliah di pesantren. Tapi, baru sekarang lebih paham maknanya.


“Nah, mereka yang berwaris arief, tidak usah lalu merasa lebih tinggi daripada saudara-saudara abid-nya. Dan, yang abid pun demikian. Jangan lantas gampang menuduh kafir kepada saudara-saudara arief-nya. Kenapa harus ribut begituan? Bukankah hanya Allah yang tahu derajat keimanan seseorang? Yang lain cuma kira-kira, meleset pula. Hati-hati ah. Soalnya, sejati iman memang bukan ucapan. Kalau cuma ngomong iman-imin, iman-imin, si Fia juga bisa, hahaha...”


“Jadi, mesti gimana, Pak Haji?”


“Tenang. Jalani dan syukuri semua apa yang saat ini ditetapkan Allah bagi kita masing-masing. Jangan meronta terus, apalagi tanpa ilmunya. Bisa gawat. Seperti Pak Ustadz, sekarang sedang menuju arief. Dulunya abid, kan? Insya Allah jadi abid yang arief. Saudara-saudara kita yang abid, biarkan saja di ke-abid-annya. Kecuali kepada mereka yang tampak punya tanda-tanda, bolehlah diberi sedikit teka-teki silang untuk pancingan. Kalau yang tidak ada tandanya, tidak usah ditarik-tarik. Bisa ngamuk nanti mereka. Saling menjaga sajalah. Masing-masing jangan kebanyakan ngekerin orang, teropong diri sendiri saja yang benar. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Dari Dia balik ke Dia. Habis perkara. Bukan cuma untuk orang mati itu, kena ke segalanya.”


Faruq menghela napas. Puas sekali dia mendengar penjelasan mursyidnya ini. Hawa kagum pun memancar dari dirinya.

__ADS_1


Hazri merasakan itu. “Jangan kagum begitu, Ustadz. Tadi kan kita baru bahas innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Tuh, kan? Gara-gara Ustadz saya jadi ditegur sama Yang Maha Mengagumkan. Soalnya saya juga kagum sama Ustadz Faruq yang mau diajari agama oleh peternak doro. Apa nggak kebalik ya?”


“Hahaha...,” Faruq pun tertawa lepas.


__ADS_2