Jalan Pulang

Jalan Pulang
106. keluar dan kembali


__ADS_3

Hazri sudah bangun sebelum adzan subuh. Tidak lama tidurnya. Dia memang sangat jarang tidur malam sejak ber-haqullah mursyid. Kalaupun ada, persentasenya bisa diabaikan. Baginya, malam lebih indah daripada siang. Bukan berarti siang tidak bagus karena siang maupun malam Allah tetap ada. Cuma waktu malam memang terasa lebih syahdu untuk ‘berduaan’ dengan-Nya. Itulah alasannya.


Usai shalat tahajjud, Hazri beranjak ke teras depan. Duduk sendirian di situ ditemani untaian tasbihnya. Suara ngorok Romi terdengar sampai ke situ. Tidak terganggu, Hazri malah menggunakan suara ngorok sahabatnya itu sebagai tasbih juga. Ritmenya, nadanya, dan iramanya, semua bermakna pujian bagi-Nya. Bukankah Dia telah berfirman bahwa segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya? Bagaimana bisa lantas seolah tidak?


Maka, dzikir seorang anak manusia pun memancar. Derik jangkrik ramai turut serta, ada suara kung kong kung kong kodok segala. Seperti di tengah sawah saja. Padahal, itu hanyalah sepetak halaman rumah kota. Bermacam ‘cahaya’ pun hadir. Ada yang menggumpal, ada yang melarik, ada pula yang berkerlip serupa kunang. Beragam bentuk bermacam warna, namun satu makna. Dia.


Hanya saja bagian cahaya-cahaya ini cuma bisa ditapak lewat mata hati, tidak kena dipantheng mata zhahir. Biar pun sampai melotot peda. Kalau derik jangkrik dan kung kodok bisa ditangkap gendang telinga, tidak harus telinga hati, walau tidak semua mampu menyingkap rahasia tasbih di baliknya. Bukankah Allah bermartabat Yaa Zhahiru Yaa Bathinu? Maha Nyata sekaligus Maha Gaib? Maka, tetaplah Dia segala yang jelas maupun tersembunyi. Qulhu Allahu Ahad, katakan Allah itu Tunggal.


Adzan subuh menembus alam malakut. Hazri pun turun kembali ke martabat manusiawinya untuk menunaikan kewajiban syariat itu. Beberapa saat kemudian...


“Assalamu’alaikum...,” terdengar suara Tejo dari depan sana. Hazri yang barusan usai shalat mesem. Ingat kalau Kang Tejo lupa membawa kunci saat pulang tadi malam. “Wa’alaikum salam..” dia menyahut, lalu bergegas ke depan membukakan pintu pagar.


Tejo tersenyum melihat tuannya masih memakai sarung. Tidak pernah kejadian dulu Hazri bersarung ria seperti itu. Punya juga tidak.


“Pagi amat, Kang?” sapa Hazri.


“Iya, Den. Ingat kalau-kalau Den Hazri belum sarapan, jadi Akang belikan nasi uduk tadi sambil ke sini,” kata Tejo sambil melangkah masuk. Tangan kanannya menenteng kantong plastik, yang kiri menenteng sangkar berkerudung.


Hazri tertawa. “Itu apa, Kang? Perkutut?”


Tejo mengangguk. “Siapa tahu Aden kangen sama si Tuyi.”


“Masih ada dia?” Hazri terkejut tahu perkututnya masih hidup. Lama juga umurnya. Dia mengambil sangkar itu dan membawanya ke kursi teras.


Tejo lanjut ke dapur menyiapkan nasi uduk untuk sarapan tadi.


Kerudung sangkar dibuka. Hazri tertawa senang melihat perkututnya. Si Tuyi pun seolah tahu ketemu tuan lamanya. Dia menyapa Hazri dengan kruook kruook..., lalu manggung. Tetap merdu suaranya.


Beberapa saat kemudian Tejo muncul membawa perkakas sarapan nasi uduk, dan seteko teh manis hangat. Sisa wudhu masih menetes di wajahnya. Setelah menaruh semua itu di atas meja, Tejo mengeluarkan Tuyi dari sangkarnya.


“Mau diapain, Kang?”


Tejo mesem, Tuyi dilepaskan dari genggaman tangannya. Terbanglah....


“Halah? Kok dilepas, Kang?” kaget Hazri melihat perkutut itu mabur.


“Tuyi...!” Tejo memanggil sambil menjentikkan jari. Kepek kepek kepek... burung itu menghampiri lalu hinggap di jari telunjuk.


“Heh? Hebat, hahaha...,” Hazri tertawa senang melihat atraksi tadi.


Tejo pun mengulanginya beberapa kali.


“Kalau sama aku mau nggak, Kang?” Hazri penasaran.


“Dicoba saja, Den.”


Tejo memindahkan perkutut di jari telunjuknya ke telunjuk tuannya. Si Tuyi kruook kruook lagi di situ. Hazri menerbangkannya, lalu “Tuyi...!” dia memanggil sambil menjentikkan jari. Datanglah yang dipanggil, hinggap di tempat semula. Hazri tertawa senang. Dicobanya beberapa kali, sama.


Setelah puas, Hazri menenggerkan burung itu di atas sangkarnya, dan disuapi dengan butir-butir nasi uduk. Mau pula perkutut antik ini. “Bulu kepalanya banyak yang putih ya, Kang?” komentarnya sambil menyantap sarapan.


“Iya, Den, baru sekarang. Habis ganti bulu terakhir kemarin, tumbuhnya kayak gitu. Di sayapnya juga banyak yang putih. Dulu-dulu nggak kayak gini.”


“Kenapa itu, Kang?”


“Nggak tahu, Den.”


“Uban kali ya?”


Tejo nyengir. “Mungkin, Den. Memang sudah tua, lima belas tahunan.”


Hazri Kanggut-Kanggut. Sebutir nasi uduk dilolohkan lagi.


“Saking jagoannya, Den, sampai nggak boleh ikut lomba si Tuyi ini,”


“Lho? Kenapa?”


“Habis nggak mau disangkarin. Maunya bebas hinggap-hinggapan di sangkar-sangkar lawannya sambil ngajakin manggung bareng. Bingung jurinya kasih nilai, hehehe...,” Tejo terkekeh.


Hazri tergelak. “Benar itu, Kang?”


Tejo mengangguk. “Memang aneh burungnya Den Hazri ini.”


Mereka pun tertawa-tawa.


“Ceritanya gimana bisa sampai tahu bisa dilepas begitu?”


“Dulu pernah lepas, si Jaka anak Akang lupa nutup sangkarnya habis kasih makan. Waduh, sedih betul. Sama Akang sangkarnya digantung di luar, pintunya dibuka. Siapa tahu bisa pulang. Eh, betul. Dua hari kemudian tahu-tahu dia sudah ada lagi dalam sangkar sedang tidur. Capek mungkin habis main jauh, hehehe.... Ya sudah, habis itu ketahuanlah kalau dia bisa seperti ini.”


Hazri tertawa lagi.


“Banyak yang nawar, Den...,” lanjut Tejo. “Pernah ada orang Cina berani lima puluh juta.”


“Oya?” Hazri terpana. “Nggak dilepas segitu, Kang?”


Tejo menggeleng. “Ini kan bukan punya saya. Akang cuma ketitipan.”


Hazri mengangguk-angguk. Pantaslah dari dulu Kang Tejo kelihatan tenang menjalani hidup. Terjaga sih hatinya. Tidak rakus, tidak culas.


Romi muncul. “Huaahhbh...,” dia menguap sambil berjalan menghampiri. “Lho? Kok burungnya di luar?” Heran mantan PJS ketua Kopen ini melihat burung mungil bertengger di atas sangkarnya. Mestinya kan di dalam.


“Pagi, Den,” sapa Tejo.


“Pagi, Kang. Itu burungnya nggak bisa terbang apa?”


“Sarapan dulu. Nanti kukasih tahu,” kata Hazri.


Romi pun sarapan sambil memperhatikan Hazri menyuapi Si Tuyi.

__ADS_1


“Busyet, doyan uduk juga ya?” celetuk Romi.


Hazri dan Tejo tertawa.


Beres makan, Hazri mempertontonkan kemampuan Tuyi kepada sahabatnya. Romi terpana. “Bisa gitu ya? Coba dong...,” dia pun mencoba. Sayang tidak sukses. Entah mengapa si Tuyi tidak bersedia dipanggil olehnya. Mau dipegang saja loncat-loncat menghindar. “Kenapa kau? Takut?” Romi melotot ke burung itu.


Hazri terkekeh. Tejo tersenyum.


“Nggak bisa dikerasin, Den, nanti tambah nggak mau...,” kata Tejo.


Romi menurut. Ganti pendekatan kasih sayang. Sama saja ternyata, si Tuyi tetap ogah. “Tuyi, Tuyi... sini dong...,” rayu Romi sambil menjentik-jentikkan jarinya. Cuek bebek saja perkutut itu nangkring di sana. “Hah, gagal, Kang...,” gerutu Romi agak mangkel.


“Tuyi...!” panggil Hazri. Burung itu langsung terbang menghampiri, hinggap di jari telunjuk pemanggilnya. “Hahaha...,” Hazri tertawa. Kepala mungil perkutut ini dielus-elus, Kruook kruoook..., Tuyi membalas dengan mengangguk-anggukkan tubuhnya, ekor mekar ke atas. “Masuk...,” pinta Hazri. Perkutut pintar itu melompat masuk ke sangkarnya, minum, terus manggung.


Tejo tersenyum, Romi melongo.


Hazri menutup pintu sangkar lalu menggantungkannya tempat yang dulu. Masih ada kait cantolannya di situ. Si Tuyi terus saja menyanyi riang tanpa canggung. Seperti namanya yang berarti bahagia.


Hazri kemudian memperhatikan tanaman dan bunga-bunga yang terawat rapi. Beberapa bunga mekar dengan indahnya. Di Tidar, Ami punya banyak tanaman hias seperti itu.


“Kenapa, Den?”


“Nggak, Kang. Istriku punya banyak tanaman seperti ini.”


“Den Hazri sudah nikah?” tanya Tejo dengan ekspresi kaget senang.


“Eh, aku belum cerita ya?”


Tejo menggeleng. Dia memang tidak tanya-tanya.


Hazri tersenyum. “Sudah, Kang. Anakku satu, perempuan.”


“Alhamdulillah...,” Tejo mendesah. Gembira tulus memancar dari wajahnya.


“Mau lihat fotonya?”


“Kalau boleh, Den....”


“Boleh. Sebentar ya,” Hazri masuk ke kamar mengambil dompet. Lalu, memperlihatkan foto si Fia.


“Hehehe.... Cantik sekali. Matanya seperti Aden ya?”


Hazri tertawa kecil. Hampir selalu orang berkomentar mata kalau melihat foto si Fia. Memang tampil menyolok mata hitam tajam nan bening itu.


“Coba aku lihat, Kang...,” Romi ikut nimbrung. Tadi dia di sana menjentik-jentikkan jari di depan sangkar Tuyi. Maksudnya merayu cari perhatian burung itu. Berhubung gagal terus, akhirnya menyerah juga.


“Hahaha.... Cantik. Busyet matanya....”


Mata lagi.


“Siapa namanya, Bang?”


Tejo yang ikut mendengarkan manggut-manggut.


Sementara Romi kembali mengamati mata si Fia, Hazri memperlihatkan foto Ami kepada Tejo.


“Cantik, Den. Pantas untuk Aden...,” komentar Tejo tersenyum. Lalu, memberikan foto itu ke Romi.


“Busyet...,” Romi terpana. “Ini bukan yang kemarin?” Zilfa maksudnya Romi.


Hazri menggeleng. “Lain bapak lain ibu.”


“Bapak ibunya kali yang kembar nggak ketahuan?”


“Hahaha.... Ada-ada aja kau.”


Romi pun tertawa. “Pantas Abang nolak kubungkuskan yang di sini. Sudah tersedia di sana ternyata.”


Hazri cengengesan..


“Boleh tahu namanya, Den?” Tejo yang bertanya.


“Ami,” jawab Hazri singkat.


Tejo manggut-manggut mengingat nama itu. Gampang, cuma tiga huruf.


“Ada saudaranya nggak?” sambar Romi.


“Ada. Kenapa?”


“Aku mau ke sana ah.”


Hazri mesem. “Ngapain?”


“Siapa tahu aja. Bosan aku perempuan kota...,” Romi cengengesan.


“Hahaha.... Boleh, laki-laki semua....”


Romi mendelik, Tejo terkekeh.


Sialan.


Usai membahas itu, lanjut ke kura-kura. Hazri senang lagi tahu si Kenyut masih ada. Kura-kura emas itu. Gede sekarang, seukuran ban sepeda kecilnya si Fia. Jinak, tidak main gigit sembarangan. Bisa dilepas bebas di halaman rumput. Kalau bosan, masuk sendiri ke kolam. Bosan di kolam, dia akan keluar lagi berjemur leha-leha. Asyik juga. Tinggal bikin kolamnya di sana.


Beres ini, Hazri masuk ke kamarnya. Bilang mau istirahat sebentar, padahal mempersiapkan rencananya sambil menunggu toko dekat pos ronda sana buka. Dia perlu kertas, meterai, dan lem. Masih ada toko itu, besar sekarang seperti minimarker. Kata Tejo, barang-barang yang diperlukan Hazri tadi ada di sana. Sementara Hazri istirahat, Romi minta waktu mengambil perkakas pribadinya. Wanti-wanti dia mau ikut naik ke gunung. Kalau mungkin tidak usah pakai turun lagi.


Detak-detik, detak-detik. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, Hazri meminta tolong Tejo membelikan keperluannya tadi. Belum balik Tejo, muncul Romi naik taksi membawa travel bag dan kotak samurai Kochiro. Panther dititipkan ke anak-anak di Kampus Putih. Senang Hazri tabu kalau samurainya masih ada. Dia melihat-lihat sebentar senjata khas Jepang ini, lalu menyimpannya kembali dalam kotak, “Makasih, Rom,” katanya tulus. Romi mengangguk.

__ADS_1


Sebentar kemudian Tejo muncul membawa belanjaannya.


“Pinjam KTP nya Kang...” pinta Hazri.


“KTP saya, Den? Buat apa?” Tejo heran.


“Mau catat alamat Kang Tejo, biar nggak lupa,” Hazri berkilah.


Tejo menyerahkan KTP nya lalu kembali merawat halaman tanpa prasangka apa-apa.


“Sehentar ya...,” kata Hazri ke Romi. Dia masuk kembali ke kamarnya.


Romi mengangguk. Duduk menunggu di sofa sambil nonton TV.


Di dalam kamar, “Bismillah..,” Hazri pun menuliskan surat pernyataan hibah atas rumah dan tanah ini kepada tukang kebunnya. Sret sret sret, sekali jalan jadi. Dia membaca ulang tulisannya. Jelas dan tegas. Meterai ditempel, siap ditandatangani.


Surat-surat rumah dikeluarkan dari bundel dokumen. Lengkap ada. Duit darah dibagi dua sama rata. Sebelah buat Kang Tejo, sebelahnya lagi untuk ahli waris Mbok Ijah. Lalu, masing-masing dibungkus pakai kertas yang ada. Beres. Hazri menghela napas lalu mengucap syukur atas terbebasnya dia dari beban ini.


Usai itu, dia mandi, berpakaian, lalu shalat sunnah dua rakaat. Kemudian keluar ke ruang tamu dengan membawa semua yang disiapkan tadi. Romi terkejut. Ada apa ini? Segala sertifikat rumah?


“Kau tahu, Rom, hari ini aku bahagia karena bisa terbebas dari sebagian kepenatan jiwa,” kata Hazri, “Hahaha, ..,” dilanjut derai tawa.


Romi bengong. Apa maksudnya?


Tanpa menghiraukan kebengongan Romi, Hazri beranjak memanggil tukang kebunnya. Tejo mencuci tangan, lalu segera masuk ke rumah. Bengong juga dia melihat segala barang yang ada di atas meja tamu itu. Ada KTP-nya, ada kertas tertulis tangan diberi materai, ada sertifikat rumah, dan bungkusan uang. Kelihatan uangnya karena tidak tertutup sempurna, tidak cukup lebar kertas penutupnya.


“Dua belas tahun lebih, Kang Tejo... Luar biasa. Tadinya malah sudah saya anggap hilang...,” Hazri membuka acara. “Langsung saja ya. Kang, dengan kesadaran diri, saya menghibahkan rumah dan tanah ini kepada Akang. Apa Kang Tejo bisa menerimanya?”


Tejo melongo lebar, tidak mampu menjawab. Matanya langsung berkaca-kaca. Romi menghela napas, segumpal kagum menyusup ke dalam relung hatinya.


“Kang? Apa Akang bisa menerima ini?” tanya Hazri lagi.


Air mata Tejo pun mengalir jatuh. Ditatapnya lekat tuannya itu.


“Kenapa, Den? Kenapa dikasihkan Akang?” dia bertanya parau.


Hazri tersenyum. “Lebih bermanfaat di Akang. Saya tidak mungkin tinggal di sini lagi, kan? Orang-orang sini tahu siapa saya. Lagian seperti saya bilang, tadinya sudah saya anggap hilang, hahaha... Ternyata masih ada, Akang yang merawatnya sama ini.”


Tejo sesenggukan mendengar kata-kata Hazri barusan.


“Sudahlah, Kang. Kita ini kan cuma boneka, Dia yang menentukan. Dulu dititipkan ke saya, sekarang insya Allah giliran Akang. Bisa apa kita?”


Tejo mengangguk-angguk paham.


“Jadi, gimana, Kang? Bisa dilanjutkan?”


“Jika Allah meridhai lewat keikhlasan Den Hazri....”


“Alhamdulillah...,” Hazri mengucap syukur. Tanpa ragu surat hibah itu ditandatangani. Tejo dan Romi menyusul membubuhkan tanda tangan mereka di situ. Tejo sebagai penerima, Romi saksi acaranya. Beres, Tejo memeluk erat tuannya di tengah hujan air mata yang membanjir. Dan, semakin luber saat Hazri memberikan uang itu. Romi terpengaruh, matanya berkaca-kaca walau tidak sampai tumpah.


“Sudahlah, Kang.... Semua ini kehendak Allah. Bukan karena saya, bukan juga karena Akang. Kita syukuri apa yang Dia titipkan kepada kira masing-masing. Iya, kan?”


Tejo mengangguk, menghela napas. Perlahan wajahnya mulai tersenyum.


“Nah, enak kan gini? Bersenyum-senyum, hehehe...,” kata Hazri. Diomongin begitu oleh sang Mursyid, Tejo pun tertawa pelan. Romi ikut-ikutan.


“Kang, mau mobil nggak?” tiba-tiba Romi nyeletuk.


Hazri dan Tejo menoleh. “Apa, Den?” tanya Tejo.


“Kang Tejo mau mobil saya yang tadi nggak?” ulang Romi.


“Waduh, Den, terima kasih sekali.... Tapi, maaf, saya tidak bisa terima.”


“Kenapa?” tanya Romi sungguh-sungguh.


Tejo geleng-geleng kepala saja, tidak menjawab.


“Hahaha...,” Hazri tertawa. “Bahkan, sebuah niat baik pun tidak akan terlaksana jika tidak dikehendaki-Nya. Tapi, Rom, segitu pun pahalamu sudah dicatat.”


“Apaan tadi yang dicatat, Bang?” Romi bingung. Bukan dibuat-buat ini, dia memang gerhana total soal agama. Agamanya sendiri saja tidak tahu.


Hazri tertawa kecil. Tejo tersenyum.


“Nanti kujelaskan kalau kau sudah siap...,” kata sang Mursyid kalem.


Romi mengangguk. Percaya dia kepada ketuanya.


“Yang ini buat keluarganya Mbok Ijah. Tolong nanti Akang kasihkan.”


Tejo mengangguk takzim.


“Apa lagi? Oo iya, Kang, si Tuyi sama si Kenyut boleh saya bawa ya?”


“Iya, Den, iya,” Tejo mengangguk-angguk sambil menatap Hazri.


Hazri tahu maksud tatapan ini. Dia menimbang sejenak. “Bukan tidak percaya kepada Akang, tapi saya rasa lebih baik Akang tidak tahu tempat saya sekarang. Lebih banyak tidak bagusnya. Biar nanti insya Allah saya yang datang ke sini, nggak usah Akang yang ke sana. Gimana? Nggak apa-apa, kan?”


Tejo mengangguk. “Tidak apa-apa, Den, kalau memang itu lebih baik,”


Hazri tersenyum. Tejo pun balas tersenyum.


“Sudah ya? Beres semua? Ayo siap-siap. ..,” kata Hazri.


Mereka pun bersiap. Tejo menyimpan semua berkas hibah berikut uangnya ke dalam laci bufet dan dikunci. Lalu, segera menyiapkan si Tuyi dan si Kenyut yang mau pindah rumah. Hazri memanaskan mesin motor Tiger sambil senyum-senyum. Kuda besi kesayangannya itu akan ditungganginya lagi setelah dua belas tahun lebih berpisah. Gimana gitu rasanya.... Romi menaruh tasnya ke dalam mobil pick up yang disewa Hazri untuk mengangkut motor dan bawaannya itu, sekalian milik Hazri yang diambil dari dalam kamar. Samurai Kitano tidak ketinggalan.


Sebentar, beres semua. Hazri dan Tejo kembali berpelukan erat. Romi berikutnya. Mobil pick up hitam itu pun merayap membawa sang Tiger keluar dari kandang. Tin tin..., klakson menyalak dua kali. Tejo melambaikan tangan, Hazri dan Romi membalas. Dua butir air mata Tejo kembali leleh seiring menjauhnya mobil. “Allah, mohon perlindungan-Mu untuk Den Hazri dan Den Romi...,” demikian seuntai doa terpanjatkan.

__ADS_1


Maha Mendengar, Maha Mengetahui....


__ADS_2