Jalan Pulang

Jalan Pulang
60. pelarian selanjutnya


__ADS_3

Maka Hazri pun berkisah. Mulai dari berangkat ke Jogja naik kereta Logawa, menjadi mahasiswa, luntang-lantung, jadi juru parkir, ketemu preman, jadi ketua preman, dan seterusnya. Huda tekun menyimak.


“Apa tadi, Rif..., ‘Cakra.., apa?” Huda bertanya. “Cakra Buana. Itu bagian batin ilmu silatku,” jawab Hazri.


Huda manggut-manggut. “Jadi, benar kabar kalau kau bisa ilmu pukulan jarak jauh sekalian bisa menghilang?”


Hazri tersenyum kecut. “Pukulan jarak jauh iyalah. Itu ‘Rogo Kumitir’, bagian dari ‘Cakra Buana’. Kalau menghilang nggak. Aku nggak bisa menghilang. Bisanya cuma ‘Bedhes Ngawang’....”


“Ilmu apa ‘Bedhes Ngawang’ itu?” kejar Huda.


“Semacam ilmu untuk meringankan tubuh gitu, Hud.”


“Sebentar..sebentar... Sebentar. Rif. aku minta kau jujur. Waktu adu panjat pohon kelapa dulu kau pakai ‘Bedhes Ngawang' nggak?” tanya Huda, matanya melotot.


“Hehehe.... Maaf. hehehe....”


“Woo pantas. Sialan kau...,” Huda tertawa.


Mereka pun tertawa-tawa. “Kau tahu, Rif, setelah kau pergi, aku tantang semua pegawai Haji Sulton disitu adu panjat pohon kelapa. Kalah semua. Kalau lagi istirahat di kebun, iseng-iseng aku nantangin anak kampung yang kukenal, kalah juga mereka. Nggak habis pikir aku bisa kalah dari kau yang bukan atlit panjat pinang? Baru ketahuan sekarang teka-tekinya. Dua belas tahun. ... Sialan betul kau...,” Huda terus tertawa-tawa kecil.


“Iyalah. Maaf...”


“Diterima. Terus gimana?” tanya Huda.


“Apanya? Ceritaku?”


“Iyalah.”


Hazri pun melanjutkan kisahnya. Huda kembali serius menyimak. Sempat terseling oleh telepon anak buahnya dari pasar. Huda memberi pengarahan yang diperlukan anak buahnya itu, lalu kembali mendengarkan kisah Hazri yang dirasakan semakin seru. Hazri ceritakan semua, termasuk bagian pahit saat dia dikejar-kejar polisi dan kehilangan banyak anak buahnya.


“Itu jaket anak buahku yang mati di pasar pagi tadi...,” Hazri menunjuk jaket Kopeng yang tergantung di pintu kamar. “Dia yang terakhir ketemu aku, dia juga menyelamatkan aku.” Air mara Hazri bergulir tak tertahan. “Kalau saja dia nggak kasihkan jaketnya itu padaku....”


Hazri pun menceritakan hal ihwal Kopeng di saat-saat terakhirnya itu. Huda mendengarkan dengan kepala menunduk dalam. Hening agak lama di dalam kamar itu.


“Minum, Hud...,” Hazri menyodorkan minuman ringan kepada Huda. “Sudah hampir jam dua, kita cari makan dulu?” tanya Hazri.


Huda menggeleng. “Nggak lapar aku.”


“Pesan saja ya?” Hazri menawarkan.


Huda mengangguk.


“Mau makan apa, Pak Haji?”


“Apa sajalah, Biang Kerok”


Mereka berdua tertawa lagi


Hazri menghubungi resepsionis losmen lewat interkom di kamarnya, bertanya apa bisa pesan makan siang. Ternyata bisa, akan datang ke kamarnya seorang pegawai losmen yang bisa dimintai tolong membeli makanan. Tak lama berselang dia pun muncul. Office boy, masih remaja.


“Selamat siang. Bapak mau pesan makan?” dia bertanya di depan pintu.


“Iya. Ada makanan apa?” tanya Hazri.


“Banyak, Pak...,” Office boy ini menyebutkan beberapa jenis restoran. Yang ada di sekitar losmen.


“Nasi rawon komplet ya. ..,” ujar Hazri sambil memberikan uang.


“Minumnya apa, Pak?” dia bertanya lagi.


“Emm, es jeruk. Eh, Dik, bisa dapat Mansion nggak?”


“Bisa, Pak, cuma tempatnya jauh. Agak lama....”


“Pak Haji, mau Mansion?” tanya Hazri ke Huda.


“Nggak, nggak.... Haram,” Huda menyahut.


“Dasar, Pak Haji, cupu.” Hazri tertawa kecil. “Ya sudah, rawon sama es jeruknya bawa duluan ke sini. Baru nyusul beli Mansionnya. Bisa?”


Dia mengangguk.


Hazri menambah jumlah uang yang diberikan ke office boy itu, “Cukup?”


“Lebih dari cukup, Pak...,” ujarnya tersenyum, lalu beranjak pergi.


Hazri kembali duduk dekat Huda setelah menutup dan mengunci pintu. Tanpa sengaja pistolnya jatuh dari selipan punggung.


Huda melihat. “Apa itu? Pistol?”


“Iya,” jawab Hazri singkat. Dia meraih pistolnya dan hendak menyelipkan kembali ke punggung.


“Coba lihat...,” pinta Huda.


Hazri melepas magasin dan memasang kunci pengaman, baru diberikan.


“Bagus, dapat dari mana?” tanya Huda sambil mengamati pistol FN 45 itu.


“Ah, pistol biasa. Banyak kita punya dulu.”

__ADS_1


“Ada pelurunya nggak?”


Hazri tersenyum. “Ya ada...lah. Kalau nggak ada pelurunya, terus apa bedanya sama batu bata?”


Huda nyengir. “Banyak?”


“Cukup buat bunuh orang sekampung...,” Hazri tertawa ringan sambil memperlihatkan kotak-kotak peluru di dalam tasnya. “Kalau kurang tinggal minta lagi.”


“Dapat dari mana sih?” Huda mengulang pertanyaannya.


“Gampang kalau tahu jalurnya.”


“Kasih tahu dong....”


“Buat apa? Kau mau pistol?”


Huda mengangguk sambil meringis.


“Ambil saja kalau kau mau.”


“Beneran nih?”


“Eh, nanti dulu. Buat apa pistol?”


“Buat jaga-jaga di kapal.”


 “Bukan mau jadi preman?” canda Hazri.


Huda menggeleng cepat. “Ngeri aku dengar ceritamu....”


“Oww..iya, kemarin Pak Sabri pemilik warung padang di pasar cerita ke aku kalau kau sekarang sering berlayar?”


Huda merigis. “Baru-baru ini sih. Ngantar pesanan kopra Haji Sulton keluar Jawa.”


“Keren juga, Pak Haji satu ini.” Hazri tertawa.


Huda ikut tertawa. “Huda..”


“Ya sudah, ambil saja kalau untuk itu. Sekalian pelurunya.”


“Tapi, Rief, nanti kau pakai apa?”


“Gampanglah, lagian aku masih punya.”


 Hazri mengeluarkan Desert Eagle Mark XIX-nya dari bagian bawah tas.


Hazri mesem. “Kenapa lagi? Suka yang ini? Boleh saja kalau kau mau, tapi mesti sekalian jadi ketua Kopen. Dan harus bunuh orang Jepang juga”


“Wah, kok gitu?” Huda sewot.


“Emang begitu aturannya, yang pegang pistol ini ketua Kopen. Kan tadi sudah kuceritakan, Romi menyerahkan pistol ini ke aku setelah kukalahkan.”


Huda manggut-manggut. “Berarti aku harus tarung dulu sama kau?”


“Iya..., Ayo, mau sekarang?” Hazri makin tersenyum.


“Berat. Nggak lah. Panjat pohon kelapa kalah, main gitar kalah, nyanyi kalah.... Adu merokok? Ampun, sekarang kau persis cerobong kereta api...,” ujar Huda sambil menyerahkan Desert Eagle Mark XIX itu ke Hazri.“Aku yang ini saja.” Dia mengusap-usap kembali pistol FN 45-nya.


Hazri pun tertawa. Simbol ketua Kopen itu disimpannya lagi dalam tas.


Sesaat kemudian pintu kamar diketuk. Rawon datang, mereka pun makan dengan lahap. Huda yang tadinya sempat kehilangan nafsu makan karena mendengar cerita Hazri, sekarang kembali semangat setelah punya pistol. Sambil makan, tangan kirinya terus memegang-megang mainan barunya.


Selepas makan, Hazri mengajari Huda hal-hal teknis pokok tentang pistolnya. Cara mengisi peluru di magasin, pasang lepas magasin, kunci senjata, mengokang, membidik, sampai membongkar pasang pistol itu. Huda serius menyimak.


“Apa lagi sekarang? Sudah semua. Tinggal nembaknya, nanti coba di kapal. Ingat, pelatuknya diremas, bukan dihentak. Bisa mencang-mencong larinya itu peluru. Oo ya, biar nggak macet, pistol harus sering diminyaki. Aku nggak bawa minyaknya, tapi bisa diganti pakai minyak mesin jahit. Sama kok, banyak itu dijual di toko.”


Huda mengangguk. Bersamaan dengan pintu diketuk. Reflek pistol diselipkan ke pinggang sambil ditutupi bantal, matanya jelalatan kaget. Hazri mesem, memang begitu biasanya kalau orang baru punya pistol. Dulu dia juga sama.


Mansion datang.


“Ambil buat kamu...,” Hazri menolak pengembalian uangnya.


“Tapi, ini banyak, Pak,” ujar si office boy.


“Biarin, buat kamu.”


“Terima kasih, Pak...,” dia pun mengangguk senang.


“Sama-sama.”


Pintu kembali ditutup dan dikunci. Hazri membuka tutup botol minuman keras itu sambil melangkah ke tempat duduknya. Begitu pintu ditutup tadi, Huda langsung mejeng di depan cermin. Pistol diselipkan ke ikat pinggang macam koboi, tangannya terlipat depan dada. Mulut dimencang-mencongin, kepala angguk-anggukan. Hazri mesem saja sambil menuangkan Mansion ke gelas yang tersedia di situ. “Nih, koboi, minum dulu...,” ujarnya.


Huda menoleh. “Haram...,” lalu kembali mejeng.


“Payah juga Haji Koboi. Pistol mau, minum nggak...,” celetuk Hazri.


“Pistol nggak haram, kalau minum haram...,” balas Huda.


“Kata siapa? Pistol juga haram kalau dipakai bunuh orang, Mansion nggak haram sampai diminum. Benar nggak?”

__ADS_1


Huda diam sesaat terus ketawa. “Benar juga....”


“Ya sudah, ayo...,” ajak Hazri lagi.


“Nggak ah, haram.”


“Halah, betul payah koboinya Ria ini...,” Hazri pun tertawa.


Sambil menikmati minumannya, dia memandangi Huda yang masih petantang-petenteng di depan cermin. Hazri menimbang-nimbang niatnya untuk ikut berlayar dengan Huda sementara waktu ini.


“Hud...” akhirnya dia berkata juga.


Huda menoleh. “Apa?” suaranya di angker-angkcrin.


Hazri meringis. “Aku perlu bicara serius sebentar.”


Huda menyudahi aksinya, lalu duduk di dekat Hazri. “Apaan, Rif”


“Eemm, begini.... Ini kalau kau bisa, kalau nggak bisa juga nggak apa-apa. Jangan jadi beban.”


Kening Huda agak mengerut. “Iya, ada apa?”


“Terus terang aku kehabisan tempat sembunyi. Jogja, Solo, Semarang, Klaten termasuk Magelang sudah sangat nggak aman buatku. Kota-kota lain, macam Madiun ini, aku nggak tahu situasinya. Sembunyi di kota yang nggak kukenal malah lebih beresiko. Jadi, aku mikir-mikir Hud, sejak kemarin..., kira-kira kalau aku ikut berlayar denganmu bisa nggak? Sekalian sembunyi maksudku.”


“Hahaha..., Arif, Arif..., kukira apaan.. Ayolah...,” Huda menjawab mantap sambil ngakak.


“Sebentar, Hud, sadar dulu. Aku ini buronan loh.”


“Iya aku sadar. Sudah ayo....”


“Benar?”


“Busyet. Nanya lagi kutembak nih....” Huda melanjutkan gaya Koboinya.


Hazri bernapas lega. “Makasih, Kawan.”


“Siplah. Besok sore kita berangkat ke Kalimantan.”


“Sore ya? Aku masih ada waktu jual mobil paginya kalau gitu.”


“Jual mobil? Kenapa dijual? Rugi. Harga sedang terjun bebas gini.”


Hazri memandang Huda. “Terus gimana?”


“Dititipkan saja bagaimana?” tanya Huda.


“Boleh kalau bisa...,” jawab Hazri.


Huda mengangguk. “Apa mobilnya?”


Hazri memberitahukan jenis mobilnya dan keterangan lain yang perlu. Huda menghubungi seseorang lewat HP.


“Halo, Assalamu'alaikum..,” sapa Huda.


“Apa kabar, Mam?” Lalu, dia bicara dengan orang disana tentang penitipan mobil. “Apa? Nggak punya duit? Lepas dari aku malah tambah kere kau hehehe... Bukan, bukan gadai. Aku cuma mau nitip. Iya, purip mobil. Pakai saja asal diurus yang benar. Pokoknya kalau nanti kuambil lagi mesti kinclong. Ya iya lah. . Apa lagi? Ganti oli pun nggak punya duit kau? Nah, gitu dong, Kuambil nanti istrimu kalau kau macam-macam, hehehe.... Ambil besok sore mobilnya di pasar. Panther hijau. Iya, telepon aku, jelas, kan? Ya sudah. Makasih, Mam. Wassalamu’alaikum.”


Beres. Hazri tersenyum puas.


“Apa lagi sekarang?” canda Huda. “Sudah semua ya. Okelah besok sore kita terjang ombak lagi. Tenang saja, Rif, mau selamanya di kapal bareng aku juga nggak apa-apa. Ikhlas aku, ikhlas....”


“Makasih banyak, Hud. Ngomong-ngomong, ada orang lama nggak di kapalmu? Teman-teman kita dulu?”


Huda menggeleng. “Baru semua. Tadinya aku bareng Joko, tapi sekarang dia di darat, agak sakit-sakitan. Bantu-bantu Haji sama Umi di rumah. Masih ingat Joko, kan?”


Hazri mengangguk. Salah seorang fansnya waktu adu panjat pohon kelapa dulu.


Huda melihat arloji. “Bukannya sudah nggak kangen nih, Rif, tapi aku mesti pergi dulu nih. Masih ada urusan muatan.”


Hazri mengangguk. “Naik apa ke sini tadi?”


“Pinjam mobilnya Pak Sumarno. Orang Pengawas Pasar yang mau sewa kapalku ke Kalimantan.”


“Baiklah, Hud, sekali lagi makasih. Hari-hati pistolnya.” Hazri tersenyum melirik pistol yang barusan diberikannya.


Huda tersenyum dan mengangguk. Dari selipan pinggang, pistol itu dimasukkan ke dalam ras kulit kecil yang dibawanya. “Pelurunya besok jangan sampai lupa, Rif....”


“Beres.”


Mereka pun berpelukan erat. Hazri mengantar Huda sampai pelataran parkir depan losmen. “Besok sore ya, jangan nggak...,” seru Huda sambil melambai tangan dari dalam sedan BMW 318i yang mula beranjak itu.


Hazri balas melambai....


Senja memberikan kenangan, dan kenangan yang memberikan senja.


Secuil kopi



Kata "kapal" di bahasa Indonesia dan Melayu berasal dari rumpun bahasa Dravida "kappal".Kata ini mulai muncul pada literatur Tamil sebagai kata கப்பல் setelah abad ke-17. Pada literatur dari Nusantara sebelum abad ke-17, kata kapal selalu merujuk kepada kendaraan air buatan luar negeri (dalam hal ini, India). Sebelum abad itu, perahu merujuk kepada kendaraan air besar (lihat K'un-lun po), sampai akhirnya benar-benar digantikan oleh kata "kapal" untuk merujuk kepada kendaraan air besar

__ADS_1


__ADS_2