Jalan Pulang

Jalan Pulang
45. pertimbangan sabut kelapa


__ADS_3

Angin malam berhembus kian dingin. Menceritakan kesunyian rembulan yang telah lama merindukan mentari untuk bersatu. Hazri dan Sulton merasakan itu, namun dingin itu terkalahkan dengan perapian pembakaran sabut kelapa. Asapnya masih mengepul bersatu dengan bintang-bintang yang sedang bernyanyi.


“Aku sedang di Trenggalek mencari kelapa waktu terima kabar bapakmu meninggal. Ahmad sahabatku... Lima belas orang lawan satu. Kalau cuma lima orang, nggak bakal mampu merobohkan bapakmu.” suara Sulton bergetar. “Aku langsung balik ke Jombang naik bus, hari itu juga.”


Hazri menunduk. Dari tadi dia mendengar Haji Sulton menyebut nama bapak dan ibunya saat berkisah, namun baru sekarang rasanya begitu menyanyat hati. Umur Hazri baru sebelas tahun saat ayahnya pergi. Pergi selamanya meninggalkan  dia, ibu, kakak, dan adiknya.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Sulton.


Hazri menggeleng lemah.


“Bapakmu pergi dengan membawa harga dirinya yang teguh. Sepuluh orang terjungkal sebelum Ahmad tewas tertikam belati besi kuning. Aku yakin, penikam bapakmu pasti pimpinannya karena besi aji itu cuma bisa dipegang orang yang cukup tenaga dalam. Aku kerahkan orangku membantu pihak polisi mengejar para pelaku. Sebagian besar tertangkap. Aku sendiri yang menangkap pimpinannya, sebab para polisi kewalahan meringkus orang itu.” Sulton memandang Hazri. “Seingatku, kamu ada di kantor polisi sama ibumu waktu itu, kan?”


Hazri mengangguk, masih ingat peristiwanya. Haji Sulton mengamuk di halaman kantor polisi. Pimpinan pencuri gabah itu dihajarnya habis-habisan. Para polisi berusaha menenangkan, tapi mereka malah terpental saat akan memegang tubuh Haji Sulton. Emak dan Umi berteriak-teriak meminta agar Haji Sulton menyudahi kegilaannya. Namun seperti tidak mau mendengar, dia terus saja menghajar orang bertubuh besar itu. Yang terbesit dalam pikiranya hanya jasad sahabatnya yang dikeroyok komplotan pencuri ini tanpa ampun, Ahmad.  Suasana makin kacau karena anak buah Haji Sulton juga ikut-ikutan menghajar pelaku yang lain.


Kepala Polisi keluar kantornya, mengacungkan pistol dan menembak tiga kali ke udara. “Berhenti!” teriaknya. Tidak ada yang berhenti. Dia menembak tiga kali lagi ke udara. Tetap tidak ada yang berhenti, malah makin kacau. Suara jeritan dari para pelaku makin keras, darah muncrat dimana-mana. Sebagian pelaku malah ada yang tidak bisa bangun lagi. Akhirnya, dia mengarahkan pistolnya ke Haji Sulton. Emak dan Umi histeris melihatnya...


Dor! Pistol menyalak. Haji Sulton tersentak memegang punggungnya, lalu menatap tajam Kepala Polisi yang menembaknya. Melihat itu, anak buahnya berhenti memukul para pencuri itu. Semua orang terkesima, tubuh Haji Sulton kebal peluru! Timah panas itu hanya merobek bajunya, tapi sama sekali tidak menembus tubuhnya. Jangankan tembus, luka secuil pun tidak.


Haji Sulton menyeret pimpinan pencuri gabah yang sudah seperti gumpalan daging merah itu lalu membantingnya di depan Kepala Polisi. “Tolong urus bajingan ini, Pak, atau saya yang akan urus sendiri kalau Bapak tidak bisa!” suaranya bergema keras dan tegas karena tenaga dalamnya masih aktif penuh. Kepala Polisi itu mengangguk sambil melihat hasil perbuatan Haji Sulton, dia hanya bisa geleng-geleng. Apa jadinya jika tidak dihentikan, mungkin para pencuri itu sudah jadi mayat semua. Setelah berkata itu, Haji Sulton berjalan keluar halaman kantor polisi diikuti semua anak buahnya. Sambil berjalan, Haji Sulton menendang salah seorang pencuri gabah yang sedang berusaha berdiri. Orang itu terpental lima meteran. Tergeletak diam di tanah, tidak bergerak-gerak lagi. Entah mati, entah pingsan.


“Waktu itu pakai ‘Cakra Buana’ Pak Haji?” tanya Hazri.


Sulton mengangguk. “Kamu belum pernah mencobanya?”


Hazri menggeleng.


“Tapi, bisa merapalnya, kan?”


Hazri mengangguk.


‘Cakra Buana’ adalah ajian tertinggi ilmu silat Ki Ageng. Ajian ini mengaktifkan sekaligus semua ajian yang lain. Efek langsungnya adalah kebal, tidak mempan senjata tajam maupun senjata api. Kecuali jika senjata itu terbuat dari beberapa material alam langkah, antara lain besi kuning. Butuh tenaga dalam tinggi untuk bisa mengendalikan ‘Cakra Buana’ karena ajian ini sangat menguras energi tubuh perapalnya.

__ADS_1


“Sepeninggal bapakmu, aku berkeinginan menikahi ibumu...,”


Sulton melirik Hazri, yang dilirik diam saja. “Bukan kenapa-kenapa, niat itu muncul karena rasa tanggung jawabku atas keluarga sahabatku. Zaenab mendukung, dia malah mendesak segera dilaksanakan. Makanya waktu itu aku sering datang ke rumahmu. Ingat?”


Hazri mengangguk. Dia ingat, ketika itu Haji Sulton dan Umi memang sering datang ke rumah. Bicara dengan ibu dan kakaknya. Tapi, Hazri tidak paham apa yang mereka bicarakan.


“Ibumu menghargai niatku, kakakmu juga tidak keberatan. Cuma, ibumu menolak. Dia bilang masih sanggup mengurus anak-anaknya dengan harta peninggalan bapakmu. Apalagi waktu itu kakakmu sudah dewasa juga, bisa diharapkan menggantikan peran bapakmu mencari nafkah. Aku da Zaenab terharu melihat keteguhan hati ibumu. Tapi, aku sempat ngasih uang ke kakakmu karena dia bilang mau merantau. Tanpa ketahuan ibumu tentunya.”


Sulton menyalakan rokok lagi, entah yang ke berapa.


“Hazri, Hazri..., hampir saja aku jadi ayah tirimu ya...,” Sulton memeluk pundak Hazri sambil diguncang-guncang.


Hazri tersenyum.


“Beberapa hari yang lalu ibumu datang menemuiku. Dia bilang, kalau aku memang ingin menolong maka sekarang waktunya. Lalu, ibumu cerita tentang keinginanmu merantau katanya dipengaruhi aku itu, hahaha...,” Sulton tertawa kecil.


Hazri hanya nyengir.


“Eh, Hazri, sebenarnya dari tadi aku mau tanya kepadamu. Aku kan gagal jadi ayah tirimu, bagaimana kalau kamu saja yang menjadi menantuku? Entah katamu, kalau kataku Ria atau Ratna nggak jelek-jelek amat, kan?” Sulton menyebut nama putri sulung dan putri keduanya.


Hazri tersedak ditembak langsung. Salah tingkah jadinya, bolak-balik dia garuk kepala. Sama sekali tidak terduga pertanyaan ini.


“Aku serius, Hazri. Kalau kamu jadi menantuku kan aku bisa istirahat, sebab ada kamu yang ngurus usaha ini. Bagaimana? Ria? Ratna? Atau adik-adiknya?” Sulton masih berharap.


Hzri tidak tahu harus menjawab apa. Tanpa sadar dia terus mengacak-acak rambunya. Tidak enak hati rasanya kepada Haji Sulton yang sedang berharap ini. Suasana pun hening agak lama, sampai akhirnya Sulton terbahak-bahak.


“Hahaha...,Hazri, Hazri..., sama saja kamu ternyata dengan ibu dan bapakmu. Ibumu harta tidak mau. Bapakmu dikasih perempuan pun tidak mau, maunya cuma ibumu. Kamu ditawari jadi menantuku pun tidak mau. Hahaha..., ya sudahlah, Hazri, aku hargai keputusanmu. Tapi, kalau tiba-tiba kamu berubah pikiran, cepatlah temui aku sebelum terlambat ya...,” tawanya masih berlanjut.


“Maafkan saya, Pak Haji,” Hazri berucap pelan.


“Apa yang mesti aku maafkan?” Sulton memandang Hazri dengan tatapan seorang bapak, lalu berdiri mengecek kelapa yang mulai mengering. Dibolak-baliknya beberapa buah kelapa.

__ADS_1


“Sudah larut, Nak, baiknya kamu pergi tidur. Biar digantikan yang lainnya.”


Hazri mengangguk. “Saya duluan, Pak Haji.”


“Ya. Tidurlah!”


Hazri pun beranjak menuju tempat tidur yang disediakan  ala kadarnya. Terlihat beberapa teman karyawan yang bangun tidur siap menggantikan Hazri menemani Haji Sulton bergadang. Dia telah berbaring di tempat tidur saat mendengar teriakan Sulton di tengah malam buta, di tengah kebun kelapa.


“Hei, Ahmad...! aku sudah cerita rahasia kita ke anakmu yang persis kamu keras kepalanya. Jangan marah. Pesankan saja aku tempat yang enak di sana, nanti aku kunjungi pada waktunya. Titip salam buat Burhan. Bilang, istrinya yang juga istrimu itu baik-baik saja di sini. Tapi, aku sial, pas giliranku dia nggak mau, hahaha...”


Hazri geleng-geleng kepala.


*


Hazri masih senyum-senyum sendiri di dalam kamar saat lamunannya mulai pudar.


Itulah kepulangannya yang pertama. Selama dua belas tahun terakhir, Hazri telas dua kali pulang kampung. Empat tahun lalu dia juga pulang saat adiknya menikah. Siti dipinang oleh Udin, seorang guru SD di kota Nganjuk. Setelah menikah, Siti ikut suaminya tinggal di Nganjuk. Sekarang, mereka sudah punya dua anak, laki-laki semua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya Maemunah mau juga diajak tinggal bersama mereka. Itu pun setelah dirayu habis-habisan oleh Siti dan Udin dengan segala cara.


Memang Udin yang membeli rumah itu, tapi uangnya dari Hazri, ini rahasia mereka berdua. Soalnya, Maemunah sampai sekarang tampaknya masih belum menerima kenyataan bahwa anak laki-lakinya menjadi biang preman di Jogjakarta. Walau Emak selalu bersikap baik kepada Hazri, saat mereka saling menelepon atau ketika Hazri datang ke pernikahan Siti, tapi dia tetap tidak mau menerima uang dari Hazri. Sikapnya tidak pernah berubah sejak kedatangan Hazri yang pertama dulu. Kalau tahu rumah itu dibeli menggunakan uang dari Hazri, maka Emak pasti menolak tinggal di situ. Untungnya, Udin cerdas, dia sengaja membeli rumah sederhana yang kira-kira sesuai dengan penghasilannya. Sisanya, dijadikan kebun di kampungnya sana. Kalau semua uang itu dijadikan rumah, bisa jadi paling mentereng di Nganjuk. Hazri setuju saja akal-akalan Udin ini, baginya tidak ada masalah.


Dan, yang jadi masalah adalah bagaimana cara mengirim uang ke kampung tanpa dicurigai Emak. Soalnya, penghasilan Udin sebagai guru tidak berlebih, kalau dia kelihatan banyak uang pasti Emak bakalan tanya-tanya. Sementara Hazri di Jogja bingung dengan uangnya yang terus menggunung itu. Akhirnya, Siti punya ide bagus. Dia minta dibuatkan usaha, ceritanya untuk ‘pelicin uang’ kiriman Hazri. Hazri setuju, Siti dimodali membuka usaha rumah makan. Cerita ke Emak, modalnya dari hasil jual tanah Udin di kampung. Maemunah percaya. Aman.


Kegiatan ‘pelicin uang’ itu lancar awalnya. Tapi, ternyata usaha rumah akan ini malah berkembang, Siti pintar mengelolanya. Keuntungannya yang asli saja lebih dari cukup untuk menopang kehidupan mereka. Mulailah adik dan iparnya itu jarang-jarang minta uang lagi. Setahun terakhir malah tidak pernah sama sekali. Hazri pun bingung lagi, mau dikemanakan uangnya? Tidak ada uang pusing,banyak uang juga pusing. Sama saja ternyata.


Hazri tersenyum kembali di kamarnya. Perlahan-lahan kesadarannya merasuk kembali ke dalam jiwa, hingga akhirnya pulih sepenuhnya. Sekarang, ‘film menyebalkan’ berhubungan dengan Fahmi itu muncul lagi. Hazri mendengus sambil memasukkan sertifikat ke dalam amplop cokelat, lalu beranja mandi setelah mencomot baju dari dalam tas. Hari telah beranjak petang. Rencananya malam nanti dia mau main ke tempat Sapri. Sekalian lihat-lihat situasi....


Secuil kopi



Besi kuning (bahasa Jawa: ꦮꦼꦱꦶꦏꦸꦤꦶꦁ wesi kuning; bahasa Banjar: wasi kuning) adalah benda pusaka/jimat yang dipercaya masyarakat tradisional Jawa dapat melindungi pemegangnya dari marabahaya. Selain itu, pusaka ini juga dipercaya dapat mendatangkan rezeki.Besi kuning adalah campuran dari tujuh logam yang berbeda-beda, yakni besi, emas, perak, tembaga, nikel, perunggu dan timah.

__ADS_1


Besi kuning dikaitkan dengan pertarungan antara Menak Jinggo dan Damar Wulan. Besi kuning dipercaya merupakan serpihan senjata gada milik Menak Jinggo yang berhasil dihancurkan Damar Wulan


__ADS_2