
Sinopsis
Apa yang terjadi apabila di zaman Mataram Hindu dibuat sebuah candi raksasa dengan ukuran yang lebih besar dari pada candi Borobudur? Itulah candi yang terpaksa disembunyikan dengan menggunakan mantra untuk melindunginya dari pihak yang berniat ingin menghancurkannya. Kedua pihak yang ingin melindungi dan pihak yang ingin menghancurkan candi tersebut sama-sama memutuskan untuk reinkarnasi menuntaskan perseteruan yang terjadi.
Adalah Aswara dan Kuswara, dua sosok yang berada di zaman, tempat dan waktu yang salah karena takdir yang melibatkan mereka. Anak yang lahir dari benih mereka, menjadi titisan dari masa silam.
Novel terbaru saya, semoga para pembaca menyukainya dan dapat mengambil pelajaran yang ada.
Salam hangat
Author Jalan Pulang
Episode 1
(Rangkaian peristiwa yang terjadi pada suatu hari di sebuah masa)
__ADS_1
Seorang anak dan ayahnya itu berdiri bersebelahan menatap sebuah bukit yang rimbun akan pohon bambu. Bulan menanjak semakin tinggi, hingga akhirnya menjamah sampai pada puncaknya.
“Di sana ada sesuatu yang menakutkan, le,” bisik sang ayah. Si anak yang berada di sebelahnya merasa penasaran seiring dengan bulu kuduk yang mulai berdiri.
“Sesuatu apa ayah?” balas si anak yang beranjak remaja itu.
Sang ayah hanya bisa diam tidak bisa menjawab, pandangannya masih melihat gerumbulan pohon bambu yang menari-nari terkena angin. Terlampau sulit bagi sang ayah untuk memberitahukan apa yang pernah ia liat sekian tahun yang lalu sebagai sebuah kenyataan. Sudah lama ia menganggap kejadian yang ia alami itu sebagai sebuah mimpi, namun tidak pernah berhasil.
“Dahulu di malam yang sama seperti ini tepat ketika bulan sedang bersinar dengan benderang dan bulat sempurna, ada sebuah bayangan yang teramat besar...” sang ayah berhenti, mulutnya bergetar. “Bayangan yang lama-lama terlihat jelas itu berupa sebuah candi. Candi yang luar biasa besar itu menampakkan diri. Menurutku ukuran candi itu jauh lebih besar dari candi Borobudur, mungkin dua kali lipat lebih besar atau bahkan tiga kali lebih besar. Aku sempat menelusuri candi itu mendapatkan sebuah kenyataan betapa besarnya. Pada bulan purnama berikutnya aku hadir lagi. Agaknya candi itu hanya muncul pada purnama tertentu, bukan di semua purnama.”
Entah itu hanya angan-angan ayahnya? Atau memang nyata adanya?
“Sebuah candi ayah?”
“Iya!” jawab ayahnya, “Tepatnya kalau pada siang hari di gerumbulan bambu itu. Aku telah lama menelusuri dan menyelidiki sepanjang hari, tetapi tidak aku temukan sesuatu yang luar biasa, hanya sebuah bukit yang sama sebagaimana bukit lainnya.”
Si anak berpikir keras, ia masih merasa bingung dengan cerita ayahnya. Sangat sulit untuk dipahami.
__ADS_1
“Sebuah candi yang tidak nampak?” tanya si anak.
Sebenarnya pertanyaan ini merupakan pengulangan dari pertanyaan yang sang ayah ajukan pada dirinya sendiri. Sang ayah menggeleng.
“Menurutku candi itu tersembunyi,” guam ayahnya. “Candi itu benar-benar ada namun sengaja disembunyikan di balik mantra-mantra yang oleh karenanya tidak ada yang bisa melihat keberadaan candi tersebut.
Si anak semakin penasaran.
“Kenapa ayah bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya anaknya. “Menurut ayah, kenapa candi itu harus dihilangkan dari pandangan mata?”
Sang ayah terdiam cukup lama, untuk mencari jawaban yang paling masuk akal.
“Aku rasa karena ada pihak-pihak tertentu yang entah kenapa berniat menghancurkan candi itu. Oleh karena itu muncul pihak lain yang berusaha untuk melindungi candi tersebut dengan cara melenyapkan dari pandangan mata.”
Seiring dengan perjalanan waktu, lelaki tua itu semakin tua dan semakin tua. Sebagaimana kodratnya sebagai manusia tidak mungkin mengimbangi gerak dari sang waktu. Umur itu ada batasnya yang mengantarkan lelaki tua itu sampai pada tarikan napas terakhir. Ia meninggal dengan segumpal rasa penasaran karena tidak pernah memperoleh jawaban pasti dari rasa penasarannya selama ini.
Namun rasa penasaran itu tidak lantas lenyap begitu saja, ada pewarisnya, diwariskan, diwariskan dan diwariskan lagi. Selanjutnya tentang candi yang lenyap itu, susah dibedakan, apakah benar-benar nyata atau hanya dongeng pengantar tidur semata.
__ADS_1