
“Pak Haji, kata Bu Haji ada tamu di rumah. ..,” kata seorang bocah seumuran SD kepada Hazri yang sedang ngobrol di masjid, bakda ashar.
“Siapa, le?” tanya Hazri. Tole adalah panggilan untuk anak kecil di jawa.
“Pak Bima....”
Hazri kaget. Bima? KM Bima? Hudakah? Dia membatin.
“Sama Pak Memeng...,” lanjut bocah itu.
“Memeng? Komeng mungkin ya?” tanya Hazri.
“Iya, iya, Pak Haji. Pak Komeng, bukan Pak Memeng.”
Subhanallah! Huda dan Komeng di Tidar? Ya Allah....
Hazri pun mohon diri dari ‘forum ngobrol’ itu dan segera pulang. Tampak dari kejauhan, Huda dan Komeng duduk di teras depan ditemani Ami.
“Assalamu’alaikum, Pak Haji! Hahaha...,” Hazri berseru dari depan pagar.
Huda dan Komeng menoleh.
“Wa’alaikum salam, Haji...!” sambut Huda. “Hahaha. ..,” dia juga tertawa.
Lalu, mereka pun berpelukan erat, menangis haru dua-duanya. Komeng memperhatikan, matanya pun basah berkaca-kaca. Pak ARif yang entah di mana selama ini, sekarang ada lagi di depannya. Ami mesam-mesem melihat dua laki-laki yang bertangisan itu. Dia sudah mendengar sedikit kisah masa lalu Hazri dari Huda. Yang bagus-bagusnya tentu, termasuk cerita perompak di Laut Jawa. Kalau yang ‘cika-cikaan’ tidak. Huda maklum, barang berbahaya itu.
“Pak Haji...,” Komeng maju menyalami dan mencium tangan Hazri setelah acara berpelukan antara dua sahabat lama itu mereda.
“Apa kabar, Meng? Gemuk kau sekarang ya, hahaha..”
Komeng tersenyum. Perutnya memang menggemuk setelah menikah.
“Adik iparku dia...,” kata Huda.
“Alhamdulillah... Jadi kau menikah sama Ratna?” tanya Hazri ke Komeng.
“Begitulah, Pak Haji. Terima kasih sekali.”
“Lho? Kok terima kasih ke saya?”
Komeng tersenyum lagi.
“Dia sudah tahu. Kuceritakan semuanya,” kata Huda.
“Oo gitu. Hahaha....”
“Ehem...,” Ami mendehem.
Hazri nyengir. “Ini Yayangku, Haji...,” kata Hazri.
“Iya. Kukira gadis tadi waktu datang. Untung cepat bilang kalau , istrimu. Telat sedikit, kunyatakan cintaku...,” canda Huda.
“Hahaha..., Haji, Haji..., nggak berubah sekian tahun?”
Ami tersipu-sipu. “Mas, saya masuk ya....”
“Iya, Dek. Memang jangan kelamaan di sini. Bisa gawat.”
Mereka pun tertawa-tawa lagi.
Ami geleng-geleng kepala. sambil berlalu. Wajahnya tersenyum maklum.
“Eh, Dek, mana si Fia?”
Ami berhenti sejenak. “Di rumah bapak. Ini mau diambil.”
“Iya, ambil ke sini. Biar kenalan sama omnya yang pelaut.”
Ami mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Selepas Ami pergi, Huda menghela napas. “Baiklah, Haji Mahmud, tolong ceritakan sejelas-jelasnya sebelum saya ngamuk. Ada apa ini dan kenapa tidak pernah bisa dihubungi? Jangan ngibul...,” kata Huda dengan wajah diserius-seriuskan.
Hazri meringis. Komeng tertawa kecil.
“Panjang ceritanya, Haji. Haji dululah yang cerita...,” kata Hazri.
“Nggak, nggak. Ceritaku datar, nggak seru. Kau duluan,”
“Nanti sajalah ya...,” pinta Hazri sambil melirik Komeng.
“Sudah tidak ada rahasia, Rif, Komeng sudah tahu. Berat kutanggung sendiri. Kubagi sama dia setelah jadi adikku. Maaf...,” kata Huda.
Hazri mengangguk-angguk. “Jadi, kau sudah tahu, Meng?”
“Sebatas yang diberi tahu Cak Huda,” jawab Komeng.
Hazri menghela napas lalu tersenyum. “Baiklah...,” lalu dia pun bercerita. Mulai dari perjalanannya menuju Jogja, belok ke Magelang mau menengok istrinya Bagas, beli rumah pembantaian, HP terjun ke sungai, bikin peternakan merpati, menikah, dan seterusnya. Semuanya, kecuali tentang kemursyidannya.
“Jadi HP itu hancur?” tanya Huda.
Hazri mengangguk. “Berkeping-keping. SIM Card-nya hilang. Hilang nomormu dan nomornya Imam. Memang cuma itu isinya.”
“Jatuhnya pas selesai kita bicara yang terakhir?” tanya Huda lagi.
“Iya. Lima menit kemudianlah.”
Huda geleng-geleng kepala. “Nggak ada catatan lain?”
“Ada, kucatat di buku agenda. Cuma sampai sekarang entah di mana buku itu. Kayaknya ketinggalan di restorannya Pak... siapa? Restoran padang itu?”
“Sabri?”
“He-em, Pak Sabri.”
“Kapan?”
Huda geleng-geleng kepala lagi. “Jadi, blank setelah itu?”
“Ya poek-lah...”
Komeng tersenyum mendengar Hazri berkata poek. Tahu dia artinya karena orang Banten.
“Apaan poek?” tanya Huda.
“Gelap, Cak,” Komeng yang menjawab.
“Oo..., terus kenapa nggak ke Jogja?” selidik Huda lagi.
Hazri menghela napas. “Ceritanya seperti dongeng...,” lalu dia pun menceritakan halangan gaib yang muncul setiap kali berniat keluar dari Tidar. Sekalian kisah cahaya-cahaya itu. “Terserah. Percaya boleh, tidak juga nggak apa-apa. Memang tidak gampang dicerna kisah ini. Kalau nggak ngalamin sendiri, mungkin aku juga susah mempercayainya.”
“Aku percaya, Rif, percaya..” kata Huda sambil mengangguk-angguk.
“Kok bisa?” tanya Hazri.
“Sebab, aku juga ngalamin hal serupa walau nggak sama.”
“Hah? Maksudmu, kau juga nggak bisa ke mana-mana?”
“Bukan, bukan itu. Aku baru ingat lagi nama Tidar dua hari yang lalu di tengah laut. Menjelang sandar di Semarang kemarin.”
“Masak sih? Lupa?”
“Bukan sekedar lupa ini. Aku yakin pasti ada sesuatunya. Masak bahkan nama Magelang pun tidak ingat. Jogja, Solo, Sleman, Kebumen, Madiun, Klaten.... Tuh, gampang, kan? Ini Magelang, kemarin-kemarin lenyap. Kayak nggak ada yang namanya Magelang. Adanya, Jogja, Solo, Sleman, Kebumen, Madiun, Klaten. Semuanya kuingat, kecuali Magelang. Boro-boro Tidar...”
Hazri terpana sejenak, lalu tersenyum. “Subhanallah....,” gumamnya pelan.
“Percaya nggak nih?” tanya Huda lagi.
“Percaya. Seribu persen percaya,” jawab Hazri mesem.
__ADS_1
“Kok bisa?”
“Kok bisa kok bisa, ya bisalah, hahaha..”
“Lucu Cak Huda waktu nyari Pak Haji di Soio,” celetak Komeng.
“Nyari saya, Meng?”
“Iya. Tiga kali. Di Klaten, Madiun, sama Solo. Saya yang antar”
“Hahaha.... Gimana itu?”
Huda cengengesan.
“Kacau. Nanya ke semua orang. Kenal Pak Arif nggak? Ciri-cirinya begini begitu; yang ditanya bingung dikasih ciri-ciri. Dilihatin foto juga belum tentu kenal apalagi cuma ciri-ciri.”
“Hahaha...,” Hazri tertawa. Terpaksa Huda ikut terkekeh.
“Di Solo paling parah...,” lanjut Komeng.
“Gimana tuh?” Hazri antusias.
“Biasa, nanya orang lewat. Di mana kampung Jiong? Pas kebetulan orang itu tahu, mau ngantar lagi dia. Gembira sekali Cak Huda. Sepanjang jalan ke sana saya diomelin. Soalnya waktu mau berangkat dari Madiun saya bilang percuma nyari Pak Arif kalau tidak punya alamatnya. Di Klaten sama Solo kemarin kan buntu. Lihat nih Meng, kalau pantang menyerah pasti ketemu, kata Cak Huda. Kenceng lagi. Ternyata, hehehe..., kita dibawa ke rumah pelacuran.”
Hazri terbahak-bahak. Huda terpingkal. “Sialan itu orang,” katanya.
“Kok bisa nyasar ke situ?” tanya Hazri sambil masih tertawa.
“Jiong di sana artinya begituan....”
“Hahaha...,” terbahaklah mereka semua.
Di depan pagar, tampak Ami menggandeng si Fia.
“Sini, Sayang...,” panggil Hazri.
“Kenalin nih teman-teman ayah. Ini namanya Om Huda, yang itu Om Komeng. Ayo salim.”
Gadis kecil itu pun menyalami dan mencium tangan Huda dan Komeng.
“Siapa namanya, Cantik?” tanya Huda.
“Pia...,” jawab Fia lantang. Biasa ‘F’ jadi ‘P’ kalau anak-anak. “Om Uda, Om Meng, Pia mo mandi ulu ya...,” sambung gadis kecil ini. “Daahh...,” dia ngeloyor masuk ke dalam rumah. Ibunya mengikuti.
Huda dan Komeng tersenyum mengamati. “Cantik, Rif, lucu”
Hazri tertawa. Komeng nyengir.
“Buntut sudah berapa, Rif?” tanya Huda kemudian.
“Satu. Si Fia itu.”
“Satu? Hemat amat?”
“Emang kau berapa sekarang?” balik tanya Hazri.
“Lima. Yang bungsu masih di perut ibunya. Empat bulan lagi keluar.”
“Lima? Mantap sekali?”
“Huda...”
Hazri terkekeh. “Kalau kamu, Meng?”
“Tiga.”
“Heh? Kalah telak aku ya?”
Mereka pun kembali tertawa-tawa sejenak.
__ADS_1