Jalan Pulang

Jalan Pulang
000. selamat jalan


__ADS_3


Pengantar Penulis


Seperti bisik-bisik mesra saya kepada beberapa sahabat yang baik hati di Jogja, bahwa novel ini kental nuansa tasawufnya, maka saya pun berbisik demikian kepada sahabat sekalian. Apa boleh buat, sebab sahibulhikayatnya memang guru tasawuf. Jadilah beberapa sahabat, yang berkeliaran di bab terakhir kisah ini, bingung. Apaan sih itu? Ilmu kebatinan? Untung dua sahabat saya yang lebih dekat kepada Allah, bisa menjawab lewat kutipan definisi yang tercantum dalam draf karya tulis mereka. Bahwa, tasawuf adalah kesadaran atas kenyataan Tunggal. Nah, itulah, di batas kata-kata. Qul huwallahu ahad, kata al-Qur’an. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, jaga bisa. Tiada niat yang lebih tinggi dari taqarrub ilallah dalam penulisan kisah ini. Sekiranya ada hal yang barangkali tersampaikan dengan agak tajam, semata-mata itu penyesuaian terhadap langgam novel yang dituntut “bergelombang” sesuai irama riak seni kehidupan. Bukan novel namanya kalau berirama “ular menelan linggis”, bukan? Namun, izinkan saya meminta maaf duluan jika memang dipandang ada sepatah dua patah yang demikian pada corat-coret ini.


Maka, ke hadapan-Mu, ingsun tidaklah sanggup berujat apa. Shalawat serta salam terhaturkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., para sahabat, para aulia, dan Syekhuna Subakir . Terkirim pula terima kasih kepada sekalian mukminin dan mukminat.


Kepada pihak Noveltoon, saya haturkan banyak terima kasih. Begitu pun kepada  pembaca yang terhormat. Melalui Anda, insya Allah corat-coret ini bisa menjadi lebih bermakna. Saya terbuka untuk kritik, saran, dan komentar. Semua kembali kepada-Nya. Dia-lah yang menggores Pena. Amin....


Novel ini adalah bentuk amanat dari Bang Hazri Tiger kepada saya untuk menulis dan mempublikasikannya. Kata Bang Hazri, “Seperti kopi yang akan menemukan penikmatnya sendiri, begitupun dengan novel yang kau tulis ini.” Tokoh utama dalam novel ini adalah seseorang yang penting dalam mengubah kehidupan Bang Hazri.


Bang Hazri juga mengirim salam hangat kepada pembaca semua. “Karena hidup hanya ada dua cerita, dari mana kita datang dan kemana kita pulang. Datang mencari apa dan pulang membawa apa.”


Jombang Desember, 2022

__ADS_1


***


Minggu pagi yang cerah. Sang surya tak tampak sungkan memancarkan sinar abadi yang telah dijanjikan hingga akhir masa. Berjuta embun masih tersisa, berayun kelap-kelip di pucuk dedaunan. Lalu, sebagiannya lepas melayang, hingga pecah di hamparan tanah dalam pasrah. Berbelas burung mungil kuning kehijauan bercanda riang dalam rumpun bambu jepang. Celotehnya tiada dosa, menyumbang nada bagi senandung alam. Di seberang sana, bulir-bulir padi mulai menggadis, melenggang-lenggok genit dicumbu bayu. Langit membiru syahdu, awan putih berkejar-kejaran. Di dekat pintu, Akas sibuk mencari sepatu.


“Bungsu, ayo! Nanti telat,” ujar Haryati, ibunya.


“Sebentar, Bu, sepatuku hilang satu” sahut Akas dari balik pintu.


Haryati tersenyum, lalu pura-pura melotot ke Haryono, putra sulungnya yang cengengesan itu. Rani, Sulis, dan Wati, tiga anak perempuannya tertawa lucu. Semua tahu kalau kakak sulung sedang mencandai adik bungsu mereka.


“Iya, Bu, hehehe.... Kas, ini lho, sepatumu di sini!” seru si sulung.


Akas nongol dari balik pintu. Wajahnya rusuh, dan langsung memburu sang kakak yang mengacungkan sebelah sepatunya. Ributlah mereka karena Haryono mencandai adiknya lagi. Sepatu tidak langsung dikasihkan, dikelat-kelit dulu kesana-kemari. Lalu, Buk! Si bungsu menyodok perut si sulung. Barulah sang kakak mereda jahilnya sambil meringis mengusap-usap perut.


“Sudah, sudah,” ujar Haryati, melihat gejala si bungsu dan si sulung mau lanjut main tinju-tinjuan. “Sudah, ayo berangkat. Nanti keburu terlambat sampai gereja, nggak enak sama Pater Jo.”

__ADS_1


“Pulangnya kita terusin!” Akas menantang kakaknya.


“Boleh, hehehe. ..,” Haryono terkekeh.


Haryati mesem geleng-geleng kepala. Tiga anak perempuannya juga ikut menggeleng-geleng sambil meringis. Mereka bingung melihat kelakuan anak laki-laki yang bawaannya suka pukul-pukulan. Apa nggak sakit, sih?


“Mas, kami berangkat, ya,” Haryati berkata ke Hanafi, suaminya.


Sang suami yang sedang memangkas tanaman pagar rumah tersenyum mengangguk, “Hati-hati,” ujarnya pelan.


Haryati balas tersenyum, lalu salim ke suami tersayang. Anak-anak pun bergantian salaman cium tangan ke ayah mereka yang Islam itu. Khusus buat si bungsu, sang ayah mengajak main tinju-tinjuan sebentar. Akas terkekeh riang. Senang dapat latihan untuk “perang saudara” sepulang dari gereja nanti.


“Sudah, sudah, ayo. Mas Nafi ini lho, malah ngajarin,” Haryati protes.


Hanafi tertawa pelan. “Ya sudah, berangkat sana,” ujarnya ke si bungsu.

__ADS_1


“Nanti latihannya ditambahin ya, Pak?” pinta Akas. Hanafi tertawa, yang lain juga. Lalu, rombongan pun berangkat menuju gereja di pusat kota Sedayu. Sang ayah menghela napas panjang sambil menatap punggung istri dan kelima anaknya. Takdir telah menggariskan bahwa dia dan Haryati, perempuan cantik bermarga AMeng, saling menjerat cinta. Sambil duduk istirahat, perlahan-lahan kenangannya terbang ke masa silam....


__ADS_2