
Sudah tiga hari Hazri ‘berlibur’ di Madiun, menginap di sebuah losmen kecil. Dia baru sadar HP-nya tidak berada di tempat saat singgah makan di warteg pinggir jalan pantura ketika menuju Madiun kemarin dulu. Tampaknya tersambar peluru. Hancur, yang nyangkut diikat pinggang tinggal sebagian sarung kulitnya saja. Masalahnya, Hazri tidak hafal nomor Romi atau Tomi, tidak juga Udin dan Siti. Sekedar catatan pun tak ada. Seperti banteng nunggal dia kini. Kerbau jantan liar yang terpisah dari kawanannya....
Kemarin Hazri masuk pasar yang dulu sering dia dan Haji Sulton singgahi untuk mengirim pesanan rempeyek maupun kopra, lihat-lihat situasi. Tidak banyak perubahan di pasar ini dibandingkan saat pertama dia tiba di sini dua belas tahun lalu. Cuma sekarang tampak lebih semarak dan lebih rapi. Ada beberapa bangunan baru, mungkin kantor, taman-tamannya juga terlihat lebih segar dan apik. Namun, secara umum Hazri tidak pangling.
Saat berputar-putar di lingkungan pasar, Hazri melihat restoran padang tempatnya dulu diajak makan oleh Haji Sulton sebelum berangkat ke Jogja. Masih di situ lokasinya, cuma sekarang tempatnya lebih besar dan megah. Kelihatannya maju usaha restoran ini. Hazri pun masuk. Setelah makan, dia bertanya-tanya ke pemilik restoran tentang Haji Sulton. Mungkin Bapak ini tahu.
“Sudah hampir empat tahunan Haji Sulton tidak mampir ke sini, yang pegang truk usahanya sekarang Haji Huda, menantunya...,” kata Sabri, pemilik restoran.
“Haji Huda...?” Hazri bergumam.
“Iya, Haji Huda. Kalau sedang ke Madiun dan pasar sini, dia pasti makan di sini,”
“Seumuran saya kira-kira Haji Huda itu, Pak?”
Sabri mengamati Hazri sejenak. “Iya, sebapak ginilah. Berapa bulan lalu dia pernah makan di sini sama istrinya. Eemm, kalau tidak salah namanya Bu Ria. Putri sulungnya Pak Haji Sulton.” Sabri menanyakan nama istri Haji Huda kepada istrinya yang duduk di meja kasir. “Iya, Bu Ria...,” jawab istrinya itu.
“Haji Huda, Bu Ria...,” Hazri bergumam sambil meringis.
“Bapak kenal sama Haji Huda?” tanya Sabri.
Hazri mengangguk. “Bu Rianya juga.”
Sabri manggut-manggur.
“Mungkin Pak Sabri tahu, kira-kira trukHaji Huda datang nggak dekat-dekat waktu ini?” tanya Hazri.
“Wah, Nggak tahu pastinya, tapi sebentar saya tanyakan...,” Sabri menghampiri seorang pengunjung restorannya yang berpakaian seragam pegawai pasar. Berbincang sejenak lalu kembali. “Kalau menurut keterangan nggak bakalan lama lagi ke sini katanya. Mungkin beberapa hari lagi sampai.”
Hazri tersenyum senang. “Kangen juga saya sama Haji Huda. Boleh saya titip pesan untuk Haji Huda kalau tiba nanti?”
“Silakan, Pak, nanti saya sampaikan.”
Hazri meminta secarik kertas. Hazri menuliskan nomor HP barunya yang dibeli kemarin dan pesan singkat berbunyi, 'Aku menantang Bapak Haji Huda yang terhormat, adu cepat panjat pohon kelapa lagi. Kalau berani....Sahabat larmamu,'
Sabri tertawa membaca pesan itu. “Mau buat kejutan ya, Pak? Sudah berapa lama nggak ketemu Pak Haji Huda?”
“Dua belas tahunan. Dulu, dua belas tahun lalu, saya juga pernah makan di sini sama Haji Sulton” kata Hazri.
“Oo iya?” Sabri terbelalak senang.
Hazri mengangguk. “Kalau nggak salah Bapak sendiri yang melayani waktu itu.”
“Oo ya...?” Sabri makin senang.
Hazri tertawa kecil. “Ya sudah, Pak, saya pamit dulu. Boleh minta kartu nama ini?” Hazri mengambil selembar kartu nama yang memang disediakan Sabri untuk promosi restorannya.
“Silakan, Pak, silakan. Nanti pesannya akan saya sampaikan ke Haji Huda.”
Hazri mernbayar makanannya, berjabat tangan dengan Sabri lalu segera pergi. Kembali ke losmen.
“Bu, ini pesan untuk Haji Huda,” Sabri menyerahkan pesan itu ke istrinya.
“Dari siapa, Pak?” tanya istrinya.
“Walah, lupa aku tanya namanya. Sudah, kasihkan saja ke Haji Huda.”
Istri Sabri mengangguk. Kertas pesan Hazri itu ditancapkan ke papan pesan yang tergantung dekat meja kasir. Orang mernang sering titip-titip pesan di restoran ini, untuk bermacam keperluan.
Ini mungkin maksudnya? Hazri bergumam dalam hati saat balik ke losmen. Hampir lima tahun lalu, Hazri sempat jumpa Haji Sulton di acara pernikahan Siti dengan Udin. “Telat kau, Hazri, si sulung....” Haji Sulton memutus ucapannya. Hazri tertawa waktu itu, menyangka Hazri Sulton menyindir dirinya yang dilangkahi Siti. ‘Sialan kau, Huda, beruntung kali kau ini.’ Dia pun tersenyum tipis.
Tadi Pak Sabri juga bilang, kalau bisnis Haji Sulton semakin berkembang pesat. Kini bukan hanya memiliki puluhan truk, Haji Sulton juga mempunyai sebuah kapal untuk mengirim hasil kopranya. Dan Haji Huda yang sering membawa kapal ini, oleh sebab itu Haji Huda jarang kelihatan di pasar Madiun. Keseringan berlayar.
Hazri singgah sebentar di sebuah toko besar. Beli makanan, minuman ringan, rokok, serta perlengkapan mandi. Kebetulan dekat situ ada toko baju-baju kaus, dia membeli beberapa potong karena miliknya yang tersisa sudah tidak keruan bentuk dan baunya. Beberapa lembar koran pun dibelinya dari seorang bocah penjual koran dan majalah asongan.
Hari ini belum ada kabar dari Huda. Seperti yang sudah-sudah, Hazri tidur-tiduran saja di kamar sarnbil menyimak berita TV dan baca koran. Sejak kemarin, berarti sehari setelah kejadian, berita penyergapan polisi atas pentolan Kopen di Jogja mendominasi tayangan kriminal televisi. Koran yang kemarin dibeli dan yang hari ini pun tidak mau kalah memberitakannya. Foto Hazri terpampang, masih yang dulu. Sedikit direkayasa, ditempel jenggot, cambang, dan kumis. Tapi, malah tambah beda dari aslinya. Seperti dulu, hampir semua channel TV memutar berulang-ulang press release Fahmi. Dalam tayangan itu, tampak wajah perwira menengah polis ini penuh bercak luka kecil akibat terjangan peluru pasir. Gemparlah Jogja karena peristiwa itu.
Hazri menunduk sedih, perih nian perasaannya. Sebuah chanel televisi baru saja menyiarkan ulang berita tentang tewasnya seorang anggota Kopen di pasar pagi Giwangan. Hazri sudah tahu peristiwa itu dari koran kemarin. Namun, duka tetaplah lara. Dia memandang jaket Kopeng yang tergantung di pintu kamar losmennya. Seandainya Kopeng tidak memberikan jaket itu kepadanya, mungkin....
Hazri terpekur. menunduk geleng-geleng kepala. Kelebat-kelebat wajah Ajay, Sapri, Simon, Bagas, Kuncrit, Kopeng, muncul bergantian. Perlahan, butir-butir bening air matanya pun menetes jatuh. “Ya Allah. ..,” rintihnya pilu. Tanpa sadar dia menyebut nama Tuhan yang celah sekian lama terabaikan..
\====
Lima hari sudah Hazri menginap di losmen ini. Berbeda dengan Jogja dan Solo, situasi Madiun terasa lebih ringan bagi dirinya. Walau sadar bahwa polisi di sini juga mencarinya, tetapi tidak seketat sana. Sejak tiba, ‘Rogo Swara’ belum pernah berdegub kencang. Kalem-kalem saja. Tanpa mengurangi kewaspadaannya, Hazri memilih diam di tempat. Berpindah-pindah pada situasi ‘aman’ seperti ini malah lebih beresiko. Lagi pula dia tidak paham kota Madiun, salah-salah malah nyasar ke kantor polisi.
Berarti sudah hari keempat sejak Hazri menitip pesan kepada Sabri. Belum datang juga kabar dari Huda. Rencananya siang nanti dia mau pergi ke pasar, lihat-lihat situasi sekalian makan siang di restoran Sabri. Sekarang baru jam setengah sepuluh. Hazri duduk-duduk nonton TV, membuang waktu. Masih sama berita utama kriminalnya. Tentang Jogja itu.
Tiba-tiba HP berdering. Sejak dibeli, Hazri baru memberi tahu nomornya ke Sabri lewat pesan untuk Huda itu. Berarti panggilan ini dari Sabri atau Huda. Hazri melihat nomor yang memanggil, ternyata, bukan nomor telepon restoran padang milik Sabri itu. Nah, ini dia...
__ADS_1
“Hallo...,” Hazri menyapa. Suara di gagah-gagahkan.
“Assalaaa...mu'alaikuummm...,” balas di sana, kencang dan riang: “Di mana? Aku terima tantangannya, hahaha. ..,” Huda tertawa-tawa.
Hazri pun tertawa.
“Eh, Hud, Huda..., jangan panggil Hazri. Panggil Arif saja...,” katanya mengingatkan.
“Hahaha... Kenapa, Rif? Takut?” canda Huda. Dia sudah tahu profesi Hazri di Jogja. Tahu juga kalau sekarang sahabat lamanya ini sedang dibelit kasus berat. “Kau di mana, di mana?”
Hazri memberitahukan losmen tempatnya menginap.
“Oke...,Aku tahu itu. Ya sudah, aku ke sana. Tunggu ya....”
Hazri pun menunggu Huda. Pistol diselipkan di punggung, bagaimanapun dia harus tetap waspada. ‘Cakra Buana’ stand by. Hampir setengah jam kemudian pintu kamarnya diketuk.
“Assalamu alaikum...,” terdengar suara Huda.
Hazri tidak membalas, langsung membukakan pintu.
“Hahaha...,” Huda tertawa dan langsung memeluk Hazri yang dilihatnya nongol dari balik pintu. Hazri balas memeluk. Erat.
Huda masuk ke dalam kamar. Hazri mengunci pintu sambil diam-diam memeriksa lewat ajian ‘Rogo Swara’, aman ternyata.
“Gimana kabarmu, Zri...eh, Rif?” kata Huda membuka obrolan.
“Beginilah....”
“Boleh Hazri atau tetap Arif kupanggilnya nih?”
Hazri meringis. “Terserah kau kalau di sini.”
“Arif saja, biar aman. Sekalian latihan.”
“Gimana, gimana? Pengen dengar aku ceritamu.”
“Kau duluan.... Sialan, berhasil kau dapat Ria, ya?”
Huda tertawa lagi. “Entahlah, Rif, beruntung aku ini. Tiba-tiba Haji Sulton menemuiku dan langsung memintaku jadi menantunya. Busyet, bengong aku....”
“Montong, Rif, montong....”
Mereka tertawa-tawa.
“Kau tahu si Ria kayak apa? Pernah ketemu?”
“Pernah. Terakhir waktu nikahannya Siti.”
“Gimana menurutmu?” kejar Huda.
Hazri meringis. “Mantap....”
“Nah, langsung tegang adikku...”sambar Huda sambil menepuk pelan bawah perutnya. “Normal, kan?”
“Hahaha... bisa aja kau. Terus, kau terima?”
“Iyalah. Bego dunia akhirat kalau nolak.”
Hazri senyum-senyum. “Sudah berapa anakmu?”
“Dua, yang kecil barusan merojol sebulan lalu.”
“Tokcer juga kau?”
“Hehehe..., Huda....”
Mereka tertawa-tawa lagi.
“Haji Sulton apa kabar?” tanya Hazri kemudian.
“Agak sakit-sakitan akhir-akhir ini. Sudah tua mungkin, Rif.”
Hazri manggut-manggut. “Umi?”
“Umi baik, begitulah. Haji sama Umi banyak di rumah sekarang, main-main sama cucunya. Ratna juga sudah nikah tuh....”
“Oo, sudah nikah dia?”
__ADS_1
Huda mengangguk. “Dapat orang Mojokerto. Kalau kau mau ikutan, paling dekat si Reni...,” serius Huda menyebut nama putri ketiga Haji Sulton itu.
“Ah, sialan kau...,” Hazri meringis.
“Heee, belum tahu ya? Cantik Reni sekarang. Paling cantik di antara mereka berlima.”
“Percaya...,” kata Hazri. Sejak dulu Reni memang sudah campak bakal paling cantik di antara putri-putri Haji Sulton. Cuma masih kecil saja ketika itu.
“Jadi gimana? Kuurus nih?” tantang Huda serius.
“Gila kau, Hud, jangan...,” Hazri berkelit.
“Wah, parah bosnya Kopen...,” kata Huda. “Eh, betul Kopen ya?”
Hazri mengangguk.
“Atau, jangan-jangan kau masih demen sama Ria?” tembak Huda tiba-tiba.
“Heh? Kata siapa?” Hazri kaget.
“Nah kan...,betul dugaanku, yang dibilang Haji Sulton calon menantunya nggak datang-datang itu pasti kau, Rif. Iya, kan? tebak Huda yakin. Bibirnya tersenyum.
“Ngawur kau, Hud? Makin gila aja kau...,” Hazri meringis.
“Pasti kau, pasti...,” gumam Huda mengangguk-angguk. “Tapi, Ria sama Ratna terlambat. Sudah, kau sama Reni saja. Oke?” pancingnya lagi.
“Nggak ah...Repot aku kalau kau kakak iparku...,” balas Hazri.
“Gampang Bisa diatur itu...,” Huda cengengesan. “Jadi?”
“Nggak.”
“Hah, payah...,” Huda tambah cengengesan.
Hazri nyengir kuda.
“Sekarang giliranmu. Sudah kawin?” tanya Huda langsung.
Hazri menggeleng.
“Kawin? Masak belum?”
Hazri tertawa. “Nikahnya yang belum.”
“Nah, gitu. Siapa yang percaya bos Kopen belum kawin. Ceritain dong?”
“Apanya yang diceritain?” Hazri terkekeh.
“Halah, ya siapa namanya kek gitu.... Masak kawinnya?” balas Huda.
Hazri masih terkekeh. “Dewi...,” dia menjawab.
“Bagus juga namanya. Cantik nggak?”
“Cantik kataku. Sebentar...,” Hazri mengambil buku agenda dari tasnya. Dia menyimpan beberapa lembar foto Dewi di situ. “Nih...”
“Busyet, seksi amat...,” Huda melotot melihat foto-foto eksklusif Dewi jepretan studio. Di situ Dewi berpose aduhai menggemaskan. Khusus untuk Hazri.
“Mirip...,” Huda bergumam tanpa sadar.
“Mirip apaan?” tanya Hazri.
“Nggak...,” jawab Huda cepat. Lalu, kembali anteng menikmati foto-foto itu.
“Sudah, sudah. Sini...,” Hazri menyabet foto-fotonya. “Kelamaan bisa lupa anak istri kau nanti.”
Huda meringis. “Cantik, Rif, putih. Ada temannya nggak?”
“Apa? Mau coba-coba?” Hazri senyum. “Ketahuan Haji Sulton dipecat kau jadi menantunya. Balik bawa kolor doang.”
“Hahaha. .,” Huda ngakak, “Benar, Asli, kolor doang...” Hazri juga tertawa.
Perbincangan terus berlangsung. Huda meminta Hazri menceritakan kisahnya sampai bisa menjadi ketua preman dan buronan polisi sekarang. Awalnya Hazri agak segan, tapi karena Huda memaksa maka dia pun akhirnya bersedia.
“Ini bukan kisah bahagia, Hud, banyak duka dan air matanya. Benar kau mau dengar?” tanya Hazri.
Huda mengangguk.
__ADS_1