
Entah berapa lama sudah mereka tertidur, sampai akhirnya Cika terbangun karena suara dering telepon yang juga bisa jadi interkom di kamar itu. Pelan-pelan dia beranjak bangun.
“Halo, Her...,” sapa Huda dari kamar seberang.
“Cika, Om,” kata gadis ini.
“Oo, Cika, hahaha. ... Gimana, Sayang?”
“Apanya, Om?”
“Itu, kuda Sumbawa ngamuk...”
“Heemm, ngeri deh...”
“Hahaha.... Sampai kayak gitu? Mana Mas Heru-nya?” Huda penasaran.
“Masih bobo, kecapekan...,” Cika terus membual.
“Busyet, hahaha...,” Huda percaya bualan Cika. “Ya sudah, Cika, nanti kutelepon lagi.” Dia menutup teleponnya.
Cika mesem sambil menaruh gagang teleponnya. Pas menoleh, Hazri sudah bangun walau masih dalam posisi berbaring. ‘Aril’ itu tersenyum kepada-nya. “Sudah bangun, Mas?” dia bertanya.
“Ini sudah melotot...,” jawab Hazri.
Mereka sama-sama tersenyum. Hazri menelan ludah melihat buah dada Cika yang menyembul dari jubahnya. Gadis itu terus tersenyum melihat bola mata Hazri yang benar-benar melotot itu.
“Masih ada waktu...,” desah Cika menggoda.
Dasarnya, Hazri memang tergoda. Sesaat lupa kejadian yang barusan dialaminya tadi. Dia beranjak bangun hendak merengkuh tubuh Cika yang menggetarkan saraf kelelakiannya itu. Tapi, tiba-tiba suara tadi kembali menghunjam kalbunya... “Kamu mengingkari-Nya...?!” Membentak keras, wibawa mandraguna.
Hazri terhenyak kaget, Cika juga. Tampak olehnya, Hazri yang telah bangkit itu seperti didorong kembali ke posisi tidurnya. Entah oleh siapa atau apa. Napas pemuda ini terengah-engah lagi, wajahnya langsung memucat, mata mengejap-ngejap. Seolah ada beban mahaberat yang menindihnya. Hazri telentang diam di tempat tidur tak mampu bergerak.
“Mas, Mas...,” Cika panik mengguncang-guncang tubuh Hazri. Gagal, tubuh pemuda ini terbujur kaku. Lalu, dia mengangkat relepon hendak minta tolong....Aneh, telepon mati, Dicobanya beberapa kali tetap gagal tersambung. Cika lari ke arah pintu.... Ajaib, kunci yang tadi ada tergantung sekarang lenyap. Cika pun berteriak-teriak minta tolong, namun tak ada suara yang keluar. Dia makin panik.... Saat akan menggedor pintu, tiba-tiba tubuhnya bergetar lalu jatuh terkulai di lantai. Pingsan.
Sementara itu kondisi Hazri semakin kritis. ‘Beban’ itu setahap demi setahap bertambah berat menindihnya. Napas Hazri bukan cuma terengah-engah kini, megap-megap... secuil-secuil.... Seolah detik-detik sakaratul maut telah tiba baginya. Ketika napas terasa tinggal beberapa helai saja di batas tenggorokan, Hard berseru pasrah dalam kalbunya... ‘Allah! Allah! Allaaaaaahhhh...!’
Byar... Beban mahaberat itu pun lenyap seketika. Hazri tersentak, sampai bangun terduduk dari posisi tidurnya. “Allaaaaaahhh...,” Hazri menyebut asma-Nya dalam desahan panjang. Air mata bercucuran tak tertahan. Biang preman ini menangis sesenggukan. “Allah...,” desahnya lagi di tengah isak.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanya kembali normal, Hazri terperanjat melihat Cika yang tergolek diam di lantai dekat pintu. Jubah. mandinya tersingkap ke mana-mana. Dia segera melompat ke sana. “Cika, Cika...,” Hazri menepuk-nepuk pelan pipi gadis ini. “Eemh...,” Cika pun mendesah sadar. Hazri merapikan jubah mandi yang dikenakan Cika, mengikat talinya, lala membopong gadis ini ke tempat tidur. “Cika..., bangun...,” kembali menepuk-nepuk pipinya.
Perlahan-lahan Cika pun sadar. Dia langsung menangis saat melihat Hazri yang duduk di sebelahnya. “Mas Heru... apa tadi itu?” dia bertanya di tengah derai tangisnya.
Hazri membelai-belai rambut gadis ini, tanpa dorongan nafsu. “Aku juga tak tahu pasti, Cika. Tapi, kurasa tadi itu teguran dari Tuhan...,” katanya jujur.
“Tuhan? Menegurku...?” desah Cika pelan sambil terisak-isak.
Hazri menghela napas. “Kurasa demikian.”
Cika menoleh ke arah pintu. Terkejutlah dia melihat kunci pintu tergantung di sana. “Mas Heru yang pasangkan lagi kuncinya?”
“Kunci apa?” Hazri heran.
“Itu, kunci pintu di sana.”
Hazri menoleh ke arah pintu, lalu menggeleng. “Nggak, dari awal kita masuk tadi kuncinya kan di situ.”
Giliran Cika yang terheran-heran, tangisnya telah mereda. Dia pun bergerak mengangkat gagang telepon. Bunyi... baik-baik saja telepon ini. Cika makin heran. “Tadi Mas Heru nelpon nggak?”
Hazri menggeleng. “Kan Cika yang terakhir terima telepon?” dia balik bertanya. “Emangnya kenapa kunci pintu sama teleponnya?”
Cika terdiam. “Tadi, waktu Mas Heru nggak tahu kenapa itu, teleponnya mati pas mau kupakai cari pertolongan. Terus, kunci pintunya juga nggak ada di situ waktu aku mau buka pintu...,” katanya kemudian.
Kening Hazri berkerut. “Benarkah ini?”
“Iya, Mas.”
Hazri menghela napas.
“Mas.... Menurut Mas, benar Tuhan menegur kita?” Cika bertanya lagi.
Hazri mengangguk-angguk. “Kalau aku yakin begitu.”
“Tadi, aku melihat cahaya...,” kata Cika pelan.
Hazri kaget. “Cahaya?”
“Iya. Cahaya di mana-mana.... Nyaman rasanya.”
Hazri serius menyimak. “Terus gimana?”
“Terus muncul cahaya warna warni menabrakku, tapi nggak sakit, malah enaaaak sekali.... Terus ada suara, ‘Tidur kamu...’ terus aku tertidur. ..,” Cika mencoba menjelaskan fenomena yang barusan dialaminya.
Allahu Akbar.... Hazri kembali mendesah dalam hati. “Cika, aku juga mengalami seperti itu tadi. Waktu kamu mandi...,” dia berucap jujur.
Cika terbelalak. “Mas Heru juga lihat cahaya?”
Hazri mengangguk.
Cika pun terpekur, Hazri tertunduk diam. Hening.... Sampai terdengar dering telepon. Hazri yang mengangkat.
__ADS_1
“Hallo, Cika...,” sapa Huda di sana.
“Heru.”
“Hohoho.. .. Gimana, Bos?”
“Baik..”
“Kok baik? Enak nggak?” kejar Huda.
“Uenak sekali...,” jawab Hazri. Maksudnya ‘cahaya’ tadi.
“Hahaha.... Jadi, sudah plong dong sekarang?”
“Sampai pingsan aku...,” jujur lagi, untuk maksud yang lain.
“Weiss, mantap.... Penasaran juga aku kuda Sumbawa ngamuk itu.”
“Itu nggak ada apa-apanya. Percaya nggak, Dia bisa segalanya....”
“Buusyeeet..., May, kamu belajarlah itu kuda Sumbawa ngamuk...,” terdengar suara Huda berkata kepada Maya. Lalu, terdengar derai tawa Maya. “Tapi, waktunya sudah habis nih...,” lanjut Huda.
“Oke, oke. Cika juga sedang bersiap tuh.” Hazri melihat Cika masuk ke kamar mandi sambil membawa bajunya.
“Sip, nanti aku ke sana.”
“He-eh,” Hazri menutup telepon.
Sambil menunggu Cika, Hazri mengucir rambut gondrongnya lalu merogoh saku celana. Segepok uang lima jutanya ada di situ. Tak lama kemudian, Cika keluar dari kamar mandi. Rapi dan cantik dia terlihat. Gadis ini tersenyum manis, Hazri pun balas tersenyum. “Cika...," panggilnya.
Cika mendekat. “Apa, Mas?”
“Cika, aku minta maaf kalau kamu kecewa malam ini. Mungkin....”
Cika tersenyum lagi. “Nggak kok, Mas. Aku malah khawatir Mas yang kecewa.”
Hazri tertawa ringan. “Menurutku, apa yang kita alami tadi sebaiknya jangan diceritakan ke orang lain. Biarkan jadi milik kita sendiri.”
“Kenapa, Mas?” Cika bertanya, soalnya dia berencana akan langsung cerita ke Maya sepulang dari sini nanti.
“Entah kamu, Cika, kalau aku yakin itu dari Tuhan. Khusus untuk kita, bukan bagian orang lain. Lagian, aku khawatir orang lain nggak percaya cerita ini terus nuduh macam-macam. Tapi, terserah kamu, aku cuma kasih saran.”
Cika manggut-manggut. “Benar juga sih. Pasti susah orang percaya ya?”
Hazri mengangguk.
Hazri tersenyum. “Nih.” Dia memberikan uangnya kepada Cika.
Cika kaget. “Banyak sekali, Mas?”
“Masak? Aku malah khawatir nggak cukup tadinya...,” canda Hazri.
Cika tersenyum. “Ini beneran, Mas?”
“Lha iya, nggak mau?”
“Mau, mau...,” Cika tertawa. “Makasih banget ya, Mas...,” dia bergerak maju hendak mencium Hazri, tapi kemudian ragu-ragu. Takut pingsan lagi.
Pintu kamar diketuk. Hazri membukakan pintu. Amit dan Maya masuk. . “Cikaaa..., hebat kamu,” kata Huda sambil memeluk gadis itu. Cika tertawa ringan, Maya juga ikutan.
“Nih,” Huda memberikan uang untuk Cika.
“Sudah, Om, dari Mas Heru...,” Cika menolak.
“Sudah?” Huda menoleh ke arah Hazri. Hazri-meringis. “Kalau gitu ini untuk biaya kursus Maya belajar jurus kuda Sumbawa ngamuk itu. Pokoknya, kalau aku ke sini lagi, dia harus sudah jago kayak kamu ya. Pengen tahu aku rasanya sampai bisa pingsan kayak Mas Herumu tadi...,” katanya melanjutkan sambil tertawa.
Cika agak heran mendengar ucapan Huda, tapi setelah melihat kedipan mata Hazri dia langsung paham. “Beres, Om. Dijamin lama pingsannya....”
Huda pun makin bersemangat tertawa. Akhirnya malah jadi mau ngobrol.
“Hud...,” Hazri menegur sambil menunjuk arlojinya.
“Waduh iya, habis waktunya, Sayang. Maya, Cika, taksinya sudah nunggu di depan sana,” kata Huda.
“Iya. Maya-nya pulang dulu ya, Om,” dia mencium Huda.
Cika memandang Hazri.
Hazri tersenyum. “Pulanglah. Makasih....”
Cika bergerak memeluk Hazri, pemuda ini mengusap-usap lembut belakang telinganya. “Hati-hati di jalan...,” katanya lagi.
Cika mengangguk. “Makasih banget ya, Mas....”
“Dadah, Om, Mas. Sampai ketemu lagi ya,” Maya melambaikan tangan. Cika juga. Huda balas melambai, Hazri tersenyum saja. Lalu, kedua amoy cantik ini pun beranjak meninggalkan mereka.
“Gimana, gimana, gimana...?” Huda langsung buka pembicaraan setelah kedua gadis itu pergi. Cengengesan pula.
Hazri tertawa kecil. “Gimana ngomongnya? Kesimpulannya saja ya.... Uenaak sekalee...,” maksudnya adalah ‘cahaya-cahaya’ itu.
__ADS_1
“Hahaha...,” Huda tertawa keras, tidak peduli sedang di mana.
“Sttuuttt...,” tegur Hazri.
“Hahaha...,” malah tambah keras.
Hazri geleng-geleng kepala. Dasar ‘musang berbulu buaya’.
“Di lobi yuk nunggu taksinya,” ajak Huda setelah tawanya reda.
“Duluan, aku mau mandi dulu sebentar.”
Huda cengengesan lagi. “Mandi wajib? Guyur yang banyak bekas tarung kuda Sumbawanya, hehehe....” Dia pun beranjak ke lobi sambil masih cengengesan.
Hazri kembali geleng-geleng kepala, lalu ke kamar mandi. Cepat saja mandinya. Usai mandi dan berpakaian, dia berdiri menghadap kiblat. Ada penunjuk arahnya, tertempel di langit-langit kamar hotel ini. Agak serong ke kanan. . .
“Bismillah...,” Hazri mendesah pelan. “Ushalli fardhas subhi rak’ataini mustakbilal kiblati adaan lillahi ta’ala, Allabu Akbar...” Shalat subuh pun dimulai, hingga tuntasnya.
“Amin ya Allah, ya Rabbal alamin...” Dia menutup doa dengan mengusap wajah. Hatinya terasa ringan kini.
Dia pun segera menyusul Huda ke lobi. Tampak sahabatnya itu sedang menyelesaikan urusan keuangan di resepsionis.
Hazri menghampiri. “Perlu bantuan?”
“Nggak. Sudah selesai.”
Kemudian mereka pun duduk di kursi lobi, menunggu taksi carteran itu datang menjemput. Ngobrol-ngobrol ringan, masih berkisar soal tadi. Namun, belum sempat ngobrol banyak sopir taksi yang tadi malam itu sudah muncul di lobi.
“Sudah selesai, Pak?” dia bertanya.
Huda menoleh. “Sudah balik? Cepat sekali?”
“Dekat kok, Pak. Mereka tinggal sekitar sini.” Huda mengangguk-angguk. “Yuk..”
Mereka pun menuju taksi yang terparkir di sana. Taksi kemudian melaju, dan begitu tidak lama segera tiba di pelabuhan. Huda memberi uang lebih dari cukup kepada sopir itu. Puas dia atas pelayanannya.
Sopir itu memberikan secarik kertas bertuliskan namanya dan nomor teleponnya, dia meminta kepada Huda kalau ke sini lagi memakai jasanya. Lalu, taksi itu pun beranjak pergi.
Mesin kapal sudah hidup, tampaknya sedang dipanaskan oleh Dasim. Hazri berjalan naik ke kapal. Huda bilang mau nelepon Imam dulu.
“Assalamu'alaikum,” sapa Iman di sana.
“Ya, wa’alaikum salam. Sudah bangun?” balas Huda.
“Sudah, Bos, dari tadi.”
“Mam, kita meluncur ke Cirebon sekarang dari Pontianak. Tolong kau siapkan mobilnya Pak Arif.”
“Iya, iya, Pak Haji. Tiga harian lagi paling ya?”
“Iya. Sekitar itulah. Eh, itu mobil baik-baik saja, kan?”
“Baik, baik sekali, Pak Haji. Aman.”
“Ketemu di restoran ya?”
“Siap.”
“Oke; Tim, makasih ya.”
“Sama-sama, Pak Haji.”
Beres. Huda pun menyusul Hazri naik ke kapal. “Dasim, berangkat!” serunya nyaring begitu tiba di dek kapal.
“Siap, Bos...,” jawab Dasim. Dia pun segera memerintahkan para ABK untuk bersiap berlayar kembali. “Haluan, buritan.. !” seru Dasim.
“Siap...,” dua ABK yang bertugas di sana serempak menyahut.
“Sauh...” seru Dasim lagi.
Komeng dan Kumpret bersama melepaskan tali tambatan kapal. “Sauh lepas...,” Kumpret berseru kemudian.
“KM Bima, selamat jalan...,” terdengar suara petugas pelabuhan dari menara pengawas melalui megaphone, melepas keberangkatan.
Mesin menderung. Perlahan-lahan kapal beranjak menjauhi dermaga sandar sampai dapat posisi aman. Lalu, melaju membelah Selat Karimata ke arah Laut Jawa. Menuju Pelabuhan Cirebon di seberang sana.
Secuil Kopi
Secuil kopi dan segenap tokoh novel ‘Jalan Pulang’: Hazri, Romi, Huda, Haji Sulton, Emak, Siti, Udin, seluruh anggota Kopen dan ABK KM Bima. Mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Ramadhan 1442 H.
Hazri pun tersenyum memandang satu per satu pembaca novel ini. Tatapannya masih tajam, khas seorang ketua biang preman, namun dari tatapan itu ada sebuah embun yang menyentuh kalbu setiap pembaca. “Teruslah berjalan sampai kalian menemukan jalan pulang.”
“Woi, Bang. Nanti mau buka pakek apa? Mansion apa Vodka? hahaha” seru Romi cengengesan disamping para tokoh novel ‘Jalan Pulang’ yang ikut cengengesan juga.
Hazri membalikkan badan, senyumnya biang kerok ini mampu membuat ratusan wanita terlena. Dia melangkah mendekati para tokoh novel ‘Jalan Pulang’, niatnya ikut bergabung menyiapkan buka puasa. Baru tiga langkah, dia terhenti. Mata tajam Hazri beradu dengan sepasang mata berlian.
“Memandang matamu, serta senyumanmu itu adalah anugerah terindah di bulan Ramadhan ini...,” katanya dalam hati. “Zilfa... aku mampu menghadapi ratusan Day, ajianku mampu mengalahkan semuanya. Namun perlu engkau ketahui, kemampuanku serta ajianku melemah hanya dengan secuil senyumanmu, bahkan menyapamu saja aku tak mampu.”
__ADS_1