
“Sudah ya? Kita kembali ke bahasan hakikat rasa tadi. Mas Mahmud tentu bisa merasakan kopi itu, kan?”
Hazri mengangguk.
“Lalu, di mana adanya ‘rasa kopi’ itu?”
Hazri berpikir. “Di lidah...,” katanya kemudian.
Pak Subakir, Bilal, dan Agil tersenyum lagi mendengar jawaban ini.
“Coba Mas Mahmud cari di lidah, ada tidak?” tanya Pak Subakir.
Hazri merenung lagi. Tidak ada di lidah. Memang terasa di lidah, tapi tidak ada ‘rasa kopi?’ kelihatan nempel di lidah. “Di hati mungkin ya, Pak...,” katanya lagi, siapa tahu benar jawaban yang ini.
Mereka bertiga malah jadi tertawa. “Silakan cari di situ. Boleh di belah dadanya, hehehe...”
Hazri garuk-garuk kepala merenung. “Iya, nggak ada. Di mana adanya, Pak?”
“Nah, yang ini rahasia al-Irfan. Hakikat Ketuhanan. Tidak bisa dibuka sembarangan. Hanya untuk pewarisnya saja. Kalau Mas Mahmud ingin tahu di mana adanya segala rasa, segala akal, segala ilmu, segala yang nyata maupun yang gaib harus berbaiat dulu. Harus bersumpah suci terlebih dahulu.”
“Baiat?” tanya Hazri.
“Iya. Sebelum lanjut, bapak perlu jelaskan dulu soal baiat supaya Mas Mahmud punya gambaran yang benar.” Pak Subakir menghela napas. “Baiat adalah sumpah suci kepada Allah Yang Maha Tunggal. Bukan kepada yang lain. Tidak ada baiat kepada makhluk. Baiat sepenuhnya hak Allah, bukan hak makhluk. Sayang, manusia setan banyak bertebaran. Mereka memanfaatkan baiat untuk kepentingan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketuhanan. Orang dibaiat untuk patuh mutlak kepada pimpinan atau ketuanya. Gombal, jelas itu kerjaan nafsu. Lalu, si awam yang berbaiat itu pun memandang ketuanya setingkat Tuhan. Bahkan, lebih agung. Apa pun maunya setan gundul itu dipatuhi tanpa mata, tanpa hati, dan tanpa ilmu. Bertopeng dalil-dalil agama yang bahkan masih berupa pengertian sempit baginya. Membunuh tanpa alasan pun tidak jadi persoalan. Bom meledak, pistol menyalak, golok terayun. Darah tumpah tanpa makna. Di mana-mana..”
Suasana pun mendadak menjadi hening. Pak Subakir tampak sedih atas kenyataan penyalahgunaan itu. Bilal dan Agil menunduk. Sedikit banyak Hazri bisa merasakan apa yang terasa ini.
“Allah, segalanya adalah Engkau. Mohon ampunan-Mu...,” ucap Pak Subakir lagi. Tampak matanya agak berkaca-kaca. Lalu, dia menghela napas panjang. “Begitulah, Mas Mahmud, sedikit pengertian tentang baiat. Bapak ulangi, baiat adalah sumpah suci hanya kepada Allah Yang Tunggal. Bukan kepada Bapak, bukan pula kepada yang lain. Bapak hanya syariatnya saja, hakikatnya langsung kepada Allah.”
Hazri mengangguk paham.
“Setiap pembimbing spiritual sejati, mursyid kalau istilahnya Mas Mahmud tadi, akan memberitahukan sebuah jalan. Lalu, dia akan menuntun dan membimbing para muridnya berjalan melintasi jalan itu,” kata Pak Subakir kemudian.
“Jalan apa, Pak?” tanya Hazri.
“Jalan yang harus ditempuh untuk menuju kepada-Nya. Thariqah, kalau bahasa Arabnya. Di kita disebut tarekat. Bukan mursyid kalau dia tidak tahu jalan. Harus sudah jadi ilmu, bukan dalilnya saja. Artinya, dia sendiri juga harus sudah menempuh jalan itu hingga katakanlah ‘berjumpa’ dengan Sang Mutlak. Baru boleh mengajarkan ke manusia lain. Itu pun kalau diberi haknya oleh Yang Maha Haq. Jangan gegabah. Kalau sekedar teori atau dalilnya, banyak yang tahu. Baru baca buku atau dengar cerita orang, terus ngecap ke mana-mana. Giliran ditanya rasa, memble, hehehe.... Masak ngaku makrifat, tapi masih lupa kepada Allah? Hukumnya di sini, bohong kenal atau makrifat tanpa istiqamah ingat. Ingatan yang langgeng. Sedetik saja masih punya lupa kepada Allah, Bapak tegaskan, bohong kalau dia mengaku mursyid.”
Hazri manggut-manggut. Dia sudah pernah dengar istilah tarekat, walau baru paham sekarang maknanya. Dulu, disangkanya tarekat adalah sekedar kumpulan pengajian saja. Tapi, bagaimana bisa tidak lupa sedetik pun? Namun, Hazri tidak hendak menanyakan ini. Entahlah, rasanya dia percaya harusnya begitu.
“Eemm... maaf, Pak, bagaimana awam bisa tahu kalau seseorang itu mursyid sejati atau cuma pembual?”
“Memang tidak mudah. Yang jelas, sejati ketemu sejati, semu ketemu semu. Jin sama jin, setan sama setan, longga sama longga, wali sama wali. Allah Maha Tahu. Dia yang akan membimbing hamba yang memang mencari Kesejatian ke arah Kesejatian. Syariatnya tergantung niat hakiki si pencari. Tapi, kalau jeli, masih bisa dilihat cirinya. Perhatikan, mursyid itu masih terikat dengan urusan duniawi tidak? Cinta dunia tidak? Kalau masih sibuk mengumpulkan harta, berlomba mengejar tahta, dan ribut soal perempuan, maka jelas dia palsu. Pembohong bin pembual. Bagi mursyid sejati, jangankan dunia, akhirat pun tidak lagi dihiraukan. Neraka dan surga dicuekin. Maunya hanya kepada Allah Yang Maha Sejati. Yang lain sekedar mainan, senda gurau saja.”
Hazri manggut-manggut. “Longga itu apa?”
“Hehehe..., siluman.”
Hazri meringis.
“Jadi, tidak boleh kaya maksudnya, Pak?” dia bertanya lagi.
“Kata siapa tidak boleh? Mursyid sejati banyak juga yang kaya lho.” Pak Subakir menyebutkan beberapa nama sufi zaman dulu yang kaya raya. “Tetapi, mereka tidak terikat dengan kekayaannya. Tidak cinta. Harta dunia itu mau datang atau mau pergi silakan saja. Tidak jadi ribut dia. Kalau takdirnya kaya, maka akan kaya seseorang. Mau sufi atau bukan, ateis sekalipun. Barang palsu ini, hehehe.... Mas Mahmud jangan khawatir ya. Kalau memang ada syariatnya untuk menjadi kaya, silakan. Bagus itu, bisa nyumbang banyak buat masyarakat. Tapi, pahamilah bahwa bukan juga maksudnya harus jadi miskin. Sebab, zuhud adanya di hati, bukan di harta. Orang miskin sombong juga banyak. Sudah miskin, jauh pula dari Ilahi....”
“Soal tahta sama perempuan sama juga, Pak?”
“Iya. Kalau misalnya Allah berkehendak seorang kekasih-Nya menjadi bupati atau presiden sekalian memangnya kenapa? Nggak boleh? Nggak bisa? Gampang itu, tinggal Kun...! bubar sejagat alam. Apalagi timbang jadi presiden, hehehe.... Nah, ini seru, soal perempuan. Sama juga, terserah Allah. Kalau Dia berkenan memberi dua orang istri kepada Mas Mahmud memangnya nggak boleh? Sembarangan. Suka-suka yang punya dong. Memangnya kita siapa berhak protes? Baginda Rasul pun beristri lebih dari satu. Cuma, ada cumanya nih,.., harus dengan ilmunya. Jangan dalilnya doang yang hafal luar kepala.”
Hazri, Agil, dan Bilal senyum-senyum.
__ADS_1
“Itu yang suka kawin, coba tanya nurani. Waktu niat mau kawin lagi, ingatnya sama Allah atau sama nafsu? Kalau memang sejati dirinya lebur pada Ilahi, lanjutkan saja. Jangan ragu. Tapi, kalau ingatannya hanya kepada nafsu, hati-hati... setan nyelip di situ. Semuanya setan malah, walau mungkin tidak terasa. Jangan berlindung di balik Sunnah Rasul sebab nafsu rendah begitu tidak pantas disandingkan dengan sunnah Baginda Rasul.”
Hazri, Agil, dan Bilal tersenyum “Kalau saya boleh tahu, apa nama tarekat di sini, Pak?” tanya Hazri selanjutnya.
Pak Subakir pun menyebutkan nama tarekatnya.
“Mas Mahmud, tarekat ini ber-quth di sini. Pusatnya di sini, di Progo. Pak Subakir adalah pendirinya,” kata Kang Agil.
Hazri memandang Pak Subakir, minta penegasan.
Pak Subakir pun mengangguk. “Demikian adanya.”
Hazri mengangguk-angguk lagi.
“Banyak yang tahu tentang Rukun Islam dan Rukun Iman, tapi jarang sekali yang paham mengenai Rukun Agama dan Rukun Ilmu. Tahu pun tidak.”
“Bagaimana itu, Pak?”
“Rukun Agama adalah syariat, tarekat, hakikat, makrifat. Kalau Rukun Ilmu, iman tauhid, makrifat, Islam. Nah, coba Mas Mahmud perhatikan, di antara syariat dan hakikat ada tarekat. Ada jalan penghubung. Syariat awalnya, lalu melintasi jalan itu mencari hakikat, barulah kemudian mencapai makrifat. Atas kehendak-Nya.”
“Kalau pengertian makrifat itu apa, Pak?”
“Sederhananya, ‘mengenal’ Allah. Tapi, makrifat tidaklah sesederhana itu. Mengenal Allah tidak sama dengan mengenal makhluk. Jangan pernah disamakan ya. Martabat Allah adalah Dzat laisa kamislihi syai’un. Dzat Maha Suci yang tidak serupa dengan apa pun. Bayangkan saja oleh Mas Mahmud, mengenal Dzat yang tidak serupa dengan apa pun. Bagaimana itu? Bisakah?”
“Saya belum tahu...”
“Bisa. Kejar dengan rasa, kejar dengan kesejatian. Jangan dicari pakai logika atau pakai akal. Nanti jadi akal-akalan, penuh dengan khayalan. Padahal, Allah Maha Nyata. Akal itu cupet, cenderung menipu. Kalau rasa, tidak. Rasa selalu jujur walau harus bertentangan dengan kecupetan akal. Lagi pula, sudah dari sananya akal manusia tidak sanggup menembus hakikat makrifat.”
Hazri terdiam. Sudah mulai pusing dia mencerna wejangan-wejangan kelas berat dari Pak Subakir.
“Allah juga bermartabat Nuarun ala Nuurin.. . ‘Cahaya di atas Cahaya’. Sama kayak tadi. Jangan berani membayangkan Nurullah atau Cahaya Allah serupa dengan cahaya makhluk. Cahaya matahari, cahaya bulan, cahaya lampu, atau cahaya kunang-kunang misalnya. Jangan! Sangat terlarang itu. Segalanya ini adalah Cahaya Allah, bahkan gelapnya malam. Awas, bukan secercah cahaya di gelapnya malam. Tapi, gelapnya malam itu sendiri adalah Cahaya Allah. Nuurun ala Nuurin, Cahaya di atas Cahaya, Cahaya yang bertingkat-tingkat.”
“Sekarang coba perhatikan Rukun Ilmu. Iman tauhid, makrifat, Islam. Tuh, Islamnya di belakang setelah dapat iman tauhid dan makrifat. Gimana ini? Padahal, umumnya kita sudah merasa Islam walau belum makrifat, hehehe.... Itu sih Islam turunan. Gara-gara orang tuanya Islam terus sejak lahir dia pun dianggap Islam. Islam akal-akalan, Islam dalil. Kelakuan? Sama sekali tidak bertapak Islam.”
Hazri mengusap-usap wajah.
“Awalu dinni makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah. Makrifat dulu, kenal Allah dulu, baru bisa mulai dihitung beragama. Kalau tidak kenal Allah, tidak tahu yang disembah, lalu nyembah apa? Ini dalilnya, ‘Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya...’ Silakan Mas Mahmud lihat di Qur’an, Surat al-Hajj ayat tujuh puluh empat. Lanjut ke Surat Yusuf ayat empat puluh, ‘Kecuali hanya menyembah asmaNya yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat....’ Pahami, kata ‘Allah’ adalah asma atau nama. Jangan sembah nama, tapi sembahlah Dia yang punya nama ‘Allah’ itu. Siapa? Dzat laisa kamislihi syai’un atau Nuurun ala Nuurin tadi. Emangnya Allah hanya sekedar huraf Alif, Lam, Lam, Ha?”
Hazri makin ngebleng, melongo bingung. Pusing.
“Gimana, Mas Mahmud? Sudah mulai berat?” Pak Subakir senyum-senyum.
Hazri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Berat,Pak, pusing saya...”
Pak Subakir, Bilal, dan Agil pun tertawa kecil.
“Ya sudah kalau begitu,” kata Pak Subakir.
“Tapi, Pak, boleh saya bertanya satu lagi?” potong Hazri.
“Silakan, silakan..., kalau masih mau dan masih kuat....”
“Misalnya saya, saya sajalah contohnya biar gampang, mau mengenal Allah, mau ketemu sama Allah... Apa bisa? Kan saya sendiri belum pernah ketemu Allah? Bagaimana saya bisa tahu kalau Dia adalah Allah?”
“Hem, pertanyaan bagus. Bagus sekali, Mas Mahmud. Bapak mau tanya dulu nih, memangnya Mas Mahmud belum pernah berjumpa dengan Allah?”
Hazri terperanjat. “Ya belumlah, Pak....”
__ADS_1
“Ah, masak?” Setelah terdiam sejenak, Hazri menceritakan pengalamannya berjumpa dengan ‘cahaya-cahaya’ itu. Yang ungu, yang terang benderang. “Itukah, Pak?”
Pak Subakir tersenyum. “Subhanallah. Itu isyarat-Nya, tapi bukan Dia. Yang bapak maksud adalah Dia, Yang Maha Sejati itu.”
Hazri pun menggeleng. “Belum, Pak....”
“Mas Mahmud, perhatikan ini. Saat para manusia masih sejati, masih di alam ruh, sebelum ditiupkan ke dalam jasad masing-masing, Allah bertanya kepada mereka, ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Maka kita, para sejati manusia menjawab lantang tanpa ragu, ‘Benar, kami bersaksi.’ Buka al-Qur’an, Surat al-A’raaf ayat satu tujuh dua dan satu tujuh tiga. Apa artinya ini? Bukankah berarti bahwa setiap manusia hakikatnya sudah pernah bertemu dengan Allah? Dulu, saat masih sejati, saat masih murni, saat masih suci. Saat masih ruh.”
Hazri terkesima. “Tapi, kenapa kok sekarang saya tidak ingat itu?”
“Hahaha... ,” Pak Subakir, Agil, dan Bilal tertawa semua. Pelan saja.
“Karena eh karena...,” Pak Subakir mengikuti irama sebuah lagu Rhoma Irama sambil mesem. “Kita tidak suci lagi sekarang. Harus kembali suci murni dulu untuk bisa merasakan itu lagi. Kembali ke sejati manusia.”
“Kembali jadi ruh? Harus mati dulu maksudnya, Pak?”
“Hahaha...,” Pak Subakir, Agil, dan Bilal kembali tertawa. Agak lebih keras.
“Mas Mahmud, Allah itu wal Awalu wal Akhiru..., tidak berawalan dan tidak berakhiran. Memangnya sekarang, di tengah-tengah, Dia tidak ada? Ya tetap ada dong. Pergi ke mana sih kok nggak ada?” Pak Subakir mesem-mesem.
“Jadi, nggak harus mati dulu, Pak? Katanya nanti di surga baru bisa ketemu Allah? Ditengokin sekali-sekali gitu....”
Makin keras tertcawa mereka bertiga. Hazri pun garuk-garuk kepala.
“Allah juga ya Zhahiru ya Bathinu.... Maha Nyata sekaligus Maha Gaib. Allah, kemarin-kemarin ada, sekarang ada, besok-besok juga tetap ada. Kenapa harus tunggu nanti? Sekarang juga bisa kalau mau. Bagus kalau nanti masuk surga, lha kalau nyangkut ke neraka gimana? Boro-boro ketemu Allah, keremu iblis iya. Mana digebukin terus sama malaikat lagi, hehehe...”
Terpaksa Hazri meringis. “Gimana caranya itu, Pak?”
“Nah, ini dia. Caranya? Harus baiat dulu kalau mau tahu,” Pak Subakir kembali mesam-mesem.
“Baik, Pak, saya siap. Bismillah...,” kata Hazri akhirnya.
“Alhamdulillah...,” sambut mereka bertiga.
“Mas Mahmud, Anda datang ke sini tidak dipaksa. Anda sendiri yang minta diajari al-Irfan untuk bisa memahami Tauhid al-Mutlakah lewat tarekat ini. Bapak hanya membimbing perjalanan Mas Mahmud nanti. Sampai atau tidak pada makrifat, haknya di Allah. Bukan di Mas Mahmud, bukan pula di Bapak. Itu hakikatnya, kalau syariatnya tergantung mujahadah Mas Mahmud. Tergantung derajat perjuangan Mas Mahmud sendiri dalam mengejarnya. Perjalanan itu sungguh berat, banyak yang berguguran di tengah jalan. Sejatinya, al-Irfan memang bukan diajarkan, tetapi diwariskan. Semoga Mas Mahmud termasuk salah seorang pewarisnya.”
“Amin...,” ucap mereka semua bersamaan.
“Bagaimana, Mas Mahmud? Sudah siap?” Hazri mengangguk mantap.
“Kang Bilal, tolong disiapkan...,” pinta Pak Subakir.
Bilal mengangguk, lalu keluar ruangan. Agil juga ikut. Hazri melihat kesempatan. “Pak Subakir, sejujurnya saya memegang sebuah ajian tinggi. Apakah ini harus dibuang dulu?”
Pak Subakir menatap lembut Hazri sejenak, lalu menundukkan wajah seperti dulu saat awal bertemu. Kepala mengangguk-angguk pelan seolah sedang mendengarkan petuah. “Mas Mahmud, haknya ada di Allah. Bapak tidak bisa berkata harus dibuang atau tidak. Jika memang harus pergi, maka ajian ‘Cakra...’ eemm, ajian itu akan pergi sendiri. Kalau tidak, maka akan tetap ada. Tapi, Bapak harus mengatakan, sekiranya pun tetap ada maka ajian itu akan terasa hambar.”
Hazri kaget. Walaupun diputus, dia tahu Pak Subakir hampir menyebut ‘Cakra Buana’. Siapa yang memberi tahu? Hazri tidak pernah keceplosan menyebut nama ajiannya itu. Sudahlah, bukan orang sembarangan yang duduk di depanku ini, katanya dalam hati. Dia pun tidak ingin bertanya-tanya lagi.
“Bagaimana, Mas Mahmud?”
“Iya, Pak, saya siap.”
Pak Subakir mesem. “Itu, soal ajiannya.”
“Oo iya, Pak, saya mengerti. Paham.”
“Sebentar ya, Bapak mau ke kamar kecil dulu. Kalau Mas Mahmud mau wudhu silakan. Ada tempat wudhu di sana,” Pak Subakir menunjuk arah belakang ruangan.
__ADS_1
“Iya, Pak.” Maka Hazri pun pergi berwudhu. Pak Subakir masuk ke dalam rumah.
Sebentar kemudian mereka semua sudah kembali ke dalam ruangan. Pak Subakir membawa al-Qur’an dan sebuah kitab kecil berwarna coklat. Ada tungku bara arang di situ. Ini yang tadi disiapkan oleh Bilal. Sebentuk serbuk ditaburkan di atas bara itu, sreeng... harum semerbak asapnya. Rasa tenang pun menyergap hati.