Jalan Pulang

Jalan Pulang
103. boneka pertunjukan


__ADS_3

Obrolan pun berlanjut...


Hazri terperanjat mendengar cerita Romi tentang Dewi.


“Hampir saja...,” kata Romi pelan.


Hazri menghela napas. Barusan Romi berkisah bahwa mereka pernah menyatroni rumah seorang pengusaha. Kejadiannya kira-kira empat tahun sesudah peristiwa Klaten. Tomi dan anak buahnya yang merancang itu. Selain urusan ayam, spesialis mereka memang beginian. Romi ikut, iseng-iseng saja daripada bengong. Ada dua rumah yang disasar malam itu. Tomi satu, Romi satu. Berangkatlah mereka, sukses semua masuknya. Tidak ada halangan.


Di sasaran Romi, pemilik rumah dan penghuni lain mudah saja ditaklukkan. Dua satpam itu tidak ada apa-apanya. Tinggal ambil apa yang mereka mau. Tadinya Romi tidak terlalu memperhatikan pasangan pemilik rumah yang mengkeret di sudut kamar, tapi waktu mau diikat istrinya berteriak sambil meronta-ronta, “Saya kenal Mas Hazri! Saya kenal Hazri Tiger! Mas Hazri...!” Lalu, terkulai pingsan.


Tersentaklah Romi dan tiga anak buah Tomi yang ada di situ, tapi tindakan jalan terus; yang sedang mengikat lanjut mengikat tanpa bicara. Romi mendekat, wajah perempuan pingsan itu diperhatikan sungguh-sungguh. Lalu, dia pun terperanjat sangat. Ternyata cewek dokter itu. Tidak salah.


Segera Romi memerintahkan agar tali pengikat itu dilepaskan. Bingung anak buah Tomi. “Lepaskan!” bentak Panglima Baret ini. Maka, mereka pun melepaskan tali yang sudah terikat erat itu. Romi sendiri yang melepas ikatan Dewi. “Keluar! Beri tahu di bawah, jangan sentuh apa pun! Tunggu di kendaraan!” perintah Romi lagi kepada tiga anak buah Tomi itu. Mereka pun takzim melaksanakan perintah, tanpa membantah sepatah kata pun.


Sepeninggal mereka, Romi menatap tajam suami Dewi yang gemetar ketakutan itu. “Hazri Tiger tidak terlibat ini. Anda jangan coba-coba bicara Hazri Tiger kepada siapa pun, apalagi polisi. Paham?!” gertak Romi. Laki-laki itu mengangguk cepat. “Kalau kalian sebut nama Hazri Tiger sekali saja, bersiaplah mati! Aku tidak akan ragu!” Mantap. Romi pun bergegas pergi.


Beberapa hari peristiwa perampokan dua rumah mewah dalam semalam itu menjadi santapan media. Suami Dewi mematuhi pesan ancaman Romi, Dia tidak berkata apa-apa tentang Hazri Tiger, hanya mengatakan para perampok itu tiba-tiba pergi meninggalkan mereka tanpa alasan dan tanpa membawa jarahan. Membingungkan memang. Tapi, karena Dewi dan suaminya bersikukuh di situ maka tetaplah bulat bola misterinya. Buntu dari semua arah. Romi terkekeh mendengar ulasan seorang paranormal ‘carpop’ alias cari popularitas yang berkata, rumah itu dilindungi pasukan makhluk gaib. Ada-ada saja. Hazri Tiger yang gaib....


Tomi meminta maaf kepada Romi atas kesalahan perencanaan itu. Dia tidak menyangka istri pemilik rumah adalah pacar bos besarnya. Dulu. Romi maklum, siapa yang bisa menduga bakal begini. Lagi pula, yang tahu Dewi memang cuma dia dari sekian banyak anak buah Hazri. Itu pun samar-samar. Untung cukup.


“Baik-baik saja Dewi setelah itu?” tanya Hazri kemudian.


“Aku amati terus rumahnya beberapa minggu. Kelihatannya sih normal bareng habisnya berita. Kulihat pacar Abang itu sudah berani keluar lagi naik mobil. Sudah bisa tersenyum manis lagi kayak dulu...,” Romi nyerengeh.


Hazri juga mesem. Najib ikut-ikutan.


“Istri orang dia sekarang, Rom. Sudah bukan pacarku.”


“Eh, iya. Lupa aku, hahaha.... Apa perlu kita ambil alih lagi?”


Hazri tertawa saja, tidak menjawab. Mereka pun tertawa-tawa.


Obrolan berlanjut sampai adzan ashar sayup-sayup menyusup. Hazri beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu, lalu mengambil sajadah dari dalam tasnya dan masuk ke kamarnya yang dulu. “Sebentar ya...,” katanya pelan.


“Ke mana, Bang?” tanya Romi.


“Shalat.”


“Shalat?” Romi tidak tahu maksudnya.


Hazri tidak menjawab, terus berjalan masuk ke kamar. Sajadah digelar di atas lantai yang kurang kena sapu itu. Shalat ashar itu pun ditunaikan di tengah semerbak hawa alkohol. Kuncrit dan teman-temannya sedang teler berjamaah di luar sana.


“Apaan sih shalat, Jib?” tanya Romi sambil menunggu Hazri.


“Sembahyang,” jawab Najib singkat.


“lya, apaan itu?”


“Apa ya? Shalat ya shalat. Kalau orang Islam katanya harus begitu.”


“Agama maksudmu?”


Najib mengangguk.


Romi garuk-garuk kepala. “Kalau kalung yang diputar-putar Bang Hazri tadi apa?” dia bertanya lagi. Sekalian penasaran.


“Kalau nggak salah namanya tasbih,” jawab Najib.


“Urusan agama juga?”


“Iya kayaknya.”


“Agama kau apa sih? Islam, kan?” Romi agak mangkel karena jawaban Najib terkesan penuh keraguan.


Najib meringis. “Katanya begitu dulu.”


“Kata siapa?”


“Engkongku.”


“Pantas...,” gerutu Romi.


“Kalau Abang apa?” Najib nyengir.


Romi tersedak. “Apa ya...”


Lalu, mereka pun terkekeh bersama. Sama-sama bingung.


Usai Hazri shalat, Romi minta agar diadakan pertemuan dengan para ketua wilayah. Pembagian teritorial Kopen masih seperti dulu. Ternyata, nama Kopen tidak habis seperti yang dulu pernah mereka prakirakan. Kopen dan Baret masih eksis hingga kini. Untuk sementara, sampai ada kejelasan tentang sang Tiger, jabatan ketua Kopen dirangkap oleh Romi selaku panglima Baret.


“Menurutmu perlu?” tanya Hazri.


“Harus, Bang. Biar semua yakin Abang masih ada,” jawab Romi.


“Dengan kedatanganku sekarang kan sudah cukup untuk bukti. Kalian saksinya. Kalau kurang, anak buah Najib banyak.”


“Iya sih, cuma rasanya kurang getar.”


“Betul, Bang. Aku sepakat sama Bang Romi,” Najib menimpali.


Hazri diam sejenak. “Okelah. Di mana? Kapan?”


“Tergantung Abang. Kalau perlu sekarang,” jawab Romi.

__ADS_1


“Nanti malam saja. Bagaimanapun aku kan masih buronan. Kita harus tetap waspada,” kilah Hazri. “Coba carikan tempatnya, tapi kurasa jangan di Kampus Putih.”


“Di rumah Abang saja gimana? Baguntapan.”


Hazri agak kaget. “Emang masih ada rumah itu?”


Romi tersenyum. “Masih dong....”


“Oya? Bener nih?”


Romi mengangguk.


Hazri pun tertawa kecil. “Terima kasih, Rom.”


Romi mesam-mesem saja. “Jadi, jadi nih, Bang?”


“Oke, aturlah. Jam delapanan ya.”


Romi pun menyuruh Najib menghubungi para ketua wilayah soal ini.


“Jib, bilang sama mereka jangan ramai. Hening saja. Aku belum lepas penuh dari uberan polisi...,” pinta Hazri berkilah. Padahal, sang Mursyid sudah cuek urusan itu. Sudah dikembalikan semua ke Dia yang punya cerita. Sang Dalang. Tidak suka saja kalau ramai-ramai.


Najib mengangguk, lalu keluar rumah. Cari sinyal yang bagus.


Romi memandangi Hazri. “Dua belas tahun, makin tampan kulihat Abang.”


Hazri tertawa. “Makin tua kali. Menuju habis....”


“Nggak ah, makin segar. Jadi lebih putih sekarang.”


“Kau juga kulihat makin gagah, Rom,” Hazri balas menggoda.


“Ah, ini sih jelas ngeledek. Gagah apanya? Ompong begini...,” Romi nyengir memperlihatkan giginya yang sudah banyak tanggal.


Hazri terkekeh. “Biar ompong, tapi kan Romi. Siapa nggak kenal?”


“Kalau nggak ditempelin nama Abang, siapalah aku?”


“Kata siapa? Buktinya, dua belas tahun kau sendirian bisa. Kopen dan Baret tetap ada. Aku sendiri belum tentu bisa.”


“Yah, bisa karena kepaksa, hahaha.... Sebenarnya, Bang, terus terang sudah capek aku. Itu-itu terus. Walau nggak berani kalau di depanku, anak-anak sekarang suka ngatain aku kurang gaul. Sialan...,” Romi nyengir.


“Hahaha.... Kenapa bisa begitu?”


“Tau, dilihatnya sudah kakek-kakek mungkin. Kampret, hahaha...”


“Apa boleh buat, Rom. Kita sekarang memang nggak muda lagi.”


Romi manggut-manggut. “Abang sekarang di mana sih? Bolehlah aku tahu.”


“Sudah, Bang. Jam depalan nanti di rumah Abang. Kaget-kaget mereka semua tadi.” Najib tertawa kecil.


“Berarti baru semua ya?” tanya Hazri ke Romi.


Romi mengangguk. “Di bawah Najib, kecuali Asrul. Habis yang tua nggak pada bakat mimpin. Hobinya bagian kepruk doang.”


“Hahaha...,” Hazri tertawa. “Anak-anak Baret mereka?”


Romi mengangguk lagi.


“Sebentar, Bang...,” Najib keluar lagi, entah untuk apa.


“Rom, dari semua ketua wilayah, siapa yang paling berbakat?” tiba-tiba Hazri bertanya. Turun firasat akan ada suksesi. “Si Najib ya?” tebaknya.


Romi mengangguk. “Ada apa sih, Bang?”


Hazri menggeleng. “Pengen tahu saja, ” kilahnya.


Najib muncul lagi.


“Jib, di ukuran manusiawi, seberapa percayanya kau kepadaku?” tembak Hazri tanpa diduga. Najib kaget mendengar pertanyaan itu. Romi juga.


“Maksudnya, Bang?” Najib bertanya.


“Seberapa percaya kau kepadaku?” Hazri mengulang pertanyaannya.


“Percaya pol, Bang,” jawab Najib mantap.


“Misalnya kusuruh kau melakukan sesuatu yang kau nggak tahu, mau?”


“Siap, Bang. Disuruh bunuh diri pun aku lakuin.”


“Hahaha.... Nggak sampai kayak gitu. Tapi, bener nih?”


“Siap, Bang. Sekarang pun siap. Abang suruh apa aku?” tantang Najib.


Hazri menggeleng. “Nanti-nanti mungkin, hahaha....”


Romi ingin bertanya, tapi mulutnya terasa rapat. Lalu, seketika lepaslah rasa ingin bertanyanya itu. Lenyap entah ke mana.


“Okelah. Sampai nanti malam di ramahku.”


Hazri berjalan keluar rumah diikuti Romi. Najib menyusul sambil menenteng tas bos besarnya. Ternyata di luar situ anak buah Najib sudah berkumpul. Hawa alhokol menyeruak tajam, tapi tidak ada yang tampak mabuk. Biasa-biasa saja mereka karena sudah terbiasa, Harus segentong minumannya baru bisa membuat mereka teler beneran. Numpang lewat saja kalau cuma botolan.

__ADS_1


Kuncrit maju. “Maaf, Bang, kalau Abang nggak keberatan. Anak-anak mau lihat kesaktian Abang,” katanya sambil melirik cepat ke arah Najib.


Rupanya Najib sutradaranya ini.


Hazri tertawa kecil. “Apa perlu?”


“Perlu, Bang...,” sambar Kuncrit. “Iya nggak?” dia bertanya ke anak-anak itu.


“Iya, Bang.., iya, Bang...,” ramai menjawab mereka seperti anak-anak betulan.


“Bang Romi saja, sama kok...,” canda Hazri.


Romi mendelik. Sialan, pasti si Najib ngoceh, dia membatin.


“Karena ada Bang Hazri di sini, nggak pantaslah kalau aku,” kilahnya. “Betul, kan?” Dia minta dukungan audiensi. Cerdas juga Romi melarikan diri dari tanggung jawab ngaku-ngakunya soal ilmu itu.


“Iya, iya...,” ramai lagi.


Hazri mesem. “Kalau begitu, Bang Najiblah....”


Giliran Najib mendelik sekarang. Romi juga. Yang lain sama.


“Ayo, Jib, kau sudah janji tadi kan?”


Najib memandang Hazri tidak mengerti.


“Ayo maju. Itu kayunya,” Hazri menunjuk papan jati bekas meja yang sudah disiapkan oleh mereka atas perintah Najib tadi. Maksudnya untuk bahan pertunjukan Hazri. “Jib.. ” dia meminta lagi karena Najib tampak bingung.


Bagaimana tidak bingung? Bisa apa Najib soal ilmu itu? Disuruh bunuh diri lebih jelas baginya daripada ini.


“Jib, percaya pol artinya nggak mikir lagi,” Hazri menguatkan keyakinan.


Najib menghela napas, lalu maju mengambil papan jati itu. Terserahlah, mau kayak apa kek dia ogah mikir. Pokoknya patuh sama yang dipercayai.


Hazri tersenyum. Tidak salah Romi memilih anak itu jadi pengganti Sapri. Bukan perkara gampang maju ke depan untuk sesuatu yang tidak punya gambaran sama sekali. Semata-mata hanya berbekal keyakinan. Seperti itulah seharusnya bentuk keyakinan dalam kehidupan ruhani. Keyakinan kepada-Nya.


Hazri memanggil ‘Cakra Buana’. Dalam ibarat, dia meminta ajiannya itu untuk menempel pada diri Najib. Sekedar menempel, tidak menyusup karena berbahaya bagi yang tidak cukup tenaga dalamnya. Selanjutnya, Hazri akan berperan sebagai penggerak boneka. Najib bonekanya.


Maka ‘Cakra Buana’ pun menempel di sana. Najib terkesima saat ajian tinggi itu merekat, merasakan sesuatu tapi tidak tahu apa. Hazri sudah mengunci mulut anak buahnya itu agar tidak mampu berkata-kata.


Boneka telah siap....


“Ayo, Jib...,” seru Hazri seolah sama menanti.


Maka, Najib pun menjelma ‘Hazri’. Dia melakukan gerakan-gerakan silat tanpa canggung. Kaget semua. Najib memang dikenal pemberani, tapi ilmu silatnya selama ini cuma ‘pubarta’ doang. Pukul baru tanya. Belum pernah ada yang lihat dia menari kembangan silat seperti itu. Lincah seperti jagoannya. Jelas jagoan karena hakikatnya Hazri. yang sedang menari-nari di sana.


Hazri tersenyum. Dengan berdiri, dia terus memainkan Najib. Tenaga dalam pun di transfer, dep... masuk. Najib meliuk sekali, lalu diam kaku. Kedua tangannya ke bawah lurus agak ke depan. ‘Rogo Sukmo’. Perlahan-lahan kedua tangan Najib memutih sebatas siku, hingga dirasa cukup oleh Hazri. Tidak sampai perak sekali. Romi bengong. Yang lain diam terkesima.


“Pegang papannya...,” kata ‘Najib’ kepada anak buahnya.


Hazri mesem dalam hati, dia yang ngomong barusan.


Dua anak buah Najib memegangi papan itu pada masing-masing


“Yang kuat...,” kata ‘Najib’ lagi. Keduanya pun memegang erat dan menahannya dengan kuda-kuda kaki.


Najib meliuk lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada papan jati lumayan lebar itu. Terlihat asap dari tapak tempelan tangan itu. Lalu, makin berasap hingga papan itu jebol membentuk lubang tapak tangan. Hitam rapi pinggirannya.


“Hah...?” para penonton berdecak kagum.


Papan ditaruh. Dep... Hazri mentransfer tenaga dalam lagi. ‘Rogo Kumitir’ sekarang. Merah pun berganti merah, terus memerah. Cukup, Hazri menggerakkan Najib untuk membenturkan kedua tangannya di atas kepala. Jleb..., sinar blitz ‘raksasa’ itu. Walau siang, tetap tajam menyambar mata.


Kaget penonton, ramai terpekik. Banyak juga yang jatuh terduduk.


Jlab, jlab..., dua kali lagi. Kembali penonton terpekik.


Sudah. Hazri mencukupkan pertunjukan. Dep, dep dep..., tiga bola energi tenaga dalam dikirim masuk ke tubuh Najib untuk mengganti energi fisiknya yang terkuras habis sebelum ‘Cakra Buana’ ditarik mundur. Kalau tidak diganti dijamin lunglai ‘boneka’ Najib itu. Seiring itu, dengan karunia-Nya, sang Mursyid membuat Najib tidak punya keinginan membicarakan apa yang baru ditempel pada dirinya itu. Najib akan diam murni soal ini, tidak mungkin berkoar karena ‘rasanya’ telah diambil lagi oleh sang Mursyid. Segala ini dengan izin-Nya.


“Wah, nggak nyangka Bang Najib...,” seru seorang anak buahnya.


“Hebat Bang Najib...,” timpal yang lain.


Ramailah mereka memuji bosnya itu. Najib tersenyum murni saja, tidak berkomentar. Dia tidak mengerti, rasanya seperti di tengah-tengah antara ada dan tiada. Dibilang ada, tidak ada; dikata tidak ada, ada.


Hazri senyum-senyum juga. Romi melirik-lirik. Dia tidak percaya Najib bisa melakukan semua tadi. Pasti Hazri yang membuatnya bisa. Tapi, ditahannya kuat rasa ingin bertanya ini. Nanti ditumpahkan kalau saatnya tepat.


“Gimana? Sudah cukup, kan?” tanya Hazri kepada para penonton.


“Iya, Bang. Makasih,” Kuncrit yang-menjawab, mewakili yang lain.


“Jib...,” panggil Hazri. Najib mendekat.


Sambil tersenyum Hazri memandang sejenak wajah anak buahnya ini. Sudah kehendak-Nya, setitik suci dari kemursyidan Hazri tertanam dalam diri Najib lewat lontaran tenaga dalamnya tadi. Semoga diberkahi oleh-Nya. Dari Dia kembali ke Dia. Hazri sadar sepenuh rasa bahwa dirinya tak berhak mengakui apa-apa.


“Kukira cukup ya. Nanti malam, insya Allah, jumpa lagi,” kata Hazri.


Najib mengangguk.


“Assalamu’alaikum,” kata sang Mursyid pelan.


“Wa’alaikum salam,” sahut Najib pelan juga. Hanya dia yang menyahut. Lalu, kaget sendiri kenapa bisa begitu.


Hazri pun beranjak setelah mencangklongkan tasnya ke pundak.

__ADS_1


Romi mengikuti sambil geleng-geleng kepala....


__ADS_2