Jalan Pulang

Jalan Pulang
71. bukan kebetulan


__ADS_3

Tiga hari sudah Hazri tinggal di rumah barunya. Dua hari kemarin, dibantu Karno, dia memasang pompa air baru dan antena televisi. Pompa air warisan Haji Slamet sudah tua, tidak kuat nyedot. Televisi juga wajib ada, itulah sumber informasi utamanya untuk tahu perkembangan Jogja. Beli di kota, cukup yang 14” supaya sama umumnya milik warga di sini. Sekalian tempat tidur dan-meja kursi tamu yang sederhana saja, murah meriah. Dispenser tidak ketinggalan, minum adalah salah satu kewajiban hidup. Soal makan gampang, ada warung dekat rumah barunya ini. Enak juga, lumayanlah.


Hari ini sedang ada petugas PLN mengutak-atik meteran listrik. Lewat Karno, Hazri minta tolong diuruskan tambah daya listrik. Terlalu mepet dirasa kalau cuma 450 Watt. Minta dijadikan 900 Watt biar rada longgar. Oleh petugas PLN itu malah disarankan sekalian naik ke 1200 Watt. Oke saja.


Sambil melihat-lihat kedua petugas PLN itu bekerja, Hazri duduk di bangku kayu bawah pohon rambutan memilin tasbih kaukanya. Kemarin Karno dan si Marno, anaknya, yang membuatkan bangku ini setelah memasang antena televisi. HP di sakunya berdering, dari Huda. Hazri tersenyum....


“Assalamu’alaikum, di mana ini...,” sapa Huda.


“Di Magelang, Pak Haji.”


“Magelang? Bukannya Jogja?”


“Bikin posko dulu di sini...,” sambil menjawab Hazri berjalan ke belakang rumah, dekat sungai kecil. Cari tempat aman saja, siap, tahu pembicaraan telepon ini menerobos kawasan kritis status buronannya. “Sementara ini, yang paling dekat dan paling aman ke Jogja menurutku di sini. Solo, Semarang, dan Klaten sudah rumah bagiku...,” lanjut Hazri.


“He-eh, he-eh...,” Huda paham. “Di mana di Magelang-nya?”


“Namanya Tidar. Kau masih ingat ceritaku tentang pembunuhan Jepang itu?”


“Eemm, Mister Day?”


“Yap. Masih kuat ingatanmu ya ?.”


“Hehehe....Huda...Kenapa Ho?”


“Ya di situ. Aku sekarang tinggal di rumah tempatku membunuhnya.”


“Busyet! Nggak ada yang lebih parah? Masih gentayangan rohnya...”


“Hahaha..., Mahmud.... Eh, Arif...”


“Mahmud? Namamu Mahmud di sana?”


“He-eh. Ganti lagi.”


“Bagusan Arif kurasa.”


“Ya, buatmu Arif nggak apa-apa. Biar orang-orang sini yang Mahmud.”


“Mahmud apa?”


“Mahmud alias mamah mudah.” canda Hazri.


“Hahaha....dah ganti profesi sekarang?”


Hazri pun ikut tertawa-tawa.


“Terus gimana, Mamah?” canda Huda

__ADS_1


“Apanya?”


“Rumah itu..”


“Bagus, enak.”


“Enak? Suara tawamu tadi sudah kayak genderuwo. Jangan-jangan sedang kesurupan sekarang?”


“Hohoho..., takut genderuwonya sama murid Syekh Atha’ illah. Mana punya ‘Cakra Buana’ lagi...”


“Gila kau. Beneran tinggal di situ?”


“Iya.”


Disana, Huda geleng-geleng kepala. Huda suruh tinggal di situ? Ogah.


“Terserah kaulah...,” Huda menyerah. “Kalau aku mau ke sana, ke... apa tadi namanya? Tikar...?”


“Tidar.”


“He-eh, Tidar.... Lewat mana?” sambung Huda.


“Gampang. Keluar jalan raya Magelang, lurus sedikit ngelewatin jembatan. Nanti di kiri ada tikungan balik, ikutin. Nggak jauh ketemu pertigaan, belok kanan. Sudah, ikutin saja terus jalan itu. Nanti ujungnya sampai ke Tidar. Jalannya nanjak berkelok-kelok, Hud, soalnya naik ke gunung.”


“Ooh, tempatnya di gunung?”


Huda manggut-manggut. “Terus kalau sudah sampai di situ, ke mana?”


“Wah, agak susah. Tanyain sajalah, bilang rumahnya Pak Mahmud atau bekas rumahnya Haji Slamet. Pasti tahu mereka. Atau, tanyain Pak Karno saja...”


“Pak Karno?”


“Iya. Dia orang sini yang bantuin aku. Haji Slamet dulunya nggak tinggal di sini sih, mungkin ada yang tahu ada yang nggak.”


Obrolan terus berlangsung, sampai kemudian dicukupkan oleh Huda.


“Oke, Mamah. Nanti ada waktu aku main ke sana. Sekalian ngebuktiin legenda wanita Magelang, hehehe...”


“Sip, kutunggu. Ngomong-ngomong, sedang di mana sekarang?”


“Barusan sandar di Mataram.”


Hazri manggut-manggut. Tadinya mau nanyain Komeng, tapi nanti sajalah.


“Oke, Rif, eh... Mud. Aku cabut dulu ya. Hati-hati genderuwo...”


“Hehehe.... Sama-sama, Haji.”

__ADS_1


“Assalamu ‘alaikum.”


“Wa’alaikum salam....”


Hazri menghela napas sambil menyusupkan HP ke saku baju. “Huda, Huda...,” dia bergumam pelan. Di seberang sungai, tampak sekelompok anak-anak riang berlari melintasi pematang sawah mengejar layang-layang putus. Tampaknya layang-layang itu bakal jatuh ke sungai. Benar ternyata. Tapi, dasar anak-anak, pantang menyerah. Mereka pun adu cepat turun ke sungai sambil teriak-teriak gembira.


Merasa tertarik, Hazri pun mendekat ke bibir sungai. Melongok tingkah polah anak-anak tadi. Kurang jelas, makin jauh dia melongok, tubuhnya makin menunduk. Lalu, Swiiing... HP disakunya melayang jatuh, terjun bebas ke sungai kecil berbatu itu. Pecah berkeping dibawah sana. Hazri menepuk jidat.


Dia segera turun ke sungai, buru-buru seperti anak-anak tadi. Hancur, cuma sebagian handset saja yang tersisa. Hazri geleng-geleng kepala. Soal HP gampang, masalahnya SIM Card-nya hilang. Dicari-cari tidak ketemu, hanyut tampaknya. Deras memang air sungai kecil ini. Masalahnya, di situ tersimpan nomor HP Huda. Hazri pun kembali geleng-geleng kepala.


Buku agendanya juga entah di mana. Dicari-cari sejak kemarin tidak ketemu, di tas tidak ada, di mobil pun nihil. Dugaan kuatnya ketinggalan di restoran Sabri saat tukar mobil dengan Imam. Waktu mengambil BPKB, Hazri memang mengeluarkan juga buku agenda itu, ditaruh di kursi kosong sebelahnya. Terus lupa, tidak kebawa meluncur ke Jogja.


Memang isinya tidak berbahaya, tidak punya kemungkinan bisa membongkar penyamarannya. Tidak ada catatan fatal karena buku itu baru, buku agenda yang lama sudah dimusnahkan. Cuma, di situlah satu-satunya catatan nomor HP Huda. Sekarang gimana? Terpaksa banteng nunggal lagi dia.


Hampir tiga bulan sudah. Nyaman betul Tidar. Hingga saat ini Hazri merasa seolah masih berada di dek kapal milik Haji Huda, cuma ukurannya ‘raksasa’. Aman bin sentosa semuanya. Bebas kesana-kemari di sekitar kampung. Dia bisa santai pergi ke Pasar Tidar tanpa memasang ‘Cakra Buana’. Bebas. Mau beli sate kambing, mau makan martabak telor, atau mau jajan bakso, terserah. Nikmat betul.


Warga kampung ini umumnya ramah, Tidak banyak calutak, ingin tahu urusan orang. Ada sih yang tanya-tanya soal pekerjaan. Tapi, setelah dikibuli Hazri dengan mengatakan kalau dia mantan pelaut yang sudah bosan berlayar dan ingin hidup tenang di darat, maka tak ada lagi yang merasa perlu melanjutkan penyelidikan.


Dan, yang ada, begitu tersebar berita bahwa Pak Mahmud masih bujangan dan ingin hidup tenang, terus jadi banyak gadis sering lewat depan rumah setiap menjelang sore sambil senyum-senyum manis. Jandanya juga ada. Karno tertawa saja ketika ditanya Hazri soal fenomena ini.


Namun, Hazri tetap bisa membawa diri. Tidak terlena walau sungguh nyaman situasi ini. Waspada tidak bisa begitu saja ditanggalkan. Baik atau buruk, dia masih sadar dirinya buronan. Maka, berbaur dengan masyarakat dilakukan, tetapi tidak menyatu sepenuhnya. Tetap dibuatkan jarak aman. Sebab, dia merasa masih ada resiko baginya dan bagi mereka jika berbaur tanpa batas.


Hazri menolak tawaran menjadi salah seorang pengurus masjid kampung, walau dia sering nongkrong di situ. Begitu pun dengan tawaran para pemuda setempat yang memintanya menjadi pembina karang taruna. Awalnya, warga agak bingung dengan sikap Hazri ini. Jinak-jinak merpati, mendekat-mendekat..., begitu ditawari terbang. Tapi, lama-lama mereka terbiasa juga. Mungkin memang begitu setelannya Pak Mahmud. Biarlah, yang penting sumbangannya lancar dan... besar.


Urusan kemasyarakatan itu mudah bagi Hazri yang sulit, sungguh-sungguh sulit, adalah memahami keseganan hatinya melanjutkan perjalanan ke Jogja sesuai rencana semula. Padahal, Jogja hanya tinggal sejengkal lagi. Bukan malas! Hazri tidak mungkin malas menengok anak buahnya di sana. Ini soal lain! Persoalan yang dia sendiri tidak paham mengapa. Perasaan segan itu sungguh luar biasa. Seperti ada kekuatan dahsyat yang menahannya agar tetap di sini, di kampung Tidar. Jangan pergi ke sana! Seperti itulah serasa hatinya bergema. Rasa segan itu sudah muncul sejak hari kedua dia tinggal di sini.


Bukan tidak pernah dicobanya melawan, yang pertama dulu, besoknya setelah tambah daya listrik di rumah. Malamnya biasa saja, dia bikin rencana besok mau ke Jogja. Rindu sekali rasanya kepada Romi dan Tomi. Namun, paginya saat akan berangkat tiba-tiba badannya menggigil. Tidak panas, tidak sakit..., menggigil saja sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Anehnya, ketika menggigil itu ‘Cakra Buana’ seolah hilang dari dirinya, tidak bisa dipanggil. Gigilan terus berlangsung sampai akhirnya Hazri mendesah pasrah. “Allah. ...” lalu tertidur sendiri.


Lusanya dicoba lagi. Sama! Langsung menggigil, nggelosor jatuh terkulai di lantai. ‘Cakra Buana’ entah kabur ke mana. Terus menggigil, baru berhenti setelah dia menyerah pasrah kepada Allah ‘ sambil menangis sesenggukan.


Setelah itu, lama Hazri tidak berani bertingkah soal ini. Sebab, sedikit saja muncul keinginan ke Jogja, gejala menggigil itu langsung menyergap. ‘Cakra Buana’ pun siap-siap kabur. Kalau diteruskan pasti kejadian lagi. Sudah, diamlah Hazri urusan itu.


Sampai semingguan lalu. Setelah sekian lama, siapa tahu bisa. Bakda ashar, Hazri kembali berniat ke Jogja..., menggigil itu pun datang. Karena sudah siap dia bertahan, melawan. Sambil menggigil, dipaksakan berjalan ke mobil. Bisa, sampai masuk mobil. Tapi, entah mengapa Panther yang selama ini tidak pernah ada masalah itu tiba-tiba ngadat tidak mau distarter. Gigilan semakin menjadi, namun Hazri nekat terus melawan. Hendel kap mesin pun ditarik membuka.


Saat hendak keluar melihat mesin, tiba-tiba berhembus nuansa hitam ke dalam mobil, bergumpal-gumpal seperti asap. Entah apa dan dari mana datangnya. Langsung pengap.... Hazri panik, hendel pintu macet ditarik-tarik. Lalu, “Hegh...,” lehernya serasa dicekik. Dicekik! bukan tercekik. Hazri pun ngap-ngapan, serasa jadwal maut telah tiba. “Allah...,” dia mendesah. Tetap dicekik. “Tuhan...,” rintihnya lagi. Masih dicekik juga. “Allah..., ampuuun...,” pasrah dia, saat napas serasa tinggal setarikan lagi. Blass... Seketika lenyaplah situasi ini, semuanya kembali normal. Hazri pun menangis sesenggukan, berulang kali mengucap ampun kepada Tuhannya. Lalu, pelan-pelan tertidur sendiri. Seolah ada yang menidurkannya.


Terbangun menjelang maghrib. “Allah...,” Hazri kembali mendesah setelah kesadarannya pulih. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa keinginan dalam hatinya, kunci kontak diputar. Gramm.... Mesin sukses menyala. Hazri terpana, lalu merenung lama. Jelas bukan kebetulan. Terlalu anggun untuk bisa dianggap kebetulan. Rasa segan ini pastilah bukan hal sembarangan. Matanya mengejap berkaca-kaca, lalu dua tetes bening bergulir jatuh. “Ya Allah... .,” desahnya pelan sambil beranjak keluar. Adzan maghrib sayup-sayup berkumandang....


Secuil Kopi



Buah rambutan dihasilkan dari tanaman Nephelium lappaceum, masih satu keluarga dengan kelengkeng, leci dan matoa. Rambutan termasuk dalam buah tropis, diyakini berasal dari Asia Tenggara. Pohon rambutan banyak dibudidayakan di Indonesia, Thailand dan Malaysia.


Nama rambutan diambil dari kata “rambut” istilah dalam bahasa Melayu yang berarti bulu. Buah rambutan mengandung arti buah yang berbulu. Nama tersebut sesuai dengan bentuk kulit buahnya yang ditumbuhi duri halus menyerupai bulu. Dalam bahasa Inggris buah ini disebut dengan nama yang sama, yakni rambutan.


Buah rambutan berbentuk bulat warnanya mulai dari hijau, kuning hingga merah. Daging buah berwarna putih cenderung bening. Buah yang telah matang rasanya manis hingga asam manis. Bagian yang bisa dimakan hanya daging buah, sedangkan kulit dan bijinya tidak bisa dimakan.

__ADS_1


__ADS_2