Jalan Pulang

Jalan Pulang
107. apa masalahnya?


__ADS_3

“Apa masalahnya, Ustadz?” tanya Hazri.


Faruq terdiam sejenak. “Tatonya itu loh, Pak Haji...,” dia menjawab kemudian.


“Hahaha.... Kenapa tatonya?”


Faruq tidak menjawab. Tampak jelas ragu-ragunya.


Tadi Hazri meminta bantuan Faruq untuk mengislamkan Romi secara syariat. Sejak tiba di Tidar dua hari yang lalu, Romi ngomong terus mau masuk Islam. “Aku nggak ngertilah, Bang. Pokoknya aku mau seperti Abang...,” katanya berulang-ulang. Hazri tahu sahabatnya ini tulus memohon, bukan akal-akalan. Itulah sebabnya dia meminta bantuan Faruq dalam hal ini.


“Bukankah Ustadz paham bahwa segalanya Dia?”


Faruq menghela napas lalu mengangguk.


“Tapi, kalau Ustadz masih menganggap Romi adalah Romi berarti sebenarnya belum paham. ..,” sentil sang Mursyid. “Bagaimana bisa Mahmud adalah Mahmud, Faruq adalah Faruq, dan Romi adalah Romi? Lalu, di manakah Dia?”


Faruq menghela napas lagi sambil memejamkan matanya.


“Bingung saya, Ustadz, kok bisa tato menghalangi manusia yang hendak ber-taqarrub? Hebat sekali si tato ini kalau begitu. Siapa sih hakikatnya yang menggambar rajahan di kulit ‘bangkai’ itu?”


“Subhanallah. Maafkan saya, Pak Haji... ,” dapat sadar tampaknya Faruq.


Hazri tersenyum. “Kok ke saya? Siapakah saya?”


“Astughfirullah. Yaa Allah...,” Faruq berkata sambil mengelus dada


“Sini, Ustadz, tapi jangan bilang siapa-siapa ya, hahaha...,” Hazri membuka kancing baju lalu memperlihatkan bidang dada kanannya


Faruq terpana. Mursyidnya ternyata punya tato. Gambar kepala Tiger pula. Walau tidak sengeri milik Romi yang seperti lukisan batik hampir disekujur tubuh, tapi tetap saja tato. Yang katanya tidak sah shalat karena wudhunya tidak sah gara-gara tato. Kata siapa? Kata orang atau kata-Nya? Bukanlah shalat hakikatnya soal nurani? Lalu, mengapa dipandang semata-mata urusan jasadi? Jasad itu ‘bangkai...’.


“Bagaimana, Ustadz?” Hazri cengar-cengir.


“Haahhh...,” Faruq tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sudah lebih paham tampaknya. Tato itu remehnya remeh dibanding niat ber-taqarrub illallah.


Maka, berucap kalimat syahadatlah Romi dibimbing Ustadz Faruq. Hazri dan Juki jadi saksinya. Tidak di masjid, di ruang majelis dzikir saja supaya tidak mengundang kontroversi soal tatonya. Kalau ‘tahu-tahu’ sudah Islam kan lain perkara.


Usai bersyahadat, Haji Mahmud mengubah nama sahabatnya ini menjadi Umar Khathab. Kalau disimak, wajah dan potongan Romi memang ada arab-arabnya. Dan, yang diubah tidak keberatan sama sekali. Apalagi setelah mendengar sedikit riwayat Sayvidina Umar bin Khathab, sang khalifah kedua. “Hahaha.... Sama aku. Bekas preman juga ya?” begitu katanya.


Malamnya langsung baiat. Sang Murysid tidak perlu menunggu waktu lagi karena izin-Nya telah terbit. Langsung lewat dzauqiyah. Tidak beda yang lain, Umar pun menangis setelah menerima al-Irfan. Memang tidak harus pintar untuk mampu menangkap sinyal kebenaran, cuma butuh kejujuran hati. Selanjutnya, Umar ‘Romi’ Khathab pun menapak kebenaran sejati. Setitik demi setitik.


Si Tuyi punya ceritanya sendiri. Begitu melihat Tidar, dia tidak mau lagi masuk sangkar. Masuk sih masuk kalau disuruh, tapi terus ngamuk di dalam situ. Diacak-acak semua perabotan sangkar. Hazri tertawa melihat tingkahnya. Dia pun menyuruh Juki agar melepaskan si Tuyi. Biarkan saja bebas mau ke mana. Mau pergi tidak balik lagi juga tidak apa-apa.


Tidak ternyata. Tuyi tetap setia. Cuma sekarang maunya tinggal di pohon mangga. Bikin sarang sendiri di situ. Juki memasangkan tudung agar sarangnya tidak kena hujan langsung. Tempat makan dan minum yang di sangkar dipindahkan ke sana. Tampaknya si Tuyi suka kepada Juki. Maka, selain kepada Hazri, perkutut antik ini pun patuh kepada si Juki.


Si Kenyut lain lagi. Penganut aliran pasrah tampaknya. Hampir tidak ada protes. Dia terima baskom jadi rumahnya saat kolam belum jadi. Begitu kolam siap, dia juga tidak menolak rumah barunya. Apa yang diberikan, disongsong dengan senang hati. Kalau tidak mau, maka ditolaknya dengan baik. Ngeloyor pergi tanpa ‘ngomel’. Asal jangan diduduki tempurungnya kalau sedang berjemur. Marah dia, membuka lebar moncongnya. Cuma si Fia yang boleh duduk di situ. Entah mengapa si Kenyut tidak marah kalau gadis mungil ini. Akur mereka.


Sebulan pun berlalu. Tampaknya Romi betah di Tidar, beli rumah dekat balai desa sana, ibu kotanya Tidar. Hazri mencegah Romi memakai uang darah saat akan membeli rumah itu. Dia menyuruh sahabatnya memakai uangnya saja. Halal. Jangan coba main-main haram lagi.


Romi juga berencana membuat peternakan kambing. Idenya muncul dari hasil diskusi dengan Faruq. Kompak mereka sekarang, kesana-kemari bareng. Menurut Faruq, prospek usaha peternakan kambing itu bagus. Pasarnya luas. Apalagi menjelang Idul Adha. Romi oke saja, tahu apa soal kambing? Pokoknya dia ingin punya usaha halal seperti Hazri. Untung rugi urusan nanti.


Hazri mempersilakan Romi memakai berapa pun dananya yang ada untuk memodali usaha peternakannya itu. Bagi Hazri, uang sudah serupa kertas. Dia telah jauh lepas dari hijab kelas begituan. Punya duit atau tidak, sama saja baginya. Tapi, aneh, saat rasa itu teraih uang malah tidak berhenti datang. Segitu dilepas, berlipat segitu baliknya lagi. Ar-Rahman....


“Tapi, Rom, kau sudah siap dijuluki Umar Embek?” Hazri mesem.


Faruq dan Romi terkekeh.


“Tanggung, Bang. Sekarang juga sudah dipanggil Umar Tato. Biarlah sekalian Embek, yang penting bertauhid...,” timpal Romi, mantap.


“Hahaha...,” Hazri tertawa bahagia. Seorang Romi berkata itu?


Maka, perintisan usaha peternakan kambing itu pun dimulai Romi dan Faruq kasak-kusuk mencari lokasi yang cocok untuk maksud ini. Karno membantu, dia tahu banyak soal-soal lokasi tanah di Tidar ini.


Hazri tidak punya waktu ikut campur. Tamunya datang sili berganti. Seolah tanpa ujung belakang. Beragam keperluan, mulai dari sekedar minta nasihat sampai mohon bimbingan spiritual. Diam di tempat ibarat payung mengembang tanpa tepian, lalu orang-orang pun datang berteduh.


Maklum, ‘Pasak Bumi’.


Hazri sedang asyik memandikan si Tuyi saat pesan supranatural itu masuk. Pak Subakir memintanya datang ke Progo segera. “Ini, Juk, lanjutkan...,” dia memberikan sprayer air itu ke Juki, lalu beranjak masuk ke rumah.


“Dek, Mas turun dulu ya. Tolong jubah disiapkan,” kata Hazri kepada istrinya yang sedang menyapu rumah.


Ami mengangguk, segera menyiapkan keperluan suaminya itu.


Hazri pun bersiap diri.


Usai sarapan, Hazri mengeluarkan motor uduk-uduk-nya. Si Fia langsung menghampiri. Biasa, minta jatah keliling sebentar naik motor itu. Di depan-depan rumah saja. Kalau tidak dituruti ngambeknya seharian. Ami tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu. Beres muter-muter, sang Mursyid pun meluncur memenuhi panggilan mursyidnya.

__ADS_1


Sebuah sedan hitam terparkir di tepi jalan depan rumah Pak Subakir. Ada stiker ‘Mabes Polri’-nya di kaca belakang. Cak Fahmikah? Hazri segera membawa masuk motor uduk-uduknya ke halaman rumah. Parkir di situ, lalu beranjak menyapa mereka yang di saung. Ada Bilal, Agil, dan seorang berpotongan polisi. Dari sepuluh ikhwan yang telah berbaiat talqin itu, sampai sejauh ini hanya Soleh dan Hazri yang sudah jelas dikenai tugas kemursyidan. Itulah mengapa yang lain masih mantheng main ke Progo. Masih cukup waktu.


“Firmanto...,” orang itu memperkenalkan diri saat bersalaman dengan Hazri.


“Mahmud,” Hazri membalasnya.


Firmanto menatap tajam Hazri, menyelidik. Mungkin tahu dia.


“Dari mana Pak Firmanto?”


“Jogja, Pak.”


“Sendirian?”


“Siap, tidak. Tugas mengantar Brigjen Fahmi Putra.”


Hazri mesem. Berarti benar Fahmi yang datang.


“Tadi Bapak pesan supaya Mas Mahmud langsung masuk,” kata Agil.


“Ooh iya. Suwun, Kang. Pak Firmanto, saya tinggal dulu ya....”


Sekejap Hazri membalas tatapan mata Firmanto yang dari tadi mantheng terus itu. Bercanda. Seperti biasa, Firmanto pun terkesiap merasa biji matanya seolah dicolok rumput. Langsung sibuk kucek-kucek dia. Tapi, tidak apa-apa, sebentar juga normal lagi.


Hazri masuk ke rumah Pak Subakir, mau pakai jubah dulu. Beres itu baru menuju ruang majelis dari pintu dalam. “Assalamu’alaikum,” dia menyapa.


“Wa’alaikum salam...,” Pak Subakir dan Fahmi membalas.


Pensiunan jenderal polisi bintang satu itu terbelalak melihat penampilan sang Mursyid. Hazri mesem saja, bergerak menyalami dan mencium tangan gurunya, lalu ke Fahmi. “Baik-baik semua, Jenderal, hahaha...,” dia bertanya sambil menjabat erat mantan pemburunya ini. Fahmi pun tertawa sambil mengangguk-angguk.


“Pak Fahmi, ini Ki Mahmud Tidar yang saya ceritakan tadi,” kata Pak Subakir.


“Hazri? Mahmud Doro? Adik saya ini Ki Mahmud Tidar?” Fahmi kaget.


Pak Subakir tersenyum, Hazri nyengir. Fahmi kembali geleng-geleng kepala.


“Satu dari beberapa mantan murid terbaik saya. Satu dari dua yang menerima haqullah kemursyidan di antara mereka,” Pak Subakir menjelaskan.


Fahmi manggut-manggut. “Pantas kata-katamu dalam sekali waktu itu, Zri. Eh, saya mesti panggil kau apa sekarang? Ki Mahmud Tidar?”


Fahmi pun tertawa. Dicoba-cobanya beberapa nama itu. “Nggak enak, kupanggil Hazri saja nggak apa-apa?”


Pak Subakir dan Hazri tertawa.


“Silakan saja, Cak, jangan malu-malu, hahaha....”


Fahmi kembali tertawa.


Mereka pun berbincang-bincang.


“Bapak sudah ngobrol sama Pak Fahmi. Katanya beliau tahu ini dari Hazri. Berarti itu Mas Mahmud, kan?”


Hazri mengangguk. Dia tahu Pak Subakir hanya ber-intro karena sudah tahu siapa dirinya dulu. Hazri Tiger dan ‘Cakra Buana’ pun telah disebut tanpa pernah diberi tahu oleh Hazri. Barusan juga disebut-sebut.


“Pak Fahmi, kalau benar Bapak berniat merasakan ketenangan sejati, yang itu berarti mengenal Dia, maka ketahuilah bahwa mursyid Anda ada di sini. Bukan saya tidak bersedia, sebuah kehormatan manusiawi jika saya diperkenankan oleh-Nya untuk menemani perjalanan ruhani Bapak, tapi ternyata bukan saya. Ki Mahmud Tidarlah mursyid Anda. Demikian tertera di kitab-Nya.”


Pak Subakir dan Hazri sama-sama melihat kemunculan kabut hijau di atas kepala Fahmi. Lalu, berputar cepat membentuk semacam bola kecil. Seperti yang dulu pernah dilihat Hazri di rumah Fahmi. Kedua mursyid itu tersenyum, paham maknanya.


“Baiklah. Saya siap,” kata Fahmi mantap. Bersamaan itu, bola kabut melesat ke atas membentuk larik. Di atas Fahmi sekarang seperti ada tali hijau terbentang lurus. Entah di mana ujung sananya.


“Alhamdulillah...,” ucap kedua mursyid ini.


“Tunggu sebentar, Mas Mahmud,” Pak Subakir masuk ke rumah.


Fahmi diam, matanya berkejap-kejap menatap karpet. Hazri tersenyum melihat mantan pemburunya ini. Bentangan ‘tali hijau’ tampak berkilauan. Kejadiannya mirip Komeng dulu. Saat tabir hati dikuak oleh-Nya, maka tidaklah lagi diperlukan segala kata-kata. Mengerti atau tidak, siap atau tidak, dia akan tunduk tanpa syarat kepada kemauan-Nya. Demikianlah Fahmi sekarang. Duduk diam bersila, seolah wadah kosong menunggu isi. Tak ada tanya, tak pula ragu.


Sambil menunggu, Hazri pun melantun dzikir. Tasbih memutar pelan.


Beberapa saat kemudian Fuad masuk membawa tungku bara, disusul Pak Subakir yang telah berjubah. “Fuad, jadi saksi...,” katanya. Fuad mengangguk, lalu menutup pintu. Buhur ditabur, wangi pun merebak. Fuad berlutut di belakang Fahmi, memegangi al-Qur’an di atas kepala sang Jenderal, Unik, ‘tali hijau’-nya menembus kitab seperti sinar lases, Pak Subakir duduk di samping, antara Hazri dan Fahmi.


Siap semua...


Hazri menghela napas. “Siap, Cak?”


Fahmi mengangguk, wajahnya tenang sekali. ‘Tali hijau’ bergetar kilau.

__ADS_1


Hazri meraih tangan kanan Fahmi, dipegang sebagaimana aturannya. “Cak, ikuti kata-kata saya.”


Fahmi mengangguk lagi.


“Bismillahirrahmanirrahim...,” ucap sang Mursyid.


Maka prosesi pembaiatan pun dilaksanakan.....


Fahmi telah bergenang air mata sejak masih pengucapan sumpah. Dan, tumpah ruahlah saat tiga rahasia al-Irfan tuntas dibuka. Awalnya tersedu, lantas meraung gaya bocah TK. Seperti Hazri dulu.


Bertiga mereka keluar memberi waktu. Malu nanti sang Jenderal kalau menangisnya ditonton. Fuad ke saung, Pak Subakir dan Hazri masuk ke rumah. Menunggu di ruang tamu.


Lama juga menangisnya Fahmi. Lucu, naik-turun, naik-turun. Meraung, terisak, meraung, terisak. Seperti ombak laut. Dari kaca jendela ruang tamu yang bisa melihat ke saung, tampak di sana Firmanto gelisah. Sepertinya dia hendak turun melongok ke ruang majelis. Tapi, Agil menahannya. Bilal dan Fuad cengar-cengir saja.


Akhirnya, keluar juga sang Jenderal. Sambil berurai air mata, tertawa-tawa dia sekarang mencari Hazri dan Pak Subakir. Firmanto melongo...


“Di dalam, Pak,” kata Fuad. Bisa diduga, Hazri dan ayahnya ada di situ.


“Cak...,” Hazri menyapa dari balik pintu.


Fahmi menoleh. “Fir, tolong ambilkan rokok di mobil.” Lalu, masuk, ke ruang tamu sederhana itu.


“Siap, Pak,” Firmanto pun segera melaksanakan perintah.


Terpana Firmanto melihat penampilan lengkap Hazri yang masih berjubah saat memberikan rokok kepada Fahmi. Muncul ragu di hati, jangan-jangan salah dugaannya. Masak Hazri Tiger jadi kiai? Sebagai polisi mantan bawahannya Fahmi, Firmanto dulu pernah ikut menguber Hazri. Hafal dia wajah buruannya itu.


“Terima kasih, Fir. Kau ambil saja untuk di sana,” kata Fahmi. Maksudnya untuk para peserta saung di luar sana.


“Siap,” jawab Firmanto. Matanya memandang Hazri lagi.


Hazri tersenyum, mengejapkan matanya sekali ke arah mata Firmanto.


“Ah...,” Firmanto kembali kucek-kucek. Perih.


Pak Subakir mesem geleng-geleng kepala. Sekejap tadi dia melihat selarik putih melesat dari mata Hazri ke mata Firmanto. Tipis, lebih kecil dari jarum.


“Kenapa, Fir?” tanya Fahmi heran.


“Siap, tidak.”


“Siap, tidak..., siap, tidak.... Kenapa kau?”


“Mata saya tiba-tiba pedih.”


“Heh...?” Fahmi menoleh ke Hazri. Yang ditoleh melengos pura-pura tidak tahu masalah. “Hahaha.... Makanya, Fir, jangan sembarangan main mata.”


“Siap,” sahut Firmanto. Lalu, beranjak sambil masih kucek-kucek. Pak Subakir dan Fahmi tertawa kecil. Hazri nyengir saja.


“Mestinya begitu pegang tauhid,” celetuk Pak Subakir.


“Gimana itu, Pak?” tanya Fahmi.


“Siap!”


Tertawalah semua. Paham maksudnya.


Hazri masuk sebentar ke dalam rumah, menukar jubahnya dengan baju biasa yang tadi dipakai saat datang. Lalu, kembali duduk berbincang pengertian dengan Fahmi dan Pak Subakir di ruang tamu. Lumayan seru, sayang mesti disudahi dulu karena tamu mulai banyak berdatangan. Biasa, ‘Pasak Bumi’.


“Maaf ya, Pak Fahmi. Beginilah adanya. Kapan sempat kita sambung lagi ke bahasan yang Iain. Tapi, Pak, pengertian apa pun tetap tidak bisa dimaknai jika tanpa perjalanan rasanya. Yang penting justru perjalanannya ini. Tanpa dijejali bermacam pengertian pun, jika memang ada perjalanan ruhaninya maka dia akan paham sendiri sesuai tahap yang telah ditempuh. Pokoknya istiqamahkan berdzikir Cahaya. Insya Allah, nanti datang waridnya.”


Fahmi mengangguk-angguk, walau belum jelas arti warid.


“Baik, Pak Subakir. Kalau begitu saya mohon pamit,” Fahmi berdiri menyalami dan memeluk Pak Subakir, lalu menoleh ke Hazri.


Hazri paham. “Saya juga pamit, Guru.”


Pak Subakir mengangguk. “Tolong ditemani Pak Fahmi ya.”


“Baik, Guru.” Hazri pun menyalami dan mencium tangan gurunya.


“Assalamu'alaikum,” kata Hazri dan Fahmi.


“Wa'alaikum salam,” balas Pak Subakir.


Setelah beruluk salam juga dengan para ikhwan di saung, mereka pun mendaki ke Tidar. Fahmi maksa ingin tahu rumah mantan buruan yang sekarang jadi mursyidnya ini. Hazri ikut di mobil, duduk bareng Fahmi di kursi belakang. Motor uduk-uduk-nya dititipkan di tempat Pak Subakir. Gampang nanti minta tolong anak buah Komar mengambilnya.

__ADS_1


__ADS_2