
Soal adem dan tenteram hati, jangan ditanya. Bukan bohong itu. Namun, masih ada yang terasa mengganjal. Sejak tinggal di Tidar, Hazri seperti pengangguran. Tidak punya pekerjaan lahiriah yang nyata. Kerjanya cuma duduk berdzikir di bawah pohon rambutan atau pergi ke masjid. Shalat atau diskusi agama dengan Faruq. Memang tidak ada warga yang protes. Apalagi mereka tetap percava ‘Pak Mahmud’ ini mantan pelaut. Di mana-mana, mantan pelaut pasti kaya, banyak duit. Tidak soal kalau kerjanya sekarang cuma duduk-duduk doang.
‘Haah, nggak enak juga. Ngapain kek? Cangkul-cangkul atau tanam-taman apa gitu?’ gumam hatinya. Bingung Hazri memilih kesibukan lahiriah untuk mendampingi kesibukan batiniahnya yang sedang mencari mursyid. ‘Apa bagusnya? Dagang? Buka toko di pasar Tidar? Ah, nggaklah. Terus apa dong?’
Tampak di sana, Marno dan seorang temannya melintas di jalan depan rumah. Masing-masing memegang seekor burung merpati.
“Mar...,” panggil Hazri.
“Iya, Pak Haji...,” sahut Marno. Sudah tercemar juga dia, ikut-ikutan yang lain memanggil Hazri dengan sebutan ‘Pak Haji’.
“Sini, Mar....” Marno dan kawannya pun menghampiri. Sugeng namanya.
“Burung apa itu?” tanya Hazri.
“Doro,” jawab Marno. Merpati, bahasa Jawa.
“Mau diadu balap?”
“Iya, Pak Haji.”
“Coba-coba...,” Hazri pun mengambil alih merpati betina dari tangan Marno. Jantannya yang dipegang Sugeng pun dilepas. Langsung terbang-terbang di sekitar si betina, jantan itu. Clok, menclok dia di atasnya. Hazri terkekeh, lucu juga. Mesra.
“Punya banyak, Mar?”
“Sisa dua ini, Pak, yang lain sudah dijual.”
“Dijual?”
“Iya. Untuk burung dara goreng yang di warteg-warteg itu.”
“Oohh..., laku dijual ya?”
“Iya, Pak, banyak yang nyari. Burungnya yang nggak ada.”
Hazri manggut-manggut.
“Kemarin yang saya sepuluh ditambah punya Sugeng empat, rebutan. Sampai ada yang dari restoran marah-marah nggak kebagian.”
“Restoran juga butuh?”
“Iya, Pak, tapi mintanya banyak. Susah....”
“Diternak saja, Mar?” pancing Hazri.
“Ini diternak, Pak. Cuma modalnya.... Terus, sering masih kecil sudah disuruh jual sama ibu. Perlu uang.”
Hazri pun sumringah. “Saya bikinkan peternakannya, mau? Tapi, kamu yang ngurus sama Sugeng.”
“Pak Haji mau bikin peternakan Doro?” tanya Marno agak takjub.
“Iya, saya modali. Tapi, saya mau kalian yang ngurus. Nanti hasilnya kita bagi-bagi. Gimana?” tantang Hazri.
Wajah Marno langsung mekar. Kedip-kedipan mata dengan Sugeng. Keduanya pun lalu tersenyum lebar.
“Boleh, Pak. Biar saya sama Sugeng yang ngurus. Oke, Geng?” Sugeng mengangguk cepat. Senyumnya masih mengembang.
“Oke. Kapan kita mulai?” tantang Hazri lagi.
__ADS_1
“Terserah, Pak Haji. Kita sih bisa kapan saja, sudah nggak sekolah ini.”
“Kamu juga nggak sekolah, Geng?” tanya Hazri. Kalau Marno, dia sudah tahu. Anaknya Karno ini tidak melanjutkan sekolahnya selepas SMP.
“Sama kayak Marno, Pak Haji.”
“Sekelas, Pak. Senasib juga. Hahaha...,” sahut Marno tertawa.
Hazri dan Sugeng pun ikut tertawa.
Lalu, mereka bertiga pun sibuk merancang kandang. Hazri mengambil kertas dan pensil lalu menggambar-gambar model kandang sesuai keterangan-keterangan teknis dari Marno dan Sugeng.
Konsep kedua remaja itu sederhana saja. Bikin kandang ala kadarnya, terus cari merpati indukan. Sudah, tinggal kasih makan. Biarkan saja mereka kawin bebas abur-aburan ke mana-mana yang penting bertelurnya di kandang. Tapi, Hazri geleng-geleng kepala. Tidak setuju dia. Hazri ingin meniru model peternakan yang lebih modern. Hazri juga tidak setuju kandang dibuat dari bambu sebagaimana usul Marno dan Sugeng. Maka, konsep berikutnya dibicarakan dengan saling memberikan pendapat. Tapi, selanjutnya Marno dan Sugeng hanya mengangguk-angguk saja karena rencana yang digambarkan Hazri terlalu besar dalam bayangannya.
Diskusi teknis itu masih seru berlangsung saat Karno menghampiri. “Assalamu’alaikum, Pak Haji...,” sapanya.
Sama juga tercemarnya Karno ini. Padahal, dulu sudah benar memanggil Hazri dengan sebutan ‘Pak Mahmud’. Dia yang pertama tahu malah.
“Wa'alaikum salam,” balas mereka bertiga.
“Sedang apa? Dari tadi kelihatannya asyik sekali?” tanya Karno.
“Nah, kebetulan ada Pak Karno. Begini...,” Hazri pun menjelaskan hal ihwal rencananya membuat peternakan merpati dengan Marno dan Sugeng. “Rencana kandangnya seperti ini,” Hazri memperlihatkan sketsa kandang itu.
Karno langsung melongo. “Pakai besi ini, Pak Haji?”
Hazri mengangguk. “Dibungkus ram kawat semua.”
Karno pun makin bengong.
Marno tertawa melihat ekspresi wajah ayahnya. “Gila ya, Pak?”
Selanjutnya, jelas Karno tidak mau ketinggalan ‘mega proyek’ ini. Kebetulan dia tahu pertukangan karena pernah jadi pekerja bangunan. Hazri tidak keberatan, silakan saja. Maka, Karno pun menerjemahkan secara teknis apa-apa yang diinginkan Hazri untuk kandang merpatinya itu.
Dan, proyek itu terlaksana dua hari kemudian setelah Karno dapat dua orang yang bisa membantunya membangun konstruksi kandang ‘hebat’ itu. Duet Marno dan Sugeng sibuk berburu merpati indukan sampai ke mana-mana. Boncengan sepeda motor gadaian milik seorang warga yang meminjam uang ke Hazri. Mereka tidak terima merpati sembarangan, harus yang betul-betul jagoan. Baik jantan maupun betinanya. Modalnya kuat ini, punya ‘Haji Mahmud’.
Hazri tidak banyak ikut campur. Seperti biasa, duduk-duduk di bawah pohon rambutan sambil memilin tasbih pemberian Komeng. Paling sekali-sekali memberi arahan kepada Karno kalau ada yang dirasa kurang pas, atau Karno yang bertanya kepadanya. Faruq berdecak kagum melihat tiang-tiang besi yang dipancangkan itu.
“Besar uang pesangonnya pelaut ya?” bertanya juga dia.
“Guedee banget...,” Hazri meringis, menyembunyikan sebongkah misteri.
Tiga minggu kemudian, kandang luar biasa itu pun jadi. Hazri tertawa sendiri, hampir empat puluh juta. Pantaslah. Mahalan kandang merpati daripada tanah berikut rumahnya ini. Tapi, tidak jadi soal. Masih banyak uangnya. Lagian buat apa disimpan terus uang darah itu. Bagusan buat si Marno dan si Sugeng.
“Nggak bisa sembarangan ini. Mesti pakai syukuran...,” Faruq melirik Hazri yang berdiri di sampingnya. Karno, Marno, Sugeng, dan beberapa tetangga yang juga sedang berada di situ mendukung pernyataan ustadz kampungnya.
“Boleh juga. Ustadz yang ngatur saja?” jawab Hazri.
“Alhamdulillah...,” sahut mereka hampir berbarengan. Semua senang karena itu berarti ada makan-makan.
“Tapi, ada masalah...,” sambung Hazri. Semua memandangnya.
“Apa, Pak Mahmud?” tanya Faruq.
“Masalahnya, siapa yang masak?”
“Walah, gampang itu, yang penting ‘Pak Harto’-nya...,” timpal Faruq.
__ADS_1
“Betul tidak hadirin?”
“Betul, betul...,” sahut yang lain.
Hazri tertawa. “Baik. Berapa duit?” tantangnya sekalian.
Lirik-lirikan mereka. Berapa ya? “Sejuta,” ceplos Karno yang punya gambaran keuangan Hazri yang lain langsung mendelik. Karno mengangkat tangannya tidak merasa bersalah. “Nggak usah berlebihan, Pak Mahmud, sekedarnya saja...,” Faruq menengahi. Tidak enak dia. Duit sejuta di sini, asal pintar nawarnya, bisa dipakai melamar janda. Kalau gadis memang kurang. Tambah-tambah dikitlah.
Hazri tersenyum. “Sebentar ya...,” katanya, lalu beranjak masuk rumah.
Sepeninggal Hazri, mereka yang di luar langsung menghakimi Karno. Termasuk Marno anaknya. “Bapak ini, malu.... Nggak enak sama Pak Haji...,” dia menggerutu; yang lain sama juga ngomel. Karno garuk-garuk kepala. Faruq kembali menengahi. “Sudah, sudah. Berapa dikasihnya nanti kita terima. Sudah, jangan ribut. Itu Pak Mahmud sudah balik.”
Jep, mereka pun hening kembali. Seolah semua baik-baik saja.
Padahal, Hazri tahu. Berapa tebalnya dinding bilik? Di dalam tadi dia tertawa-tawa kecil sendiri. “Ini, Ustadz, saya titip ya...,” katanya sambil menyerahkan seikat uang lima juta. Melongolah semua di situ, kecuali Karno. Giliran dia sekarang yang senyum-senyum penuh kemenangan.
“Aduh, Pak Mahmud, kebanyakan ini...,” kata Faruq. Dia mengembalikan empat setengah jutanya kepada Hazri.
“Eits, nggak bisa sembarangan. Kalau dikembalikan mesti pakai syukuran juga lho...,” Hazri bercanda tapi serius.
Faruq meringis, tahu kalau Hazri sedang membalasnya. “Tapi, ini benar kebanyakan, nanti malah jadi berlebihan. Kan, Allah tidak suka yang berlebihan?” Faruq tersenyum. Merasa sukses membalas balik Hazri.
“Hahaha.... Saya nggak mau terima. Segitu sudah diikhlaskan. Sekarang gimana Ustadz. Katanya urusan gampang?”
Faruq meringis. “Kalau sebagiannya untuk masjid gimana?”
“Terserah Ustadz. Tugas saya cuma menyiapkan ‘Pak Harto’. Begitu kan tadi kesepakatannya?”
Semua pun tertawa mendengar jawaban Hazri ini. Kena Ustadz Faruq dikerjain ‘Haji Mahmud’. Karno yang paling keras tawanya. Faruq cengar-cengir.
“Atur-atur sajalah, Ustadz...,” sambung Hazri.
Faruq pun mengangguk. “Nah, Pak Mahmud sudah memenuhi tugasnya. Sekarang tinggal bagian kita nih. Kapan kita rapat?” dia bertanya kepada para hadirin.
“Gimana Pak Ustadz. Kita nurut saja,” jawab salah seorang warga.
“Iya, iya...,” sambut yang lain.
“Ya sudah sekarang saja. Gimana?”
Mereka semua mengangguk setuju.
“Pak Mahmud, kita rapat di masjid sekarang bisa?” tanya Faruq.
Hazri mengangguk. “Nanti saya susul ke sana.”
Setelah saling mengucap salam, Faruq dan para warga menuju masjid, ceritanya mau rapat persiapan syukuran itu. Untuk acara seperti ini, warga di sini memang selalu memakai masjid untuk berembuk. Biar turun berkah katanya.
“Apa saya bilang? Saya ini yang pertama kenal Haji Mahmud. Nggak percaya kata saya sih. Haji Mahmud itu kaya, kecil duit segitu. Saya cuma nganterin ke Karawang ketemu Haji Asep, dikasih sejuta...,” Karno balik mengomeli mereka yang tadi mendelik kepadanya yang diomeli pun melongo lagi.
Besoknya lusa, acara syukuran berskala ‘internasional’ itu terlaksana. Banyak yang diundang Faruq, termasuk tokoh-tokoh masyarakat kampung tetangga. Hazri tampil bersahaja, biasa, dan apa adanya. Kupluk putih nangkring di kepalanya. Entah kenapa di situ Faruq ikut tercemar menyebut Hazri dengan ‘Haji Mahmud’. Maka, sejak itu, Hazri permanen dipanggil ‘Haji Mahmud’ oleh seluruh warga kampung. Termasuk mereka yang dari kampung sebelah. Malah ada yang memanggilnya “Haji Mahmud Doro’ segala.... Mantan biang preman, buronan seantero Indonesia. Sekarang disambut baik oleh warga. Siapa sangka rencana Allah...
Secuil Kopi
Merpati dan dara adalah burung berbadan gempal dengan leher pendek dan paruh ramping pendek dengan cere berair. Spesies yang umumnya dikenal sebagai "merpati" adalah merpati karang liar, umum digunakan di banyak kota.
__ADS_1
Dara dan merpati membangun sangkarnya dari ranting dan sisa-sisa lainnya, yang ditempatkan di pepohonan, birai, atau tanah, tergantung spesiesnya. Mereka mengerami satu atau dua telur, dan kedua induknya sangat memedulikan anaknya, yang akan meninggalkan sangkarnya setelah 7 hingga 28 hari.[1] Dara makan biji, buah dan tanaman. Tidak seperti kebanyakan burung lainnya (namun lihat juga flamingo), dara dan merpati menghasilkan "susu tembolok." Kedua jenis kelamin menghasilkan zat bernutrisi tinggi ini untuk memberi makan anaknya.
Merpati sering diapakai sebagai lambang perdamaian oleh manusia dan sering digambarkan sedang memegang daun zaitun, menurut catatan dahulu merpati pernah dipakai untuk mengirim surat dengan mengikatkan surat di kakinya