Jalan Pulang

Jalan Pulang
109. kejutan


__ADS_3

Mereka pun terus mendekat. Tiba-tiba Hazri terkesiap melihat laki-laki yang berdiri kacak pinggang di halaman depan menghadap ke rumah. Faruq di sebelahnya. Sepertinya mereka sedang membahas bentuk rumah kayu ini. “Subhanallah, Haji Sultonkah?” gumam Hazri pelan.


Fahmi menoleh, “Apa, Zri?”


Hazri menggeleng, tapi reflek langkah kakinya menyepat. Fahmi dan Firmanto mengimbangi.


“Yaa Allah, Pak Haji...?” gumam Hazri agak keras setelah wajah Haji Sulton terlihat dari samping. Tampak juga di sana Huda dan Komeng sedang ngobrol dengan Romi di bangku halaman. Semua menghadap ke rumah. “Subhanallah....”


“Zri? Ada apa?” tanya Fahmi lagi.


“Mereka keluargaku, Cak...,” jawab Hazri cepat. Langkah kaki pun semakin cepat, Fahmi memaklumi.


“Assalamu’alaikum, Pak Haji...!” seru Hazri dari batas pagar.


Semua menoleh. “Wa’alaikum salam...”


“Ya Allah, anakku...!” seru Sulton. “Munah! Umi...!” teriaknya lagi. Tanpa sungkan dia berlari menyongsong Hazri yang menghambur ke arahnya. Mereka pun berpelukan erat. Tidak ada kata-kata, hanya tumpahan perasaan. Langsung banjir air mata ‘bombay’ di situ. Seperti di film-film India.


Maemunah dan Hafsah muncul dari dalam rumah, diikuti Siti, Ria, Ami, dan Reni. Reni...?


“Ya-Allah, anakku..., anakku...,” kata Maemunah terpatah-patah. Dia lari ke sana dengan kaki tuanya. Melihat ibunya, Hazri melepaskan pelukan dari Haji Sulton dan menyongsong sang ibu. “Emak...,” katanya tersendat.


Banjir air mata pun makin deras. Hazri seolah tidak mau melepaskan ibunya. Terus didekap sambil diciumi sepenuh rindu. Umi, Siti, Ria yang sedang hamil, dan Reni bercucuran air mata. Begitu pun Ami yang berdiri menggandeng si Fia yang bingung melihat ayahnya menangis. Haji Sulton, Huda, dan Komeng menatap nanar penuh keharuan. Tidak ketinggalan Faruq, walau tidak tahu per-soalan yang sesungguhnya. Disangkanya kangen biasa yang sudah terlalu lama.


Sayang Udin tidak ada karena tidak dapat izin cuti dari atasannya. Dia kan kepala sekolah sekarang, banyak tanggung jawab. Keponakan Hazri juga tidak ikut karena bukan saat liburan sekolah. Ada nenek dari ayahnya yang mengurus sementara di sana.


Lain halnya dengan Romi. Di sebelah sana dia saling menatap tajam dengan Fahmi dan Firmanto. Tentu Fahmi masih ingat wajah Romi, apalagi Firmanto yang masih dinas aktif. Melihat Fahmi menghampirinya, Romi pun memapak maju. Tidak ada yang memperhatikan ini karena semua sedang terpana oleh adegan keluarga yang sedang berlangsung. Diam-diam Firmanto bahkan sudah menyiapkan pistolnya yang terselip di bawah lengan. Seperti detektif di film-film barat.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Fahmi.


“Kau yang sedang apa?” balas Romi ketus.“Jangan ikut-ikut!” Romi melotot menunjuk Firmanto.


Tentu Firmanto kesal diperlakukan begitu, dia akan merangsek maju.


“Berani kau?! Ayo keluar!” gertak Romi.


“Mundur, Fir,” kata Fahmi. “Ini urusanku.”


“Siap,” Firmanto pun mundur, tapi tidak jauh-jauh.


“Aku tanya kau, Romi, sedang apa kau di sini?” tanya Fahmi lagi.


“Aku tanya juga kau, Fahmi, sedang apa kau di sini?” balas Romi tidak mau kalah.


Fahmi menghela napas. “Aku berguru kepada Ki Mahmud Tidar.”


“Hah?” kaget Romi. “Sama. Aku juga sedang belajar sama Haji Mahmud.”


Mereka saling menatap tajam lagi.


“Kapan kau baiat?” tanya Fahmi, sekalian menguji pengakuan Romi. Kalau tidak tahu baiat berarti bohong.


“Sebulan lalu. Kau?”


Fahmi menghela napas lagi. “Barusan tadi....”


Tiba-tiba keduanya terkejut, menoleh ke arah yang sama. Barusan terdengar suara Hazri tepat di telinga masing-masing. “Jangan bertengkar, Anda saudara seiman. Ingat, segalanya Dia...,” tampak di sana Hazri tersenyum memandang mereka.

__ADS_1


Fahmi dan Romi kembali saling memandang. Romi yang memulai buka senyuman, maka Fahmi pun membalas sambil menjulurkan tangan. Mereka berjabat tangan. Erat dan semakin erat, akhirnya berpelukan sekalian. “Maafkan aku, Jenderal,” kata Romi pelan. “Sama-sama, Preman,” sambut Fahmi sambil menepuk-nepuk pundak Romi; yang ditepuk tertawa-tawa kecil.


Tinggal Firmanto yang bengong....


Tampaknya tumpah-tumpahan air mata kerinduan itu telah mereda. Diikuti semua keluarganya, Hazri berjalan menghampiri Fahmi. Tahu diri, Fahmi pun bergerak menyongsong.


“Pak Haji, ini kakakku, Brigadir Jenderal Polisi Fahmi Putra...” Hazri memperkenalkan sang Jenderal kepada keluarganya, lewat Haji Sulton.


“Purnawirawan...,” sambung Fahmi tersenyum sambil menjulurkan tangan.


Kagetlah semua. Semua tahu nama Fahmi Putra. Komandan Polisi yang mengejar-ngejar Hazri. Tapi, Haji Sulton cepat menguasai diri. “Sulton. Pamannya Haz..., eh, Mahmud...,” katanya sambil menjabat tangan Fahmi. Hampir kepleset barusan. Fahmi senyum-senyum saja. Disangka dia belum tahu mungkin.


Lalu, satu per satu keluarga Hazri memperkenalkan diri. Saat Maemunah, lama dia menjabat tangan Fahmi. Tidak bicara, hanya memandang lekat wajah pensiunan perwira tinggi polisi itu sambil tersenyum ramah. Fahmi pun balas tersenyum sambil mengangguk-angguk. Entah apa yang ada dalam benak masing-masing.


Hazri juga memperkenalkan Firmanto. Disebutnya sebagai polisi yang tangguh dan berdedikasi. Jengah juga Firmanto dipuji begitu di depan banyak orang. Fahmi mesam-mesem saja, Umar ‘Romi’ Khathab meringis.


Setelah perkenalan umum itu, Hazri minta waktu untuk menerima tamunya yang menunggu di rumah panggung sebelah sana. Rumah panggung itu sengaja dibuat untuk tempat menerima para tamu umum. Sebagian tugas ‘Pasak Bumi’.


Tidak lama Hazri menemui berapa tamunya yang tampaknya rombongan satu keluarga itu. Beberapa saat kemudian, Hazri mengantarkan tamunya ke batas pagar. Tampaknya urusan keluarga itu telah bisa didinginkan. Sudah dicapai saling pengertian antara orang tua dan anak gadisnya. Di batas pagar, mereka semua bergantian menyalami dan mencium tangan sang Mursyid lagi sebelum beranjak pergi naik motor. Beres itu, Hazri beranjak ke kursi teras. Di sana, Sulton, Huda, Fahmi, Faruq, dan Romi sedang berbincang. Komeng dan Firmanto asyik nongkrong di bawah pohon mangga bareng Juki. Sedang mengagumi si Tuyi tampaknya.


“Siapa tadi, Haz... eh, Mud?” tanya Sulton.


Faruq heran. Dari tadi Haji Sulton ini kepleset terus menyebut nama Mahmud.


“Tamu, Pak Haji. Masalah keluarga.”


“Kesurupan?” tanya Fahmi.


“Ya begitulah. Biasa, anak muda. Pelet memelet.”


Semua pun manggut-manggut maklum.


Faruq manggut-manggut. Apa nggak kebalik? Kalau pilihannya antara Hazri dan Mahmud, yang lebih cocok jadi nama gaul ya Hazri. Beda tipis sih. Tapi, sudahlah, yang penting jelas baginya kini.


Sulton, Huda, Fahmi, dan Romi senyum-senyum.


“Ini, Pak Umar..., ceritanya mau bikin peternakan kambing di sini, Pak Fahmi. Sudah kasak-kasuk cari lokasi dibantu Pak Ustadz...,” celetuk Hazri lagi.


Giliran Fahmi berkerut. Dari tadi memang kebetulan belum ada yang menyebut nama Umar karena Romi bersikap pasif di forum ini. Cuma mendengarkan saja. Dia merasa masih ada kebelumnyambungan antara Fahmi dan keluarga Hazri. Bagusnya jaga mulut. Sekarang baru bisa dibuka. “Nama asli saya Umar Khathab, Pak Fahmi. Romi itu nama gaul, hehehe...,” timpalnya.


Fahmi terbahak. “Jadi, selama ini aku ketipu ya?”


Yang lain ikut tertawa. Sama-sama ngertilah. Faruq pun paham keterkaitan ini karena Fahmi mantan polisi dan Romi pernah menyebut dirinya bekas preman, walau tidak bilang tangan kanannya Hazri ‘sang Mursyid’ Tiger.


Obrolan pun berlanjut. Yang ringan-ringan saja..


Tidak lama kemudian, Fahmi mohon undur diri. Setelah bersalaman kepada semuanya, sang Jenderal meninggalkan rumah Hazri. Seperti datangnya tadi, Hazri dan Fahmi berjalan bersama. Firmanto mengikuti di belakang mereka. Hazri menenteng kotak samurai Kochiro. Fahmi ingin bertanya, tapi segan amat terasa. Lalu, entah mengapa dia tidak ingin tanya-tanya lagi.


“Cak, mau tahu di mana aku dan Day bertarung?” tanya Hazri saat mereka memasuki batas pagar rumah bilik.


Fahmi menoleh. “Di mana?”


“Di sini. Di rumah itu...,” Hazri menunjuk rumah biliknya.


“Hah?” Fahmi kaget. “Di situ?”


Hazri mengangguk.

__ADS_1


Mereka berhenti di depan rumah ini. Fahmi memandang rumah bilik yang tadi sudah dia masuki saat datang. Firmanto berdiri agak di sana, dekat mobil. Hazri menghela napas lalu tersenyum.


“Banyak yang menyangka bahwa kebetulan itu ada. Padahal, tak pernah ada yang namanya kebetulan. Semua yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi telah ditetapkan. Aku ketemu Cak di parkiran depan pertokoan dua puluh lima tahun yang lalu bukanlah kebetulan. Aku pontang-panting sembunyi dari kejaran Cak tahun-tahun kemarin, bukan kebetulan. Aku berdiri di sini bersama Cak sekarang pun sama sekali bukan kebetulan. Apa yang akan terjadi pada kita masing-masing selanjutnya, juga bukan kebetulan. Tidak ada kebetulan, Cak, yang ada hanyalah Kodrat dan Iradat-Nya. Yang ada hanyalah Dia...,” kata Hazri pelan.


Fahmi mengangguk-angguk.


“Begitu pun dengan sababiah-nya, syariat penyebabnya. Aku berjumpa dengan Day, aku bisnis dengan Day, aku membunuh Day, dan seterusnya, dan sebagainya, semua itu pun bukan kebetulan. Bukanlah juga kebetulan kenapa aku adalah aku dan Cak adalah Cak. Kenapa bukan aku adalah Cak dan Cak adalah aku? Siapakah kita bisa memilih? Siapakah kita berhak protes? Aku di sini Cak di sana, aku di sana Cak di sini. Di sini di sana-dan di mana-mana, sama saja. Dia.”


Fahmi mengangguk-angguk lagi, senyumnya merekah. Mereka saling memandang sejenak, lalu berpelukan erat. “Dzikir Cahaya-nya, Cak, jangan lepas...,” bisik sang Mursyid. “Iya...,” jawab Fahmi mantap.


Hazri membuka kotak. “Ini samurai dari Mister Kochiro. Dia kirim kepadaku saat persoalan Day belum jelas bagi Yakuza. Kurasa bagus untuk hiasan di rumah Cak. Tidak cocok dipajang di sini, hehehe...”


Fahmi mengamati pedang itu. “Bagus sekali ini, Zri. Tajam dua sisi ya?”


Hazri menjelaskan kenapa begitu. Fahmi pun mengangguk-angguk.


“Buat aku ini?”


“Iya, kalau Cak mau.”


Fahmi menghela napas. “Terima kasih, Ki Mahmud Tidar....”


Hazri tersenyum mengangguk.


Di samping kendaraan....


Firmanto baru saja menyimpan kotak tadi di bagasi.


“Pak Firmanto, saya memang bukan Mahmud...,” kata Hazri tanpa diduga.


Firmanto terperanjat. Fahmi juga.


Hazri tersenyum. “Saya Hasanuddin Azhari. Pak Firmanto mengenalnya sebagai Hazri, atau Hazri Tiger.”


Seiring ucapan ini, si Tuyi tiba-tiba muncul, terbang menukik dan langsung hinggap di pundak kanan sang Mursyid. Kruook..., perkutut itu menyapa tuannya. “Hahaha. .., dari mana kau Tuyi?” tanya Hazri. Kruook kruook.....


“Burung siapa itu?” Fahmi terpesona. Tadi, di sana dia belum melihat.


“Perkututku...,” jawab Hazri. “Tuyi...,” Hazri menyuruh burungnya terbang ke Fahmi. Si Tuyi pun patuh. Fahmi terkekeh melihat perkutut jinak yang bertengger di pundaknya itu. Setelah ber-kruook kruook beberapa kali, si Tuyi pindah ke pundak Firmanto. Bintang polisi ini tertawa pelan sambil mengangguk-angguk.


“Fir, aku memang sudah pensiun, tapi aku masih bisa membuatmu menderita. Cuma kita yang tahu ini. Kukatakan kepadamu, beliau ini sekarang guruku, pembimbing ruhaniku...,” Fahmi menunjuk Hazri. “Kalau bocor, berarti kau!”


“Siap.”


“Hahaha.... Tidak begitu, Cak. Pertama, yang tahu bukan cuma kita, hahaha.... Kedua, saya berkata bukan karena apa-apa. Bukan karena takut ketahuan, takut tertangkap, dan seterusnya. Saya berkata karena saya tahu Pak Firmanto penasaran. Daripada kepikiran, saya beri tahu saja. Tidak ada masalah. Sababiah-nya begitu, hakikatnya Dia. Emang ada yang lain? Hahaha...”


Fahmi mengangguk-angguk.


“Siap, Pak Haji. Saya paham...,” kata Firmanto.


Hazri tersenyum. “Apa pun maksud paham kata Pak Firmanto itu, jangan jadi beban. Saya manusia bebas, Pak Fahmi dan Pak Firmanto juga sama. Karena saya bebas maka saya tidak mau mengambil kebebasan manusia lainnya. Apa pun yang terjadi, memang mestinya terjadi. Jangan bingung ya.”


“Siap, Pak,” kata Firmanto.


“Hahaha.... Terserah Pak Firmantolah, hahaha...”


Firmanto nyengir, Fahmi terkekeh. Si Tuyi ber-kruook kruook lalu manggung beberapa kali kemudian melesat terbang ke awang-awang....

__ADS_1


Sesaat kemudian, sedan hitam berstiker ‘Mabes Polri’ di kaca belakangnya itu merayap turun.


__ADS_2