
“Warid itu apa sih Mas Mahmud?” tanya Fahmi. Tahu ada Firmanto di situ, dia memanggil ‘Mas Mahmud’ kepada Hazri.
“Pasangannya wirid. Ada wirid, datang warid. Sederhananya, wirid itu mengingat, warid diingat. Pak Fahmi mengingat-Nya, maka Pak Fahmi akan diingat oleh-Nya. Kata Allah, ‘Kau datang pada-Ku berjalan kaki, Aku menyongsongmu berlari’. Tapi, aslinya tidak sesederhana itu sebab kita bicara Ingatan Ilahiah. Bukan ingatan manusiawi yang sekedar ingat-ingatan,” jawab Hazri. Sama, dia menempatkan Fahmi secara formal di depan Firmanto.
Fahmi manggut-manggut. Belum terlalu jelas, tapi ada gambaran.
“Eemm, lama Pak Fahmi baru sempat datang ke sini ya? Sibuk?”
“Iya, Mas Mahmud, saya kena musibah....”
“Ada apa, Pak?”
“Itu si Bungsu, kena dipatuk kakaktua. Hah, macam-macam saja.”
Hazri menahan senyum. Tahu maksudnya.
“Terpaksa saya harus menyiapkan pernikahan mendadak. Baru kelar dua hari lalu acaranya.”
“Wah, kok saya tidak diundang?”
“Alamatnya peta harta karun...,” celetuk Fahmi.
“Hehehe...,” Hazri terkekeh.
“Sedang diuji mungkin saya ini ya, Mas Mahmud?”
“Yah, mungkin. Tapi, masak iya sih Allah menguji kita? Hebat amat kita kalau sanggup diuji oleh-Nya?”
Fahmi termangu sejenak. “Maksudnya gimana itu?”
“Katanya Allah Maha Mengetahui? Tahu segalanya tentang segalanya? Kalau misalnya Pak Fahmi menguji Pak Firmanto, berarti ada sesuatu dalam diri Pak Firmanto yang belum diketahui oleh Pak Fahmi dan ingin diketahui. Iya, kan? Entah itu kemampuan atau hal lainnya.”
Fahmi mengangguk-angguk sambil mengerutkan kening.
“Nah, masak Allah disamain makhluk?”
Fahmi terkesiap. Firmanto yang diam-diam menyimak pun kaget.
“Pak Fahmi, apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, semua tidak lepas dari pengetahuan-Nya. Dia tahu segalanya atas segalanya. Perlu apa menguji? Iya kan Pak Firmanto?”
“Siap, Pak,” jawab Firmanto.
“Ah kau, Fir, siap-siap saja.... Ngerti nggak?” timpal Fahmi.
“Siap, belum,” Firmanto meringis.
Hazri dan Fahmi tertawa kecil.
“Jadi, Allah tidak menguji kita?” Fahmi minta ketegasan.
__ADS_1
“Hehehe.... Kalau masih percaya begitu silakan. Tapi, kalau saya jelas tidak ada ujian-ujian. Semesta raya ini hanya dengan di-‘Kun!’ saja langsung gulung tikar, kenapa lalu saya merasa mampu menanggung ujian-Nya? ‘Kun!’ Jadi ****** lagi jasad kita ini, hehehe.... Pak Fahmi, segala yang tiba kepada kita masing-masing dari Allah adalah yang terbaik menurut ketetapan-Nya. Janganlah berkata Rasulullah diuji lewat kefakirannya atau para Khalifah diuji dengan tewasnya dibunuh. Lalu, percaya pula bahwa mereka yang kaya berarti disayang, yang miskin disiksa. Kemarin disayang saat menjabat, sekarang disiksa setelah pensiun? Ditambah pula dengan ujian burung, kakaktua hinggap di jendela, hehehe...”
Fahmi pun terkekeh. Di batas pengertian dia bisa menangkap penjelasan Hazri ini. Firmanto juga ingin tertawa, tapi ditahannya kuat. Tidak etislah.
“Jadi, saya mesti gimana, Mas Mahmud?”
“Tidak gimana-gimana. Jalani saja apa yang telah ditetapkanNya itu. Nah ini, ungkapan macam ini pasti sudah sering didengar, kan?”
Fahmi mengangguk cepat. Memang iya.
“Tapi, susah diterapkan ya?”
Fahmi mengangguk lagi. Demikian adanya.
“Karena memang tidak bisa, Pak Fahmi, hehehe... ., jika tanpa ilmunya.”
“Ooh...,” Fahmi manggut-manggut. “IImunya gimana?”
“Hahaha... . Ilmunya tidak bisa diomongkan, Pak Fahmi harus merasakannya sendiri. Cara atau jalan untuk bisa merasakan itu tadi sudah saya beri tahu. Dengan itu, insya Allah nanti Pak Fahmi bisa mencicipi kuenya, dapat rasanya. Bukan cuma punya resep, tapi belum pernah merasakan nikmat kuenya.”
Fahmi mengangguk-angguk sambil menghela napas.
“Kalau rasa sudah didapat, maka itulah haqqul yaqin. Keyakinan yang tidak tergoyahkan oleh apa pun. Kalau baru dengar ceritanya saja, katanya katanya katanya, masih bisa goyah keyakinan tadi jika dihadapkan dengan rayuan atau ancaman. Saya bicara tentang Rasaning Allah, hakikat rasa Ilahiah. Bukan ngomongin rasanya kue ya Pak Firmanto, hehehe.... Segala kue tadi cuma ibarat.”
“Siap, Pak,” Firmanto menjawab reflek. Kaget dia, keasyikan menyimak sih.
Hazri tertawa mendengar cara menjawab anggota polisi ini. Siap terus. Fahmi pun cengengesan.
“Wah iya, lupa...”
“Hahaha... Kalau lupa, ingatkan lagi. Lupa lagi, ingatkan lagi. Begitu terus dimujahadahkan. Sebenarnya, saat kita sadar lupa berarti sedang ingat ya? Jadi, kalau lupa ingatkan lagi sama saja maknanya dengan kalau ingat, ingatkan terus. Ingat yang berkelanjutan. Bukan hak makhluk bentuk ingatan langgeng semacam ini, Pak Fahmi. Manusia tidak akan sanggup sebab ingatan manusia itu akal-akalan. Dialah yang memberi. Kan tadi, ada wirid datang warid.”
Fahmi tersenyum mengangguk-angguk.
“Izin bertanya, Pak...,” kata Firmanto tiba-tiba.
“Eh, berminat nanya juga kau, Fir? Hahaha...,” celetuk Fahmi.
“Siap, Jenderal, jika diizinkan Pak Mahmud.”
“Gimana, Mas Mahmud?” tanya Fahmi. Ceritanya memintakan izin.
Hazri tertawa pelan. “Silakan, Pak Firmanto, mungkin saya bisa jawab.”
“Siap. Apa ibadah cukup hanya dengan ingat?”
“Hehehe...,” Hazri terkekeh. “Bagus pertanyaannya, Pak Firmanto. Apakah ibadah cukup dengan ingat? Bagaimana kalau saya balik, apakah bisa disebut ibadah jika tanpa ingat kepada yang berhak diibadahi? Coba saya tanya, Pak Firmanto ingat apa kalau sedang shalat?”
“Siap. Apa ya...?” bingung sendiri dia.
__ADS_1
“Hayo, ingat Allah nggak?”
“Siap. Kadang-kadang.”
“Hehehe.... Kadang-kadang ya? Seringnya?”
Firmanto diam tidak menjawab.
“Ingat duit, tugas, beras, listrik, anak, istri, dan lain-lain ghairullah, kan? Segala yang selain Allah. Betul nggak tebakan saya ini?”
“Siap.”
“Berarti betul?”
“Siap.”
Fahmi tertawa. “Jawab gaya normal saja, Fir. Kau ini ngomong sama kiai siap siapan terus...”
“Siap.”
Mendengar ini, Fahmi dan Hazri kembali tertawa. Firmanto nyengi.
“Nah, itulah Pak Firmanto. Kalau Bapak ibadah, tapi tidak ada ingatnya dengan yang diibadahi, lalu apa namanya itu? Pantomin? Hehehe...”
Firmanto mengangguk-angguk.
“Seperti saya bilang tadi, saya bicara tentang ingatan Ilahiah. Bukan ingatan manusia yang bawaannya memang cenderung lupa. Ingat akal-akalan. Sulit dipahami memang bagi mereka yang belum merasakan ingatan sejati. Larinya selalu ke bentuk ingatan makhluk yang lama-lama pikun itu.”
Firmanto terpekur dengan tetap konsentrasi pegang kemudi.
“Begitu, Pak Firmanto. Bukan apakah ibadah cukup dengan ingat, tapi apakah ada ingat kepada-Nya dalam setiap ibadah? Hampa ibadah kalau tanpa itu. Maaf ya, bagusan kentut, hehehe.... Bagaimana bisa dibilang hidup kalau tanpa ruhnya? Ruh segala ibadah adalah ingat alias dzikir. Yang sejati lho, bukan ingat-ingatan.”
“Gimana, Fir? Bingung nggak kau?”
“Siap, masih bingung, Jenderal.”
“Ya sudah terima saja. Aku juga bingung, hehehe..”
Mereka bertiga pun tertawa.
Sampai juga akhirnya di Tidar. Hazri meminta agar mobil diparkir di pelataran samping rumah bilik bambu. Kasihan sedan ini kalau dipaksa naik terus ke sana. Selanjutnya, memang bukan jalanan kelas sedan. Cocoknya Jeep, setidaknya Kijang atau Panther.
Fahmi terkejut saat tahu peternakan ini milik Hazri. Alangkah banyaknya Doro di situ. Tadinya dia menyangka yang dimaksud Hazri dengan beternak merpati cuma model asal-asalan. Busyet, jelas bukan main-main kalau seperti ini. Dan, makin kagetlah dia saat masuk menengok ke bagian belakang. Ibarat kata, seluas mata memandang kandang semua. Bagaimana tidak, sekarang sudah lebih tujuh hektar. Marno dan Sugeng ekspansi lagi belum lama ini.
Setelah puas melihat-lihat, mereka berjalan kaki menuju rumah Hazri. Firmanto berjalan agak terpisah di belakang. Tampaknya Fahmi menikmati betul kesejukan hawa di sini. Pas nyamannya, dingin tapi tidak menyengat. Tampak sebuah Kijang dan beberapa motor terparkir di depan rumah. Agak sebelah sana, tidak pas sekali di depan rumah. Pastinya kendaraan tamu. Memang biasa banyak tamu.
“Itu rumahku, Cak,” kata Hazri pelan.
“Wali pantas kau betah di sini,” Fahmi berkomentar.
__ADS_1
Hazri tertawa saja.