
Sekitar pukul delapan, usai sarapan pagi, Sukoco mohon pamit. Dia berjanji akan datang lagi bulan depan. Hazri memberi pengarahan-pengarahan atas tahap perjalanan yang telah ditempuh Sukoco sebulan ini. “Tekan ke sirath, Ki Sukoco...,” kata sang Mursyid. Sukoco manggut-manggut paham. Sirath adalah istilah untuk pangkal tenggorokan. Pintu nyawa saat dicabut keluar. Normalnya....
Selepas kepergian Sukoco, tadinya Sulton ingin mengajak Hazri berbincang pribadi. Tapi, ternyata para tamu sudah berdatangan sepagi ini, Sang Mursyid pun melaksanakan sebagian tugas ‘Pasak Bumi’ nya itu. Sulton mengalah. Pantas, Hazri tidak punya waktu untuk pulang kampung kemarin-kemarin.
Sulton mengajak istrinya jalan-jalan ke rumah Juned. Ada hal yang mesti mereka bicarakan dengan mertua Hazri itu, Maemunah ikut, dia tahu persoalan. Sekalian membalas kunjungan besannya kemarin.
Di sana, bingung Sulton memulainya. Mesti dari mana? Sudah hampir sejam ngobrol dengan Juned dan istrinya, belum juga dapat celah masuk. Zaenab sama. Akhirnya, Maemunah yang membuka jalan, lewat jalur lama.
“Cak Sulton ini sahabat karib dua almarhum suami saya,” kata Maemunah.
Juned dan Sadiyah mengangguk-angguk.
“Bukan cuma sahabat, Pak Juned, kita bersaing, hahaha...,” Sulton sudah mulai ketemu jalur.
“Bersaing bagaimana?” tanya Juned.
“Hahaha.... Bersaing memperebutkan ibunya Haji Mahmud ini.”
“Ooh...,” Juned dan Sadiyah agak terkejut dengan keterusterangan Sulton.
Maemunah dan Zaenab mesam-mesem.
“Kami bertiga. Burhan, Ahmad ayahnya Haji Mahmud, dan aku. Burhan dapat pertama, lanjut Ahmad. Giliran saya, Maemunah nggak mau, hahaha....”
Juned pun tertawa. Para wanita geleng-geleng kepala sambil mesem.
“Tapi, baik ternyata maksudnya. Dia memperkenalkan saya dengan saudara jauhnya. Ini...,” Sulton menunjuk Zaenab. “Mirip,kan?”
“Ooh...Jadi, Bu Maemunah dengan Bu Zaenab bersaudara?” tanya Sadiyah.
Maemunah dan Zaenab mengangguk. “Saudara jauh,” kata Maemunah.
Juned manggut-manggut.
“Bicara soal mirip, saya terkejut melihat kemiripan Ami sama Reni...,” kata Haji Sulton hati-hati. Soalnya sudah mulai masuk sasaran.
“Iya, kami juga,” timpal Juned. Sadiyah setuju.
“Yang mirip-mirip biasanya kisahnya juga dekat...,” gumam Sulton.
Juned manggut-manggut. Entah paham, entah tidak.
“Bu Juned, mau tahu kenapa Reni belum menikah?” tembak Zaenab.
“Iya. Kemarin belum sempat kejawab itu...,” kata Sadiyah.
“Dari dulu dia mencintai seseorang. Saya tahu persis karena saya ibunya. Tapi, yang dicintainya itu mungkin tidak tahu...,” sambung Zaeneb.
Maemunah menghela napas. Tetap tersenyum.
“Siapa, Bu?” Sadiyah penasaran. Juned mengerutkan kening, tampaknya dia sudah bisa membaca arah. Hening sejenak.
“Putri ketiga saya itu mencintai putra saudara jauh saya...,” kata Zaenab. Agak berbelit sedikit.
Juned langsung menghela napas. Paham. Sadiyah belum tampaknya. “Siapa dia, Bu?” dia bertanya lagi.
“Haji Mahmud...,” Juned berkata pelan kepada istrinya.
“Ooh...,” Sadiyah pun ber- ‘O’, lalu terdiam.
“Yah, begitulah garis besarnya,” kata Sulton. “Sebenarnya, Pak Juned, Bu Juned, anak-anak kita sudah matang semua, hahaha... Mahmud matang sekali, Ami matang, Reni juga matang. Kita tidaklah pantas lagi untuk terlalu banyak ikut campur urusan mereka. Kedatangan saya ke sini, sekalian bersilaturahmi, adalah untuk sekedar menyampaikan ini. Karena bukan kita yang buat keputusannya.”
“Iya, iya...,” Juned mengangguk-angguk setuju. “Hahaha... Haji Mahmud, saya pun segan kepadanya, Pak Sulton.”
“Hahaha.... Sama, saya juga,” Sulton menimpali.
“Jadi, kita biarkan anak-anak kita mengambil keputusan?” tanya Juned.
“Iya,” jawab Sulton tegas.
Mereka pun tertawa-tawa lega. Paling tidak satu ganjalan sudah ditembus. Karena persoalan ini memang harus dipecahkan maka Sulton meminta kesediaan Juned dan Sadiyah hadir saat dia bicara dengan Hazri nanti. Sama-sama menyaksikan keputusan ‘pria yang ditunggu’ itu. Juned tampaknya sudah clear, tapi istrinya masih jelas terlihat gundah.
__ADS_1
Obrolan berlanjut. Zaenab mengajak Sadiyah keluar rumah, dia mau bicara dari hati ke hati. Gaya perempuan. Maemunah turut di sana. Sulton dan Juned tetap di ruang tamu. Di situ, mengaku juga akhirnya Juned kalau dia pernah beristri tiga. Sadiyah adalah istri keduanya. Istri pertama dan ketiga dicerai. Itulah kenapa Sadiyah kelihatan gentar jika kasusnya dulu menimpa putrinya.
Tapi, usai rapat paripurna para perempuan itu, Sadiyah tampil beda. Kelihatan lebih siap menghadapi bakal kenyataan ini. Entah apa yang diomongkan Zaenab dan Maemunah di sana tadi.
Lanjut ngobrol sebentar, sampai akhirnya Sulton dan rombongan Pamit. Saling pengertian antara dua keluarga telah dicapai.
“Umi, kau bicara apa ke ibunya Ami tadi?” tanya Sulton saat Mereka berjalan pulang. “Kulihat, habis itu dia lebih tenang.”
“Rahasia perempuan. Laki-laki nagak akan paham,” jawab Zaenab.
“Halah...,” Sulton sedikit menggerutu.
“Nggak bakal ngerti, Cak.... Sudahlah.”
“Munah, apaan sih?”
Lebih parah. Maemunah cuma mesem, tidak menjawab. Lalu, dua Saudara jauh itu pun tertawa pelan. Sulton terpaksa geleng-geleng kepala.
Bakda ashar, kebetulan tamu sudah habis, Hazri mengajak Sulton ke Progo. “Soal mengenal Allah itu, Pak Haji...,” katanya.
Sulton langsung bersemangat. Dia mengajak Zaenab, Zaenab, mengajak Maemunah. Jadilah berempat.mereka turun ke daerah tepian, Sungai Progo itu. Tadi sebelum berangkat, Sulton minta pendapat ke istrinya bagaimana kalau soal Reni disinggung di perjalanan Zaenab kurang setuju, menurutnya lebih baik dibicarakan di rumah. Jangan di mobil. Maemunah sependapat. Maka, tidak ada bincang-bincang Reni di Panther hijau itu.
“Enak Kijangnya ini ya, Zri? Kukira keras...,” komentar Sulton.
Hazri tertawa kecil. “Ini bukan Kijang, ini Panther, hehehe. ...”
Sulton pun tertawa.
“Tahun berapa?”
“Sembilan satu. Dulunya warna merah, mobil dinasku zaman jahiliah, hehehe... Saya kira sudah hilang.”
Mereka pun asyik ngobrol mobil. Kalau biasanya orang menghindari lubang di jalan, Hazri malah mencari. Sengaja melintasi lubang-lubang itu. Makin dalam makin seru. Paman dan keponakan itu pun tertawa-tawa senang. Maemunah dan Zaenab geleng-geleng kepala. Dasar laki-laki, tidak tua tidak muda, sama saja.
Sampailah di Progo, tapal batasnya baru lewat. Sulton terpana saat Hazri memarkir mobilnya di jalan depan rumah gurunya. Sebelah kanan sungai, di kirinya rumah hijau berkolam itu. Persis gambaran di mimpinya.
“Rumah siapa ini, Zri?” dia bertanya.
“Hah?” Sulton makin terpana. “Zaenab, tempat ini yang kulihat di mimpi.”
“Mimpi apa, Cak?” Zaenab belum nyambung.
“Mimpi ketemu orang yang kasih tahu di mana Hazri itu....”
“Ooh...,.” Zaenab ber-‘O’. Maemunah juga.
Hazri senyum-senyum. “Emak, Umi.... Ayo.”
Mereka pun turun dari mobil, lalu beriringan menuju rumah sang Mursyid. Sulton terbelalak saat jumpa Pak Subakir. Tidak salah, tidak beda, inilah orang yang dia jumpai dalam mimpi. Pak Subakir tertawa mendengar kisah mimpi itu. “Allah..., bukan saya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang yakin kepada-Nya,” kata sang Mursyid. Sulton manggut-manggut.
Pak Subakir membawa tamunya ke ruang majelis. Terlalu sempit di ruang tamu. Mereka pun pindah ke sana. Bu Subakir turut menemani Maemunah dan Zaenab. Hazri keluar menyapa ikhwan-ikhwan lamanya di saung. Biasa, ada Bilal, Agil, Ibnu, dan Muhammad ‘Lonthang Semarang’ Soleh. Sedang dapat ‘cuti’ kayaknya hingga sempat main ke sini. Maklum, dia juga mengemban tugas kemursyidan seperti Hazri.
“Siapa tadi, Mas?” tanya Agil.
“Ibu, paman, dan bibi saya.”
Mereka manggut-manggut, obrolan pun berlanjut. Beberapa saat kemudian Hazri menerima panggilan batin dari gurunya. Rupanya panggilan serentak karena semua ikhwan di situ sama-sama beranjak ke ruang majelis. Tampak di situ Sulton, Zaenab, dan Maemunah sedang mendengarkan petuah sang Mursyid.
“Seperti itu, Pak Haji. Mengenal Allah bukanlah ucapan, melainkan kesejatian yang harus diraih saat kita masih hidup. Bukan nanti setelah mati. Al-Qur’an diperuntukkan bagi yang masih hidup. Tidaklah bermanfaat lagi bagi yang telah habis waktunya di dunia ini. Nanti, di dunia sana, tinggal hitung-hitungannya. Kalau masih mau dihitung-hitung, hehehe....”
Sulton terpekur. “Jadi, kita harus mengenal Allah sekarang?”
“Iya. Kalau tidak kenal nanti tidak bisa pulang, nyasar ke mana-mana. Akhirnya nyangkut di pohon beringin, hehehe...,” Pak Subakir tertawa lagi. “Ketahuilah, Pak Haji, tanpa mengenal Dia maka sejatinya belum bisa dipandang beragama walau tampaknya seolah sudah. Awwalu dinni makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah, makrifatullah. Tanpa itu, acara belum dimulai.”
Sulton kembali terpekur. Lama.
“Jadi, saya harus bagaimana, Pak Subakir?”
“Ya itu tadi, mengenal Allah.”
“Caranya?”
__ADS_1
“Berjalan menuju-Nya.”
“Caranya?”
Sang Mursyid tersenyum. “Tahu dulu jalannya.”
“Di mana jalannya?”
“Di sini,” Pak Subakir menunjuk dirinya. “Di situ juga ada...,” dia menunjuk ke arah Sulton. “Ada dalam diri setiap manusia.”
Hening sejenak.
“Qalbu mu’min arsy Allah. Allah bersemayam dalam kalbu setiap mukmin,” Pak Subakir melanjutkan. “Tapi, jangan lantas dipandang bercokol seperti tumor ya, hehehe.... Kalbu itu gaib, bukan bentuk organ tubuh manusia. Allah Maha Gaib, sekaligus Maha Nyata. Jadi, qalbu mu’min arsy Allah harus diresapkan dengan perasaan murni yang terdalam. Hakikat rasa. Amrun dzauqy, istilahnya. Jangan kalbu mukmin kalbu mukmin, tapi paham kulit arinya saja belum.”
Hening lagi.
Pak Subakir tersenyum melihat gemericik cahaya serupa kembang api hijau yang berpendar di depan dada Sulton. Seperti yang dilihat Hazri tadi malam. Karena tandanya sudah ada, maka sang Mursyid memotong jalan.
“Seberapa kuat niat, Pak Haji?” tanya sang Mursyid.
“Niat apa, Pak Subakir?”
“Mengenal Allah...”
“Saya ingin mengenalnya. Sungguh, saya ingin mengenalnya,” kata Sulton.
“Apa alasannya? Jangan langsung dijawab, direnungkan dulu.”
Sulton pun merenung. Apa alasannya? Merenung, merenung, dan merenung, apa ya? Kaget sendiri dia karena tidak menemukan alasan. Sepertinya ada, tapi dicari tidak ada. Namun, yakin ada....
“Gimana, Pak Haji” tanya sang Mursyid lagi.
“Harusnya...”
“Jangan harusnya,” Pak Subakir memotong. “Katakan saja apa yang dirasakan.”
Haji Sulton memandang Pak Subakir. “Tidak ada alasannya, Pak...,” dia berkata pelan. Maemunah dan Zaenab tersentak. Ndeso amat sih, masak tidak ada alasannya? Bilang aja apa kek gitu....
Tapi, sang Mursyid malah tertawa gembira. Hazri juga.
“Seperti itulah, Pak Haji. Itulah niat sejati untuk mengenal Allah. Tidak ada alasannya, tidak ada rangkaian kata-kata, tidak ada suara. Murni. Butuh kenal Tuhannya adalah kesejatian diri manusia. Tidak perlu alasan apa-apa karena sudah disetel begitu oleh-Nya. Cuma, ada yang sadar, ada yang tidak. Ada yang ingat, kebanyakan lalai. Begitulah.”
Sulton menghela napas panjang. Maemunah dan Zaenab pun manggut-manggut. Baru mengerti mereka
“Baiklah, Pak Haji, jika demikian. Mas Mahmud, silakan....”
“Eemm, saya mohon Guru bersedia...,” kata Hazri.
“Hahaha...,” Pak Subakir tertawa kecil. “Bu Maemunah, putra Ibu ini ber-haqullah mursyid. Beliau diberi hak oleh Yang Maha Berhak untuk membuka rahasia al-Irfan bagi mereka yang mencari jalan hakiki. Tadi Mas Mahmud meminta saya, apakah Bapak dan Ibu tidak keberatan? Tertulis di kitab-Nya, Anda bertiga ber-nash kepada Ki Mahmud Tidar. Ketahuilah, sejatinya manusia adalah sendiri-sendiri. Hubungan keluarga hanyalah sababiah bagi turunnya mereka ke alam fana.”
Maemunah memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk ke Haji Sulton sebagai isyarat jawaban bersedia.
“Kami tidak keberatan, Pak Subakir...,” kata Sulton kemudian.
Sang Mursyid tertawa kecil. “Baiklah. Kang Bilal, tolong disiapkan.”
Bilal segera menyiapkan tungku bara. Sang Mursyid dan muridnya masuk ke dalam rumah. Hendak pakai jubah. Hazri punya jubah yang disimpan di sini untuk keperluan mendadak. Sebentar kemudian mereka kembali dengan telah ‘berseragam dinas’. Aura kemursyidan memancar kuat dari keduanya. Maemunah terharu memandang anak lelakinya yang kemarin-kemarin entah di mana. Sulton dan Zaenab pun terharu melihat kenyataan ini.
Bilal masuk membawa tungku. Pak Subakir menaburkan buhur harum semerbak ruangan seperti saat tawasulan di Tidar tadi malam.
“Mari kita mulai...,” kata sang Mursyid. Bersiaplah semua. Sulton duduk bersila diapit Maemunah dan Zaenab. Hazri berlutut di belakangnya, mengangkat kitab al-Qur’an di atas kepala sahabat ayahnya itu. Para ikhwan yang ada menjadi saksi. Maka, prosesi pembaiatan pun dilaksanakan, hingga pembeberan tiga rahasia al-Irfan....
Sang Mursyid dan semua yang lain keluar dari ruang majelis usai prosesi ini. Seperti yang sudah-sudah, tiga ikhwan baru itu sedang berisak tangis. Kasih waktu sebentar kepada mereka sampai kembali tenang. Beberapa saat kemudian, setelah isak tangis mereda, sang Mursyid dan Hazri masuk kembali ke sana. Bu Subakir menyiapkan suguhan baru; yang lain tetap di saung. Berbincang pengertian mereka berenam. Pak Subakir, Hazri, Haji Sulton, Maemunah, Zaenab, dan Bu Subakir.
Hingga menjelang maghrib...
Lepas shalat maghrib berjamaah di situ, rombongan ini akan kembali ke Tidar. Haji Sulton memeluk erat Pak Subakir. Setelah saling bersalaman dan beruluk salam, Panther pun kembali membawa mereka ke kaki Gunung Tidar. Tempat tertancapnya Sang ‘Pasak Bumi’, Ki Mahmud Tidar. Tidak banyak perbincangan saat perjalanan balik ini. Sulton menerawang, Maemunah dan Zaenab merenung.
“Begini dekat...,” desah Sulton sambil geleng-geleng kepala.
Hazri pun tersenyum....
__ADS_1