Jalan Pulang

Jalan Pulang
64. dimana-mana tapi tidak dimana-mana


__ADS_3

Demikianlah. Hari demi hari dilalui Hazri dalam pelarian dan persembunyiannya di kapal ini. Bulan demi bulan terlampaui, pelabuhan demi pelabuhan tersinggahi. Dari Sabang hingga Merauke. Sampai-sampai Hazri sering lupa dirinya buronan, rasanya sudah seperti pelaut.


Selama pelariannya ini, Hazri sama sekali tidak pernah turun ke darat saat kapal sandar di pelabuhan mana pun. Walau hanya sekedar jalan-jalan sore di dermaga misalnya. Dia bersikukuh menjaga resiko yang ditanggung Huda. Terlalu berat bagi Huda, Ria, keluarga Haji Sulton, dan keluarganya sendiri, kalau sampai keberadaannya di kapal ini terendus aparat kepolisian.


Huda hanya bisa geleng-geleng kepala. Berulang kali dia mencoba meyakinkan bahwa situasi sudah relatif aman, namun Hazri tetap tidak mau ambil resiko. Boleh jadi aman menurut pandangan awam, tapi tidak selalu demikian kenyataannya bagi sang target. Polisi bekerja berdasarkan fakta, bukan karena opini media massa. Dan, faktanya Hazri Tiger adalah buronan mereka sesuai DPO yang diterbitkan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.


Tak hendak Hazri berkata ringan tentang ini. Berat, sungguh berat.... Apalagi kalau kapal sedang sandar di Surabaya. Demi Allah, batinnya meronta-ronta, menjerit pilu minta sekedar berkunjung ke Jombang dan bisa memeluk ibu dan adiknya. Rindu begitu dalam menyayat, seolah silet tajam mengoyak-ngoyak jiwanya.


Dulu, yang pertama, selepas Huda turun untuk menengok keluarganya, Hazri langsung mengurung diri di kabin. Diam di situ, menangis entah berapa lama. Untung Huda mengerti. Dia mempercepat masa sandar kapal dari biasanya dua tiga minggu menjadi hanya empat hari saja. Entah apa alasannya ke Ria dan Haji Sulton yang pasti bertanya-tanya.


Untungnya lagi, para ABK kapal ini tidak seorang pun tahu identitas Hazri yang sebenarnya. Tahunya cuma Pak Arif, teman lamanya Haji Huda. Itu saja, yang lain gelap mUjang. Mereka tidak paham gejolak hati Hazri setiap kali kapal ini sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tiga empat bulan sekali. Bagi mereka, Tanjung Perak sama seperti pelabuhan lain. Begitu pun mereka menganggap bagi Hazri. Kecuali tentu bagi Haji Huda, sang Juragan. Memang para ABK ini bukan orang Surabaya, kecuali Cak Nardi yang sangat pendiam itu.


Seperti yang sekarang....


Setelah tiga hari berlayar mengarungi laut Laut Jawa, mereka pun tiba di pelabuhan Tanjung Perak siang ini. Begitu kapal sandar sempurna, barang-barang muatan pun segera dibongkar dan diturunkan. Seperti biasa, Hazri ikut membantu mengatur jalur. Penampilannya telah layak disebut ABK, hitam gondrong berkumis dan bercambang, walau kumis dan cambangnya itu dipotong lumayan rapi. Lengan kausnya digunting, ikut-ikutan gaya Dasim dan kawan-kawannya. Para kuli pelabuhan pasti menduga dia adalah ABK biasa di kapal ini.


Bakda ashar kegiatan bongkar muatan ini selesai. Selepas shalat, Hazri ikut duduk-duduk bersama para ABK menikmati kopi yang disediakan Cak Nardi. Dua yang lain masih menyapu sisa-sisa kotoran bekas muatan tadi. Wajah para ABK ini berseri-seri sebab Tanjung Perak sama dengan libur panjang. Apalagi tadi Huda menjanjikan bonus untuk mereka hari ini.


Huda kembali naik ke kapal setelah urusannya dengan para pemilik barang beres. Wajah para ABK makin berseri. Dia mengajak Dasim ke anjungan. “Sebentar ya, Pak Arif,” katanya. Hazri mengangguk tersenyum. Sambil menunggu, sebagian ABK menyusun rencana untuk nanti malam untuk jalan-jalan.


Huda menghampiri Hazri yang kini duduk sendirian. Kini, para ABK sudah pergi bersiap untuk rencananya masing-masing.


“Rif, Surabaya lagi...,” kata Huda.


Hazri tersenyum kecut. Walau hatinya tetap saja kebat-kebit setiap kali kapal merapat di Tanjung Perak, tapi tidak sedramatis yang pertama dulu. “Pergilah, Hud, tengok istri dan anakmu. Sekalian kucing sama ikan-ikan koi-mu itu...,” katanya tenang.


Huda tertawa ringan sambil mengangguk-anggukkan kepala.


“Ehem.... Bukan mau ikut campur, Rif. Aku tahu kau kiai sekarang...,” Huda tersenyum. Hazri juga. “Tapi, kalau kau mau bisa kuaturkan. Surabaya wilayahku, aman kujamin.” Maksudnya urusan perempuan. Sebagai sesama lelaki dewasa tentu Huda paham kebutuhan ini. Soalnya, sudah dua tahun lebih.


Hazri masih tersenyum. “Makasih, Hud, nggak usah. Di Surabaya justru aku mesti lebih hati-hati.”


“Kalau gitu kenapa di kota lain juga nggak pernah mau?” pancing Huda,


“Sama saja sih. Di mana pun aku harus selalu waspada, kecuali alhamdulillah di kapal ini. Itulah, di sini surga....”


“Wah, mulai dah. Surga lagi, surga lagi. Berat, berat.... Lebih susah ngomong sama kiai daripada sama preman,” kilah Huda. “Okelah, Rif, aku mau lihat surgaku dulu.” Huda memberikan dua pak rokok kesukaan Hazri. “Kopi di tempat biasa, aku sudah pesankan ke Cak Nardi. Dia cuma pulang paling dua hari, terus balik ke sini katanya tadi.”


“lya, makasih. Sudah sana, Ria udah nggak sabar tuh....”


Mereka pun berjabat tangan erat, lalu Huda beranjak meninggalkan kapal. Di bawah sana, sopir dan mobilnya telah menunggu. Selepas itu, Hazri beranjak menuju kabinnya.


Di dalam kabin, mau apa sekarang? Tidur belum ngantuk, mau ngobrol sama siapa? Akhirnya, Hazri merapi-rapikan kabinnya saja.


Bluk.... Sebuah buku terjatuh bersama beberapa majalah dari dalam laci meja sebelah kiri saat Hazri membukanya untuk dirapikan. Laci kanan sudah rapi, di situ Hazri menyimpan buku-bukunya. Sedang yang kiri biasa dipakai Huda menyimpan macam-macam majalah dan koran-koran. Untel-untelan di situ, isinya dijejal-jejalkan saja. Huda memang jorok urusan beginian.


Jelas bukan buku baru, sudah lusuh, covernya pun sudah tidak ada. Kertasnya telah menguning kecoklatan, pinggirnya melinting-linting dan agak koyak-koyak. Dulu, Hazri sudah pernah melihat buku jelek ini saat pertama mencari buku-buku agama di sini. Tapi, karena penampilannya seperti itu, tidak menarik, maka langsung diselipkan lagi tanpa dilihat-lihat.

__ADS_1


Hazri meraih buku yang jatuhnya terbuka itu. Tanpa disengaja, sekilas dia membaca kalimat yang tertera di halaman itu, ‘Allah itoe ada di mana-mana, namoen tidak ke mana-mana. Tidaklah Dia di atas dan boekan poela di bawah.’ Hazri terhenyak kaget. Pelan-pelan dia membaca lagi, ‘Allah itoe ada di mana-mana, namoen tidak ke mana-mana. Tidaklah Dia di atas dan boekan poela di bawah.’ Benar, tidak salah membacanya. Tiba-tiba, entah mengapa jantung Hazri berdegub kencang, keringat merembes dingin. Sejenak dia memejamkan mata sambil memegang erat kitab itu, menenangkan diri.


“Akhirnya, ketemu juga jawabannya...” katanya dalam hati.


Pelan-pelan Hazri membuka mata. Dua tahun lebih dia mencari, puluhan buku sudah dibacanya, ternyata jawabannya ada di dalam sebuah buku lusuh yang pernah diabaikannya. Terselip hari demi hari bersama majalah dan koran-koran bekas dekat tempat tidurnya. “Allahu Akbar...,” Hazri mendesah. Walau belum paham maksud kalimat ini namun secercah cahaya dirasakan hadir dalam hati.


Hazri melihat bagian depan kitab itu. Masih ada keterangan yang bisa dibaca di situ, walau hurufnya sudah pudar. Tarjamahan Kitab al-Hikam. Boeah Karja Sjech Ibnu Atho'illah. Penerbit Djambatan Tjahja, Soerabaja, begitu terbaca. Tahun penerbitannya hampir dua puluh lima tahun lebih tua dari umurnya. Pantas ejaannya masih begini, batin Hazri. Lalu, sibuklah dia mendandani kitab ini. Debunya dibersihkan, kertas yang melinting dilurus-luruskan, yang sobek dirapikan pakai isolasi bening yang ada di atas meja.


Menjelang maghrib, kitab itu sudah lumayan cantik. Ada covernya sekarang, Hazri membuatkan dari karton tebal entah bekas apa yang kebetulan ditemukan di atas lemari kabin. Selain isolasi bening, lem keras, pensil, penggaris, dan guntingnya juga ada. Lengkap juga perkakas kerajinan tangan di kabin ini. Dia pun tersenyum puas kembali melihat kitab itu.


Setelah shalat isya’, Hazri manteng di mushala membaca kitab itu. Wejangan-wejangan ‘kelas berat’ Syekh Ibnu Atha’illah itu pun diresapinya pelan-pelan. Bisa dimengerti tapi susah dipahami.... Antik benar nasihat-nasihat spiritual itu. Seperti ini misalnya, ‘Dzat Jang Haq tidak moengkin terhijab (terhalang) oleh apapoen, melainkan kamoe jang terhijab oleh apapoen itu dari melihat-Nja’, atau yang ini, ‘Sesoenggoehnja, kelalaianmoe di loear dzikir (mengingat-Nja) lebih berbahaja daripada kelalaian ketika berdzikir’, Dan, yang ini juga boleh, ‘Pada setiap tarikan dan hemboesan napasmoe, di sitoelah takdir Allah atasmoe berlakoe’. Apa maksudnya?


Demikianlah. Hari demi hari menunggu di Tanjung Perak kali ini dihabiskan Hazri dengan mempelajari isi kitab itu. Tidak gampang. Kebanyakan dia tidak paham apa yang disampaikan Syekh Atha’illah. Bukan karena gaya bahasanya puitis berbelit-belit, justru gaya terus terang yang ada. Tidak gampang karena memang tidak mudah memahaminya. Ulasan yang diberikan penerjemahnya tidak banyak membantu, tetap saja susah dipahami. Namun demikian, walau tidak paham Hazri bisa merasakan kebenarannya. Dia yakin, ketidakpahamannya ini karena kebelum cukupan pengetahuannya untuk bisa memahaminya.


Sekarang telah di penghujung minggu ketiga kapal sandar di Tanjung Perak. Tadi pagi Huda mengontak Dasim memberitahukan bahwa siang nanti barang dagangan mereka akan tiba. Huda juga menanyakan keadaan sahabatnya, semua baik-baik saja. Hazri memang meminta Huda untuk jangan menghubunginya saat sedang sandar di Tanjung Perak, seolah-olah dia tidak ada.


Sekitar bakda zhuhur, empat truk bermuatan macam-macam hasil bumi tiba di dermaga. Tak lama berselang mobil keluarga Haji Sulton pun tiba juga. Hazri mengamati dari celah jendela kabin. Huda turun dari mobil dan langsung memerintahkan para ABK-nya bekerja, termasuk kuli-kuli pelabuhan yang langsung berkerumun begitu melihat truk tiba.


Haji Sulton turun dari mobil. Hazri terkesiap, baru kali ini Haji Sulton muncul di Tanjung Perak selama dua tahun terakhir dia ikut di kapal Huda. Dia melihat Huda menengok-nengok terus ke jendela kabin sambil mengusap-usap kumisnya. Paham isyarat, Hazri pun pindah diam-diam ke kabin ABK yang lebih aman. Siapa tahu Haji Sulton naik ke kapal.


Dari celah jendela kabin ABK, Hazri kembali mengamati. Dan, terkesiap lagi. Selain Haji Sulton, ternyata di sana juga ada Ria dan Reni. Cantiknya Reni.... Huda tidak bohong, cantik sekali dia...


Hazri menepuk pelan jidatnya. Percaya atau tidak, walau secara keseluruhan tidak sama, tapi model-modelnya sekarang putri ketiga Haji Sulton ini mirip Dewi. Terutama garis wajah, gaya gerak tubuh, dan lesung pipitnya. Wajah Reni pun tidak banyak berubah dibanding saat dia masih ABG dulu. Hanya saja sekarang tampil lebih dewasa. Pantas saat pertama jumpa Dewi dulu, Hazri merasa kenal dengan wajah gadis itu. Familiar. Ternyata Reni.... Baru sadar sekarang dia.


“Ah...,” Hazri mendesah melihat lesung pipit Reni yang makin kelihatan saat dia tertawa sambil bermain-main dengan keponakannya, putri sulung Huda yang juga ikut dibawa mengantar ayahnya. Lesung pipit itu.... Emak punya, Umi punya, Dewi punya, Reni punya.....dan Zilfa juga punya. Seingatnya, hanya Reni di antara lima putri Haji Sulton yang mewarisi sensualitas ini dari ibunya. Masalahnya, Hazri termasuk penggemar lesung pipit. Maka, “Eemmh...,” dia pun mendesah lagi. Gemas.


Tampaknya proses muat barang sudah kelar, Hazri mendengar Dasim memerintahkan ABK bagian mesin untuk menyalakan mesin kapal. Tak lama, mesin kapal pun menderung. Hazri masih mengintip. Tampak di sana, Huda mencium mesra kening istrinya dan putri sulungnya, lalu mencium tangan Haji Sulton. Terakhir. dia mengacak-acak sayang rambut adik iparnya yang tergerai lepas itu. Reni tersenyum manis.... Hazri meringis. Kemudian Huda pun bergegas naik ke atas kapal. Tali tambatan kapal di pasak dermaga pun dilepas, pelan-pelan kapal bergerak menjauh. Ria dan Reni melambai ke arah kapal, pastinya ke Huda. Haji Sulton diam, hanya menatap saja. Putri sulung Huda pun dilambai-lambaikan tangannya oleh Ria. Terus terang, iri Hazri melihat kemesraan keluarga sahabatnya ini. Dia? Mau ketemu ibu dan adiknya saja entah kapan baru bisa. Jangan-jangan selamanya.


Hazri menghela napas saat Tanjung Perak sudah semakin kecil terlihat. “Rif, Rif...,” terdengar Huda memanggil-manggil. Hazri beranjak keluar dari kabin ABK. Tampak Huda sedang naik tangga ke dek atas, Hazri mengikutinya.


“Hei, kalian lihat Pak Arif nggak?” tanya Huda ke para ABK. yang sedang merapikan-rapikan muatan di dek.


Mereka melihat Huda sambil tersenyum, tidak menjawab. Huda menoleh, ternyata Hazri sudah berdiri di sampingnya.


“Wah, pergi gaib muncul gaib Pak Kiai kita ini...,” kata Huda bercanda.


Hazri tersenyum. “Ke mana kita?”


“Semarang. Sebagian muatan turun, nanti ada yang naik di sana. Terus lanjut ke Batam,” jawab Huda. “Daeng, kopi dua...,” dia meminta ke Cak Nardi yang sedang melintas.


Huda dan Hazri berjalan ke mushala, tempat paling enak untuk duduk-duduk di dek atas. Sambil melihat para ABK bekerja merapikan muatan.


“Waduh, maaf, Rif. Tiba-tiba Pak Haji mau ikut tadi...,” kata Huda. “Pas ada Haji di rumah, si Ayu ngambek nggak mau ditinggal. Ngebelain cucunya, ‘komandan’ bilang mau ikut ke pelabuhan. HP si Dasim mati pula, sedang dicas katanya barusan. Kacau. Untung Pak Haji nggak iseng naik-naik segala...,” Huda menyulut rokok. “Kau di mana tadi?”


“Di kabin ABK. Begitu kulihat Haji Sulton, tahu dirilah aku.”


Kopi datang. “Makasih, Daeng,” ucap Huda dan Hazri hampir bareng.

__ADS_1


Sudah sekian kali mereka sandar di Tanjung Perak selama dua tahun terakhir, baru kali ini Ria ke pelabuhan melepas langsung suaminya yang akan berlayar lagi. Mungkin dilarang oleh Huda sejak Hazri numpang di kapalnya. Tampaknya ini kasus khusus, soalnya Haji Sulton yang mau ikut ke pelabuhan.


“Cantik kulihat Ria tadi, Hud,” kata Hazri setelah menyeruput kopi.


Huda mesem.


“Ayu juga cantik kayak ibunya,” lanjut Hazri.


Huda mesem lagi. “Ah, si Ayu jadi alasan. Adik ibunya gimana?”


Giliran Hazri mesem. Tidak menjawab, senyum-senyum saja.


“Gimana? Lepas, nyesalnya seumur hidup. Dijamin.”


Hazri masih senyum-senyum.


“Bener nih? Biarin lepas?” pancing Huda lagi.


“Emang Reni belum punya calon?” bertanya juga Hazri akhirnya.


“Nah, gitu dong. Ini baru namanya kemajuan...,” Huda tertawa ringan.


Hazri ikut tertawa, tapi ditunggu-tunggu Huda belum menjawab juga.


“Belum ada calon dia?” Hazri bertanya lagi.


“Kena. Dua kali tanya artinya serius. Betul, kan?”


Hazri tidak menjawab, senyum-senyum terus. Sialnya, Huda juga tidak menjawab pertanyaan Hazri. Pura-pura lupa dia.


Hening sejenak...


“Hud, sudah punya calon belum?” tidak tahan Hazri akhirnya.


“Hahaha...,” Huda terbahak. “Tiga kali, Bung. Apa kubilang? Susah laki-laki nggak naksir si Reni, hahaha....”


Hazri jadi ikut tertawa. “Hoi..., jawabannya?”


“Belum, belum.... Banyak yang datang, tapi dia belum mau.” Hazri manggut-manggut.


Terus terang, ada rasa senang merasuk ke dalam hatinya mendengar jawaban ini. Namun ada rasa yang kosong, dan Hazri tidak tahu apa itu....


Secuil Kopi



Kitab Al-Hikam adalah buah karya Syekh Ibnu Atha'illah, mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah. Adapun pendiri pertama Syadziliyah adalah Syekh Abu Hasan Ali Asy-Syadzili, seorang Maroko yang kemudian menetap di Iskandariah, Mesir dan wafat pada 1258 M. Penggantinya adalah Syekh Abu Abbas Al-Mursi, yang berasal dari Murcia, Andalusia, Spanyol (wafat di tahun 1287 M), yang sepeninggalnya dilanjutkan oleh Syekh Ibnu Atha'illah.

__ADS_1


Al-Hikam adalah sebuah kitab yang diperuntukkan bagi para pejalan (salik), yang di dalamnya berisi panduan lanjut bagi setiap pejalan untuk menempuh perjalanan spiritual. Al-Hikam berisi berbagai terminologi suluk yang ketat, yang merujuk pada berbagai istilah dalam Al-Qur'an.


__ADS_2