
“Pak, ketenangan sejati apa bisa diraih sekarang?” tanya Pak Tegar setelah suasana mereda. Sudah tua ikhwan ini, kira-kira seumur Pak Subakir. Kabarnya, dia dulu atasan Pak Subakir saat masih sama-sama bekerja di sebuah bank pemerintah.
“Menurut Pak Tegar bagaimana?” Pak Subakir balik bertanya.
Dia geleng-geleng kepala. Tidak tahu.
“Begini, Pak Tegar, apa sih sebenarnya ketenangan sejati itu?”
Kembali Pak Tegar geleng-geleng kepala.
“Ada yang tahu?” tanya Pak Subakir.
“Rasa saat bisa melebur dalam Kesejatian Mutlak...,” jawab Hazri pelan. Agak ragu-ragu juga sebenarnya.
Pak Subakir dan beberapa ikhwan senior tampak tersenyum.
“Coba jelaskan, Mas....”
“Tapi, maaf kalau salah, Guru...,” kata Hazri.
“Tidak apa-apa. Bagus sadar salah sekarang daripada nanti, saat sudah ada lagi kesempatan untuk menyadari kesalahan. Waktu para malaikat penyiksa sudah memegang setrikaan Panasonic dan rantai kapal...” Pak Subakir mesem.
Hadirin yang lain cengar-cengir.
“Sejati ketemu sejati. Saat sejati diri manusia berjumpa dengan Kesejatian Mutlak, maka apa yang lebih indah dari itu? Apa yang bisa lebih menenangkan daripada itu? Menurut saya, itulah ketenangan sejati...,” kata Hazri agak berfilsafat.
Senyum Pak Subakir mengembang, kepalanya mengangguk-angguk. “Kalau gitu, di manakah surga?” dia memancing.
“Tidak di mana-mana,” jawab Hazri.
“Maksudnya?”
“Bisa di sini, bisa di sana...,” kata Hazri lagi.
“Hahaha...,” Pak Subakir tertawa pelan. “Tolong diperjelas.”
“Sang Maha Sejati ada sekarang dan tetap ada nanti. Seperti Guru bilang, wal Awwalu wal Akhiru. Tinggal kita bisa atau tidak melebur kepada-Nya.”
Pak Subakir mengangguk-angguk lagi. “Gimana yang lain? Sepaham atau tidak dengan pernyataannya Mas Mahmud barusan?”
“Betul, Mas, tapi saya tambahkan. Di sana tergantung di sini, kalau di sini gagal jangan harap di sana sukses. Di sana kita hanya tinggal panen. Bagus atau busuk. Bukan kesempatan untuk berproses lagi. Tenang di sini, lebih tenang di sana. Bahagia di sini, lebih bahagia di sana. Menderita di sini pun terbawa menjadi lebih menderita di sana. Tapi, jangan salah, saya ngomong kesejatian. Bukan soal kaya atau miskin sekarang,” kata Soleh, salah seorang ikhwan senior. Di sini, dia biasa dijuluki ‘Ki Lonthang’. Entah siapa ‘Ki Lonthang’ itu.
Hazri mengangguk. “Benar, Ki Lonthang,” katanya.
Soleh yang berewokan itu cengar-cengir dipanggil ‘Ki Lonthang’ oleh Hazri. Pak Subakir dan ikhwan yang lain pun tertawa kecil.
“Siapa sih Ki Lonthang itu, Guru?” tanya Hazri sekalian.
“Ki Lonthang Semarang, salah seorang murid Syekh Siti Jenar. Beliau dikenal ceplos-ceplos kalau bicara. Langsung tabrak tanpa tedeng aling-aling. Sampai-sampai Wali Songo pun dilabrak. Yaa, mirip-mirip Kang Soleh gitulah modelnya kira-kira. Kabarnya berewokan juga.”
Soleh meringis, yang lain senyum-senyum.
__ADS_1
“Kok Semarang, Guru?”
“Karena tinggalnya di Semarang. Orang dulu biasa memakai nama seperti itu. Sunan Kudus misalnya, berarti beliau di Kudus. Maulana Hasanuddin al-Bantani dari Banten, Syekh Yusuf al-Makassari dari Makassar, dan lain-lain. Mas Mahmud juga boleh saja kalau mau pakai ‘Ki Mahmud Tidar’ misalnya.”
Hazri mesem. Ini kali kedua Pak Subakir menyebutnya ‘Ki Mahmud Tidar’.
“Kalau saya, ‘Ki Iwan al-Soloi’ ya, Pak?” celetuk Iwan yang tinggalnya di Solo kota itu.
“Wah jauh, Wan, nggak bisa kalau masih yakin ada setrikaan Panasonic di danau neraka...,” Pak Subakir mencandainya lagi.
Tertawa semuanya.
Pernah juga suatu ketika....
Ada seorang laki-laki tergopoh-gopoh mencari Pak Subakir. Saat itu Hazri dan beberapa ikhwan sedang berbincang di saung. Laki-laki ini berkata bahwa istri dan anaknya kesurupan. “Sudah dibacakan Yaasiin, tapi jinnya malah makin keras ketawa, Pak,” katanya sambil menyerahkan sebotol air kepada Pak Subakir.
Biasa, minta dijampein.
Pak Subakir menerimanya. “Allah,” ucapnya pelan. Diam sejenak, lalu botol itu ditiup tanpa membuka tutupnya. Langsung ditiup saja begitu, “Sudah. Bapak usapkan saja airnya ke wajah yang kesurupan. Sambil ingat Allah ya....”
Orang itu mengucapkan terima kasih. Lalu, segera melesat pergi, boncengan motor dengan temannya yang mengantar. Selepas itu, Pak Subakir ikut nimbrung di saung dengan para muridnya.
Hampir dua jam kemudian orang itu datang lagi. Sendirian naik motor.
“Alhamdulillah, Pak, sudah pergi jinnya...,” dia berkata.
“Alhamdulillah,” sahut Pak Subakir.
Pak Subakir hanya mesem sedikit. “Allah Maha Kuasa,” katanya pelan.
“Kenapa waktu dibacakan Yaasiin, mereka kok malah ketawa-ketawa ya, Pak?” dia bertanya lagi.
“Yang membaca siapa?” tanya Pak Subakir.
“Saya. Dibacakan Ayat Kursi juga nggak mempan.”
Pak Subakir mengangguk-angguk. “Allahu Akbar. Sebenarnya, Pak, sangat keterlaluan menempatkan ayat-ayat suci al-Qur’an hanya untuk mengusir jin kafir macam tadi. Bentak saja, takut mereka. Kan derajat kita di atas mereka? Cuma harus yakin dulu kalau Bapak lebih mulia dari mereka.”
Orang itu manggut-manggut. Entah ngerti, entah bingung.
“Bukan salah Yaasiin atau Ayat Kursinya, Pak. Yang bacanya saja bego. Biar pedang hebat, kalau yang megang bodoh ya konyol juga permainannya,” tukas Soleh, ‘Ki Lonthang’ itu.
Dia menatap Soleh, tersinggung mungkin. ‘Ki Lonthang’ pun balas menatap tajam. Kalah karisma kayaknya, laki-laki itu lalu menundukkan wajahnya.
“Maaf ya, Pak, saya tidak biasa basa-basi. Itu jin-jinnya tadi nggak bisa membantu ya? Keok? Bagaimana Bapak bisa yakin lebih mulia dati jin kalau masih mau diperbudak mereka?” sentil Soleh lagi. Pedas.
Orang itu tetap menunduk, tidak berani melawan.
“Leh...,” tegur Pak Subakir.
Soleh meringis, lalu kembali sibuk berdzikir tanpa mempedulikan laki-laki itu yang salah tingkah karena sentilannya. Suasana pun jadi kikuk gara-gara ini. ‘Ki Lonthang’ sih EGP saja. Emang gue pikirin...
__ADS_1
Setelah hening beberapa saat, orang itu akhirnya mohon diri. “Segini dulu, Pak. Terima kasih atas bantuannya tadi.”
“Ooh iya. Sama-sama,” balas Pak Subakir.
Mereka bersalaman. Dia menyalami juga semua yang di saung. Saat menyalami Soleh, orang itu seperti meminta sesuatu lewat tatapannya. Tapi, Soleh cuek, pura-pura tidak tahu. Terpaksa dia pergi membawa dongkol hati kepada ‘Ki Lonthang Semarang’-nya Progo ini.
“Ampunkan, Gusti,” kata Pak Subakir setelah orang itu pergi.
“Payah. Dasar binatang melata,” Soleh menimpali.
“Kenapa sih, Guru?” tanya Hazri penasaran.
Pak Subakir geleng-geleng kepala. “Tanya ‘Ki Lonthang’ saja.”
Hazri memandang Soleh, minta penjelasan.
“Biasa, penggemar jin...,” kata Soleh.
Hazri manggut-manggut. Pantas tadi dia merasakan hawa aneh dari orang itu. Campuran panas, sumpek, pengap, dan semriwing bau busuk. Secara spiritual tentu terasa.
“Ceritanya dia mau ngadu jin peliharaannya lawan jin lain. Keok... Kesurupanlah istri dan anaknya oleh para jin yang ditantangnya. Panik dia, jin-jin itu malah nantang balik nggak mau pergi. Gebleknya, pakai-pakai ayat Qur’an lagi. Tidak sadar kalau dirinya sudah masuk jebakan setan. Gara-gara Surat Yaasiin dan Ayat Kursi menurutnya nggak mempan terus tumbuh keyakinan bahwa jin lebih kuat daripada firman Allah. Ujung-ujungnya, bisa yakin kalau jin lebih kuasa daripada Allah. Gebleknya lagi, bukan cuma sendirian, secara tidak langsung mempengaruhi orang-orang awam yang melihat kejadian itu...,” lanjut Soleh.
Hazri manggut-manggut. “Terus gimana, Kang?”
“Iya begitu. Saat mereka sampai pada keyakinan tadi maka habis. Musyrik. Padahal, jin-jin itu memang sengaja memancing agar membacakan ayat suci. Mereka sudah menduga kalau orang tadi kelas binatang melata, biar pulang pergi Yaasiin dibaca tetap saja tidak pengaruh karena yang membacanya cacing. Setelah puas mempermainkan, mereka pun minta apalah... kembang, menyan, telur. Maksudnya mau bilang, “Lihat kan buktinya? Firman Allah kalah sama telur mentah.” Sialnya, tidak sedikit orang kemakan tipuan sepele macam itu. Percaya kalau telur mentah lebih ampuh daripada Tuhan. Astaghfirullah...,” kata Soleh.
Hazri mengangguk-angpuk. Soleh menyulut sebatang rokok.
“Itulah contoh orang yang terhijab ilmunya, Mas Mahmud. Terhalang oleh ilmunya sendiri dari menemukan Kesejatian. Disangkanya dengan bisa memelihara atau memerintah jin, dia sudah dekat dengan Allah. Golongan seperti ini, kalau ngomong makrifat-makrifat. Makrifat apa? Masak orang makrifat diperbudak makhluk yang sejatinya bermartabat lebih rendah dari dirinya?” Pak Subakir menimpali.
Hazri manggut-manggut paham.
“Maka anjloklah martabat jiwanya hingga lebih rendah dari martabat binatang melata...,” lanjut Pak Subakir. Lalu, menyitir ayat al-Qur’an tentang ‘binatang melata’ ini. “Nah, kurang jelas bagaimana?”
“Jadi, mereka yang bisa mengusir jin atau menyuruh jin itu belum makrifat, Guru?” tanya Hazri.
Pak Subakir tersenyum. “Tergantung niatnya. Kalau niatnya memang cuma sekedar bisa ngobrol sama jin, ya jauhlah dari Allah. Apalagi kalau sampai bersedia menggadaikan dirinya demi kesepakatan dengan jin. Entah untuk tujuan kekayaan, kedigjayaan, atau kemuliaan semu lainnya. Tapi, ada tapinya lho, bukan sedikit sufi atau wali yang bisa memerintah jin. Namun, kebiasaannya itu bukan karena niat, mungkin secuil bonus dari Allah, hehehe.... Nggak usah sufi-lah, Kang Soleh juga bisa kalau cuma begituan. Apa Mas Mahmud nggak lihat itu? Yang ampun-ampunan didudukin Ki Lonthang?”
Hazri terkejut, dia tidak melihat apa-apa. Soleh cengar-cengir.
“Lepaskan, Leh, kasihan. Makhluk Allah juga dia...,” kata Pak Subakir.
Soleh mengangguk. “Kulepas kau, asal kasih tahu tuanmu, suruh shalat yang benar. Jangan tunggang-tungging doang!” kata Soleh entah ke siapa. Tapi, pastinya kepada jin itu.
“Apa? Kau juga tidak bisa shalat? Kafir kamu?” tanya Soleh lagi.
Hening sejenak. Soleh seperti sedang mendengarkan sesuatu.
“Terserahlah. Tapi, awas, kalau berani muncul di sini lagi sebelum bisa shalat, kupelintir kau! Sudah, pergi sana...,” Soleh pun mengangkat sedikit pantatnya.
Pak Subakir tertawa. “Mau belajar shalat dia?”
__ADS_1
“Iya. Mau cari wali jin katanya,” jawab Soleh santai.