
Sebulan telah berlalu lagi. Menggigil tidak pernah terjadi selama itu karena Hazri sudah bisa menanggalkan rasa segannya. Tidak dipikir-pikir, tidak pula dirasa-rasa. Malah tenteram hati dengan begitu. Syekh Atha’illah telah berwejang dalam kitabnya, bahwa manusia itu sejatinya hanya bisa menerima, bukan membuat atau menentukan. “Patuhlah kepada-Ku, dengan terpaksa atau sukarela..,” demikian Allah berfirman dalam al-Qur’an.
“Ustadz..., kalau menurut Ustadz, Allah ada di mana?” Hazri bertanya kepada Faruq, salah seorang pengurus Masjid Al Khoir di kampung ini, suatu hari bakda shalat Jum’at. Sebagai ustadz sekaligus tokoh masyarakat, Faruq masih terhitung muda. Usianya di bawah Hazri, selisih dua tahun. Jebolan sebuah pesantren ternama di kawasan penghujung Jawa Barat. Faruq pun menyitir sepenggal ayat al-Qur’an. “Jadi, Allah itu bersemayam di Arsy...,” ujarnya menjawab pertanyaan tadi.
Hazri manggut-manggut, sudah tahu dia kalau ini.
“Lalu, Arsy-nya itu di mana?” kejar Hazri.
Faruq diam sejenak. “Arsy itu singgasana Allah. ..,” jawabnya kemudian.
“Iya, Ustadz, tapi di mana?”
Kembali Faruq terdiam. Agak lama. “Qalbu mukmin Arsy Allah. Itu yang saya tahu tentang ini. Bahwa, Allah bersemayam di kalbu seorang mukmin....”
“Maksudnya gimana, Ustadz? Misalnya ada seorang mukmin, berarti Allah bersemayam dalam kalbunya begitu?”
Faruq menghela napas, kelihatan ragu-ragu menjawab. “Mestinya begitu karena dalilnya jelas, tapi entahlah. Terus terang, saya juga belum paham. Soalnya, untuk bisa menjadi seorang mukmin tidaklah gampang.”
Hazri setuju dengan pernyataan bahwa tidak mudah menjadi seorang mukmin. Ustadz Faishol, guru ngajinya dulu telah mengajarkan itu. Muslim, mereka yang beragama Islam, belum tentu sekaligus mukmin alias orang beriman. Susah menjadi orang beriman yang sesungguhnya, kecuali sekedar mengaku-ngaku. Muslim belum tentu mukmin, tapi mukmin pastilah muslim. Namun, pertanyaan Hazri bukan soal ini. Di mana Allah?
“Jadi, tegasnya gimana, Ustadz? Misalnya nih, misalnya ya.. katakanlah ada orang bisa sampai derajat mukmin yang sesungguhnya, lalu apakah itu berarti Allah bersemayam dalam kalbunya?” Hazri mengulang pertanyaannya.
Faruq kembali termenung lebih lama dari yang tadi. “Iya, pasti. Karena dalilnya jelas berkata demikian...,” katanya sambil mengangguk-angguk.
“Benar nih, Ustadz?” pancing Hazri.
Faruq pun mengangguk, tapi ragu-ragunya masih kelihatan.
“Kecil amat...?” Hazri bergumam pelan.
“Kecil-apanya, Pak Mahmud?”
“Maaf. Ini mungkin pikiran bodoh saya saja. Begini, kalau kalbu mukmin bisa memuat Allah, memang berapa besarnya Allah? Atau, seberapa luasnya kalbu seorang mukmin? Kan, Allah Maha Besar?”
Faruq kaget. “Wah, tidak boleh kita bicara begitu, Pak Mahmud. Kemahabesaran Allah tidak pantas dipertanyakan.”
“Kenapa?”
“Jelas! Sudah demikian adanya, kita tinggal mengimaninya saja. Jangan dipertanyakan, nanti malah kejeblos musyrik.”
Giliran Hazri yang terdiam. Masak iya tidak boleh dipertanyakan? Bagaimana bisa paham itu kalau dilarang bertanya? Tapi, Hazri bisa mengerti kegundahan Faruq atas pertanyaannya ini. Memang pertanyaan rawan sih. “Iya, Pak Ustadz, saya mengerti. Itu tadi tercetus saja dalam pikiran. Bukan maksud saya mau menggugat kebesaran Allah...,” Hazri mesem.
Faruq pun mesem. Dia bisa merasakan kalau Hazri memang tidak bermaksud lain-lain dengan pernyataannya tadi.
“Bisa kita lanjutkan nih?” tantang Hazri.
Faruq mengangguk walau agak berat wajahnya kelihatan.
“Kalau misalnya, misalnya lagi nih Pak Ustadz.... Ada dua orang mukmin, apa terus Allah-nya juga ada dua? Saya tidak mempertanyakan kebesaran Allah lho...”
Faruq kembali terhenyak. Tidak bisa menjawab, cuma gelenggeleng kepala.
“Atau yang ini saja, Ustadz.. ” tukas Hazri kemudian. “Apa maksudnya, Allah lebih dekat dati urat leher?”
Ada ayat dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher manusia. Hazri tahu ini dari terjemahan al-Qur’an yang dia punya. Beli di Kota Magelang dua mingguan lalu.
“Waduh, sebelas dua belas beratnya ini...,” keluh Faruq.
“Kenapa? Nggak boleh dipertanyakan juga, Ustadz?”
Faruq tidak menjawab, kepalanya saja yang makin bergeleng-geleng. “Lebih dekat dari urat leher...,” gumamnya pelan. “Di mana itu tempat yang lebih dekat dari urat leher ya?” Malah balik bertanya dia.
Hazri meringis.
“Sudah, sudah.... Nggak kuat saya...,” Faruq mengangkat kedua tangan sambil geleng-geleng kepala. “Pertanyaan Pak Mahmud berat berat nih. Jangan-jangan cuma mau ngetes?” Matanya memandang Hazri, menyelidik.
Hazri tertawa ringan. “Nggaklah, Ustadz. Masak ngetes? Saya ini nggak tahu, makanya tanya-tanya ke yang mungkin tahu.”
Tapi, Faruq tidak percaya begitu saja. “Belajar di mana, Pak Mahmud?” Matanya terus memandang Hazri.
“Belajar di mana apanya?” tanya Hazri.
“Ini, soal-soal agama yang berat-berat gitu.”
“Di Pesantren Laut...,” celetuk Hazri sambil tertawa lagi.
Kening Faruq berkerut. “Pesantren Laut? Rasanya saya belum pernah dengar? Di mana itu?” bertanya pula dia. Serius lagi.
“Hahaha.... Bercanda, Ustadz. Emangnya ada Pesantren Laut? Saya cuma baca-baca kitab waktu berlayar di laut kemarin.”
“Oo, saya kira...,” kata Faruq nyengir. “Kitab apa sih?”
“Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha’illah.”
“Woo pantas. Itu kitab hakikat...,” kata Faruq agak nyaring. “Di pesantren saya dulu, yang boleh ngaji kitab-kitab hakikat cuma kiai, kiai sepuh yang ilmunya sudah mapan. Nggak boleh sembarang orang.”
Hazri manggut-manggut. Baru tahu kalau al-Hikam termasuk kitab yang tidak boleh dikaji sembarang orang. Masak sih? Soalnya, pertanyaan ‘di mana Allah’ itu sudah muncul dalam benaknya sebelum ketemu al-Hikam. Bukan gara-gara membaca kitab itu. Justru al-Hikam yang memberi pencerahan awal, walau ke sananya lagi masih terselubung misteri.
__ADS_1
“Dapat dari mana kitab itu?” tanya Faruq.
“Nemu di kapal. Punya teman sih, cuma dia kelenger membacanya. Jadi, kitab itu terbengkalai bertahun-tahun dalam laci meja.”
“Hati-hati ngaji ilmunya Syekh Atha’illah itu, Pak Mahmud. Banyak yang gila...,” kata Faruq sungguh-sungguh sambil menghela napas.
“Hah? Apa iya?”
“Benar....”
“Kok bisa?”
“Nggak sampai pikirannya, nggak kuat. Tanggung belajarnya, tidak tuntas.”
Hazri manggut-manggut. Perasaan malah jadi normal setelah belajar kitab itu. Padahal, kurang edan bagaimana dia sebelumnya?
“Apa sih ilmu hakikat itu, Ustadz?” tanya Hazri kemudian.
“Hakikat itu batinnya syariat. Tapi, bukan kebatinan lho....”
“Maksudnya gimana?”
“Yaa..., syariat itu zhahirnya agama. Bagian lahiriah. Peraturan, hukum, dan tata tertib memegang agama Islam. Kalau hakikat, bagian batinnya. Ilmu hakikat itu halus, tajam, dan dalam. Tidak sembarang orang bisa menguasainya. Berat.”
Hazri manggut-manggut. “Kalau lahir dan batin berpadu kan bagus?”
“Idealnya memang begitu. Tapi, kalau salah-salah belajar hakikat, nggak sampai pikirannya, nggak tuntas..., malah bisa jadi musyrik. Menyekutukan Allah. Sudah banyak kejadian begitu.”
“Kalau pikirannya sampai?” pancing Hazri.
“Bagus, bagus sekali pastinya.”
“Siapa saja sih contohnya yang menguasai ilmu hakikat secara benar?”
“Para sufi itu. Syekh Abdul Qadir Jaelani, Syekh Abu Hasan asShadili, Syekh Abu Yazid al-Bustami, Syekh Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Termasuk tentunya Syekh Ibnu Atha’illah.”
Hazri mengangguk-angguk. “Kalau di Indonesia?”
“Yaa..., para waliyullah itu. Wali Songo misalnya, atau Syekh Subakir kalau di Magelang. Di Banten ada Syekh Hasanuddin al-Bantani. Banyaklah...”
Wah, sudah meninggal semua, batin Hazri. “Kalau yang masih hidup?”
“Nah, inilah masalahnya, Pak Mahmud. Siapa orangnya? Yang betul-betul waliyullah lho. Kalau yang mengaku-ngaku sih banyak. Para penipu itulah yang merusak ilmu hakikat. Mengajarkan ilmu aneh-aneh yang diakuinya sebagai hakikat makrifat. Kesaktian ini dan itu dipertontonkan macam konser artis. Kebal senjata, bisa menghilang, bisa terbang.... Segala persyaratan jin ini dan jin itu. Maka buta ijo, tayul, dan jenglot pun dipuja-puja. Musyrik!” kata Faruq berapi-api. Kesal betul kelihatannya dia ke orang-orang seperti itu.
Hazri melepas kupluk putihnya, meringis, lalu garuk-garuk kepala. Soalnya dia juga punya ilmu kebal, walau tidak pakai puja-puji ke buta ijo. Cuma merapal mantra dan konsentrasi tenaga dalam. Bacaan mantranya juga serupa doa, campuran bahasa Arab dan Jawa Kuno. Nama Allah dan Nabi Muhammad pun disebut-sebut di situ. Tidak ada sebutan nama jin atau siluman. Ritual-ritual khusus juga tidak ada. Paling cuma minum air putih dingin seliter di pagi hari. Itu pun tidak wajib, kalau ingat dan sempat saja. Masak yang seperti ini termasuk ritual pemujaan jin atau siluman? Bukanlah. Tapi, Hazri tidak ingin berdebat kusir dengan Faruq soal ilmu kebalnya itu. Buat apa? Nanti malah membuka rahasia penyamaran. Bagusan lanjut pertanyaan lain yang lebih menggigit. .
Faruq tersenyum. “Maaf nih, Pak Mahmud, saya betulkan pemahamannya. Bukan masih hidup sampai sekarang, bukan maksudnya wali-wali zaman dulu yang sampai sekarang belum meninggal. Bukan begitu. Setiap zaman atau setiap masa ada walinya. Bahkan, setiap kampung, punya wali. Setiap empat puluh orang maka ada satu walinya. Cuma yang mana beliau itu? Siapa?”
Hazri terhenyak kaget mendengar ini. Benar-benar baru tahu dia. Di kitab al-Hikam, Syekh Atha’illah tidak menyebut soal ini.
“Benarkah, Ustadz?”
Faruq mengangguk. Lalu, dia bercerita bahwa gurunya di pesantren dulu yang memberi tahu soal tersebut. “Tidak mungkin Mama Ajengan Sepuh bohong.”
Mama Ajengan adalah sebutan umum untuk kiai di pesantren-pesantren Jawa Barat. Sepuh berarti tua, atau dituakan. ‘Mama Ajengan Sepuh’ bermakna ‘Kiai yang dituakan’. Kurang lebih begitu.
“Jadi, waliyullah ada di setiap zaman? Ada di setiap kampung?” Hazri minta ketegasan.
Faruq mengangguk mantap.
“Sampai kapan, Ustadz? Ada terus?”
“lya, sampai akhir zaman. Waliyullah adalah ulama sejati, penerus para nabi. Akan selalu ada sampai akhir zaman. Kalau nabi, Nabi Muhammad yang terakhir menurut keyakinan kita orang muslim. Tapi, para penerusnya akan selalu ada, lanjut sampai batas akhir semesta alam kelak.”
Hazri manggut-manggut agak bengong. Luar biasa.
“Banyak dong jumlahnya, Ustadz? Yang zaman sekarang saja nih?”
Faruq tersenyum lagi. “Perbandingannya kan jelas, satu setiap empat puluh satu. Tapi, jangan lantas jadi keblinger hitungan, sebab ini siloka atau simbolis. Bukan rumus matematika. Maknanya, banyak. Sudah. Berapa pastinya wallahu a’lam, hanya Allah sendiri yang tahu siapa-siapa kekasih-Nya.” Faruq berhenti sejenak.
Hazri manggut-manggut.
“Pak Mahmud jangan bingung dengan istilah wali. Waliyullah itu artinya kekasih Allah. Orang-orang yang disayang oleh Allah. Mereka yang mendapat limpahan langsung sifat ar-Rahim, Maha Penyayang. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak selalu ustadz atau kiai, walau bisa saja. Pokoknya bisa kena siapa saja. Terserah Allah memilih kekasihNya. Penjahat pun bisa, kalau sudah insyaf....”
Hazri langsung meringis. Sialan, kena smash lagi. “Kekasih Allah. ..,” gumamnya. Seperti apa rasanya jadi kekasih Allah? Selama ini mencintai Zilfa saja sudah menjadi hal yang sangat indah, bagaimana dengan mencintai Allah?
“Terus bagaimana caranya dia bisa tahu kalau dirinya kekasih Allah?” Hazri membuka pertanyaan lagi.
“Tahu dengan sendirinya. Mereka yang terpilih itu akan tahu dengan sendirinya. Allah yang memberi tahu dengan cara-Nya, yang tidak terjangkau oleh akal kita. Pokoknya mereka pasti tahu.”
Hazri mengangguk-angguk, masuk akal.
“Kalau sudah terpilih, bisa dong mereka ngajakin orang lain? Ngajarin supaya yang lain juga terpilih jadi kekasih Allah, maksud saya.”
Faruq tertawa kecil. “Sayangnya tidak begitu. Para kekasih kebanyakan dirahasiakan, disembunyikan oleh Allah. Pak Mahmud tahu tidak kalau Allah punya sifat Maha Pencemburu?”
“Pencemburu?”
__ADS_1
“Iya, Maha. Bukan cemburuannya manusia nih, tapi Maha Pencemburu.”
“Walaaahh...,” tanpa sadar Hazri bergumam kecewa.
Faruq tersenyum. “Tapi, masih ada tapinya, Pak, tidak semua. Memang sebagian besar, tapi bukan semuanya. Ada sebagian yang dibuka, diberi tugas membimbing umat. Namanya, atau sebutannya, Mursyid.”
“Nah iniii...,” tanpa sadar Hazri berseru gembira. “Di mana adanya mursyid itu, Ustadz?”
“Itulah juga masalahnya. Di mana?”
“Lho kok?”
“Iya. Siapa mursyid, tidak begitu saja orang langsung tahu.”
“Walaaahh...,” Hazri kecewa lagi. “Terus gimana dong?”
Faruq terdiam. Hazri juga diam. Hening.
“Kalau belajar sendiri bisa nggak?” tanya Hazri kemudian.
Faruq menggeleng. “Ilmu hakikat itu sangat halus, latif. Tanpa guru maka Iblis gurunya, bakal nyasar ke mana-mana seperti para penyanjung jin itu. Belajar syariat saja harus punya guru, apalagi hakikat.” Dia lalu menyitir hadits Nabi tentang ini.
“Terus gimana, Ustadz? Guru nggak ada, belajar sendiri nggak boleh. Atau, jangan-jangan Ustadz Faruq ini mursyid?” tembak Hazri, antara canda dan serius.
“Wuah? Saya juga sedang nyari...,” mengaku Faruq.
“Lho? Sama-sama butuh ternyata?” Hazri nyengir.
Mereka pun tertawa ringan, tapi kecut.
“Atau, Mama Ajengan Sepuh mungkin?” tanya Hazri. Siapa tahu iya.
Faruq menunduk. “Saya pernah tanya langsung, tapi beliau tidak menjawab. Cuma berpesan agar saya mencari mursyid saya sendiri. Katanya sih dekat.”
“Ketemu?” kejar Hazri.
Faruq menggeleng. “Entahlah. Jangan-jangan Pak Mahmud?”
“Walah, langsung gila beneran kalau saya yang ngajar.”
Faruq tertawa, Hazri juga.
“Tapi, kok pesan Mama Ajengan disuruh nyari mursyid sendiri ya? Apa maksudnya jodoh-jodohan? Cocok-cocokan gitu?”
“Mungkin.”
Hening lagi.
“Dirasa-rasa, Mama Ajengan Sepuh itu mursyid kayaknya. Gimana kalau saya ke sana ketemu beliau? Siapa tahu jodoh,” mata Hazri tampak berbinar.
Faruq menghela napas sambil menggeleng. “Sudah meninggal.”
Binar mata Hazri pun langsung redup lagi. “Pak Ustadz sih, kenapa waktu itu di sana nggak sekalian belajar ilmu hakikat...,” protesnya.
Faruq meringis. “Nggak boleh. Saya kan cuma santri, bukan kiai jadug.”
Hazri garuk-garuk kepala. Iya juga, tadi Faruq sudah menjelaskan ini.
Faruq menimbang-nimbang dalam hati. “Mama Ajengan Sepuh juga berpesan agar saya memohon langsung kepada Allah soal ini, sebab Allah adalah Sang Maha Mursyid. Insya Allah diberi petunjuk,” kata Faruq. Tadinya dia tidak hendak memberi tahu wejangan ini, tapi karena dilihatnya Hazri bersungguh-sungguh maka dibuka sekalian. Suara hatinya mengizinkan.
“Sang Maha Mussyid...,” Hazri bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Mama Ajengan Sepuh berpesan agar Pak Ustadz memohon langsung kepada-Nya? Mohon ditunjukkan mursyidnya begitu?”
Faruq mengangguk. “Iya. Untuk Pak Mahmud juga...,” katanya tersenyum.
Hazri kembali mengangguk-angguk. “Terima kasih, Ustadz. Mama Ajengan, terima kasih banyak ya,” terceplos begitu saja ucapan ini. Tulus.
Senyum Faruq pun semakin lebar.
Memohon langsung kepada Allah? Kenapa tidak? Sangat masuk akal, masuk akal sekali. Hazri membatin, kepalanya masih mengangguk-angguk pelan.
“Sudah masuk ashar,” kata Faruq kemudian. “Saya adzan dulu ya.”
“Boleh saya yang adzan?” pinta Hazri.
“Oo silakan, silakan...”
Belum batal wudhunya sejak shalat Jum’at tadi, Hazri pun langsung beranjak ke mimbar untuk melantunkan adzan. Faruq pergi ambil wudhu lagi, mungkin sudah batal punya dia.
“Allahu Akbar... Allaaaahu Akbar...”
Inilah lantunan adzannya yang pertama bagi Hazri di daratan, selepas turun dari kapal Huda. Tanpa diminta, matanya pun berkaca-kaca.
Empat orang warga datang untuk ikut berjamaah ashar. Jadi, berenam mereka. Walau sudah menolak, Faruq tetap mendorong Hazri maju jadi imam. Jadilah, karena para calon makmum yang lain juga tidak keberatan.
Inilah jadi imam shalatnya yang pertama juga sejak kembali menapak daratan. Bukan cuma berkaca-kaca, merembes sekalian air mata. Sedikit, tidak kentara. Saat berdoa usai shalat, Hazri pribadi di dalam hatinya menambahkan permohonan itu kepada Sang Maha Mursyid. Pertama kali juga ini. Luar biasa. Tiga peristiwa spiritual penting bagi dirinya pribadi terjadi serentak hari ini. Rasanya serupa dengan yang pernah dialaminya di KM Bima waktu itu.
Itulah awal persahabatannya yang rapat dengan Faruq. Ustadz yang juga salah seorang tokoh masyarakat kampung ini. Mereka sering berdiskusi agama, berdua atau bersama warga yang lain. Kebanyakan tentang masalah syariat Islam. Hukum-hukum, tata cara, dan dalil-dalilnya. Baik dari al-Qur’an maupun hadits Nabi. Jago betul Faruq untuk permasalahan seperti itu. Hazri percaya sahabatnya ini hafizh, seorang yang hafal al-Qur’an, walau yang dituduh tidak mengaku. Bukan sekali Hazri memergoki Faruq sedang melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an tanpa membaca kitabnya. Mengalir seperti air sungai. Tapi, kalau membahas hakikat, sama mentoknya mereka. Mana sang mursyid yang ditunggu-tunggu itu belum mau memunculkan diri. Dicari-cari tidak ketemu. Entah di mana adanya. Puyeng juga.
__ADS_1
Gara-gara dekat dengan Faruq maka pelan-pelan warga kampung pun menempatkan Hazri sebagai golongan agamis. Gara-gara selalu pakai kupluk haji yang putih itu maka sebagian yang lain menyangka Hazri adalah haji betulan. Sebutan ‘Pak Haji’ pun kerap terlontar. Dan, diduga kuat gara-gara semua itu, rasanya makin banyak saja gadis dan janda yang melenggok di depan ramahnya kalau sore. Lalu, sama seperti Karno, Faruq pun hanya tertawa-tawa saja mendengarnya....