Jalan Pulang

Jalan Pulang
88. barisan patah hati


__ADS_3

Dan, wabah bisik-bisik tetangga pun menyebar cepat. Seminggu setelah itu, hampir semua warga kampung sudah tahu kalau ‘Haji Mahmud’ ada hati dengan Mbak Ami, putrinya Pak Junet. Entah siapa yang pertama menabuh gendang. Bisa Faruq, bisa juga Marno. Atau yang lain. ‘Sialnya’, beberapa warga memergoki ‘Haji Mahmud’ berboncengan motor dengan Mbak Ami. Entah dari mana atau mau ke mananya. Yang jelas berduaan, walau tidak mesra-mesraan. Makin gencarlah....


Ke Progo, mau ketemu mursyid mereka. Padahal, Hazri dan Ami sudah mengatur titik pertemuannya jauh di sebelah sana Pasar Tidar. Berangkat dari situ, pisahnya juga di situ. Tapi, tetap saja kepergok.


Tentu, barisan patah hati pun berbanjar panjang. Pertama, kelompok pria yang naksir berat Ami. Aneh, hampir semuanya laki-laki beristri atau duda yang merasa diri punya peluang. Benar kata Marno, Pak Kades pun termasuk. Karno tidak berani coba-coba karena digertak anaknya. Dikasih tahu duluan kalau ‘Haji Mahmud’ mau turun gunung. Yang kedua, kelompoknya Susi dan kawan-kawan. Berikut para gadis lain yang naksir berat ‘Haji Mahmud’. Cerita Faruq, para janda itu protes. Harusnya salah satu dari mereka yang dipilih ‘Haji Mahmud’ karena sudah lama usahanya. Ami kan barusan pulang. Tidak adil dong. Sama-sama janda ini....


Hazri terkekeh. Faruq tertawa keras.


Tapi, sampai lewat sebulan Hazri masih belum juga bergerak. Padahal, situasi sudah kondusif. Barisan patah hati sudah bisa menerima kekalahannya yang laki-laki maupun yang perempuan. Pak Kades malah sekarang yang jadi seksi sibuk ngomporin Hazri, bareng Faruq. Kelompok Susi pun sudah rela. Soalnya sudah terima disuap beberapa potong pakaian muslimah. Istri Faruq yang mengatur itu, kerja sama dengan suaminya. Biasa, dana non budgeter. “Masalahnya, paling gawat kelompok ini kalau protes. Rada kurang malunya. Bisa mengganggu ketertiban umum...,” kata Faruq memberi alasan. Hazri pun terpingkal-pingkal.


Tapi, itu tadi, belum juga Hazri maju melamar. Padahal, Faruq sudah berulang kali menegaskan bahwa laki-laki yang sudah siap menikah, bisa melamar kapan saja. Tidak usah repot pakai wali segala kalau memang tidak ada.


Hazri meringis saja. Masalahnya tidak sesederhana itu. Ada Emak ada Dewi, dan...Ria. Bagaimana ini? Apa dia harus pulang dulu ke Jombang memberi tahu Emak? Apa harus bicara dulu dengan Dewi? Lalu, bagaimana Ria? Terus terang, putri ketiga Haji Ridwan itu menempel kuat di dinding ingatannya. Tidak bisa dilunturkan. Entah kenapa? Padahal, pernah pacaran tidak, dulu pernah naksir juga tidak. Cuma waktu tidak sengaja melihat wajahnya di Surabaya itu. Kini ingatan tentang Zilfa ikut turut melekat erat. Haduh bagaimana ini...?


Maka, Hazri pun taqarrub, membuang semua angan dan harapan. Hanya Dia. Terserah pada-Nya, mau dibagaimanakan dirinya ini. Kalau iradat-Nya ke Jombang maka dia pasti tiba di Jombang, kalau jumpa Dewi dulu pasti ketemu. Kalau langsung menikah pasti terlaksana. Dan, kalau tidak semua ini maka pasti tak pernah ada. Itulah mengapa dalam pandangan awam Hazri seolah belum bisa mengambil keputusan. Padahal, bukan soal sanggup atau tidak sanggup, melainkan tentang keberserahdirian kepada Sang Maha Mutlak. Tentang kepasrahan atas kehendak-Nya.


Walau tahap perjalanan ruhaninya di bawah Hazri, Ami bisa mengerti kalau ‘Mas Mahmud-nya’ bukan sedang ragu-ragu. Tidak mungkin manusia khawasul khawas punya takut soal begini. Takutnya bulat hanya kepada Allah, yang lain Srimulat, guyonan doang. Ami yakin bahwa Hazri sedang menunggu ‘petunjuk’. Makanya dia tenang-tenang saja. Tidak lantas grusak-grusuk macam orang tidak punya keyakinan. Isu-isu hot tentang sikap pasif ‘Haji Mahmud’ ini ditanggapi dengan senyuman. Manis..


Siang ini mereka berdua sowan lagi ke Pak Subakir. Hazri yang mengajak karena merasa dipanggil secara batin oleh mursyidnya. Sang Mursyid pun tersenyum melihat keakraban sepasang muridnya itu.


“Gimana, Mas Mahmud? Payah nih, paham Jamal tapi nolak rasanya? Nggak bisa jadi ilmu itu, hehehe...”


Hazri nyengir. Ami menunduk tersipu. Wajahnya merona kemerahan.


Sesaat setelah Pak Subakir berucap itu, tiba-tiba Hazri merasakan sebentuk rasa menujam dirinya. Bukan suara, bukan kata. Hanya rasa. Dia memandang mursyidnya. Pak Subakir pun mengangguk pelan. Hazri menghela napas, mengucap syukur dalam hati. Ami tidak melihat adegan ini karena masih menunduk. Rasa itu, walau bukan suara, seandainya disuarakan berbunyi, “Menikahlah Hai Muhammad!”


Tidak lama-lama sowan kali ini. Ami agak heran karena Hazri mengajaknya pulang cepat. Padahal, pada beberapa sowan bareng sebelumnya, kalau sudah ngobrol dengan Pak Subakir dan para ikhwan jadug, waktu seolah berhenti. Kuat mereka duduk seharian di saung membahas Dia tanpa beranjak. Kadang serius, kadang tertawa-tawa. Ami dan Bu Subakir yang memperhatikan kelakuan para lelaki itu dari ruang tamu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah mengantar Ami sampai di rumahnya, Hazri langsung ke tempat Faruq. Dia ada di rumahnya, sedang leha-leha nonton TV.


“Nanti malam, Ustadz,” kata Hazri.


“Nanti malam? Malam ini maksudnya?” Faruq kaget.


Hazri mengangguk. “Bakda isya’.”


Faruq diam sejenak. “Pak Junet sudah dikasih tahu?”


“Belum. Apa perlu?”


“Ya, iyalah. Mereka kan juga harus siap. Kalau pas kita datang ternyata mereka sedang keluar gimana?”


Hazri manggut-manggut. Maklum, belum pernah nikah. “Biar nanti saya ke sana lepas ashar. Pak Haji siap-siap saja.”


Hazri mengangguk. “Terima kasih, Ustadz.”


Faruq nyengir. “Kemarin ditungu-tungguin semua orang, diam. Sekarang orang pada diam, malah nyerang. Boleh juga taktik perangnya. Tapi, kenapa nih? Apa baru sekarang sadar ubun-ubun meleleh? Hehehe...”


Hazri nyerengeh saja.


“Oke, siaplah. Nanti malam kita ke sana ya.”


Hazri pun mengangguk. “Terima kasih sekali lagi.”


Setelah berbasa-basi sejenak, Hazri pun balik ke rumahnya.


Detik terus berdetak....


Selepas shalat isya’ berjamaah di masjid, Hazri dan Faruq langsung menuju rumah Junet. Tuan rumah sudah siap menanti, karena sudah di-calling Faruq bakda ashar tadi.


“Assalamu’alaikum,” sapa Hazri. Faruq tersenyum saja.


“Wa’alaikum salam...” sahut Junet. “Mari, mari Pak Haji...” dia mengajak tamunya masuk ke rumah.

__ADS_1


Bu Junet muncul dengan wajah sumringah. “Pak Haji...” sapanya. Cerah betul. Tidak menyangka kalau tamu nyasar yang dulu mencari Iis itu ternyata bakal mantunya. Siapa tidak bangga jadi mertua ‘Haji Mahmud’? Sudah kebayang-bayang terus dia sejak sore tadi.


“Gimana kabanya, Pak Haji?” tanya Junet berbasa-basi.


“Sehat, Pak...,” jawab Hazri mesem. Faruq cengar-cengir saja.


“Bu, mana suguhannya? Ini Pak Haji kok dianggurin?”


“Oo iya. Mbak, suguhannya...,” kata Bu Junet.


Ami muncul membawa nampan suguhan sambil tersenyum, Hazri mendelik. Busyet, cantik nian. Pasti sengaja dandan untuk menyambut calon suami ini. Faruq cengengesan. “Ugh, jebol ubun-ubunku...,” katanya pelan tapi terdengar. Junet dan istrinya mesem. Hazri meringis, Ami merona merah.


Setelah menata suguhan itu di meja, Ami hendak masuk ke dalam lagi. Faruq menahan. “Di sini saja, Mbak. Biar nggak tegang suasana hati karena ada yang cantik menemani,” katanya sambil melirik Hazri. Yang di-smash pura-pura tidak tahu masalah. Junet dan istrinya mesem lagi. Ami pun kembali tersipu, lalu duduk di sebelah ibunya. Siap mengikuti sidang paripurna.


Malah hening setelah itu. Hazri menunggu pancingan dari Faruq, sedang Faruq justru menunggu pembukaan dari Hazri. Kalau bagi Junet dan istrinya, siapa yang manuver duluan tidak penting yang penting pernyataannya.


“Pak Haji? Waduh, nanti jebolnya boleh diterusin. Sampai habis juga nggak apa-apa. Sekarang mintanya dulu diberesin...,” sentil Faruq tengil.


Junet dan istrinya tertawa kecil. Ami kembali tersipu.


Hazri memandang Faruq yang nyerengeh itu. Sialan ini Ustadz.


“Ehem...,” Hazri mendehem pelan. “Pak Junet, maksud kedatangan saya ini adalah untuk melamar putri bapak...,” kata Hazri akhirnya. Formal sekali.


Faruq terkekeh. “Sudah ditemani Ami pun masih tegang begitu, hehehe...”


Hazri nyengir juga.


Junet dan istrinya pun lega. “Pak Haji, prinsipnya kami merestui. Terserah Ami-nya saja,” kata Junet.


“Wah, sama tegangnya ni yee...,” celetuk Faruq lagi.


Mereka pun tertawa-tawa ringan. Ami tersenyum sambil menunduk. Syukurnya kepada Allah melantun lembut dalam hati.


Ami pun mengangguk pelan. Setelah pura-pura jaim dikit. Jaga imej.


“Alhamdulillah...,” ucap Faruq. Semua mengikuti “Mari kita berdoa,” ajaknya. Lalu, dia pun membaca untaian bait doa yang lain mengamininya.


Setelah rehat teh sejenak, perbincangan dilanjutkan. Urusan teknisnya.


“Terserah Bapak saja karena saya belum pengalaman menikah...” kata Hazri menjawab pertanyaan Junet tentang mau pakai adat apa pernikahannya.


Terdiam semua mendengar ucapan Hazri barusan. Soalnya selama ini warga menduga ‘Haji Mahmud’ adalah duda. Begitu pun mereka. Bagaimana tidak? Laki-laki seusia Hazri di kampung ini rata-rata sudah punya anak tiga atau empat.


“Maaf, Pak Haji, maaf betul nih. Pak Haji ini belum pernah menikah?” tanya Faruq mewakili pertanyaan hati yang lain.


“Iya. Kenapa?” Hazri agak heran. Memang benar dia belum pernah menikah. Menikah lho, bukan kawin.


Faruq meringis. “Saya kira duda. Warga di sini menyangka begitu...”


“Ah, masak Ustadz? Kok saya nggak tahu?”


“Yaa, nggak ada yang ngomonglah. Dikira-kira saja.”


Hazri tertawa kecil. “Duda tanpa anak gitu ya?”


Faruq nyerengeh, tapi kemudian diam memandang Junet. Yang dipandang menghela napas, begitu pula istrinya. Ami menunduk. Semua terdiam.


“Lho, kok pada diam. Ada apa ini?” tanya Hazri.


Junet menghela napas lagi.“Begini, Pak Haji, Ami bukan gadis..,” katanya pelan sambil memandang Hazri.


Kening Hazri berkerut bingung. “Saya tahu. Memangnya kenapa, Pak?”

__ADS_1


Junet melirik istrinya. “Eemm, di sini tidak umum perjaka menikahi janda.”


“Hah? Tidak boleh?” giliran Hazri yang kaget.


“Bukan tidak boleh, Pak Haji. Tidak umum,” kata Junet lagi.


“Oo gitu. Biarin sajalah. Saya meminang putri bapak bukan karena gadis atau janda,” kata Hazri sambil tersenyum. Diliriknya, Ami juga tersenyum.


“Mantap, Bos. Jadi, karena apa dong? Cantiknya ya?” celetuk Faruq lega.


Hazri mengangguk sambil tertawa. Karena kehendak-Mu, dia berucap dalam hati seiring desah tawanya.


Semua pun tertawa lega.


Perbincangan pun bisa dilanjutkan. Untuk adat, sepakat adat Jawa. Tempat, sepakat rumah kayu yang di hutan itu. Jangan salah, walau di tepi hutan, busyet benar jadinya rumah itu. Karno edan-edanan, arsiteknya sama juga. Rumah kayu itu tidak kalah model dengan vila mewah di kawasan Puncak. Jujur, bagusan ini malah. Hazri pun tertawa soal duit ratusan juta yang disawer Karno di situ.


Soal maskawin, seserahan, yang pernak-pernik serupa itu biar nanti istri Faruq yang mengurus. Mesti diskusi dulu sama Bu Junet dan Ami. Bagiannya perempuan itu. Laki-laki jangan nekad campur kalau tidak mau ketimpa pusing sendiri. Tanggal pun ditetapkan, tiga mingguan lagi. Undangan terserah Junet dan Faruq. Hazri. tertawa mendengar Faruq akan mengundang Bupati. “Lihat saja nanti...,” tantang sang ustadz serius. Junet dan istrinya pun tersenyum bangga.


Masih berlanjut pembicaran. Junet bertanya tentang keluarga Hazri. Maksudnya minta saran bagaimana cara mengundang calon besannya itu. Hazri menghela napas. “Keluarga saya jauh Pak Junet. Ayah saya sudah lama meninggal, ibu sudah tua dan sering sakit-sakitan. Saya punya adik perempuan satu, sudah menikah. Ikut dengan suaminya....”


Semua terdiam menunggu kelanjutan kisah Hazri ini.


“Kalau boleh saya mohon pengertian keluarga di sini agar keluarga saya tidak usah diundang. Eemm, terus terang ada alasannya. Tapi, sifatnya pribadi sekali. Saya tidak bisa mengatakannya di sini. Insya Allah, pada waktunya kelak, saya akan membawa keluarga saya ke sini atau kita yang ke sana sama-sama,” lanjut Hazri.


Junet manggut-manggut. Faruq juga.


“Saya jamin. Demi Allah, saya tidak sedang punya istri dan anak di kampung sana. Tidak juga di tempat lain...,” kata Hazri sambil tersenyum.


Seketika semua pun tertawa. Ami tersenyum memandang syahdu Hazri. Bibirnya merekah senyum. Manis sekali.


Memang itu sasaran senyapnya. Soalnya, korban bualan gombal duda atau perjaka bodong sudah kelewat banyak, termasuk di sini. Bukan tidak percaya ‘Haji Mahmud’, sekedar waspada saja. Tapi, sekarang semua sudah lega, yakin kalau ucapan ‘Haji Mahmud’ tadi benar. Terlebih Ami yang tahu siapa Hazri di Progo.


“Oo iya, Pak Junet, saya masih punya satu permintaan lagi nih,” kata Hazri.


“Apa itu?” tanya Junet.


Hazri tertawa kecil. “Begini, eemm... saya tidak mau didandanin.”


“Didandanin apa, Pak Haji?” tanya Junet heran.


“Saya tidak mau pakai baju adat.”


“Lho, kenapa?” tanya Bu Junet.


Hazri meringis. “Malu, Bu, seumur gini dibedakin. Bawa-bawa keris lagi...” Semua langsung tergelak. Ami tertawa kecil sambil menunduk.


“Terserah Pak Haji sajalah,” kata Junet.


Bibirnya masih tertawa. “Tapi, Bu, Ami tetap didandanin yang cantik ya...,” pinta Hazri sambil melirik calon istrinya itu yang dilirik tersipu-sipu.


“Oo pasti, Pak Haji...,” jawab Bu Junet bahagia.


“Terus mau pakai apa?” tanya Faruq.


“Jas,” jawab Hazri pendek.


“Oo bagus. Saya kira pakai sarung,” canda Faruq.


Semua tergelak lagi. Ada-ada saja ustadz ini.


“Nanti pakai sarungnya kalau sudah sepi...,” goda Faruq lagi.


Tergelak lagi, tergelak lagi...

__ADS_1


Dan, semua mulai bergerak, seiring kabar yang semakin merebak, ‘Haji Mahmud Doro’ akan menikah. Ustadz Faruq jadi ketua panitia, di bantu komisaris Karno. Marno, Sugeng, dan anak buahnya pegang seksi sibuk. Kesana-kemari sambil tetap mengurus burung-burungnya. Bu Junet, Bu Faruq, dan ibu-ibu PKK lainnya dengan sukarela terjun ke bagian ‘kerumitan wanita’. Segala rencana hidangan, debat terbuka model baju muslimah seragam, selendang-selendang, kain-kain, perhiasan, pemilihan juru rias terbaik, make up, dan segala pernak-pernik lainnya yang sulit dipahami laki-laki. Susi dan anggotanya pun tidak mau ketinggalan. Kesana-kemari kasih komentar. Komentar doang. Nyerocos seperti komentator bola. Ami masuk pingitan, nggak boleh keluar. Hazri pusing melihat ‘kekacauan menyenangkan’ ini. Akhirnya, senyum-senyum saja di masjid, memilin tasbih hitam kesayangannya sambil mendengarkan suara lugu anak-anak mengaji


__ADS_2