Jalan Pulang

Jalan Pulang
89. sah


__ADS_3

Hari demi hari berganti, cepat habis tiga minggu itu. Tiba juga saatnya...


Ijab qabul di Masjid Al-Khoir, lancar. Penghulunya petugas KUA, tidak jadi Ustadz Faruq karena dia serak kehabisan suara. Selesai ijab qabul, istirahat sebentar, langsung ke vila buka resepsi. Byar... Tamu pun datang silih berganti, bergelombang seperti air bah. Entah mana ujung belakangnya. Terus terang, pegal mulut Hazri tersenyum terus. Bayangkan, dari jam delapan pagi sampai menjelang maghrib ini belum ada tanda-tanda menyurut. Naga-naganya malah bakal meningkat. Dan, benar. Selepas shalat maghrib Hazri kaget melihat penumpukan tamu yang tertahan gara-gara mempelai prianya lenyap sebentar itu. Allahu Akbar, dia berucap dalam hati. Lalu, kembali menarik bibir tersenyum bersama sang istri.


Agak mengherankan. Hazri tahu hampir semua tamu-tamu ini temannya Faruq, Pak Kades, dan mertuanya. Tapi, mereka seperti akrab dengan dirinya. Kesannya ingin dianggap teman juga oleh Hazri. Pada sok sudah kenal lama. Padahal, kan Hazri boleh dikata tidak pernah ke mana-mana. Ada apa ini? Apa karena dia ‘Haji Mahmud Doro’ yang lumayan beken itu atau karena hal lain. Malah ada yang sengaja minta difoto pribadi dengan kedua mempelai. Bawa juru foto sendiri dari studio. Antik juga, kan? Tapi, Hazri tidak keberatan, malah bersyukur sekiranya benar mereka memang ingin berteman dengannya.


Kira-kira jam setengah delapan malam Pak Kades masuk mengantar sepasang tamu suami istri menuju mempelai. Hazri memperhatikan sambil tersenyum, lumayan aristokrat penampilan sepasang tamu ini.


“Pak Haji, ini Pak Camat dan Ibu,” kata Pak Kades memperkenalkan tamu itu.


“Ooh ya. Saya Mahmud. Terima kasih, Bapak dan Ibu sudah berkenan hadir jauh-jauh ke sini,” sambut Hazri sambil menjabat tangan tamunya.


“Sama-sama, Pak Haji. Kami sudah banyak mendengar tentang kiprah Bapak bagi warga di sini. Atas nama kecamatan, saya mengucap banyak terima kasih untuk semua itu,” kata Pak Camat. Erat dia menjabat tangan Hazri.


Hazri tersenyum. “Semuanya dari Allah, Pak. Saya tidak mampu berbuat apa-apa,” balas Hazri tanpa maksud basa-basi karena dengan rasanya.


Pak Camat pun mengangguk-angguk. Lalu bergeser ke Ami.


“Mas, sini, Mas. Foto...,” Pak Kades memanggil juru foto resmi acara ini. Tidak lupa memanggil istrinya juga.


Jepret jepret... Momen itu terabadikan dua kali. Hazri, Ami, Pak Camat, Bu Camat, Pak Kades, dan Bu Kades dalam setiap lembarnya. Pak Kades pun tersenyum puas. Gejalanya mengandung unsur politis juga pemotretan ini baginya.


Tamu pun bergulir lagi setelah sempat terhenti sejenak itu. Belum lama berselang Pak Kades masuk lagi. Kali ini mendampingi dua tamu lelaki. Hazri agak terkesiap. Salah seorangnya mengenakan seragam dinas kepolisian, dua melati bertengger di pundaknya. Ajun Komisaris Besar Polisi, seperti pangkatnya Fahmi Putra dulu. Di sini, berarti dia Kapolres, kepalanya polisi sekabupaten. Dan, yang seorang lagi mengenakan seragam dinas Pemda.

__ADS_1


Gentar? Tidak. Takut? Jauhlah.... Hazri sudah tahu ilmunya. Semua harap dan takut hanya pada-Nya. Segalanya Dia. Maka, dia pun tersenyum membalas senyuman ramah Kepala Polisi yang berjalan menuju ke arahnya itu. Junet dan istrinya benar-benar bangga. Tidak pernah terbayang Kapolres hadir di pernikahan putrinya.


“Pak Haji, ini Pak Kapolres dan Pak Sekda...,” Pak Kades memperkenalkan mereka. Sekda? Sekretaris Daerah? Orang ketiganya kabupaten dong.


Kepala Polisi itu pun menjabat erat tangan Hazri. “Pak Haji, Pak Bupati titip salam dan mohon maaf tidak bisa menghadiri undangan. Kami sedang rapat malam ini, kebetulan presentasi saya sudah selesai. Maka, sekalian saya diminta mewakili beliau bersama Pak Sekda ke sini,” katanya.


“Sama-sama, Pak. Kami di sini pun mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Bapak untuk hadir. Salam hormat saya untuk Bapak Bupati,” balas Hazri.


Kepala Polisi itu mengangguk-angguk puas. Lanjut ke Ami.


“Kapan Pak Haji Mahmud mau main ke kantor saya?” tanya Pak Sekda sambil menjabat tangan Hazri. “Pak Bupati juga pengen ketemu katanya.”


“lnsya Allah, Pak, pada saatnya. Tapi, apa benar saya boleh datang ke kantor Pemda? Jangan-jangan nanti malah ditangkap...,” canda Hazri.


“Laporkan ke saya yang berani menangkap Haji Mahmud Doro, hahaha...,” Kepala Polisi itu menyambar dari samping.


Dari awal Pak Kades sudah bersiap. Juru foto sudah stand by di posisi. “Maaf Pak Sekda, Pak Kapolres, untuk dokumentasi desa...,” kata Pak Kades. Bisa aja.


“Ooh, boleh. Mari...,” kata Pak Sekda.


Mereka pun berbanjar. Hazri mengajak kedua mertuanya, karena yang dengan Pak Camat tadi tidak sempat. Jepret jepret... Puaslah semua.


Menjelang pukul sebelas malam barulah air bah ini mulai surut. Rombongan Progo belum datang. Biasa, jagoan munculnya belakangan. “Ami, tolong kasih tahu ibu-ibu, hidangannya jangan dulu diangkatin. Guru sebentar lagi sampai,” bisik Hazri kepada istrinya. Ami mengangguk, lalu ke sana memberi tahu.

__ADS_1


Karena suasana sudah reda maka Hazri menanti kedatangan mursyidnya di halaman depan. Tidak formal lagi. Jas dan dasi dilepas, tinggal kemeja saja. Ngobrol santai bareng Faruq, Pak Kades, dan Karno sambil merokok dan minum kopi. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, tampak di sana mobil Kijangnya Agil tiba. Hazri segera beranjak menghampiri. Faruq dan Pak Kades juga ikut walau tidak tahu siapa yang datang itu.


“Assalamu’alaikum,” sambut Hazri.


“Wa’alaikum salam...,” sahut Pak Subakir dan para ikhwan.


Hazri menyalami mursyidnya, tapi tidak mencium tangan seperti biasa. Itu aturannya, supaya tidak mengundang perhatian. Ada sembilan ikhwan yang turut ke sini. Biang-biangnya, para jadug penunggu saung itu. Semua berpenampilan umum, ada yang batik dan ada yang kemeja. Tidak ada yang berpakaian putih bersorban. Pakai kupluk haji pun tidak. Layaknya tamu undangan biasa.


“Pak Subakir, ini Pak Kades, Ustadz Faruq, dan Pak Karno,” kata Hazri.


Mereka pun saling memperkenalkan diri. Diam-diam Pak Subakir memperhatikan Faruq dengan tatapan lembutnya yang khas itu. Lalu, mengangguk-angguk pelan. Hazri yang memperhatikan itu. Faruq tidak sadar. Sepertinya ada sesuatu dengan Faruq. Tapi, Hazri tidak merasa perlu tahu lebih jauh. Bukan urusannya.


Tahu mursyidnya datang, Ami pun keluar menyambut.


“Bagaimana, Mbak? Bahagia?” tanya Pak Subakir.


“Alhamdulillah, Pak...,” jawab Ami tersipu.


Suasana yang sudah reda itu membuat mereka bisa lebih santai menikmati hidangan. Ngobrol ringan, merokok, ngopi, dan ketawa-ketawa. Sampai akhirnya Pak Subakir permisi pulang, tepat tengah malam. “Terima kasih restunya, Guru,” kata Hazri sesaat sebelum Pak Subakir masuk ke mobil. Pak Subakir mengangguk tersenyum. “Eemm, perempuan. Kalau Mas Mahmud mau, berikan nama Annisa Shofia...,” bisiknya. Hazri mengangguk paham.


Habis tamu selepas rombongan Progo. Pamungkas mereka, Faruq, Karno, dan Pak Kades pun mohon diri, besok kemas-kemas total baru akan dilaksanakan. Sekarang sudah pada teler semua. Hazri mengucapkan terima kasih kepada tiga sahabatnya ini. Mereka pun saling berjabat tangan erat.


Sepi sekarang. Cuma tampak dua pemuda yang diminta Faruq menjaga barang-barang yang belum sempat dikemasi itu. Mereka pun tidur pulas di atas jajaran kursi. Mertua sudah kembali ke rumahnya. Sama lelah. Hazri duduk sebentar di pelaminan seorang diri, wajah Emak terbayang-bayang. Dia pun melebur sejenak bersama dzikir Cahaya. Segalanya Dia.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Hazri beranjak masuk ke kamar. Ami belum tidur, duduk manis di tepian tempat tidur memainkan rambut. Pakaian adat dan segala pernak-pernik sudah dilepas. Tinggal gaun tidur yang tipis itu. Hazri mesem dekat pintu, tangannya menempel di saklar lampu. Lirik-lirikan sebentar, lalu sama-sama tersenyum. Pet.... Lampu padam. Hazri menerkam, Ami memekik tertahan.


Tiba-tiba puluhan jangkrik kompak paduan suara...


__ADS_2