Jalan Pulang

Jalan Pulang
92. tantangan dari hohoho


__ADS_3

Karno duduk mencangkung di depan TV. Baru dua hari dia gencatan senjata dengan istrinya. Kemarin-kemarinnya perang dunia ketiga gara-gara Susi. Biasa, Susinya kegenitan, Karnonya ganjen. Klop, seperti colokan listrik. Hazri yang melerai pertengkaran ini karena diminta jadi penengah oleh Marno dan ibu tirinya. “Kalau masih seperti ini, Pak Karno berhenti saja jadi komisaris,” gertaknya pura-pura. Marno mendukung, sebal dia melihat tingkah ayahnya yang sekarang kebanjiran duit itu. Walau Hazri sudah tidak cawe-cawe lagi di peternakan, tetap saja dia pemiliknya. Semua orang juga tahu. Diamlah Karno.


“Assalamu’alaikum,” terdengar sapaan dari teras depan.


Karno diam saja. Sedang agak malas dia.


“Assalamu’alaikum,” terdengar lagi.


“Wa’alaikum salam,” menyahut juga akhirnya. Karno beranjak membukakan pintu depan. Kaget dia melihat orang tinggi besar berewokan berdiri di teras depan rumahnya itu. Berpakaian pangsi hitaw layaknya pendekar silat.


“Selamat malam, Pak. Saya mencari Ki Mahmud Tidar,” katanya. Langsung berinisiatif membuka pembicaraan.


“Ki Mahmud Tidar? Bapak ini siapa?” tanya Karno.


“Saya Sukoco, dari Banyuwangi.”


Karno manggut-manggut. “Mari silakan masuk, Pak,”


“Apa bapak ini Ki Mahmud Tidar?” dia malah bertanya lagi.


“Sebentar, Pak, siapa Ki Mahmud Tidar?” Karno balik bertanya.


Sukoco bingung juga. Tadi dia memilih acak rumah ini karena tampak paling mentereng. Menurut wangsit yang diterimanya, Ki Mahmud Tidar adalah orang terkaya di kampungnya. “Ini desa Tidar, kan?” Sukoco bertanya kemudian.


“Iya,” jawab Karno.


“Kalau begitu benar di sini adanya Ki Mahmud Tidar yang saya cari.”


“Masuk dulu, Pak, mari masuk dulu. Kita bicara di dalam.”


Sukoco tidak menolak kali ini. Dia pun masuk ke dalam rumah Karno, duduk di ruang tamu yang mewah itu. Bahkan, untuk ukuran kota Magelang.


“Siapa Ki Mahmud Tidar yang Pak Sukoco cari itu?” Karno penasaran juga. “Di sini ada tiga yang namanya Mahmud, yaitu Kang Mahmud juragan beras, Pak Mahmud Mukidin penyuluh perhutanan, sama Haji Mahmud. Tidak ada yang pakai Ki namanya.”


“Beliau sakti, pendekar berilmu tinggi...,” jawab Sukoco.


“Pendekar? Wah tiga-tiganya bukan pendekar tuh,” jawab Karno.


Sukoco.menghela napas. “Sebentar, Pak...,” katanya. Dia komat-kamit membaca mantra, lalu diam berkonsentrasi memejamkan mata.


Karno melotot. Busyet, benar jawara orang ini.


Sesaat kemudian Sukoco membuka matanya. “Tidak tembus diterawang. Cuma ada burung merpati....”


Karno pun tertawa. “Ooh, Haji Mahmud? Beliau memang juragan merpati. Saya komisaris di peternakannya,” katanya agak berbangga hati.


Sukoco pun berbinar. “Haji Mahmud? Beliau Ki Mahmud Tidar?”


“Waduh, nggak tahu saya kalau Ki Mahmud Tidar-nya. Cuma dari tiga Mahmud tadi, Haji Mahmud yang punya burung merpati. Tapi, setahu saya bukan pendekar ah.”


“Boleh tahu di mana rumahnya?”


“Mari saya antar, Pak. Kebetulan saya juga mau ke sana,” kilah Karno. Padahal, penasaran saja ingin tahu ada apa.


“Terima kasih, Pak. Hohoho...,” Sukoco pun tertawa.


Busyet, Karno terkesima lagi. Gema suara tawanya itu. Sampai istrinya merasa perlu melongok ke ruang tamu. Pengen tahu siapa yang tertawanya seperti Werkudara itu. Bapaknya Gatot Kaca, si otot kawat tulang besi.


Mereka pun menuju rumah Hazri naik mobil Jeep-nya Sukoco. Di situ ada dua orang lagi semodel Sukoco. Katanya, muridnya.


Sementara itu, di sana Hazri dan Faruq sedang muthalaah ilmu seperti biasa. Sudah setengah tahunan Faruq memperjalankan ruhaninya menuju Kesejatian dengan bimbingan Hazri. Dzikir Cahaya pun pelan-pelan mulai meresap ke dalam kalbunya. Walau masih berkutat pada pengertian, namun Faruq telah bisa menghayati makna perbedaan antara ilmu dan pengertian. Itu tahap awal untuk bisa memahami sejati diri agar mampu mengenal Tuhan. Seperti juga Hazri dulu.


“Kita akan kedatangan tamu,” kata Hazri pelan. “Sebentar lagi tiba.”


“Siapa, Pak Haji”


“Tamu jauh.”

__ADS_1


Faruq manggut-manggut.


“Sebentar ya, saya mau kasih tahu Ami.”


Hazri keluar untuk memberi tahu istrinya.


“Dek...,” dia membangunkan istrinya yang tiduran di samping si Fia yang sudah tidur pulas.


“Iya, Mas?” Ami langsung bangun.


“Dek, mau ada tamu. Tapi, Adek di kamar saja, jangan keluar sampai Mas panggil.”


“Lho? Kenapa, Mas?” Ami jadi agak cemas.


“Nggak, nggak apa-apa. Cuma tamu. Pokoknya begitu saja ya?”


Walau masih penasaran, namun Ami mengangguk. “Hati-hati, Mas.


“Insya Allah. Sudah ya, Mas balik ke sana.”


Ami mengangguk lagi. Hazri pun kembali ke ruang dzikir.


Tidak lama kemudian. “Assalamu’alaikum, Pak Haji...?” suara Karno.


“Wa’alaikum salam,” sahut Hazri. Bersama Faruq dia beranjak ke teras depan. Faruq yang membuka pintu.


“Wah, ada Pak Ustadz ternyata,” Karno mesem, Faruq juga.


Hazri nongol. “Pak Karno? Sudah damai nih? Hehehe... .. Sama siapa?”


Karno pun tertawa kecil. “Ini, Pak Haji, saya mengantar Pak Sukoco dari Banyuwangi, mungkin mau ketemu Pak Haji maksudnya.”


“Ooh...,” Hazri memandang Sukoco dengan senyum.


Sukoco yang dari awal tiba sudah mengamati Hazri itu pun mendekat. “Saya Sukoco dari Padepokan Manggala Yuda Banyuwangi. Saya murid almarhum Kiai Darmo. Saya menerima wangsit beliau untuk menemui Ki Mahmud Tidar,” katanya dengan suara berat Werkudara-nya itu.


Hazri tersenyum. Dia tahu Sukoco memakai tenaga dalam. Dari pantauannya, tenaga dalam Sukoco setingkat dengannya dulu. Ajiannya, entah apa namanya, juga setara ‘Cakra Buana’. Garis wajah Sukoco keras, namun menyiratkan keramahan. Ciri khas pendekar hikmah kelas tinggi. Hikmah adalah ilmu kanuragan berdasarkan Kalamullah tapi masih senang berjin-jin. Belum ketemu tauhid murni. Mudah-mudahan masih mencari, tidak terhijab sampai di situ.


“Silakan duduk, Ki Sukoco,” kata Hazri.


Sukoco tidak menolak, dia sudah punya rasa kalau orang di depannya ini bukan sembarangan. Mereka pun duduk di kursi teras. Hazri, Sukoco, Faruq, dan Karno. Dua murid Sukoco duduk di bangku taman sebelah sana. Walau samar, Sukoco jelas gelisah. Tapi, cuma Hazri yang tahu ini. Faruq dan Karno tidak paham.


“Kenapa pengawalnya Ki Sukoco? Tidak mau masuk?” tanya Hazri.


Sukoco terkesiap. Dia memang gelisah gara-gara empat pengawal gaibnya tidak berani mendekat. Berkerumun di atas batu besar di luar batas halaman rumah ini. Tapi, dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Hazri.


Lewat batin, Hazri memanggil keempat pengawal gaib Sukoco yang penampilannya seperti prajurit kerajaan zaman dulu itu. Keempatnya pun mendekat dengan takut-takut. Sukoco benar-benar kaget. Dipanggil-panggil olehnya dari tadi, keempat pengawal gaib itu keukeh menolak. Giliran dipanggil sekali saja oleh Ki Mahmud Tidar, nurut semua. Maju serentak walau takut-takut.


Kepada mereka, para makhluk tanpa jasad kasar itu, Hazri memberi izin kalau sekiranya mau ikut bergabung di sini. Tapi, mereka menolak. “Ampun, Panembahan, biarlah kami di sana,” kata salah satunya yang paling berwibawa. Keempatnya lalu membungkuk hormat tiga kali. Tentunya kepada Hazri, Sukoco, dan entah siapa satu lagi. Sreset..., sekelebat mereka sudah balik lagi ke atas batu itu.


Hazri menoleh ke belakang, lalu terkekeh pelan. Pantas Sukoco melotot terus. Ternyata, di belakang Hazri berbaris sepuluhan jin yang penampilannya seperti ustadz atau kiai bangsa manusia. Berjubah putih, bersorban, dan bertasbih. Serentak mereka menghormat kepada Hazri. Hazri pun membalasnya. Mereka inilah yang ketiga dihormati oleh para pengawal gaib Sukoco tadi. Para jin muslim itu berkata siap membantu Hazri jika diperlukan.


Hazri berterima kasih, namun meminta para pengawal gaib sukarelanya itu untuk menyingkir. Ini urusan bangsa manusia, katanya. Mereka pun menuruti perintah Hazri, tapi tidak pergi jauh. Bersila mengapung di depan pintu pagar halaman rumah ini sambil memandangi para jin Sukoco itu, yang dipandangi jadi salah tingkah. Sudah tamu, kalah karisma pula. Hazri pun terkekeh lagi. Benar kata Pak Subakir dan Kang Soleh, tingkah mereka layaknya manusia. Cuma syariatnya tidak kelihatan dalam pandangan mata zhahir. Harus pakai bashirah alias mata hati.


Semua adegan ini terpampang dalam dimensi alam lain tentunya. Dan, hanya berlangsung sekejap. Faruq dan Karno tidak tahu. Kedua murid Sukoco sepertinya juga belum sampai pada tingkatan ini. Hanya Hazri, Sukoco, dan para jin itu yang tahu persis apa yang barusan terjadi.


“Pengawal yang mana, Pak Haji? Itu muridnya Pak Sukoco kan sudah masuk dari tadi?” tanya Karno bingung. Faruq juga.


“Oo iya. Lupa saya...,” kilah Hazri mesem.


Sukoco meringis.


“Nah, Ki Sukoco, apa yang bisa saya bantu?” tanya Hazri.


Sukoco menghela napas. Dia sudah yakin kalau yang di depannya ini adalah Ki Mahmud Tidar. “Begini, Adimas, saya menerima wangsit dari almarhum guru saya, Kiai Darmo untuk perang tanding melawan Ki Mahmud Tidar. Jika saya kalah, maka saya harus berguru kepadanya. Kalau saya menang, maka tidak ada apa-apa,” katanya.


Hazri tersenyum dipanggil ‘adimas’ oleh Sukoco, seperti di alam pewayangan. Adik, maksudnya. Dari tampilan fisiknya, umur Sukoco memang di atas Hazri. Kira-kira seangkatan Pak Subakir-lah.

__ADS_1


“Memangnya Pak Haji ini Ki Mahmud Tidar?” Karno bertanya lagi. Bawel


“Eemm, seseorang pernah memanggil saya dengan sebutan itu,” jawab Hazri. Pak Subakir yang dulu pernah mengucapkannya.


“Sudah jangan banyak tanya, Pak Karno. Lihat saja,” tegur Faruq.


Spontan diam Karno ditegur langsung oleh Faruq ini. Berusaha diamlah dia.


“Berarti benar saya berhadapan dengan Ki Mahmud Tidar?” tanya Sukoco.


Hazri mengangguk pelan.


Sukoco pun mengangguk-angguk. Lega bisa berjumpa orang yang diwangsitkan gurunya itu. “Begitulah saya menerima amanat guru saya. Sebagai sesama pendekar, saya tahu Adimas pasti memakluminya.”


Hazri mengangguk lagi. Tentu paham. Sama sih pengalamannya.


Karno menahan hati agar tidak keceplosan bertanya soal pendekar itu. Masalahnya Faruq melotot. Bulat betul matanya.


“Kapan kiranya Adimas siap?” tanya Sukoco.


“Kapan Ki Sukoco siap,” jawab Hazri.


Sukoco mengangguk-angguk. “Lewat tengah malam nanti. Di sini.”


Hazri mengangguk.


Faruq terus memelototi Karno yang terlihat grusak-grusuk duduknya. Menahan hati agar tidak bertanya. Karno memang penasaranan orangnya. Susi yang ‘begitulah’ itu pun dicobanya. Penasaran, katanya ke Hazri waktu ditanya kenapa.


“Pak Sukoco mau kopi?” tanya Faruq setelah melirik arlojinya. Masih satu sejam lagi untuk sampai tengah malam.


“Boleh, boleh. Hohoho...,” Sukoco tertawa.


Busyet. Faruq dan Karno kembali terkesiap. Ami yang sayup-sayup menyimak dari kamar pun terpana. Manusia apa yang suara tawanya seram begitu? Belum tahu dia kalau suaminya bisa lebih ‘hohoho’ daripada itu kalau mau.


“Ayo, Pak Karno, bantuin...,” Faruq menarik tangan Karno.


Terpaksa Karno ikut karena Faruq tidak melepaskan pegangan tangannya.


Di dapur, sambil merebus air, Faruq meminta Karno untuk tutup mulut atas apa pun yang mungkin bakal dilihatnya nanti. “Pokoknya kita diam. Jangan ngomong siapa-siapa. Pasti Pak Haji marah besar kalau kita koar-koar. Pak Karno sudah pernah lihat Pak Haji marah belum?” tanya Faruq.


Karno menggeleng.


“Nah, jangan sampai lihat...,” gertak Faruq. Padahal, dia juga belum pernah melihat Haji Mahmud marah. Kapan? Yang harusnya marah pun dia malah tertawa.


“Memangnya Ustadz pernah lihat?” Karno penasaran.


“Pokoknya jangan. Huh, jangan sampailah,” gertak Faruq lagi.


Karno percaya. Kalau sampai dipecat jadi komisaris, bisa gawat dia.


Ami yang mendengar suara-suara di dapur pun menuju ke sana, “Pak Ustadz, Pak Karno? Sedang apa?”


“Biasa, Mbak, bikin kopi,” Faruq yang menjawab.


“Mari saya bikinkan,” Ami mengambil alih pembuatan kopi ini. “Siapa sih tamunya Pak Ustadz? Kok serem banget suaranya?”


“Memang serem, Mbak...,” celetuk Karno.


“Nggak ah, biasa-biasa saja. Orangnya gede, jadi suaranya juga gede. Akrab tuh sama Pak Haji,” timpal Faruq sambil menyikut pelan Karno.


“Mas Mahmud nggak apa-apa?” tanya Ami lagi.


“Ya nggak apa-apalah. Memangnya kenapa, Mbak?” Faruq menetralisir.


Ami pun menggeleng. Percaya dia kepada Faruq. Masak Ustadz ngibul?


Akhirnya kopi pun siap. Enam gelas dan seteko penuh, kue-kuenya juga ada. Faruq dan Karno balik ke teras. Ami kembali ke kamar si Fia.

__ADS_1


__ADS_2