Jalan Pulang

Jalan Pulang
99. apa kabar?


__ADS_3

Usai shalat subuh, Faruq langsung pulang ke rumahnya. Hazri, Komeng, dan Juki pun kembali ke vila hutan. Tampak Huda duduk di teras depan menyeruput kopi. Pakai sarung, sepertinya usai shalat subuh juga dia.


“Wah, saya ketinggalan ya. Kenapa nggak dibangunkan, Meng?” tanya Huda selepas mereka saling beruluk salam.


Komeng meringis. “Maaf, Cak. Habis pulas betul Cak Huda tidurnya. Ngoroknya nggak putus-putus,” katanya.


Hazri tertawa kecil.


“Kok tahu aku ngorok terus? Apa kau belum tidur?” tanya Huda lagi.


Komeng menggeleng. “Sekarang baru terasa ngantuk.”


“Busyet, ngapain aja semalaman?”


“Ngobrol sama Pak Haji.”


“Benar nih? Nggak keluyuran?”


Hazri dan Komeng sama-sama tertawa.


“Keluyuran ya? Nggak ngajak-ngajak aku?” cecar Huda.


“Mau keluyuran ke mana hutan begini. Ngobrol di sini saja sama Pak Haji. Tuh, tanyain ke Juki,” jawab Komeng sambil menunjuk Juki yang muncul membawa dua gelas kopi panas. Untuk Hazri dan Komeng.


“Benar, Juk? Nggak ke mana-mana Pak Haji tadi malam?” tanya Huda.


Juki menggeleng. “Di sini. Keluar tadi shalat subuh.”


“Oo ya udah. Kukira nggak ngajak-ngajak...,” Huda tertawa.


Hazri terbahak. “Haji, Haji.... Kelakuan kok konsisten begitu.”


Komeng ikut terkekeh. Sudah maklum sifat playboy kakak iparnya ini.


Selanjutnya, mereka pun ngobrol ringan sampai matahari terbit di ufuk timur. Semburan jingga kemerahan yang seolah memancar dari balik Gunung Tidar itu sungguh indah. Butir-butir embun di pucuk daun dan rerumputan seolah berlomba kerlap-kerlip membiaskan sinar lembut sang surya. Burung-burung pun ramai bercuat-cuit. Dulu Hazri selalu kagum pada keindahan suasana alam seiring terbit dan terbenamnya matahari. Sekarang pun tetap demikian. Namun, tidak berhenti hanya sampai di situ, lanjut kepada Penciptanya.


Jangankan yang indah-indah, abu rokok di asbak pun sanggup membuat Hazri menangis mengakui kekuasaan Sang Maha. Bayangkan, bahkan manusia terpandai di dunia pun tidak akan sanggup menciptakan secercah abu rokok walau didukung dana tak terbatas. Menciptakan, bukan sekedar mengubah. Ciptakan dari tidak ada menjadi ada, bukan sekedar mengubah bentuk dari yang telah tersedia. Lewat secuil titipan Kodrat dan Iradat-Nya, manusia memang diberi kemampuan mengubah dimensi wujud apa-apa yang telah disediakan-Nya. Kalau perlu mengubah seluruh alam. Kemampuan ini sungguh amanah Ilahi yang mahaberat. Pantaslah jika semua makhluk menolak saat ditawari kecuali anak cucu Adam. Lupa mungkin kalau itu semua tidak gratis. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban.


Komeng sudah tidak kuat menahan kantuknya. Setelah sarapan pagi, dia pergi tidur. Hazri masih segar bugar. Tidak tidur semalam bukan persoalan baginya. Kuat bahkan sampai tiga hari tiga malam. Sejak melakukan perjalanan ruhani, nafsu tidur Hazri memang merosot drastis. Apalagi sekarang setelah menjadi mursyid. Kalaupun tidur, hanya sebentar di antara bakda ashar sampai menjelang maghrib. Selanjutnya, terjaga penuh sepanjang malam. Berasyik masuk dengan-Nya. Soal makan juga sama. Cukup sehari sekali tanpa jadwal pasti. Dia makan kalau sudah benar-benar lapar dan berhenti sebelum kenyang, sebagaimana dicontohkan Baginda Rasul. Makanya badan Hazri sekarang langsing dan segar. Tidak ada penyakit aneh-aneh..


Hazri pun mengajak Huda melihat-lihat peternakan merpati. Jam begini para pekerja pasti sudah memulai aktivitasnya. Kagumlah Huda melihat burung merpati bejibun begitu. Kemarin waktu tiba, dia memang diberi tahu warga kalau Haji Mahmud adalah juragan merpati. Tapi, tidak menyangka sebanyak itu.


“Mau dijual ke mana ini?” dia bertanya.


Di hadapan mereka tampak puluhan anak buah Marno sedang memilah-milah entah berapa banyak merpati potong siap jual hari ini.


“Tunggu saja sebentar...,” jawab Hazri.


Tidak berapa lama kemudian berdatanganlah para pembeli. Ada yang naik motor, ada juga yang pakai mobil bak untuk partai besar. Ramailah transaksi. Pembeli datang dan pergi, merpati pun datang dan pergi. Kejar-kejaran. Huda melongo melihat pasar kaget itu. “Busyet...,” gumamnya pelan geleng-geleng kepala.


“Maaf, Pak, maaf.... Habis. Sudah habis untuk hari ini!” seru Marno. Padahal, masih banyak calon pembeli di situ. Langsung ramailah protes mereka. “Pak Marno, saya belum kebagian nih...,” seru salah seorangnya. “Saya juga..., saya juga...,” sahut yang lain. Marno dan Sugeng pun sibuk memberi pengertian kepada mereka. “Besok, Pak, insya Allah. Datangnya pagi-pagi ya,” kata Marno. “Boleh kita pesan dulu nggak, Pak?” tanya salah seorang mereka. Marno menolak, tidak mau ambil resiko. “Datang pagi-pagi saja ya, Pak. lnsya Allah, besok kebagian,” jawabnya.


“Busyeeet...,” Huda bergumam lagi.


Hazri mesam-mesem, lalu mengajak Huda masuk ke rumah bilik bambunya. “Marni, tolong sediakan kopi sama bawakan kue-kue ke sini ya,” katanya ke Marni yang sekarang sudah jadi Bu Marno itu. Pengantin baru, baru dua bulan.


“Baik, Pak Haji,” jawab Bu Marno ini.


Mereka pun duduk di sofa biru murah meriah yang dulu. Tidak ada perubahan rumah ini. Cuma diurus dengan baik oleh manajemen CV Marno Sugeng Doro sesuai amanat Haji Mahmud. Ada anggarannya untuk itu.


“Ke sudut itu, Hud...,” Hazri membuka obrolan.

__ADS_1


“Kenapa?” Huda menoleh ke arah sudut ruangan yang ditunjuk Hazri.


“Ke situ kepalanya mister Day nggelinding....”


“Hah?” Huda terlonjak bangkit dari duduknya. Posisi dia memang lebih dekat ke sudut ruang itu daripada Hazri. Pindah ke kursi yang lain.


Hazri terkekeh. “Di situ aku memenggalnya...” dia menunjuk posisi tempat duduk Huda yang sekarang.


“Busyet!” Huda langsung bangkit dan pindah ke sofa panjang bersama Hazri. “Hayo, apa lagi di sini?” Miris dia.


Hazri terkekeh lagi. “Nggak, nggak. Aman,” katanya. Padahal kira-kira di situ dulu dia membungkus mayat Day. Seluruh area ruangan ini memang pernah berdarah-darah. Mau gimana lagi? Itu yang terjadi.


Hazri pindah duduk ke kursi yang pertama diduduki Huda saat Marni datang membawakan pesanannya.


Huda mengamati istri Marno itu. “Dek, punya kakak nggak?”


Nyeletuk dia.


Hazri langsung tertawa. “Haji Huda ini senang bercanda, Ni, maklum pelaut. Kamu kalem saja ya.”


Marni tersenyum manis. “Permisi, Pak Haji, Pak Haji Huda...”katanya, lalu beranjak balik.


Obrolan berlanjut. Hazri menanyakan keadaan Haji Sulton sekeluarga.


“Baik-baik semuanya. Haji sehat, Umi sehat.”


Hazri manggut-manggut.


“Haji sering ngomongin kau, Rif...,” sambung Huda.


“Ooh ya?” Hazri memandang Huda.


Huda mengangguk. “Apalagi akhir-akhir ini. Katanya dia pernah mimpi ketemu kau pakai jubah, hehehe..”


“Katanya sih jubah putih. Mungkin model bajunya kiai gitulah.”


Hazri menghela napas. “Rindu benar aku sama Haji Sulton...”


Huda ikutan menghela napas. “Untung masih bisa kutahan nggak cerita tentang kau padanya. Sampai mau jebol rasanya dada.”


“Jadi, kisahku belum bocor?”


“Belum, masih aman. Cuma tumpah sedikit ke Komeng,”


Hazri manggut-manggut. Kepalanya agak menunduk.


“Diani sama Rianti sudah nikah tuh...,” Huda menyebut nama putri keempat dan kelima Haji Sulton. Adik-adik iparnya.


Hazri mendongak. “Oya? Habis dong?”


“Hehehe..., belum, yang ketiga masih menunggu.”


“Ria? Belurn nikah dia?”


Huda menggeleng. “Masih kayak dulu. Setia menantimu.”


“Ah, jangan bikin fitnah, Hud. Bahaya itu...”


“Fitnah apa? Umi yang bilang ke aku.”


Hazri terdiam. “Setiap aku mau berlayar, Umi selalu pesan supaya aku cari kabar tentang kau. Di Jogja atau di mana kek, terserah. Ada Haji Sulton ikut dengar. Kebayang nggak perasaanku? Itu makanya aku nekat nyari kau walau entah di mana. Sampai nyasar ke kampung ‘jiong’ segala.”

__ADS_1


Hazri makin terpekur. Mengembalikan segala hak kepada PemilikNya. Tasbih merah marun itu dipilin-pilin syahdu. Hening jadinya ruangan itu. Agak lama.


“Rif...,” kata Huda setelah beberapa saat. “Kau nggak apa-apa?”


Hazri menggeleng sambil tersenyum. “Terus gimana kelanjutannya?”


“Masih mau tahu?” tanya Huda.


Hazri mengangguk.


“Ya begitulah. Ria yakin nunggu, sementara Haji dan Umi gelisah ngitung waktu. Terutama Umi. Sekarang kan Ria sudah hampir kepala tiga, dua tahunan lagi. Teman-teman mainnya dulu sudah pada ngantar anaknya sekolah ke TK. Susah ditahan, bisik-bisik pun menyebar. Perturi katanya...”


“Apa perturi?” tanya Hazri.


“Perawan Tua Republik Indonesia..”


“Ahh...,” Hazri mendesah pelan sambil geleng-geleng kepala.


“Tapi, soal cantik, Rif, permanen. Tetap dia paling cantik di antara saudaranya. Kalau kataku malah lebih cantik sekarang. Dewasa, tenang sikapnya.”


“Sekarang situasiku begini. Mesti gimana menurutmu?”


“Itulah. Aku juga bingung dari kemarin. Entahlah...”


Hazri tersenyum. “Ya sudah. Kita kembalikan saja ke Allah ya?”


“He-em...,” Huda mengangguk-angguk.


“Tahu kabar keluargaku?” Hazri bertanya menyeruput kopinya.


“Kemarin di sana aku singgah makan di restorannya Siti, bereng istri dan anak-anak. Wah, kaget aku. Maju, Rif, ramai sekali.”


“Alhamdulillah...,” Hazri bersyukur. “Ketemu sama Siti?”


Huda mengangguk. “Udin juga ada di situ. Sudah kepala sekolah dia”


“Oya? Di mana? Di SMP-nya itu?”


Huda, menggeleng. “Di SMP lain, tapi masih di Jombang.”


Hazri menghela napas. Panah rindu menyergap.


“Kata istriku, ceritanya dari Siti, Emak baik-baik saja. Radang paru-parunya jarang kambuh. Cuma sering nangis ingat kau. Siti nanya ke istirku kalau-kalau aku tahu kabarmu..”


Hazri kembali menghela napas, matanya agak berkaca-kaca.


“Rif, apa sekarang kau masih buronan?” Huda berbisik.


Hazri terdiam sejenak. “Masih...”


Huda pun menghela napas panjang. Berarti dia masih harus menyembunyikan informasi tentang keberadaan sahabatnya ini.


“Sampai kapan, Rif?” Huda bertanya masygul.


Hazri memandang Huda. “Sampai Allah berkenan...,” jawabnya pelan.


Obrolan berlanjut hingga terdengar lantunan adzan zhuhur dari masjid. Hazri dan Huda pun menuju ke sana. Usai shalat zhuhur, mereka kembali ke rumah hutan. Tampak Komeng sedang akrab dengan si Fia di halaman samping. Main kejar-kejaran sambil tertawa-tawa riang.


Bakda ashar, Huda dan Komeng pamit balik ke Semarang. Mereka akan berlayar lagi besok sore. Hazri melepas kedua sahabatnya itu dengan syukur. “Meng, pegang teguh tarekatmu. Istiqamah dzikir Cahaya. Jangan relakan sedetik pun waktumu lepas tanpa ingat kepadaNya...,” bisik sang Mursyid. Komeng mengangguk mantap. “Baik, Pak Haji. Terima kasih,” ucapnya pelan.


“Dadah..., Om Uda, dadah..., Om Meng...,” si Fia melambai tangan ke arah mobil yang pelan-pelan beranjak itu. “Ecok maen agi ya...,” teriaknya cadel. Huda dan Komeng membalas. lambaian tangan kecil itu sambil tertawa.

__ADS_1


Hazri menghela napas saat Kijang hitam lenyap ditelan tikungan bawah sana. Ya Allah, terima kasih telah Engkau izinkan mereka menengokku di sini. Kapan yang lainnya?’ “Hehehe...,” Hazri terkekeh sendiri.


Ami dan si Fia saling memandang heran....


__ADS_2