Jalan Pulang

Jalan Pulang
65. biji kauka


__ADS_3

Kapal terus melaju, baru dua hari dan prakiraan empat hari pelayaran menuju Semarang. Hazri menghampiri Komeng yang sedang mencuci baju bersama beberapa ABK lain, pakai air hujan yang dirampung semalam.


“Sibuk, Meng?” Hazri menyapa.


“Nggak, Pak. Cuci-cuci saja mumpung ada air.”


“Eh, Meng, kamu punya tasbih?” Hazri bertanya. Soalnya, Syekh Atha‘illah banyak menyinggung dzikir dalam kitabnya. Sepengetahuan Hazri, dzikir afdhalnya pakai tasbih. Seperti yang biasa dilakukan para ustadz atau kiai.


“Ada, Pak. Banyak.”


“Boleh pinjam satu?”


“Sebentar...,” Komeng beranjak ke kabin ABK, lalu muncul lagi membawa kantong kain kecil. “Ini Pak, pilih saja.”


Banyak juga ternyata koleksi tasbih Komeng, tidak kurang dari dua puluh lima untai. Kebanyakan dari plastik yang modelnya bagus-bagus. Ada beberapa dari kayu, atau biji-bijian. Ada juga yang baru warna-warni seperti akik. Hazri memilih-milih, Komeng nongkrong di dekatnya. “Ini bagus,” dia memilihkan satu yang terbuat dari keramik. Modelaya memang bagus.


“Yang ini apa, Meng?” Hazri meraih seuntai tasbih dari biji-bijian hitam yang agak kumel penampilannya.


“Itu biji kauka. Katanya, dulu para wali pakai tasbih kayak begini,” Komeng menjelaskan. “Bagus itu, Pak, bisa mengkilat kalau dipakai terus. Cuma, mesti terus dipakainya. Ditinggalin sebentar, bulukan kayak gitu.”


Hazri mengamati tasbih bulukan itu, seperti ditumbuhi jamur halus. Kelihatannya memang mudah berjamur karena asalnya dari biji-bijian. “Apa tadi namanya?” dia bertanya lagi.


“Kauka, Pak”


Hazri manggut-manggut. “Kauka...,” gumamnya pelan. Tasbih itu pun digosok-gosok pelan memakai jari, ternyata bulukannya mudah lepas. Benar kata Komeng, aslinya biji-bijian ini punya dasar untuk bisa mengkilat.


 “Makin dipakai, makin mengkilat. Bisa sampai jernih kayak kaca....” Komeng menjelaskan tanpa diminta.


Hazri manggut-manggut lagi. “Aku pinjam yang ini saja.” Dia memilih tasbih biji kauka itu.


“Buat Pak Arif saja kalau mau.”


“Boleh nih?”


Komeng mengangguk tulus.


“Makasih, Meng.” Hazri segera merogoh kantong celananya. Entah berapa uang di situ diremasnya Lalu diselipkan cepat ke kantong baju Komeng. “Jangan nolak, aku juga tulus...,” katanya sebelum Komeng sempat berkata-kata.


Komeng meringis. “Makasih, Pak,” katanya.


“Sama-sama,” balas Hazri.


Komeng pun balik ke tempat cucian sambil cengar-cengir. Senang dia barusan dapat duit dari langit. Hazri melihat Huda muncul dari kabin dan langsung menuju anjungan. Dia pun beranjak ke sana sambil membawa tasbih dan kitabnya.


“Wah, makin bahaya.... Ada tasbihnya sekarang.” Huda bercanda menyambut kemunculan Hazri di anjungan. Hazri mesem saja. “Dapat dari mana?”


“Dikasih Komeng,” jawab Hazri.


“Tasbih apaan tuh? Coba lihat..”


Hazri menyerahkan tasbihnya ke Huda. “Busyet, kauka ya?” Huda agak kaget. Tahu juga ternyata dia biji kauka.


“Iya, kata Komeng tadi.”


“Tasbih langka ini, kayak punya Haji. Kok Komeng nggak ngasih aku ?”


“Lain dong. Aku kan sahabatnya, kau juragannya...,” canda Hazri.


“Ah, sialan Komeng ini...,” Huda pun melongok keluar anjungan. “Meng! Sini Meng...,” dia memanggil.

__ADS_1


Hazri diam saja sambil cengengesan.


Komeng bergegas menghampiri. “Ada apa, Pak Haji?”


“Masuk, Meng...,” kata Huda.


Komeng pun masuk ke anjungan. Hazri masih cengengesan.


“Meng, kok kamu nggak kasih aku tasbih kauka kayak Pak Arif?” Huda langsung menyerang.


Komeng kaget. “Wah, saya nggak tahu Pak Haji mau. Tadi Pak Arif yang minta...,” jawabnya.


“Masih ada nggak? Aku juga mau dong...,” pinta Huda.


“Nggak ada, Pak Haji, cuma satu itu. Ada juga yang lain.”


“Kauka juga?”


“Bukan sih.”


“Nggak ah, aku mau yang kauka. Dapat dari mana sih?”


“Dikasih Ustadz saya di kampung.”


“Oo..., kampungmu Banten, kan?”


Komeng mengangguk.


“Di sana ada yang jual nggak?”


Komeng menggeleng. “Setahu saya jarang, Pak Haji. Yang punya orang-orang tua, paling dijual kalau butuh uang. Katanya pohonnya ada di gunung kalau mau nyari, tapi banyak enyengnya....”


“Itu, Pak, maung jajaden, harimau siluman. Tapi, wallahua'lam lah.”


Hazri dan Huda manggut-manggut mendengar penjelasan Komeng.


“Gini aja, Meng, nanti kalau cuti coba kau tanya-tanya di kampungmu, siapa tahu ada yang mau jual tasbih kauka. Kalau kebetulan ada, cepat kasih tahu aku. Bisa, kan?” tanya Huda.


Komeng mengangguk.


“Katanya biji kauka ada yang hitam, merah, sama merah kehitaman ya?” tanya Huda lagi.


“Iya, Pak Haji. Yang merah masih muda, yang hitam kayak punya Pak Arif itu sudah tua. Yang merah kehitaman tengah-tengahnya, sedang. Kalau sudah jadi, sudah mengkilat, yang merah kehitaman paling bagus dilihat. Cuma, yang itu paling susah didapat...,” jawab Komeng,


Huda dan Hazri manggut-manggut lagi.


“Mau warna apa aja asal kauka, kasih tahu aku. Syukur-syukur kalau ada yang merah kehitaman,” tegas Huda.


“Baik, Pak Haji, nanti saya tanyakan.”


Komeng pun permisi, kembali ke cuciannya.


“Kalau kau mau tasbih ini, Hud?” tanya Hazri selepas Komeng pergi, sambil menyodorkan tasbihnya.


“Eeist.... Mau sih mau, tapi bukan ngambil punya sahabatku.” Huda menolak pemberian Hazri. “Lagian aku kan sudah pesan ke Komeng, merah kehitaman kalau ada, hehehe.... Yang paling galak enyengnya.”


Hazri jadi ikut tertawa ringan.


Mereka ngobrol sebentar, lalu Huda kembali konsentrasi pegang kemudi. Hazri duduk di sebelahnya, asyik memilin tasbih barunya. Sejam kurang lebih. Setelah dirasa cukup, dia mengalungkan tasbih ke leher lalu membaca kitab.

__ADS_1


“Buku apa tuh? Jelek amat?” komentar Huda. Baru ngeh dia, padahal sudah dua hari harusnya lihat buku itu dibawa-bawa Hazri.


“Hehehe.... Jelek luarnya, dalamnya wah. Lihat nih...,” Hazri membuka halaman yang pertama dia baca saat buku itu terjatuh dulu.


Huda membacanya. Dan, kagetlah dia. “Buku apa ini?”


“Bukumu...,” jawab Hazri. “Al-Hikam, Syekh Ibnu Atha’illah”


Huda membuka-buka kitab itu. “Oo..., bukunya Haji Sulton nih. Dulu dikasih ke aku menjelang nikah. Katanya dia nggak paham, siapa tahu aku bisa ngerti. Kubaca-baca susah, apa maksudnya? Emang kau paham isi buku ini, Rief?”


Hazri menggeleng. “Sama, aku juga bingung. Tapi, walau nggak paham aku bisa merasakan kebenarannya.”


Huda manggut-manggut. “Bagaimana bisa merasakan kalau nggak paham?”


Hazri menggeleng lagi. “Entahlah, terasa saja begitu. Emangnya kau nggak? ”


Huda garuk-garuk kepala. “Nggak tuh. Kubaca bolak-balik tetap nggak ngerti, ya sudah.., kututup. Boro-boro ngerasain kebenaran. Lupa nyimpannya iya. Ketemu di mana sih buku ini? Sudah lima tahun lebih...”


“Di laci mejamu. Jatuh sendiri waktu lacinya mau kubersihkan.”


“Laci majalah-majalah itu?”


“lya.”


Huda mengangguk-angguk Jalu meringis. “Siapa yang kasih baju kayak gini?”


“Aku,” Hazri agak mesem.


“Bagus, kayak bajunya mister Flinstone...,” canda Huda.


Mesem Hazri makin lebar. Ingat film kartun ‘The Flinstones’ yang settingnya zaman purba itu. Sialan.


“Coba ini, Rief, ‘Allah ada di mana-mana tapi nggak ke mana-mana’. Menurutmu gimana maksudnya itu?” tanya Huda.


Hazri menggeleng. “Aku nggak tahu.”


Mereka berdua pun manggut-manggut bingung.


“Coba, coba. Kalau ada di mana-mana, pastinya ke mana-mana dong. Iya, kan? Masak nggak ke mana-mana? Bisa saja kalau banyak, tapi Allah kan Satu...,” gumam Huda.


Hazri diam menyimak. Dia benar-benar tidak tahu


 “Ada di mana-mana, nggak ke mana-mana. Gimana itu?” Huda bergumam lagi. “Ini juga coba, ‘tidak di atas tidak di bawah’. Nah apalagi itu?”


Hazri tersenyum. Iya, apa maksudnya?


“Kalau nggak di atas nggak di bawah, terus di mana? Di rengah? Tadi katanya ada di mana-mana, sekarang malah nggak di atas nggak di bawah. Gimana sih?” Huda nggerundel bingung. “Pusing lagi aku, kayak dulu..”


“Sudah, sudah, Kalau pusing jangan diterusin,” Hazri mesem.


“lyalah. Pecah kepalaku nanti.” Huda mengembalikan kitab itu ke Hazri. “Tapi bener lho, kalau kau bisa paham tolong kasih tahu aku pakai bahasa Jawa. Biar gampang...,” katanya bercanda.


“Siap, Bos. Pakai bahasa tarzan juga boleh, hahaha...”


Mereka pun tertawa-tawa..


Secuil Kopi


__ADS_1


Kayu Kaukah (bahasa inggris : kokka wood) merupakan sebuah jenis kayu yang digunakan sebagai material dalam pembuatan aksesoris, seperti gelang, tasbih, cincin, dan pernak-pernik berbahan kayu lainnya. Kayu Kaukah berasal dari 2 (dua) jenis tanaman yang berbeda, yaitu Pohon Baobab (bahasa latin : Adansonia digitata L.) dan Pohon Palem Piassava (bahasa latin : Attalea funifera) yang lazim dikenal sebagai Kelapa Arab atau Coquilla Nut. Warna yang dihasilkan oleh Kayu Kaukah untuk aksesoris sangatlah beragam, ada yang berwarna merah gelap, coklat, coklat kekuning-kuningan, dan hitam. Wanginya pun sangat khas, serta dipercaya sebagai kayu yang memiliki kualitas cukup baik.


__ADS_2