Jalan Pulang

Jalan Pulang
48. sepasang mata berlian


__ADS_3

Subuh itu. Dewi sudah bangun. Dia memang terbiasa bangun subuh supaya cukup waktu untuk bersiap sebelum berangkat ke kampus. Usai mandi, Dewi menghidupkan televisi hadiah dari Hazri sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan menggunakan handuk. Berita pagi sebuah stasiun televisi menyiarkan peristiwa penyergapan polisi tadi malam, berikut kabar sekian banyak jumlah korban yang tewas maupun yang luka-luka dari kedua belah pihak. Dewi menyimak sebentar lalu bergedik melihat tayangan yang ditampilkan. Dia mencari saluran lain. Ternyata, hampir semua stasiun televisi saat itu sedang memberitakan peristiwa ini. Karena tidak suka, gadis ini mematikan TVnya lalu menyalakan sebuah radio. Sebuah lagu dari Shelia On 7 mengalun merdu...


Sesampainya di kampus pagi itu, teman-temannya sudah ramai bercerita tentang peristiwa yang diberitakan televisi pagi tadi. Jam kuliah memang belum mulai. Walau tidak suka, terpaksa Dewi ikut nimbrung di situ. Dia mendengarkan saja tanpa banyak berkomentar. Seorang teman laki-lakinya berkata bahwa kelompok preman yang diserang polisi tadi malam itu termasuk anak buah Hazri Tiger. Entah tahu dari mana dia. Ada yang sependapat, sebagian yang lain membantah. Polisi memang belum terang-terangan membuka informasi soal keterlibatan Hazri Tiger. Jadi, masih simpang siur beritanya.


Mendengar nama Hazri disebut-sebut, walau dengan tambahan ‘Tiger’, Dewi jadi kepikiran dengan Hazrinya. Sejak pulang dari Ambarrukmo Plaza waktu itu, dia belum bertemu dengan Hazri lagi. Rindu juga. Beringsutlah dia, menjauh dari kerumunan temannya yang sedang asyik ngerumpi. Lalu, menghubungi Hazri sambil duduk di kursi sudut ruangan kelas. Siapa tahu kekasihnya itu sudah bangun.


“Halo...” sapa Hazri dari seberang sana.


“Hai..,sedang apa jagoan? Kangen nih...,” balas Dewi.


“Lagi di jalan, habis membeli obat,” Hazri berkilah.


“Mas, sakit?”


“Nggak, cuma flu sedikit.”


“Ehm..., rumah Mas di mana sih? Nanti aku ke sana buat jenguk, Mas.” Dewi memang belum tahu rumah Hazri karena Hazri tidak pernah memberitahu atau mengajak Dewi ke rumahnya.


“Nggak usah. Kalau sudah mendingan, biar nanti aku yang nyamperin.”


“Beneran nih?”


“Iya...”


“Janji loh ya?”


“Iya janji...”


“Ya udah. Mas istirahat dulu, jangan lupa diminum obatnya.”


“Siap, nyonya....”


“Eh...satu lagi, nggak boleh keluyuran dulu.”


“Hehehe...iya.”


“Daahh...”


Hazri memang sedang di jalan. Dia sudah pergi dari losmen subuh tadi. Kira-kira sewaktu pasukan Fahmi mulai bergerak. Hazri sadar, dia mesti lebih waspada sekarang. Soalnya sebentar lagi dirinya pasti menjadi selebriti. Waktu check in tadi, dia sudah menggunakan KTP palsu yang nama dan alamatnya sudah diganti. Hazri memang punya beberapa kartu identitas palsu. Sesuatu yang gampang buat dia dapat asal punya uang. Waktu check out, dia letakkan saja uang dan kunci kamarnya di meja resepsionis, terus ngeluyur pergi. Resepsionisnya ada, cuma sedang ketiduran.


Belum jauh dari losmen, Hazri melihat ada sebuah salon yang sudah buka pagi-pagi buta. Ternyata, sedang dapat orderan ngedandanin rombongan pengantar calon pengantin. Dari situ dia mendapat tiga wig laki-laki dan beberapa kumis palsu. Barang bagus walau harganya dinaikan oleh si empunya salon. Tidak jadi masalah, Hazri memang perlu benda-benda itu untuk penyamaran. Waktu di telepon Dewi tadi, dia sendang keluyuran ngukur jalan. Putar-putar kota Solo sambil mutar otak menyusun rencana selanjutnya. Belum tahu dia kalau pagi menjelang siang itu Jogja sudah mulai gempar karena kejadian tadi malam.


Sementara, di Mapolda DIY, Fahmi baru saja keluar dari ruang kerja atasannya. Selesai melaporkan kejadian semalam. Dia langsung masuk kerja hari ini, tidak pulang dulu ke rumah. Di ruang kerja Fahmi tersedia kamar mandi, jadi dia tidak perlu repot-repot. Pakaian sergam ganti juga selalu siap tergantung di mobil dinasnya, untuk keperluan tugas mendadak. Istri sudah diberi tahu perihal ketidakpulangannya malam ini.


Atasannya tidak setuju rencana Fahmi menjadikan DPO Hazri langsung dalam sekala prioritas nasional. Dia memerintahkan agar pencarian Hazri intensif segera dilaksanakan di seluruh wilayah hukum Polda DIY, paling tidak sampai tiga hari kedepan. Kalau ternyata gagal, barulah skala DPO Hazri dinaikkan. Walau kurang sepaham dengan atasannya, Fahmi harus patuh kepada komando perintah yang diberikan.

__ADS_1


Pintu ruang kerja Fahmi diketuk. Seorang perwira bagian humas masuk memberi tahu Fahmi bahwa para wartawan sudah menunggu di ruang pers. Kapolda memerintahkan agar Fahmi langsung yang memberi keterangan. Fahmi menyanggupi, mereka berdua pun menuju ruang pers di lantai bawah gedung Mapolda. Benar saja, wartawan telah berkerumun begitu banyak di sana.


“Selamat siang, saudara-saudara. Saya Fahmi Putra, Ajun Komisaris Besar Polisi. Silakan jika ada yang ingin saudara tanyakan perihal kejadian tadi malam,” kata Fahmi membuka forum tanya jawab dengan para wartawan.


Sontak hampir semua wartawan dari berbagai media televisi dan koran itu mengacungkan jari sambil melontarkan pertanyaan.


“Harap tenang semuanya..., satu-satu. Silakan, Mbak, yang ada disana,” Fahmi menunjuk seorang wartawan muda berkerudung biru.


“Pak Fahmi, apa sebenarnya yang terjadi tadi malam?” tanya wartawan itu.


“Tadi malam, kami dari Mapolda DIY menggelar operasi penyergapan atas seorang tersangka kasus kriminal berat,” jawab Fahmi.


“Siapa, Pak, siapa pelakunya...?” tanya wartawan menyergap.


“Dia dikenal dengan nama Hazri Tiger, ketua geng Kopen.”


“Atas kasus apa, Pak?....kasusnya, Pak...,” mereka rebutan bertanya, kayaknya sudah susah diatur lagi.


“Diduga kuat yang bersangkutan terlibat peristiwa pembunuhan di Blandongan, sekaligus terlibat juga pada pembunuhan massal di Kampus Orange, dan kasus mayat di depan Kedubes Jepang beberapa waktu lalu...”


“Apa sudah tertangkap, Pak?”


“Belum. Dia berhasil meloloskan diri dari sergapan kami.”


“Kenapa polisi menyergap di dua lokasi sekaligus, Pak?”


“Apa itu markasnya geng Kopen?”


“Iya, sebagiannya. Hazri Tiger sering terlihat di sana.”


“Berapa jumlah anggota polisi yang diterjunkan, Pak?”


“Dua peleton. Satu peleton ke setiap target sasaran.”


“Berapa orang itu Pak?”


“Sekitar enam puluh orang.”


“Pak Fahmi, bagaimana bisa banyak korban dari pihak kepolisian?”


Fahmi diam sejenak sebelum menjawab. “Ya, memang banyak korban dari pihak kami. Tujuh belas orang polisi gugur, tujuh luka-luka. Dari pihak mereka tercatat tiga puluh sembilan orang tewas dan sebelas luka parah.”


“Kenapa bisa begitu banyak korban, Pak?”


Fahmi terdiam kembali. “Mereka melakukan perlawanan. Mereka pun mempunyai senjata api laras pendek maupun panjang. Bahkan, terdapat senapan mesin.” Fahmi akhirnya menjawab.

__ADS_1


“Apa tidak diantisipasi sebelumnya, Pak?”


“Sudah,” jawab Fami. “Akan tetapi itulah kenyataannya...,”


“Kami dengar tadi subuh juga ada penyergapan lagi. Apa itu benar, Pak?”


“Benar.”


“Targetnya siapa, Pak?”


“Target sama yakni Hazri Tiger...”


“Apakah tertangkap, Pak?”


“Belum. Dia tidak ada di lokasi.”


Fahmi melihat arloji, sengaja tangannya diangkat agak tinggi supaya wartawan melihat aktingnya. Maksudnya supaya mereka maklum kalau dia masih ada kerjaan lain. “Saudara-saudara, sementara cukup sekian dulu. Nanti akan kami informasikan kembali kalau ada perkembangan baru. Terima kasih.”


“Sebentar, Pak, sebentar, Pak...,” para wartawan ramai menahan kepergian Fahmi. “Terus, bagaimana kelanjutannya ini, Pak?” tanya salah seorang dari mereka.


Fahmi sulit bergerak dikepung begitu banyak wartawan. Terpaksa dia menjawab pertanyaan itu. “Kami akan terus mengejar pelaku...”


“Sampai kapan, Pak, sampai kapan itu...?”


“Sampai tertangkap. Cukup ya, mohon maaf..., mohon maaf. Saya harus kembali kerja...,” Fahmi memaksa keluar dari kepungan. Tiga anggota polisi membantunya memecah kerumunan.


“Pak Fahmi, Pak Fahmi..., sebentar, Pak. Pak Fahmi..., satu lagi...”


Para wartawan masih berusaha menahannya. Namun, Fahmi tidak bergeming, dia terus melangkah menerobos barikade mereka tanpa berkomentar hanya senyum kecut. Soalnya kalau sampai berhenti maka nyamuk-nyamuk pers itu akan segera menyergapnya kembali tanpa ampun.


“Huuuu....!” teriak para wartawan setelah melihat Fahmi semakin menjauh.


“Busyet. Pantas..., kudengar kalian di bagian humas sering darah tinggi.” katanya kepada perwira humas yang berjalan bersamanya. “Kukira bakalan mudah melawan mereka...,” sambungnya. Perwira itu tersenyum kecil. Di dekat tangga mereka berpisah, kembali ke ruang kerja masing-masing.


“Hazri? Benarkah itu kamu?” tanya wartawan muda berkerudung biru. Sebenarnya dia bukanlah wartawan, hanya tugas kuliah untuk magang menjadi wartawan.


Terlihat mata beningnya yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Mata yang berkilau bagaikan permata persis sama saat Hazri melihatnya dulu di depan ATM Kampus Putih....


Secuil Kopi



Dalam sejarah mencapai Indonesia merdeka, wartawan Indonesia tercatat sebagai patriot bangsa  bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok tanah air yang berjuang untuk menghapus penjajahan. Di masa pergerakan, wartawan bahkan  menyandang dua peran sekaligus,  sebagai aktivis pers yang melaksanakan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional dan sebagai aktivis politik yang melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan membangun perlawanan rakyat terhadap penjajahan, Kedua peran tersebut mempunyai tujuan tunggal, yaitu mewujudkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, wartawan Indonesia masih melakukan peran ganda sebagai aktivis pers dan aktivis politik. Dalam Indonesia merdeka, kedudukan dan peranan wartawan khususnya, pers pada umumnya, mempunyai arti strategik sendiri dalam upaya berlanjut untuk mewujudkan cita-cita  kemerdekaan.


Sejarah lahirnya surat  kabar dan pers itu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. Di zaman revolusi fisik, lebih terasa lagi betapa pentingnya peranan dan eksistensi pers sebagai alat perjuangan, sehingga kemudian berkumpullah di Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1946 tokoh-tokoh surat kabar, tokoh-tokoh pers nasional,  untuk mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS). Kepentingan untuk mendirikan SPS pada waktu itu bertolak dari pemikiran bahwa barisan penerbit pers nasional perlu segera ditata dan dikelola, dalam segi idiil dan komersialnya, mengingat saat itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya.

__ADS_1


Sebenarnya SPS telah lahir jauh sebelum tanggal 6 Juni 1946, yaitu tepatnya empat bulan sebelumnya bersamaan dengan lahirnya PWI di Surakarta pada tanggal 9 Februari 1946. Karena peristiwa itulah orang mengibaratkan kelahiran PWI dan SPS sebagai “kembar siam”. Di balai pertemuan “Sono Suko” di Surakarta pada tanggal 9-10 Februari itu wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul dan bertemu.


__ADS_2